Caroline

3590 Kata
Perhatian alurnya maju mundur. Ada satu hal yang kubenci di dunia ini, aku tidak pernah bisa lepas dari dua pil penunjang hidupku. Dua pil yang berperan penting untuk kelangsungan hidupku. Aku harus bergantung pada pil bulat tersebut saat Dokter mengatakan jika aku mengidap suatu penyakit yang tingkat kesembuhannya kecil. Ya, mungkin Tuhan terlalu sayang padaku, sampai memberikan penyakit ini. Aku tidak marah atau kecewa bahkan aku tidak pernah sekali pun membenci Tuhan karena memilihku untuk ambil bagian dalam penyakit ini. Aku hanya ingin hidup normal menikmati sisa hidupku saja tanpa bergantung pada pil sialan itu. Tapi sayang, kedua orangtuaku dan dokter tidak mengijinkannya sama sekali. "Car, sarapanmu sudah menanti diatas meja." Panggil dari bawah. Aku sakit parah tapi aku baik-baik saja. Kalimat terakhir yang ku tulis di T-Shirt putih polos. Menulis di atas kaos lebih menyenangkan ketimbang di buku, ada perasaan yang melekat saat beberapa kalimat bodohku menghiasi kaos oblongku. "Car, sarapanmu menangis." Lanjut suara dari bawah, berlebihan dan memanjakan. Aku rasa mereka ingin membuatku tidak mati penasaran, memberikan semua yang berlebihan untuk menyenangkanku sebelum aku mati. "Oke, Mom" Memasukkan semua peralatan curhatku ke kolong tempat tidur. Berdiri lalu melangkah ke luar dari kamarku. Aku benci di perlakukan seperti orang sakit. Well, memang aku sakit. * "Taylor semakin hot." Bisik Anne, aku secara tidak sadar mengangguk. Melihat Taylor Johnson, sungguh membangkitkan birahiku sebagai gadis yang kelebihan hormon. Hah. Bercanda. Taylor Johnson, anak laki-laki paling populer di sekolah ini, dia tampan? Tentu saja. Dia pintar? Apalagi. Dia baik? Sangat. Semua sifat terbaik di dalam diri manusia ada dalam diri, Taylor Johnson. "Tapi sayang, gundiknya selalu menempel." Cibir Anne, tak kala melihat Stela bergelayut manja pada lengan Taylor. Stela McCartney, ratu sekolah ini, ratu drama. Ratu dari segala ratu. "Apa kita termasuk gundik, Taylor?" Tanyaku, Anne tertawa terbahak-bahak. "Sial, kau." Anne masih tertawa. Lihat? aku tidak sakit parah kan? aku masih bisa menikmati hidupku dengan kesenangan dan suka pada lawan jenis. Bukan yang terbaring lemah di Rumah Sakit, menangisi hidup dan pasrah menerima kematian. "Car, ada pesta nanti malam di danau. Kita harus datang." Anne merangkulku, kami tidak peduli anggapan orang-orang yang melihat kedekatan kami. Aku sahabat Anne Moretz. "Apa ada sesi berenang?" Tanyaku, Anne mendelik. Memang benar? Aku ingin berenang di malam hari dengan ketelanjangan, merasakan kesunyian. Sial, harusnya aku ingat. Aku tidak pernah berenang semenjak di vonis sakit. "Apa aku harus membawa bikini?" Tanyaku menyeringai padanya. "Kau ingin berenang? Berenang saja di lautan s****a Taylor." Bisik Anne sebelum duduk di kursi belakangku, lima menit lagi Mr.Bag akan memulai pelajarannya. Berbalik ke belakang, "Jika aku bisa dan di beri kesempatan." Kataku tajam, kembali berbalik ke depan. * "Car, kami tidak yakin." Mom terasa berat sekali mengantarku kerumah Anne. Setelah perjanjian tadi di kantin, aku yang harus datang dahulu ke rumah Anne. Lalu berangkat bersama. "Dad-mu, dia berharap bisa menungguimu di sana." "Mom-," "Aku tahu tidak usah khawatir, tapi in-" "Aku baik-baik saja, Mom." Kataku cukup tegas. "Sayang, apa kau yakin?" Mom tolong jangan berlebihan. Aku tidak akan mati sekarang. "Aku baik, dan kita sudah sampai" Aku mencium pipi Ibuku, lalu keluar dari dalam mobil. Sungguh mereka ketakutan sekali, bah, aku yang sakit dan segara mati saja tidak sebegitunya, sebenarnya siapa yang sakit sih? Aku atau orang tuaku? "Hallo, Mrs.Moretz?" Sapaku pada wanita berambut merah, Ibu Anne sangat baik dan keras. Tentu saja, Anne pernah bercerita semenjak Ayahnya menghilang-Well, pergi dengan wanita lain. Ibunya berubah menjadi keras, dalam artian tangguh menghadapi hidup dan tidak cengeng. Yo, aku suka perubahannya. Apa orangtuaku akan berubah ke jalan lebih baik jika aku mati? Tangguh dan tidak cengeng seperti sekarang. Semoga saja. Mrs. Moretz tersenyum, menghentikan aktifitasnya mengecek beberapa kertas di depannya lalu menatapku, kerjaannya sebagai pegawai Bank, membuatnya sedikit lebih teliti. Aku membalas dengan senyuman, berharap dia mengijinkan kami untuk pergi. "Siang, Car. Anni di kamarnya." Mrs.Moretz kembali menekuni pekerjaannya. "Terima kasih," Kataku menaikki tangga rumahnya, kamar Annie ada di ujung lorong, lebih tepatnya di dekat kamar mandi. Satu hal yang unik dari Annie, dia lebih memilih dan suka kamarnya dekat dengan kamar mandi, dari pada kamar yang jendelanya menghadap taman atau sinar matahari. Annie beralasan, dia tidak ingin berjalan jauh hanya sekedar untuk kencing. Demi kesopanan, aku mengetuk dahulu pintu kamarnya, dan jawaban 'masuklah', pertanda aku bisa masuk ke kamarnya. Dia sedang duduk di depan meja riasnya, mengoles pelembab bibir pada bibir yang merah. Pakaiannya tidak jauh dariku, Jins belai dengan sepatu boots, kaos dan jaket kulit hitam. Keren bukan?. "Aku baru dapat kabar, pesta kali ini melibatkan beberapa mantan senior gila." Annie selesai berdandan, dia selalu cantik. Duduk di sisi tempat tidur Annie, aku memperhatikan beberapa dinding kamar tidurnya, di penuhi beberapa foto kami di berbagai tempat. Terima kasih Tuhan, di sisa hidupku aku bisa mengenal Annie. "Senior gila?" "Ya, John Blackley dan kumpulannya." Jawab Annie, memasukkan beberapa peralalatan kecantikannya ke dalam saku celana Jeansnya. "Tapi itu bukan halangan bagi kita," Maksudnya apa? Aku tidak mengerti. "Sudah waktunya, kita berangkat." Annie menarikku untuk bangkit, mendorongku cepat keluar dari kamarnya. Kami berdua turun beriringan, bersenandung aneh, sungguh aku merasa tidak sakit. "Kalian mau pergi?" Mrs.Moretz melepas kacamatanya, menatap kami bergantian, pandangannya menyelidik. Aku terkadang suka terkikik sendiri melihat tingkahnya yang seperti guru menyebalkan. "Yap, kami mau ke pesta." Annie mengambil cangkir teh yang sudah kosong, lalu pergi ke dapur untuk mengisinya lagi. "Kami harus berangkat." Menaruh kembali cangkir tersebut di tempat semula. "Jangan terlalu malam, " Mrs. Moretz tersenyum. Melambai pada kami yang akan menutup pintu depan. * Aku pernah menghadiri pesta ulang tahun temanku yang ke-11 tahun, pesta itu penuh dengan dekor berwarna pink, semua pernak-pernik Barbie. Saat itu aku hanya menggeleng, pesta ulang tahunku tidak seperti itu. Hanya keluarga besar yang berkumpul, memberikan ucapan selamat dan beberapa kado yang tidak pernah terbayangkan. Contohnya, pamanku Rob, dia memberiku gitar bekasnya, aku menerimanya dengan senang karena sudah menginginkannya sejak aku melihatnya, ada juga Kriss, kakak sepupuku yang memberikanku jam tangan, dia hanya bilang: Waktumu akan panjang, dan Granma memberiku cat lukis dengan pesan: Buatlah hidupmu seperti cat lukis yang berwarna-warni. Jadi sekarang aku di sini, di pesta aneh. Tidak ada musik, permainan, atau hiburan lainnya. Hanya ada botol-botol bir yang berserakan di setiap bawah tanaman. Gila, apa ini yang namanya pesta? Pesta merusak keindahan Danau? Brengsek!. "Kemana semua orang?" Tanyaku mengelilingi setiap sudut, tidak ada seorang pun yang ku kenal. Hanya ada beberapa orang yang membersihkan sampah. Annie mengangkat kedua tangannya, dia juga sama tidak tahunya. "Kita terlambat atau kita di tipu?" Annie mengecek Ponselnya, dia mengerutkan kening saat membaca pesan. "Sial, ayo pergi" Makinya. Aku tidak tahu apa-apa hanya mengikutinya berlari, tak selang berapa lama terdengar suara Sirene mobil patroli. Oh. Apapun yang sudah terjadi atau yang akan terjadi tolonglah aku, dadaku sesak saat mempercepat langkahku yang bukan berlari lagi, nafasku tersenggal-senggal melihat pohon-pohon yang menjulang di atasku, mataku perih walau tidak ada asap. Dan aku tidak bisa berteriak saat penglihatanku kabur, tidak bisa melihat Annie atau mengikutinya lagi. Annie.. Annie.. Annie.. Aku mati di sini, di Danau yang jarang di kunjungi, apa mungkin aku akan menghantui tempat ini? Membuat orang-orang takut. Aku tersenyum sendiri saat membayangkannya. Apa Mom dan Dad akan menangis ketika aku mati, apa akan banyak orang yang mengunjungi pemakananku? Apa aku akan di ingat semua orang yang mengenalku? Apa.- Hei..- Tepukan pelan di kedua pipiku. Hei.. Bangun..- Tubuhku di guncang-guncang pelan. Bangunlah..- Suaranya terdengar khawatir atau gusar. Aku pernah mengalami mimpi indah saat aku di senyunmi Taylor, ketika itu kantin hanya tinggal beberapa murid saja yang belum kembali masuk ke kelas masing-masing, termasuk aku yang masih nyaman duduk di kursi, mengamati keadaan sekitar. Dan saat itu, Taylor masuk, mengedarkan pandangannya ke sekeliling, hingga sorot matanya yang teduh memandangku bibir bagian atasnya terangkat sedikit membentuk senyuman. Dan malamnya aku mimpi indah membayangkan pelukan hangat dari Taylor. Tapi tidak sekarang, aku sedikit meringis ketika merasa tertidur di atas rumput yang tumbuh di sekitar danau tidak mengenakkan sama sekali. "Nona, bangun." Suara itu lagi, nada bicaranya terdengar jengkel dan kesal. "Aku tidak ingin tertangkap oleh para Polisi sialan itu, " Katanya lagi. Bodoh. Aku pingsan bukan tidur. "Cepatlah bangun atau ku tinggal sekarang dan kau pasti tertangkap polisi." Ancamnya. Ku buka perlahan mataku, melihat sepasang lensa cokelat menatapku. * "Dan dia menolongmu?" Annie memastikan untuk kesekian kalinya. Aku menceritakan semuanya. Saat dimana, cowok bertato itu menarikku ke dalam pelukannya. "John, apa butuh kamar?" Suara dari belakang punggungku, aku mencoba melepaskan diri darinya untuk melihat siapa yang berbicara. Pelukan cowok yang di panggil terasa begitu erat dan hangat. Tidak ingin membiarkanku pergi, hanya perasaanku saja. Tidak apa-apa kan kalau aku sedikit berpikir seperti ini? "Tentu, kau sudah mengganggu keberangkatanku untuk mencari kamar hotel." Dengusnya kesal. Hembusan nafas dari atas kepalaku membuat merinding. Sebelah pipiku menempel pada dadanya. "Silakan, tapi aku punya satu pertanyaan? Apa kau di balik semua ini? Merusak keindahan area Danau dengan botol-botol minuman keras?" Gelak tawa menghina terdengar dari atas kepalaku, "Apa ada bukti? Mr. Paul?" Kekehan sinis begitu tajam. "Jangan buang waktuku," "Untuk saat ini tidak ada bukti, tapi kuharap kau selalu hati-hati, kami selalu mengawasimu." Beberapa langkah menjauh dari punggungku, aku merasa dia melepas pelukannya. Menunduk sedikit untuk melihatku, "Well, kita bebas." Ucapnya menyentuh rambutnya. "Te-erima Ka-asih.."Aku mundur beberapa langkah, terlalu dekat dengan jarak kita dari sebelumnya sampai aku bisa mencium wangi parfum dan aroma nafasnya. "Cepatlah pulang, atau mereka akan kembali lagi kesini." Dia tersenyum, lalu berbalik meninggalkanku yang kebingungan. "Car, kau serius bukan?" Aku harus mengangguk atau sekedar menjawab 'Ya' saat pertanyaan-pertanyaan Annie hanya berpusat tentang kejadianku kemarin. "Kau sadar? Yang kemarin membantumu itu.. John Blackley, Alumni sekolah ini dan berandalan nomor satu di kota ini." Annie menjelaskan dengan tergebu-gebu. Dan itu masalah? Dan itu pertemuan jodoh seperti di novel-novel romantis, cowok bad boy dan gadis sekarat? Dan.. Bla Bla Bla. Aku tidak terlalu menanggapi ocehan Annie yang berlanjut sampai jam selanjutnya, karena itu tidak akan mungkin. Ini bukan cerita novel yang selalu manis, ini cerita hidupku yang sebentar lagi akan mati. "Sampai nanti." Aku berbisik saat masuk kelas berbeda pada Annie, aku kecewa pada Tuhan saat ini. Kenapa aku tidak di takdirkan untuk masuk kelas Gym bersama Annie. Sial. Tidak adil, aku masih kuat untuk berlari atau sekedar memukul bola Voli. "Dad, cepatlah.." Aku menarik ujung kaos olahraganya, Dad baru saja duduk di bangku taman setelah mengejarku yang naik sepeda berkeliling taman. Baju dan wajahnya basah. "Car, kita istirahat sebentar." Pintanya terengah-engah, kasian juga Dad-ku ini. Jadi aku ikut duduk di sebelahnya, melihat taman yang sudah penuh dengan orang-orang. "Dad, kenapa aku tidak boleh berlari terlalu jauh?" "Karena kau mudah lelah, aku dan Momi-mu tidak suka melihatmu lelah, Car." Sebelah tangan Dad mengusap pelan rambutku. "Kau ingin berlari?" Aku mengangguk pelan, "Larilah dengan sekuat tenaga tapi saat kau terdesak." Katanya tersenyum. Dan aku berlari sekuat tenaga hingga aku di ambang kematian saat kemarin di Danau. * "Dan kau yang waktu itu?" Tanya seseorang di sebelahku, aku sedang mengantri di depan loket, membeli dua tiket film cengeng. Jangan harap aku bersama teman kencanku yang seorang cowok, ada Annie yang sedang membeli makanan. "Dan kau?" Aku tahu namanya, hanya saja berpura-pura untuk tidak tahu dia. "John Blackley, kau?" Dia mengulurkan sebelah tangannya padaku, dan tangan yang sebelahnya lagi mengusap rambutnya. Ternyata kebiasaan. "Caroline Gordon" Aku membalas uluran tangannya, menjabat. Telapak tangannya terasa kasar, khas cowok keren. "Aku tidak bisa menukar tiket film yang sama denganmu, hanya saja tunggu aku setelah filmnya selesai." Dia mengatakan seakan kita sudah kenal lama, keluar dari baris antrian. Meninggalkanku dengan keterkejutan. 'Nona maju' Aku maju beberapa langkah untuk membayar tiket dengan pikiran yang tidak di sini, sampai Annie menarikku untuk segera masuk ke dalam, Apa maksud darinya? Aku harus menunggu dia, John Blackley. Ini kita berdua yang salah memilih film atau kita yang telat menonton film? Di dalam hanya ada.. Kira-kira lima belas orang, itu juga termasuk kita. Aku mulai berkonsentrasi menonton, sama halnya dengan Annie. Hingga aku merasa orang di sisi-ku menginjak kakiku cukup pelan. "Aku tidak bisa menunggu lagi," Bisiknya. Aku bersyukur dalam keadaan gelap hingga dia tidak bisa melihat wajahku yang terkejut. "Car, aktingnya jelek" Aku menoleh kearah Annie, dia masih menonton. "Aku suka padamu," Aku menoleh kearah dia, menatap tidak percaya. Pantulan cahaya dari film membuat aku bisa melihat wajahnya yang sedang menatapku begitu intens. "Aku menyesal memilih film ini, Car, aku ke toilet dulu." Annie bangkit dari duduknya, "Mungkin agak lama," Dia selalu begitu. "Aku serius," * Menatap perapian dengan segelas s**u cokelat di pangkuan membuat aku mendesah puas, sudah beberapa minggu ini aku harus kembali ke rumah sakit dan tidak merasa kenyaman seperti ini di rumah. Well, kondisiku sempat turun. "Sayang, tidak ingin bergabung?" Dad berjongkok di hadapanku kelelahan tampak sekali di wajahnya. Aku menggeleng, "Aku di sini saja," Aku menyentuh pipi Dad, "Aku akan baik-baik saja, bahkan lebih baik, Dad." "Maaf, " Kepala Dad tertunduk di pangkuanku. Aku tidak tega melihatnya. "Soal John." Aku segera meminum kembali s**u cokelatku, menutupi bibirku yang gemetar. Dad pamit, sebetulnya hari ini ada makan malam keluarga di rumah pamanku, dan aku memilih tidak datang. Aku lebih merindukan John, dia pasti menjauh dan meninggalkanku setelah tahu aku akan segera mati, mempererat peganganku pada gelas yang tinggal setengah lagi isinya, aku rindu padanya. "Udara di luar dingin sekali," Aku menoleh kebelakang, John berdiri di ambang pintu. Bibirnya pucat dan kedua tangannya gemetar, tentu saja ini masih musim dingin. "Ayahmu, mengijinkanku masuk ke dalam." Melangkah mendekatiku, John berjongkok di sampingku, kedua telapak tangannya di gosok-gosokkan ke celana Jeansnya. Menatap langsung perapian yang memberikan kehangatan. "Sekarang terasa hangat," "Mau?" Tawarku, memberikan minuman hangatku padanya. "Ini sangat membantu, Thanks." Mengambil dari tanganku, John langsung meminumnya. "Pegang tanganku." Tangan kami saling menyentuh, rasanya sangat hangat. John adalah cowok pertama yang memegang tanganku, memelukku, mencium bibirku, dan dia juga yang menyadarkanku bahwa selama ini aku tidak pernah bersikap egois, atau pun marah pada tuhan. Tapi saat itu, aku benar-benar ingin egois dan kali ini aku mencoba marah pada Tuhan karena memberiku penyakit ini, aku ingin hidup lebih lama lagi. "Annie, aku lapar" Keluhku sepanjang tadi, Aku belum mengisi perutku sejak jam istirahat pertama. Kelas Mr. Dave selalu memberiku perhatian extra lebih hingga otakku cepat lelah dan lapar. "Aku tidak bisa menemanimu makan, masih ada satu pertemuan lagi dengan Guru botak." Dengusnya, Annie sedikit berurusan dengn beberapa guru. "Baiklah, aku mungkin makan di luar atau pulang duluan." Menutup lokerku lalu menguncinya. "Bye," Annie menjauh, lalu menghilang di belokan. Keluar dari gerbang sekolah, aku mempererat Sweter rajutanku. Sial. Udaranya begitu dingin, sampai-sampai aku merasa kakiku seperti jeli. Mempercepat langkah untuk segera sampai di rumah. "Aku lapar, ayo cepat naik?" John mengendarai sebuah Sepeda Motor yang tampak tua namun kokoh. Dari mana dia datang? Aku sampai tidak menyadarinya. "Dan aku tidak lapar," Aku tidak mempedulikannya, terus berjalan. "Tapi aku butuh ditemanimu," John mematikan motornya, lalu turun dari motornya. Menarik sebelah lenganku. "Aku tidak akan menyerah," Aku merasa bibirku di sentuh oleh permukaan yang kenyal dan lembut dan hangat. Dengan sekali dorongan, John mundur. "Jangan seenaknya menyentuhku, kau ini siapa?" Desisku kesal, Orang-orang yang menyentuhku hanya orang terdekat, Dad dan para sepupu cowokku. Benar, aku tidak pernah merasa dekat dengan siapapun. John mengacak rambutnya, "Caroline, jangan buat aku seperti orang t***l. Cepat naik!" Bentaknya. "Sialan kau ini, aku tidak bisa. Cepat pergi dan jangan ganggu aku lagi. Asal kau tahu, aku berpenyakitan dan akan segera mati." Nafasku memburu setelah mengatakan kalimat panjang ini, persetan dengannya. Aku hanya tidak ingin membuat orang-orang banyak meneteskan air mata di saat pemakamanku nanti. John tidak bergerak sedikitpun dari tempat berdirinya, pandangannya kosong. Point bagus. Sekarang aku bisa meninggalkannya dengan tenang. "Ayo kita makan, aku sudah terlalu lapar." Suaranya lantang. Aku diam dan mengambil helm dari stang motornya. "Baiklah kita makan sebelum aku tidak bisa makan." Ucapku dengan memakai helm. "Diam, itu tidak lucu." John membantu memakaikan helm di kepalaku. "Kurasa kau butuh baju," Aku memperhatikan kaosnya yang basah. Kita sudah sampai didepan rumahku, "Ayo ikut ke kamarku, mungkin kita bisa menemukan kehangatan untukmu" Aku berdiri, berjalan duluan ke arah tangga. John masih diam di tempat, seperti memikirkan sesuatu. "Orangtuaku akan lama," Barulah John berdiri, mengekorku dari belakang. Langkahnya kelihatan ragu-ragu. Sampai di kamar, aku segera mencari beberapa kaos yang mungkin akan cukup di tubuhnya. "Kunci saja pintunya," Pintaku saat melihat John menyadar di daun pintu. Klik. "Car-" "Buka bajumu, " Perintahku, berjalan mendekat kearahnya. John melepas kaosnya, lalu melempar ke samping. Tubuh John tidak kurus atau pun berotot, dia hanya pas. Beberapa tato menghiasi tubuhnya, menambah kecocokannya. Berdiri di depannya dengan jarak hanya beberapa cm, aku menyentuhkan jari telunjukku pada dadanya. "Panas." Kata ambigu yang keluar dari mulutku. Kuperhatikan matanya tertutup dan nafasnya memburu. Bibirku menyentuh pundaknya, "Harum." Bisikku. Tiba-tiba saja mata John terbuka, ada kegelapan yang menyelimutinya. "Caroline." Tubuhku di balik secepat mungkin hingga punggungku sekarang yang menyentuh pintu. Mulut dan tangannya tidak tinggal diam menyentuhku. "John-?" Erangku, tubuh kami sudah berada di tempat seharusnya, tempat tidur. Dengan perlahan John mendorong miliknya ke dalamku yang belum terjamah siapapun. "Aku cinta padamu," Tubuh kami menyatu. Begitu juga dengan hati kami. * "Annie, aku pacaran dengan John Backley." Aku membenci diriku sendiri saat harus berbohong berbulan-bulan pada Annie, sahabatku. Aku hanya ingin berjalan semestinya, tidak ada pertetangan dari siapapun. "Aku sudah tahu." Jawaban mencengankan dari Annie, dia masih fokus mempelajari beberapa jadwal baru untuk lesnya. "Memang siapa yang sering menjemputmu di seberang sana?" "Annie-?" "Dia baik?" Tanyanya berbalik memperhatikanku. "Dan kulihat juga, John tidak terlalu buruk seperti yang di katakan orang-orang." "Terima kasih banyak," Memeluk erat Annie, Dukungan dari sahabat adalah penyelamat di saat kau merasa terpuruk, aku sekarang sedang mengalaminya. Tampaknya kedua orang tuaku tidak menyukai John, mereka tidak pernah menyapanya bahkan memberi senyum. "Aku harus kerja malam ini, besok pagi kita langsung pergi ke pameran." John memelukku. "Kau tidak perlu bekerja keras hanya untuk mengajakku ke pameran itu." Balas memeluknya erat, Aku tidak tahu ternyata dia begitu.. Aku tidak bisa mengatakan apa-apa saat ini. Hanya seperti ini saja di pelukannya. "Aku terlalu suka padamu," Melepas pelukannya, John sedikit menunduk, lalu menempelkan bibirnya padaku, melumat sepelan mungkin. "Cepat masuk kedalam, di sini dingin" Dorongnya. Dia tersenyum, menaikki motornya lalu meninggalkan halaman rumahku. "Akhir-akhir ini, kau sering di antar jemput?" Dad memulai pembicaraan di meja makan. "John Backley, dia pacarku." Kedua orang tuaku terdiam sebentar, mencerna. "Caroline, kesehatanmu-" Aku berdiri, "Aku sakit, dan dia menerimaku apa adanya. Tolong pengertian kalian." Meninggalkan mereka. "Please, percaya padaku!" Aku pernah tampil cantik saat memakai gaun peri berwarna hijau, rambutku di gelung ke atas. Setiap ada kesempatan aku akan berusaha melihat ke cermin dan tersenyum 'Aku cantik'. Dan begitu juga saat ini, aku berdiri di depan cermin, memperhatikan penampilanku. Tidak jelek. Dari tengah tangga aku bisa melihat Mom yang diam-diam mengintip di jendela, John, sudah datang dan menungguku di luar. "Mom, aku pergi." "Carl-" Mom gugup setelah ketahuan, dia berusaha mencari kesibukkan lain. "Tidak apa-apa Mom, aku tidak apa-apa." Mencium sebelah pipinya, aku tersenyum sebelum keluar. "Luar biasa" Ucap John tidak sadar, di depan kami terlukis ribuan cahaya langit yang indah. "Kau harus seperti itu," Menunjuk pada bentuk cahaya paling besar. "Untuk semua orang dan aku," Mengcekram lengan kemejanya, aku tidak berpikir ini akan menjadi lebih dalam bagi John, hidupku hanya sebentar dan tidak seharusnya dia bergabung dengan bersamaku seperti ini. "Aku ingin kau jadi sayap," Aku menunjuk pada lukisan besar di dinding, bergambar sayap putih besar. "Agar setiap waktu bisa menemuiku," "Tentu, " Mencium puncak kepalaku. Dan tiba-tiba saja aku merasa ruangan ini bergerak tidak beraturan, berbentrokan. Dan aku merasa kegelapan. Dan aku terbangun dengan selang di hidungku. * "Kau hangat?" Tanyaku, berbaring dengan saling menggengam erat tangan. John menarik tubuhku ke d**a telanjangnya. "Sangat," Jawabnya, "Aku di beri pinjaman oleh orang tuaku, cukup utuk menikah." John tinggal sendirian setelah meninggalkan rumahnya, dia bilang ego orang tuanya terlalu tinggi untuk mengatur hidupnya. "Dan balasannya?" "Aku mengurus usaha milik mereka," John terkekeh. "Ayo menikah, kau akan lulus sebentar lagi." Aku bermimpi menikah dengan orang yang tepat dan waktu yang tepat. Di kelilingi ribuan bunga dan beberapa orang terdekatku. Aku pikir John orang yang tepat bagiku, tapi tidak untuk waktunya. Aku tidak bisa melakukan ini untuknya, dia berhak hidup dengan kebahagian di masa mudanya. Bukan mendampingiku yang sakit. "John-?" "Aku serius. Dan jangan berpikir seperti di film-film. Aku ingin menikah denganmu, karena aku sanggup dan siap." Setiap kata yang di ucapkannya begitu tajam. "Beri aku waktu, aku butuh gaun pengantin" * John membereskan beberapa album foto yang tersimpan rapi di laci, ada juga barang-barang peninggalan Caroline. Buku, pensilnya, bahkan semua kaos tulisan tangannya. John berencana ingin menyumbangkan semua kreasi Caroline ke museum kota. "Yakin?" Annie berwajah matang bertanya, sudah lebih dari Sepuluh tahun Caroline pergi, meninggalkan banyak cinta untuk semua orang. "Aku harus yakin, Car, tidak akan senang melihat suami sahabatnya menyimpan barang-barang peninggalan cinta pertamanya." Jawab John, mengangkat beberapa kardus yang telah terisi. "Kau tidak perlu melakukan itu, Caroline akan selalu tersimpan di dalam hatimu yang terdalam, John." Annie memeluk pria rapuh yang sudah menjadi suaminya. Tidak pernah terbayangkan sama sekali, Caroline meminta Annie untuk menjaga John di detik-detik kematiannya. Sebelum pesta pernikahan terlaksana, Caroline tiba-tiba kritis dan koma selama tiga hari, sampai terbangun di siang hari dengan meninggalkan pesan kemurahan hatinya. "Annie, terima kasih selama ini tidak menganggapku sakit bahkan berpura-pura aku baik-baik saja," Suara Caroline lemah, selang infus sudah menyebar di seluruh tubuhnya. "Car, Taylor putus dari Stella. Kita punya kesempatan untuk mendekatinya." Annie menggenggam erat jari lemah Caroline. Caroline terkekeh pelan. "Annie, ada yang jauh lebih baik dari Taylor. John Backley, pria luar biasa." Caroline menggerakkan kepalanya sedikit ke arah luar kamar rumah sakitnya, "Tolong saling menjaga." "Ans, kau baik?" John meremas jari istrinya "Tentu, John. Kau merindukan Caroline?" "Aku juga," Bisik Annie. Memasuki mobil sedannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN