Helikopter itu mendarat dengan anggun di padang rumput hijau yang tersembunyi di balik perbukitan. Angin yang dihasilkan oleh baling-balingnya membuat dedaunan di sekitar berbisik satu sama lain, seolah menyambut kehadiran sosok Dante yang turun dengan tenang. Kacamata hitam yang sedari tadi bertengger di wajahnya kini dilepas, memperlihatkan sorot mata tajam penuh fokus yang seakan menantang dunia. “Sudah tiba Sera di rumah?” Dante memecah keheningan dengan pertanyaan yang dilontarkannya, tanpa menoleh. Suaranya dingin, namun ada nada halus yang tersembunyi di balik tanyaannya—seperti butiran salju yang jatuh perlahan namun memendam badai besar di belakangnya. Vincent, yang sudah mengenal baik sifat Dante, tersenyum sambil mengeluarkan ponselnya. Ia menunjukkan sebuah foto yang b

