Happy reading.
Chelsea mencium bibir Daren cepat, lalu melumat bibir mantan Papa mertuanya dengan gerakan yang biasa ia lakukan jika sedang berciuman dengan Gala.
"Chelsea, kamu mabuk. Jadi, pasti kamu berpikir kalau Papa itu-"
"No, Papa ya Papa. Tidak ada sangkut pautnya sama mantan suami sialan itu."
Daren diam menatap wajah mungil Chelsea, ia tidak percaya bahwa mantan menantunya mencium bibirnya hingga basah. Bahkan, Chelsea sedikit mengigit bibirnya.
"Papa, mau sama Chelsea?" tanya Chelsea kepada Daren. Pria yang telah menjadi mantan mertuanya itu hanya tersenyum tipis, ia tidak mungkin menjawab perasaan Chelsea yang sedang mabuk.
"Tidur, Chelsea. Nanti, kalau sudah sampai Papa bangunkan."
Satu jam kemudian.
Darin menggendong Chelsea secara bridal style, lalu pria itu membawa mantan menantunya itu ke dalam kamar yang selama ini ditempati oleh Chelsea dan putranya.
Cup.
"Kamu cium Papa lagi?"
Chelsea mengangguk pelan, ia bangun kembali ketika Daren menaruhnya di ranjang kamar.
"Papa, sangat tampan. Apakah mau sama Chelsea?"
Daren menggeleng kepalanya cepat, pertanyaan itu diucapkan oleh Chelsea kembali. Ia tidak menyangka bahwa Chelsea benar-benar bertanya kembali kepadanya.
"Tidur ya, sudah malam."
Daren lalu merapikan selimut untuk Chelsea, namun hal yang tidak ada dalam pikirannya bahwa mantan menantunya itu menarik tubuhnya hingga terjatuh tepat diatas tubuh Chelsea.
Chelsea kembali melumat bibir Daren, kali ini ia melakukannya dengan cepat. Bahkan kedua tangannya menarik tengkuk leher Daren agar ia bisa leluasa untuk mencium pria itu.
"Kenapa menantuku jadi seperti ini?"
"Papa, ayo! Kita nikmati malam ini berdua saja, tanpa memikirkan Gala. Aku sudah bebas kali ini, dan Papa bebas melakukan apapun sama aku."
Chelsea kembali mencium bibir Daren, semakin lama semakin terbuai. Dan Daren tidak bisa berbohong jika Chelsea adalah wanita pertama yang menciumnya setelah ia menjadi seorang duda.
"Kamu yakin mau sama Papa?"
"Ehm, Chelsea yakin Pa. Pesona Papa Mertua aku tidak kaleng-kaleng, jadi ayo sekarang kita lakukan."
Daren baru saja akan membuka kemejanya, tapi ia kaget melihat Chelsea yang tertidur kembali. Sepertinya malam ini ia akan menidurkan adik kecilnya yang sudah lama tertidur tanpa sentuhan seorang wanita.
"Gila, ini benar-benar gila. Mengapa adik ku jadi bangun lagi setelah Chelsea menyentuhnya."
Daren lalu meninggalkan kamar yang ditempati Chelsea, ia masuk ke dalam kamarnya yang berada di samping. Malam ini ia tidur di apartemen ini untuk melihat apakah Chelsea terbangun di malam hari.
"Ini benar-benar gila, kenapa jadi on sama mantan menantu sendiri."
Daren Arga Winata, seorang duda yang telah ditinggalkan oleh istrinya. Ketika pernikahan mereka berusia 5 tahun, Daren mengajak istrinya honeymoon yang ke-dua. Namun, ketika pulang dari honeymoon itu mobil yang ditumpanginya mendadak mogok. Daren lalu mengajak istrinya beristirahat di rest area, akan tetapi ketika mereka sedang berjalan menuju tempat istirahat. Ada mobil truk menabrak tubuh istrinya hingga terpental jauh, Daren yang melihat kejadian itu berteriak memanggil Sang istri yang ternyata sudah meninggal ditempat.
Setelah kematian istrinya, Daren sudah berjanji tidak kan menikah kembali. Ia hanya ingin mengurus Gala sampai besar, akan tetapi pesona mantan menantunya kini menjadi daya tarik Daren. Entah setan apa yang merasuki Daren sehingga ia bisa jatuh dalam pesona Chelsea.
"Kamila, maafkan aku. Aku sudah jatuh dalam pesona mantan menantu kita."
Daren menyadari bahwa pesona Chelsea tidak main-main, mantan menantunya itu memang cantik bahkan sangat cantik. Daren tidak percaya putranya berselingkuh dengan wanita lain, padahal seharusnya Gala bersyukur dengan adanya Chelsea sebagai seorang istri yang baik.
"Chelsea, kamu sangat cantik jika sedang tidur."
Malam ini, Daren terbangun dari tidurnya. Ia tidak percaya bahwa mantan menantunya itu mencium bibirnya. Bahkan adik kecilnya on ketika mendapatkan sentuhan dari Chelsea.
"Kasihan sekali kamu, kenapa harus mendapatkan perlakuan seperti itu sama Gala."
Daren tidak habis pikir dengan Gala, mengapa putranya bisa berselingkuh dengan orang lain dan membuat Chelsea bersedih. Andai saja ia bukan mantan mertuanya sudah pasti ia akan menaklukkan hati Chelsea yang telah patah karena ulah Gala.
"Kenapa aku jadi mengantuk?"
Kedua mata Daren merasakan kantuk, ia lalu mengambil tempat disamping Chelsea. Berharap besok pagi akan bangun lebih dulu dibandingkan mantan menantunya.
"Nyaman sekali disini, kenapa aku sepertinya akan pulas tidur bersama wanita ini."
Sinar matahari menyapa, pagi ini Chelsea bangun lebih awal dari biasanya. Entah mengapa ia merasakan kehangatan saat ini, tubuh mungilnya berada dalam pelukan seorang pria dewasa yang tidak lain adalah mantan mertuanya.
"Kenapa Papa Daren ada di ranjang ini? Apa yang semalam kita berdua lakukan?"
Chelsea menatap wajah Daren yang berjarak beberapa senti saja, rahang wajah Daren tegas, ada lesung pipi di kanan dan kiri pipi Daren membuat semakin terlihat tampan jika tersenyum.
"Kenapa aku baru menyadari kalau Papa Daren sangat tampan, seharusnya aku bertemu dengannya lebih dulu-"
Cup.
"Eh, aku dicium."
"Kamu telah mencium Papa juga semalam, bahkan sampai menggigit bibir Papa."
Chelsea melihat bibir Daren yang sedikit terluka, tidak menyangka perbuatannya kemarin membuat bibir Daren luka.
"Maaf, aku nggak sengaja kemarin.
Daren merasa gemas dengan Chelsea, ia lalu mencium bibir wanita itu dengan lembut. Ciuman yang Daren lakukan kali ini penuh perasaan, kali ini ia tidak memikirkan bagaimana perasaan Gala jika tahu dirinya sedang bersama Chelsea.
"Pa, stop! Aku kehabisan nafas, aku-"
"Maaf, Papa terlalu hanyut dalam ciuman ini. Dan sepertinya nggak bisa menunggu terlalu lama lagi, kamu sudah membangunkan adik kecil Papa."
Chelsea merasakan sesuatu yang teras keras, ternyata ia baru menyadari bahwa mantan Papa mertuanya itu sedang on pagi ini.
"Pa, kalau dua orang berbeda jenis kelamin berada dalam satu ranjang seperti ini. Setelah itu kita harus apa?"
"Katakan saja mau kamu apa, akan Papa turuti saat ini juga."
***
Seharian Chelsea bersama Daren, ia tidak perlu memikirkan makan apa hari ini. Karena Daren mengurusnya seperti seorang suami yang sayang kepada istrinya.
Setelah Chelsea berpikir, bahwa ada perbedaan yang sangat jauh antara Daren dan Gala. Mereka seperti dua orang yang tidak sama, benar-benar berbeda menurut Chelsea. Daren tipikal seorang pria yang sangat peduli dengan istri sedangkan Gala begitu cuek kepada istrinya yang tidak lain adalah dirinya sendiri.
"Bangun, Chelsea. Hari sudah sore, nggak baik kalau tidur lagi."
"Ehm, lima menit lagi Pa. Aku masih ingin tidur, setelah itu aku mau pulang."
"Kenapa harus pulang? Bukankah kamu suka disini?"
Chelsea menatap wajah Daren dengan tatapan tidak biasa, ia memang menyukai apartemen milik Daren. Dulu ia dan Gala suka menginap ketika weekend tiba, tapi sekarang ia bukan menantunya jadi lebih baik ia angkat kaki secepatnya dari apartemen ini.
"Mau sampai kapan kamu disini, Papa nggak akan melarang kamu."
"Tapi, aku malu Pa. Aku bukan lagi menantu Papa, jadi aku harus pergi-"
Cup.
"Jangan pikirkan itu, mau sampai kapanpun kamu menginap disini. Papa nggak akan melarang kamu, nikmati apartemen ini selagi kosong."
Daren memakai jas yang semalam ia pakai, sore ini mau tidak mau ia harus pulang ke rumah. Malam ini ia akan bertemu dengan Gala untuk menayangkan perihal perceraian dengan Chelsea.
"Pa, mau kemana?"
"Malam ini Papa akan ada pertemuan kerja, hanya sebentar saja."
"Papa balik lagi?"
"Ehm, nanti Papa balik lagi. Kamu tunggu Papa ya?"
Chelsea mengangguk kepalanya pelan, ia seperti sedang berbicara dengan seorang anak kecil saja. Chelsea selalu setuju apa yang diucapkan oleh Daren.
"Sebentar lagi baju ganti kamu akan datang, Papa mau lihat kamu memakainya nanti malam."
"Eh, maksudnya-"
Cup.
"Papa pergi, jangan lupa tunggu Papa di sini."
Setelah Daren pergi meninggalkan apartemennya, tidak lama kemudian ada suara bel berbunyi. Chelsea lalu bergegas menuju pintu untuk melihat siapa yang datang.
"Ini pesanan dari Tuan Daren, silahkan anda ambil Nona."
"Terima kasih."
Karena penasaran, Chelsea membuka paper bag yang berisikan baju. Ia mengira Daren memberikan kaos atau piyama untuknya, namun pemikirannya salah besar. Chelsea menatap lingerie beberapa warna yang sengaja Daren berikan untuk dirinya.
"Huh, kenapa Papa Daren begitu baik. Gala saja tidak pernah membelikan baju dinas seperti ini."
***
Daren pulang kembali ke rumah Gala putranya, setelah ia memberikan ultimatum kepada Gala agar menjauhi Chelsea. Lalu Daren pulang ke apartemen dimana Chelsea berada.
"Kenapa Papa memikirkan Chelsea? Apa yang terjadi?"
"Papa hanya ingin Chelsea bahagia, kamu sudah membuatnya kecewa."
"Ok, lagi pula aku sudah mendapatkan wanita yang bisa membuatku berdiri Pa."
Daren mengepalkan kedua tangannya, tidak menyangka bahwa selama ini putranya begitu jahat dengan Chelsea. Padahal wanita itu adalah tipe seorang istri yang setia, namun Gala bahkan berselingkuh dengan sahabat Chelsea.
"Memang selama ini Chelsea tidak membuatmu on?"
"Bisa, Chelsea adalah tipikal wanita yang mempunyai nafsu yang besar. Dan aku sudah menikmati permainan ranjangnya, tapi Gala bosan Pa sama mantan istri aku itu."
Ingin rasanya Daren memukul wajah putranya dengan tangannya sendiri, tapi ia masih bisa bertahan dalam emosi seperti sekarang ini.
"Gala bodoh, kenapa membuang berlian cantik seperti Chelsea. Padahal mantan istrinya itu begitu cantik, dan bisa membuat aku on terus."
Daren masuk ke dalam apartemennya, dengan kartu akses yang ia bawa. Daren tidak perlu menekan bel apartemennya.
"Kenapa gelap banget, dimana Chelsea sekarang."
"Aku disini Pa, apa Papa nggak lihat aku?"
Daren menyalakan lampu di dalam apartemennya, Daren begitu kaget melihat Chelsea yang saat ini sudah berada di atas ranjang dengan memakai lingerie yang dibelikan oleh Daren.
"s**t, kenapa aku on lagi." ucap Daren dalam hatinya.
"Bagaimana Pa, aku terlihat cantik bukan?"
"Ehm, kamu wanita yang sangat cantik. Dan sejujurnya kamu adalah wanita yang membuat Papa on terus."