Happy reading.
Ijab kabul telah terdengar ditelinga Chelsea, suara lantang Daren membuat Chelsea bergetar. Ia pernah menikah sebelumnya dengan Gala, mendengarkan ijab kabul dari mantan suaminya tidak merasakan apa-apa. Entah mengapa ketika mendengar suara ijab kabul dari mantan papa mertuanya yang sekarang telah sah menjadi suaminya terasa berbeda sehingga membuat Chelsea meneteskan air mata seketika.
"Apakah pernikahan ini akan sah jika sebenarnya aku hanya ingin balas dendam kepada Papa Daren? Lalu setelah ini, apa Papa Daren akan tetap mencintaiku walau aku hanya ingin balas dendam kepada Gala?"
Chelsea masih bertanya-tanya dalam hatinya, namun lamunan Chelsea buyar ketika ada yang mencium keningnya.
Degh.
"Kenapa melamun saja sayang? Apa yang kamu sedang pikirkan?"
"Pa, aku-"
"Panggil aku sayang, kita sudah menjadi suami istri sekarang. Aku bukan Papa mertuamu lagi, dan kamu bukan menantuku lagi."
Chelsea menikmati ciuman pertamanya setelah menjadi istri dari Daren, mulai sekarang status mereka telah berubah menjadi sepasang suami istri. Dan Chelsea selangkah lebih maju dari apa yang ia pikirkan selama ini yaitu balas dendam kepada Gala melalui Daren.
"Sayang, kamu jangan terlalu banyak melamun. Sebentar lagi kita honeymoon, jadi persiapkan diri kamu untuk bermanja-manja denganku nanti malam." bisik Daren.
Chelsea tersenyum tipis, sebagai seorang istri ia wajib mengikuti apapun yang diperintahkan oleh Daren suaminya sekarang. Namun, entah mengapa saat ini Chelsea menjadi galau akan hubungan yang sudah menjadi sah dimata agama dan negara.
"Memangnya kita honeymoon dimana? Apa kita perlu melakukan itu?"
"Perlu sayang, kita perlu honeymoon seperti pasangan yang lainnya. Aku hanya ingin membuktikan kepada semuanya kalau kamu sekarang sudah bahagia denganku, jadi kamu harus menerima honeymoon kita nanti."
"Baiklah, aku akan menerima apapun yang kamu ingin Mas."
Cup.
"Aku gemas sekali mendengar kamu memanggil dengan sebutan Mas, sepertinya memang cocok jika kamu katakan itu kepadaku."
"Mulai sekarang aku akan memanggilmu Mas Daren, tidak Papa lagi."
***
Chelsea tidak bisa membayangkan jika honeymoon yang diucapkan Daren diluar ekspektasinya, tempat tenang untuk mereka berdua yang telah dirancang khusus agar honeymoon kali ini begitu berkesan. Chelsea mengira ia akan menginap di hotel berbintang lima ditengah-tengah kota seperti yang pernah ia rasakan ketika menikah dengan Gala, tapi ini diluar ekspektasi Chelsea bahwa Daren memberikan suasana honeymoon mereka dengan view desa yang membuat pikiran Chelsea menjadi tenang.
"Kita honeymoon di sini Mas? Kenapa kamu mempunyai konsep seperti ini?"
"Aku tahu kamu sudah bosan dengan pemandangan kota, jadi aku pilih sebuah villa di desa yang sunyi, sepi, dan tentunya kita bisa bercinta tanpa ada gangguan siapapun."
"Mas, kenapa dari tadi omongannya m***m sih?"
"Aku gemas denganmu, setelah menjadi suamimu entah mengapa aku ingin mengeluarkan rayuan untukmu. Seperti kamu merayu Mas dulu di awal kita bertemu kembali."
Chelsea membuka jendela kamar mereka, ada pemandangan gunung yang menjulang tinggi. Lalu hamparan sawah yang luas, benar-benar membuat pikirannya tenang setelah ia sampai di villa bambu ini.
Ketika Chelsea menatap pemandangan villa, dua tangan kekar memeluk tubuhnya dari belakang. Chelsea menikmati pelukan Daren yang begitu mesra sore ini.
"Mandi atau kita unboxing dulu, terserah kamu."
"Mandi, aku gerah Mas. Aku duluan ya."
Daren terkekeh melihat tingkah laku istrinya yang malu dengannya, sungguh semakin membuat ia ingin menerkam cepat-cepat istrinya itu.
Chelsea buru-buru masuk ke dalam kamar mandi, ia tidak lupa mengunci pintu dari dalam agar Daren tidak masuk seperti waktu itu. Chelsea benar-benar bingung, jika dulu ia senang sekali menggoda suaminya lalu mengapa sekarang setelah menjadi sah Chelsea merasa takut jika berhadapan dengan Daren.
"Aku harus apa? Menolak dosa, mau ikut permainan Papa Daren takut nggak mau berhenti."
Suara ketukan pintu terdengar beberapa kali, Daren memanggilnya untuk keluar tapi Chelsea bingung karena tidak membawa handuk atau baju ganti sebelum ia masuk ke dalam kamar mandi.
"Sayang, ini handuk sama piyama kamu. Bukankah kamu nggak bawa semuanya."
Chelsea menepuk dahinya, ia benar-benar lupa tidak membawa handuk atau piyama untuknya. Chelsea tidak mungkin keluar tanpa memakai handuk, bisa fatal akibatnya jika Daren melihatnya sekarang.
"Mas, mana handuknya sama piyama. Aku mau pakai di dalam kamar mandi saja."
Chelsea merentangkan tangan kanannya untuk mengambil handuk yang dibawa oleh Daren, tapi tidak semudah itu jika Daren menggodanya dengan mencium tangan Chelsea hingga menahan agar Chelsea keluar dari kamar mandi.
"Mas, kenapa kamu nakal? Aku mau pakai handuk sama piyama, kenapa pintunya dibuka paksa?"
Daren tidak menjawab pertanyaan Chelsea, ia terpukau melihat tubuh indah istrinya tanpa sehelai benang pun. Daren memeluk erat tubuh Chelsea hingga tidak tahu sampai berapa lama
"Mas, lepas. Aku nggak bisa nafas-"
"Chelsea sayang, Mas boleh unboxing kamu sekarang. Kamu itu buat Mas tidak bisa menunggu lama lagi."
"Tapi, aku bingung-"
Daren mengendong Chelsea menuju ranjang mereka, lalu menidurkan istrinya dengan perlahan tanpa harus menjatuhkan ke atas ranjang. Sangat berbeda ketika Chelsea bersama Gala ketika malam pertama, mantan suaminya begitu kasar ketika melakukan malam pertama.
"Chelsea sayang, kamu adalah wanita kedua setelah istriku yang membuat hatiku bergetar hebat ketika bersama mu. Aku sungguh bahagia bisa menjadi suamimu."
Chelsea mengigit bibirnya, ia tidak tahu apa yang harus dilakukan sekarang. Di satu sisi Chelsea ingin membalas dendam kepada Gala melalui Daren, disisi lain ia merasa kasihan dengan suaminya yang sepertinya sudah jatuh cinta dengannya.
"Maaf, Mas Daren. Sepertinya saat ini aku harus mencari ide untuk menolak kamu, aku belum siap sepenuhnya. Hatiku masih galau apakah ingin mengikuti permintaanmu atau tidak?"
***
Chelsea bangun lebih awal, seperti biasanya ia sudah siap untuk memasak untuk Daren. Bagaimanapun ia sudah menjadi istri sah Daren, Chelsea harus memasak untuk suaminya pagi ini.
Selama hampir satu jam lebih, Chelsea berada di dapur. Villa ini memang sengaja mempunyai konsep seperti rumah sendiri, ada dapur yang cukup luas untuk memasak dan itu memang dipesankan oleh Daren agar honeymoon mereka berwarna.
Cup.
"Kenapa sudah bangun? Bukankah aku menyuruhmu tidur lebih lama."
"Aku mau masak untukmu Mas, sekarang aku sudah menjadi istrimu dan aku berkewajiban untuk-"
Daren mencium bibir Chelsea, pagi ini istrinya membuat ia b*******h. Hanya dengan memakai lingerie berbahan satin yang transparan, Daren merasa Chelsea menggodanya secara terang-terangan.
Ciuman Daren tidak hanya sekitar bibir saja, ia menjelajahi leher putih Chelsea. Menghisap pelan dan memberikan tanda dileher istrinya agar mereka yang melihat tahu bahwa wanita cantik bernama Chelsea Hanifah adalah istrinya, ia tidak peduli jika semua orang yang melihat menggosipkan mereka berdua.
"Mas, aku mau masak dulu."
"No, masaknya nanti saja. Semalam kita nggak jadi malam pertama karena kamu kelelahan, dan aku mengizinkan kamu istirahat. Lalu untuk sekarang aku tidak bisa menunggu lama lagi, aku ingin menjadikan kamu milikku sepenuhnya."
Chelsea ingin protes, tapi Daren sudah lebih dulu mencium kembali bibirnya sehingga tidak bisa menolak Daren lagi seperti semalam.
"Pagi ini kamu akan mendesah manja seperti awal kita bertemu, tenang sayang aku akan melakukan perlahan untukmu."
Chelsea mengigit bibir bawahnya, untuk kedua kalinya Daren memintanya dengan melakukan kewajiban sebagai seorang istri. Namun, pagi ini ia tidak bisa menolak pesona Papa mertuanya yang sudah membuat ia mendesah pelan.
"s**t, kenapa aku tidak bisa menolak kali ini? Aku menikmati ciuman Papa Daren kali ini."