Penghianatan.
Happy reading.
Chelsea menenteng koper yang ia bawa dari Bandung, setelah satu Minggu wanita berambut panjang itu pulang kampung. Kini Chelsea pulang ke rumahnya kembali, rasa rindunya kepada Gala suaminya tidak terbendung lagi. Ia sengaja tidak mengabari kepada suaminya untuk kepulangan dirinya, Chelsea hanya ingin memberi kejutan kecil untuk suaminya Gala.
"Aku yakin, Mas Gala pasti seneng karena aku sudah pulang. Aku akan memberikan kejutan untuknya."
Setelah sampai di rumah, Chelsea dengan cepat masuk ke dalam rumah yang selama ini ia tempati bersama suaminya. Suasana siang ini terasa sepi, dan Chelsea tahu dimana suaminya jika siang hari ini.
"Kenapa sepi banget, pasti Mas Gala lagi tidur di kamar. Tapi, kenapa perasaan aku nggak enak ya."
Wanita cantik itu melangkahkan kakinya menuju kamar mereka, ia yakin siang ini suaminya sedang tidur di dalam sana. Karena Chelsea tahu hobi Gala jika sedang libur bekerja.
"Mas, aku-"
Degh.
Chelsea mendengar desahan seorang wanita memanggil nama suaminya dengan mesra, ia tidak percaya bahwa saat ini di dalam kamarnya ada dua orang berjenis kelamin berbeda sedang melakukan permainan panas mereka.
"Kalian, jahat. Kenapa berselingkuh dibelakang aku?"
"Chelsea, ka-kamu sudah pulang."
Plak.
"Jahat kamu Mas, aku nggak menyangka kamu berselingkuh dengan sahabatku sendiri."
Gala memakai bajunya kembali, ia tidak menyangka istrinya pulang secepat itu padahal Chelsea mengatakan bahwa akan pulang besok pagi. Namun ternyata, ia salah besar istrinya saat ini saudara berada di depan matanya.
Plak.
Satu tamparan kembali mendarat di pipi Gala, rasa kesalnya bertubi-tubi mana kala wanita selingkuhan suaminya sedang tersenyum menatapnya.
"Kamu, wanita tidak tahu diri. Sudah aku anggap adik sendiri dan sekarang kamu mengambil suamiku, hah?"
Chelsea menampar pipi Bella, lalu menjambak rambut panjangnya. Tidak menyangka bahwa sahabat sekaligus adik angkatnya berselingkuh dengan suaminya sendiri.
"Chelsea, tolong jangan seperti anak kecil. Kita bicarakan dulu dengan kepala dingin."
"Tidak Mas, aku sudah tidak ingin berbicara denganmu. Kamu hanya tinggal tunggu surat cerai dari pengadilan, aku mau kita cerai setelah ini."
Chelsea meninggalkan kamarnya, ia sudah tidak ingin berbaikan dengan suaminya. Bagi Chelsea perselingkuhan adalah perbuatan yang tidak akan ia maafkan, dan salah satu jalan keluarnya adalah perceraian.
"Aku tidak akan memaafkan kamu Mas Gala, walau aku sangat mencintaimu."
***
Chelsea tidak menyangka bahwa suaminya berselingkuh dengan sahabatnya, padahal ia dan Bella adalah sahabat sejak dulu. Chelsea selalu menyayangi Bella seperti adiknya sendiri, dan memang Chelsea semua mengajak Bella untuk menginap dirumahnya.
Chelsea ingat betul beberapa bulan kemarin, Bella datang menangis terisak karena telah dikeluarkan dari kontrakan. Karena merasa iba, Chelsea mengajak Bella menginap sementara di rumahnya. Padahal suaminya sudah melarang tapi ia tetap meminta Bella untuk menginap sementara.
"Mas, carikan Bella pekerja. Mungkin setelah kerja, Bella bisa mencari kontrakan untuk tempat tinggal."
"Di perusahaan aku lagi nggak butuh karyawan."
"Mas, jangan tega banget sih. Carikan sesuai pendidikan Bella."
"Memang apa pendidikannya?"
"S1 sekertaris."
Gala terdiam, ia baru menyadari bahwa memang sejak Chelsea keluar dari perusahaannya belum ada yang menggantikannya. Sekalipun ada wanita pengganti Chelsea yang cuti hamil. Dan Gala tidak mempunyai sekertaris lagi setelah itu, ia cukup kerepotan jika tidak ada sekertaris disampingnya.
"Baiklah, aku akan menerima Bella sebagai sekertaris aku. Kebetulan di perusahaan aku lagi butuh sekertaris."
"Boleh Mas, nanti aku kasih tahu Bella."
Begitulah awal dari malapetaka keluarganya, Chelsea mengira Bella memang bekerja dengan suaminya dengan baik. Tapi, ternyata mereka berselingkuh dibelakangnya. Entah sejak kapan itu.
"Mereka memang jahat, aku benci mereka berdua."
Satu bulan kemudian.
Akhirnya, ia sudah menjadi seorang janda. Ketukan palu hakim sudah ia dengar tadi siang, pernikahannya dengan Gala sudah hancur dan Chelsea sangat terpukul akan hal itu.
"Aku sudah bebas, aku sekarang jadi janda."
Chelsea tersenyum miris, status barunya itu membuat dirinya bersedih. Tapi, ia berpikir percuma saja ia bersedih toh suaminya tidak akan kembali lagi kepadanya. Bahkan, kabar berita Gala sudah menikah siri dengan Bella.
"Sialan, baru aja cerai. Mereka sudah menikah siri, kebangetan banget sih."
Saat ini, perasaannya sangat kacau. Ia butuh waktu untuk membuat pikirannya kembali normal. Setelah perceraian ini, ia ingin pergi ke suatu tempat tapi Chelsea bingung kemana ia akan pergi.
"Ah, ke restoran aja. Tempat yang aman untuk aku berdiam diri."
Satu jam kemudian.
Chelsea duduk termenung seorang diri di restoran, saat ini ia sudah menghabiskan dua gelas wine dengan kadar alkohol lebih dari 10%. Ia sudah setengah mabuk, bahkan untuk jalan pulang saja ia yakin tidak akan bisa.
"Aku butuh wine lagi, sepertinya memang seharusnya aku mabuk saja dari kemarin. Kalau aku tahu suamiku akan berselingkuh dengan wanita gila itu."
Chelsea masih meracau mengeluarkan kata-kata benci untuk suaminya, beruntung saat ini hanya dirinya yang berada di rooftop tersebut. Akses rooftop diberikan kepada Chelsea karena restoran ini memang milik Papa mertuanya.
"Aku akan balas semua penghianatan Gala kepadaku, aku tidak akan tinggal diam."
"Chelsea, kamu mabuk?"
Wanita setengah mabuk itu menatap wajah tampan mantan Papa mertuanya, Daren Arga Winata yang saat ini ada di depan matanya. Chelsea baru menyadari bahwa mantan Papa mertuanya sangatlah tampan, bahkan dibandingkan dengan Gala tidak ada apa-apanya.
"Papa mertua, ralat. Mantan Papa mertua, apa kabar?"
Daren tersenyum tipis, ia tahu mantan menantunya sedang mabuk berat. Perceraian yang baru diketahuinya membuat Daren tidak percaya bahwa putranya melakukan perselingkuhan dengan wanita yang tidak lain adalah sahabat Chelsea sendiri.
"Ayo, pulang! Sebentar lagi rooftop ini mau dikunci. Biarkan Papa antar kamu pulang."
Chelsea menggeleng kepalanya cepat, ia tidak ingin pulang saat ini. Baginya percuma saja ia pulang, toh Chelsea akan bersedih mengingat status barunya.
"Aku nggak mau pulang, aku nggak mau nangis sendirian di rumah. Aku mau disini aja."
Daren menghela nafas panjang, sekian lama Chelsea menikah dengan putranya ia baru mengetahui bahwa Chelsea begitu rapuh. Daren memang tidak akrab dengan mantan menantunya karena mereka tidak serumah.
"Baiklah, apa kamu mau Papa antar ke hotel milik Papa?"
"No, aku mau ke apartemen Papa aja. Di sana tempatnya nyaman buat menangis."
"Ok, ayo!"
Chelsea memang pernah beberapa kali tinggal di apartemen Papa mertuanya, ia tidak sendiri saja melainkan bersama Gala. Karena menurutnya view apartment mantan Papa mertuanya itu sangatlah bagus dan membuat Chelsea betah di sana.
"Papa, kenapa nggak nikah lagi?" Tanya Chelsea heran. Mantan mertuanya itu sudah menduda sejak istrinya meninggal dunia, tapi sampai sekarang mantan Papa mertuanya masih single saja.
"Papa sudah tua, mana ada yang mau sama Papa."
"Banyak yang mau sama Papa, Papa tampan masih sangat tampan, kaya raya, paket lengkap buat Papa."
Daren mengerutkan dahinya, tidak mengerti apa yang diucapkan oleh Chelsea. Tapi ia menyadari bahwa saat ini Chelsea sedang mabuk, wine yang diminum Chelsea sangat tinggi kadar alkoholnya, dan ia tidak percaya bahwa mantan menantunya bisa meminum wine sampai dua gelas.
"Ayo, kita pulang. Sudah malam Chel."
"No, jawab dulu pertanyaan aku. Kenapa Papa nggak menikah lagi? Padahal Papa tampan sekali."
"Siapa memang yang mau sama Papa? Papa sudah tua Chel, nggak ada yang mau sama Papa." Ucap Daren. Ia menyadari bahwa usianya sekarang sudah menginjak angka 40 dan mana mungkin ada yang menyukai dirinya.
"Aku, aku mau sama Papa."
Cup.