Happy reading.
Chelsea mendapatkan pelukan dari Daren, begitu hangat. Sangat berbeda ketika bersama dengan Gala menurutnya, bagi Chelsea sosok pria dewasa yang notabene adalah mantan Papa mertuanya itu adalah pria penyayang yang pantas ia dapatkan.
Saat ini, keduanya sedang berpelukan diatas sofa. Dengan lampu seadanya. Chelsea menikmati suasana romantis dengan Daren.
"Aku sudah tidak memikirkan misiku yang akan membuat Gala sakit hati dengan mendekati Papa Daren, untuk sekarang aku menikmati apa yang diberikan oleh Papa Daren kepadaku."
Sejujurnya tujuan awal Chelsea memang ingin membuat mantan suaminya sakit hati dengan cara mendekati Daren, akan tetapi sepertinya ia mendapatkan karma secara langsung. Chelsea telah jatuh pesona Papa Daren yang menurutnya sangat berbeda dengan Gala.
"Seharusnya aku bertemu Papa Daren lebih dahulu dibandingkan dengan Gala, aku yakin hidupku akan bahagia karena Papa Daren selalu memanjatkan aku."
"Chelsea, sudah malam. Kamu tidak tidur?"
"Ehm, aku belum ngantuk Pa. Mau seperti ini dulu boleh?"
Daren terkekeh, ia tahu Chelsea sangat menyukai pelukannya. Daren juga tidak bisa memungkiri bahwa ia pun sangat suka memeluk Chelsea seperti sekarang ini.
"Pa, apa Chelsea boleh bertanya?"
"Boleh, apa yang kamu mau tanyakan sama Papa?"
"Apa Chelsea boleh lebih dekat sama Papa, seperti layaknya seorang wanita dengan pria?"
Daren tahu maksud dari pertanyaan Chelsea, ia tidak bodoh dengan pertanyaan itu.
"Kamu maunya kita seperti apa? Sepasang kekasih atau sepasang suami istri?"
***
Cup.
"Terima kasih Pa, sudah antar Chelsea pulang ke kontrakan."
Satu ciuman mendarat dibibir Daren, Chelsea sudah tidak canggung melakukan hal itu. Hubungan antara mantan menantu dan mertua sudah tidak ia pikirkan lagi, hatinya sudah nyaman dengan pria dewasa yang menemani tidurnya semalam.
"Ini kontrakan kamu?" tanya Daren tidak percaya.
Daren mengedarkan pandangannya ke sebuah kontrakan kecil yang ditempati oleh mantan menantunya itu, kecil dan menurutnya sangat tidak layak untuk Chelsea. Namun, ia tidak bisa membujuk Chelsea untuk tinggal bersamanya karena memang hubungan mereka hanya sebatas mantan menantu dan mertua.
"Kamu yakin nggak mau tinggal di apartemen punya Papa? Padahal kosong loh."
"No, aku mau tinggal di kontrakan aja. Aku nggak mau digerebek sama warga karena aku sama Papa bukan muhrim."
Daren mengusap punggung wanita yang selama ini menjadi menantunya itu, Chelsea memang terlihat dewasa sekarang dan ia cukup mengerti apa yang diucapkan oleh Chelsea.
"Baiklah, Papa nggak larang kamu tinggal di sini. Tapi, kalau kamu nanti mau tinggal di apartemen Papa. Kamu langsung aja datang, kartu akses sudah ada ditangan kamu bukan."
"Ehm, itu pasti Pa. Kalau begitu, aku mau masuk dulu."
Cup.
"Kenapa cium Papa lagi?"
"Takut Papa kangen sama Chelsea." bohong Chelsea. Padahal Chelsea sudah terbiasa dengan ciumannya kepada Daren, seperti ada yang bilang jika ia tidak memberikan ciuman bibirnya ke Daren.
"Ehm, sepertinya Papa nanti malam nggak bisa tidur karena ulah kamu."
Daren meninggalkan rumah kontrakan Chelsea, saat ini ada banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan. Padahal seharusnya Gala yang mengurusi semuanya.
"Aku harus mengerjakan pekerjaan Gala lagi, anak itu memang tidak bisa diandalkan."
Sementara itu.
Baru saja Chelsea masuk ke dalam kamarnya, ia sudah merasakan kerinduan kepada Daren. Sentuhan pria dewasa itu seperti obat yang memabukkan, dan Chelsea membutuhkannya.
"Kenapa aku jadi rindu sama Papa, padahal aku baru saja masuk ke dalam kamar."
Chelsea merebahkan tubuhnya di atas ranjang, berusaha mengingat kembali kejadian semalam yang tidak akan terlupakan untuknya.
"Pa, Chelsea mau jadi istri kedua Papa."
"Kamu yakin?"
"Ehm, Papa terbaik deh. Aku suka sama Papa."
Mereka saling berciuman, Daren yang lebih dulu mencium Chelsea. Dan wanita itu membalasnya dengan ciuman yang lebih panas dari sebelumnya.
"Kamu mau melanjutkan ini di ranjang?"
"No, aku mau di sini aja. Kalau sudah di atas ranjang setelah kita menikah nanti."
"Kamu mau kita menikah?"
"Ehm, aku mau kita melakukan hal apapun dengan status yang jelas."
Chelsea tersenyum tipis, ia benar-benar kecanduan dengan sentuhan Daren. Ciuman Daren pun sudah membuatnya kecanduan, memang benar pesona Papa mertuanya sudah tidak bisa diragukan lagi.
"Aku kerjain Papa ah."
Chelsea mengirimkan sebuah foto selfi untuk Daren, ia hanya menunggu jawaban pesan dari Daren tentang foto selfi.
"Sebaiknya aku tidur dulu, mungkin pesan aku belum dibaca."
Satu jam kemudian.
Di dalam ruangan besar, Daren baru saja merebahkan tubuhnya di atas kursi kerjanya. Pagi sampai sore ia akan berada di kantor untuk mengerjakan semuanya.
"Sepertinya tadi aku mendengar suara pesan masuk."
Daren mengambil ponselnya, pagi ini ia memang membawa mobil sendiri. Karena ia ingin mengantarkan Chelsea sampai rumah kontrakan, selain itu ia juga ingin mengetahui dimana tempat tinggal Chelsea setelah bercerai dengan putranya.
"Chelsea? Mengirimkan sebuah foto."
Daren membuka aplikasi pesan, ia lalu mengklik tombol yang ada di ponselnya.
"s**t, kenapa harus berpose seperti itu."
Daren melihat sebuah foto Chelsea ya g sangat menggoda, dengan hanya menggunakan tank top saja. Daren kembali on seperti semalam.
"Sial, sepertinya aku harus menikah lagi dengan Chelsea. Aku nggak sanggup jika berjauhan seperti ini."
***
"Malam Papa sayang."
Panggilan video call Chelsea kali ini untuk Daren, ia sudah terlalu rindu dengan pria dewasa itu. Tidak sanggup berlama-lama dengan Daren.
"Malam Chelsea, kenapa. Kangen ya sama Papa."
"Ehm, Chelsea kangen sama Papa."
Daren tertawa kencang, saat ini ia sedang berada di dalam kamar hotel. Daren malas pulang ke rumah karena tidak ingin bertemu dengan Gala, lalu ia juga malas pulang ke apartemen karena tidak ada Chelsea.
"Kamu kangen sama Papa?"
"Ehm, kangen banget. Aku mau ketemu Papa terus."
Daren menatap wajah mungil Chelsea Daru layar ponselnya, jika saja wanita itu disampingnya sudah pasti Daren akan menciumnya.
"Bagaimana kalau kamu datang ke perusahaan Papa sekarang, Papa sedang ingin bermanja denganmu. Papa tunggu ya."
"Wah, ide bagus. Aku bisa bermanja dengan Papa sekarang."
"Papa tunggu sekarang, datang langsung ke hotel Papa, masuk ke lantai 20 ya."
Chelsea memberikan dua jempol untuk Daren, lalu ia menyudahi panggilan video call dengan pria itu.
"Saatnya kita menggoda Papa Daren."
Chelsea sudah sampai sejak beberapa yang lalu, ia menatap perusahaan tempat dulu ia bekerja. Chelsea ingat betul jika dulu pernah menjadi sekretaris Gala, lalu ia keluar dari perusahaan karena permintaan Gala yang hanya istrinya menjadi ibu rumah tangga saja. Dan Chelsea menerima dengan senang hati, namun ternyata setelah itu Gala mengkhianati kepercayaannya dengan berselingkuh.
Namun, siapa sangka Chelsea bertemu dengan Gala di perusahaan ini. Bahkan, ia melihat mantan suaminya bergandengan dengan sahabatnya yang menjadi selingkuhan suaminya.
"Chelsea, kamu sedang apa di perusahaan ini?"
"Itu bukan urusan kamu, jangan pedulikan aku Gala."
Chelsea lebih memilih mencari alternatif untuk kelantai 20 dari pada ia harus satu lift dengan Gala dan Bella, sungguh sangat menyakitkan baginya.
"Silahkan kalian jalan lebih dulu, aku tidak mau satu lift sama kalian."
Setelah mereka sudah lebih dulu masuk, barulah Chelsea masuk ke dalam lift. Ia mengurungkan niatnya untuk naik tangga darurat karena ia yakin tidak akan sanggup Chelsea naik tangga sampai ke tingkat 20.
"Selamat datang Chelsea."
Cup.
Chelsea mencium bibir Daren bertubi-tubi, ia sudah sangat rindu dengan pria itu. Chelsea tidak perlu jika saat ini CCTV sedang on melihat apa yang ia lakukan dengan pemilik hotel ini.
"Pa, kangen."
"Papa juga kangen sama kamu."
"Peluk aku Pa, cium aku juga."
Daren mengikuti perintah Chelsea, ia mengendong Chelsea menuju sofa. Lalu masih dalam posisi duduk, Daren tidak melepaskan ciumannya yang begitu hangat menurut Chelsea.
"Pa, apa yang Papa lakukan sama Chelsea."