Merebut Kembali

1335 Kata
Happy reading. Gala tidak menyangka bahwa kedatangannya untuk menemui Papanya itu membuat hatinya hancur, membayangkan saja ia tidak percaya dengan pemandangan yang sedang panas-panasnya antara Papanya dengan Chelsea mantan istrinya. Apalagi ia melihat dengan kedua matanya bahwa mantan istrinya sedang berciuman dengan Papanya sendiri. "Sial, seenaknya saja mantan istri gue dekat sama Papa. Apa nggak ada laki-laki yang lebih pantas apa?" Gerutu Gala. Gala memang sudah bercerai dengan Chelsea, tapi bukan berarti ia sudah tidak mencintai mantan istrinya. Jika waktu bisa di atur, ia ingin kembali lagi dengan Chelsea. Sejak dulu hatinya hanya milik Chelsea sampai kapanpun, tapi karena sekertarisnya yang tidak lain adalah sahabat Chelsea selalu menggodanya membuat dirinya seakan lupa dengan perasaannya. "Aku harus merebut kembali-" "Mas, kenapa baru datang?" Gala menutup mulutnya, ia tidak tahu sejak kapan Bella ada di rumahnya. Padahal setahu Gala Bella sedang berada di Bogor untuk bertemu keluarganya. "Kamu sudah pulang?" "Ehm, aku sudah pulang Mas. Kamu kenapa, wajah kamu-" Cup. Gala mencium bibir Bella istrinya, kini ia ingin meluapkan kekesalannya kepada Bella. Bagaimanapun, hubungannya dengan Chelsea karena ia dekat dengan Bella. Dan memang kesalahannya karena tergoda dengan sahabat mantan istrinya itu. "Mas, kamu kenapa sih?" "Layani aku Bella, aku mau kamu sekarang." Bella tersenyum senang, tidak percaya bahwa Gala masih membutuhkannya sebagai seorang yang memuaskan. Bella akan lakukan apapun malam ini, walau sebenarnya ia harus beristirahat karena sedang mengandung anak Gala. "Pelan-pelan ya, aku-" "s**t, kamu begitu menggoda Bella." Desahan kembali terdengar ditelinga Gala, Bella merasakan permainan suaminya lebih kuat dari sebelumnya. Sejenak ia berpikir jika saat ini Bella kasihan dengan calon anaknya yang masih berusia 2 bulan. "Ah, kenapa rasanya sakit sekali. Tidak seperti biasanya." Keesokan harinya. Bella bangun tidur terlebih dahulu sebelum Gala, Bella sangat terkejut ketika ia melihat ada banyak cairan kental berwarna merah. Membuat perasaan ketakutan. "Mas, bangun. Temani aku ke dokter." "Masih ngantuk, kamu aja sendiri." Memang dokter yang menangani Bella tidak terlalu jauh, Bella tidak ingin pergi ke rumah sakit karena sampai sekarang ia trauma jika datang ke rumah sakit. Bella kembali merasakan kesakitan, ia lalu bergegas menuju kamar mandi. Sebelumnya sprei yang kotor ia bawa ke dalam tempat pencucian, setelah ia pulang Bella akan mencuci kembali. Sesampainya di tempat praktek dokter, Bella mengatakan sejujurnya akan apa yang dirasakan sejak malam. Dokter kandungan yang merawat Bella satu bulan ini mengatakan bahwa calon anak yang masih berusia dua bulan sudah tidak ada. "Saya keguguran dok." "Ehm, saya akan rujuk kamu ke rumah sakit. Mau bagaimana pun kamu harus ditangani oleh dokter kandungan yang ada di rumah sakit besar." Bella tidak menyangka bahwa kabar kegugurannya membuat ia syok, seandainya saja semalam ia bisa menolak permintaan gala untuk memuaskannya ia masih mempunyai calon anaknya. Tapi, ternyata takdir berkata lain. Bella harus mengalami keguguran ketika usia kandungannya baru berusia 2 bulan. "Silahkan ibu Bella ke rumah sakit ini, semua sudah siap untuk melakukan proses Dilatation and Curettage (D&C) atau kuret." "Baik dok." Siang harinya. Gala bangun dari tidurnya, ia bingung keadaan kamarnya yang tidak ada istrinya. Padahal seingat Gala, istrinya semalam memuaskannya sampai pukul 1.00 malam. "Bella kemana sih, kenapa pergi lagi?" Gala mencari ponselnya yang ia letakan di meja, ia melihat ada banyak pesan masuk dari bella sejak pagi. "Bella, di rumah sakit. Keguguran?" Gala bergegas menuju rumah sakit, ia ingin melihat keadaan Bella sampai bisa dirawat karena keguguran. Sampai saat ini ia tidak percaya jika Bella sedang hamil anaknya. "Kenapa nggak kasih tahu kalau lagi hamil." Sangat disayangkan jika Bella sampai keguguran, padahal selama ini ia ingin sekali mempunyai seorang anak. Dengan Chelsea ia belum dikaruniai, lalu ketika menikahi Bella kenapa harus kehilangan calon anaknya. "Sial, apa ini yang namanya karma dibalas cepat." *** Dua hari kemudian. "Kamu harus istirahat lebih banyak Bella, tapi aku nggak bisa jaga kamu." "Tapi, aku lagi butuh kamu Mas." "Bel, aku sudah libur dua hari nunggu kamu di rumah sakit. Terus, aku harus libur lagi nggak mungkin. Bisa kena Omelan aku sama Papa." Bella menghela nafas panjang, saat ini ia butuh Gala disampingnya. Bella ingin seperti seorang istri yang disayangi dan dicintai sepenuhnya, rasanya Bella ingin berteriak jika ia tidak menyukai apa yang dilakukan oleh Gala. "Aku pergi kerja dulu, kamu dirumah aja." "Sepertinya memang Mas Gala nggak sayang sama aku." Sepanjang hari, Bella hanya duduk saja. Jika ia ingin makan, Bella akan memesan makanan melalui aplikasi yang menawarkan makanan. Seharian Bella hanya duduk di depan tv untuk beristirahat, Bella sama sekali tidak memikirkan keadaan rumah yang berantakan. "Bel, astaga. Apa-apaan kamu, kenapa banyak banget sampah makanan." "Aku lapar Mas, aku pesan makanan di-" "Bersihkan sampah ini semua, aku nggak mau lihat rumahku kotor. Kamu beda banget sama Chelsea." "Mas-" "Stop! Aku mau istirahat, setelah aku bangun tidur rumah harus rapi." Bella mendengkus sebal, ia sedang dalam masa pemulihan sesuai apa yang diucapkan oleh dokter kandungan yang merawat dirinya. Lalu, bisa-bisanya Gala menyuruh dirinya untuk merapikan semua yang kotor sebelum Gala bangun tidur. "Sial, jika saja aku tahu bakal seperti ini. Aku nggak akan mau sama Mas Gala yang mandul itu." Sementara itu. Gala merebahkan tubuhnya di atas ranjang, otaknya melayang memikirkan Chelsea yang pagi ini semakin seksi. Mantan istrinya menjadi sekertaris Papanya sendiri, dan ia akan bertemu Chelsea setiap hari di kantor. "Kenapa Chelsea semakin cantik saja, aku seperti tidak rela jika Papa bersama dengannya." Gala sudah mendengar pernyataan Papanya jika Chelsea adalah wanita yang sedang dekat dengan Papanya, ia bahkan mendengar bahwa mereka akan segera menikah secara sah. Dan mau tidak mau Gala harus melihat pernikahan mereka berdua. "Sial, kenapa aku jadi cemburu gini." Gerutu Gala. Gala tidak percaya jika Chelsea mau menikah dengan Papanya, padahal selama ini ia tahu perasaan Papanya yang masih mencintai Mama kandungnya. Tapi, mengapa Papanya mencintai mantan istrinya yang semakin hari terlihat semakin seksi. Sejujurnya ia tidak suka, tapi jika menentang Papanya sudah pasti ia akan mendapatkan sangsi tegas dari Papanya sendiri. "Tapi, aku nggak akan lihat Papa bahagia. Chelsea nggak akan punya anak dari Papa, selama ini Papa nggak tahu kalau Chelsea itu mandul." Gala tersenyum senang, ia tidak harus bersedih untuk masalah anak. Terbukti jika ia bisa membuat Bella hamil, dan memang selama ini ia tahu bahwa Chelsea mandul. Maka dari itu ia belum mempunyai anak dari pernikahan dengan Chelsea. "Cih, yang sebenarnya mandul itu kamu Mas Gala. Kenapa kamu nggak menyadarinya." *** Setiap hari Gala harus melihat Chelsea sebagai sekertaris Papanya, mantan istrinya semakin hari terlihat cantik saja. Bahkan menurutnya Bella kalah jauh dibandingkan dengan Chelsea. Siang ini, ia berpapasan dengan Chelsea di lift. Mantan istrinya kali ini hanya sendiri tanpa bersama Papanya, entah kemana sekarang Daren. Yang jelas Gala mempunyai kesempatan untuk berbicara dengan mantan istrinya itu. "Chel, kamu mau kemana?" "Kamu bisa nggak panggil aku dengan nama yang benar, bukan Chel lagi seperti dulu." "Ck, kamu nggak suka? Bukankah kamu menyukai panggilan-" Chelsea meninggalkan Gala, siang ini ia hampir saja terlambat untuk datang ke kantin. Daren sudah menunggu sejak tadi, mantan mertuanya itu sudah datang lebih dulu dan memesan makanan untuk mereka berdua. "Chel, kamu mau kemana? Aku bisa antar kamu?" "Stop! Jangan ikut campur Gala, aku mau kemana bulan urusan kamu. Jadi-" "Aku masih cinta sama kamu, sayang aku masih sama seperti dulu." Chelsea terdiam, ia tidak percaya bahwa Gala masih mencintai sampai sekarang. Lalu, mengapa Gala bisa berselingkuh dengan Bella ketika pernikahan mereka akan menginjak 3 tahun. "Kamu sudah menikah dengan Bella, untuk apa kamu masih cinta sama aku." "Aku khilaf, Bella selalu menggodaku disaat kamu nggak ada di rumah. Dan aku tergoda dengan Bella." Gala berkata sejujurnya, ia memang tergoda dengan Bella jika Chelsea sedang tidak di rumah. Tapi, sampai saat ini Gala masih mencintai Chelsea seperti dulu. "Chel, aku mau kita menikah kembali. Kamu nggak cocok sama Papa aku, kamu pasti bahagia denganku. Aku yakin itu." "Kita sudah bercerai, dan aku nggak mau menjadi istri keduamu. Lebih baik kamu urus istrimu saja, aku sudah bebas tanpa ikatan darimu." Chelsea dan Gala masih berdebat mengenai perasaan mereka berdua, mereka tidak tahu ada sepasang mata menatap mereka dengan perasaan kesal. "Mas Gala, kenapa mau menikah kembali dengan Chelsea disaat aku baru saja keguguran."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN