“Dante tidak ada di mana-mana, James.” Suara John memecah keheningan, suaranya pelan, seolah takut menginjakkan kata di dalam ruangan yang telah dipenuhi amarah yang menggantung. Wajahnya pucat, mata yang biasanya tenang kini dipenuhi kecemasan. Pria itu telah mencoba segala cara untuk melacak keberadaan Dante, namun usahanya sia-sia. James mendadak bangkit dari kursinya, seolah tidak bisa lagi menahan amarah yang mendidih di dalam dirinya. Tangannya menggebrak meja dengan keras, getarannya merambat ke segala arah, menggema di seluruh ruangan seperti letusan kemarahan yang tertunda. “Bukan kabar seperti ini yang ingin aku dengar, John!” seru James, suaranya penuh amarah. Matanya menyala, tatapannya tajam seperti bilah pisau yang siap mengiris siapa pun yang berani menghalangi jalannya.

