“Rose?” Sera melangkah pelan menuju sofa tempat Rose duduk. Wanita itu tengah asyik memainkan ponselnya, matanya terpaku pada layar kecil di depannya, jari-jarinya lincah mengetuk-ngetuk layar seakan dunia sekelilingnya tak ada. “Huh? Ada apa, Sera?” jawab Rose tanpa mengangkat pandangannya sedikit pun dari layar, suaranya terdengar datar, namun tak sepenuhnya cuek. “Bicara saja, aku akan mendengarkan. Tapi, aku tidak bisa meninggalkan game ini.” Ucapannya terdengar ringan, seperti tidak ada beban, meski mulutnya sesekali sibuk mengunyah makanan ringan yang ia pegang dengan satu tangan. Sera menatapnya dan terkekeh pelan. Ada sesuatu yang tak biasa dalam cara Rose berperilaku, sebuah dualitas yang menarik—di satu sisi, ia tampak begitu serius dalam hal-hal tertentu, namun di sisi lain,

