Aku mengusap air mataku yang tiba-tiba saja mengalir, nggak sadar kalau ternyata aku menangis. Sakit hati banget sih sama perkataan Daffin. Iya, aku tahu kalau aku tuh nggak cantik, nggak glowing dan nggak sexy seperti cewek-cewek jaman now, tapi setidaknya dia bisa menghargai aku sebagai istrinya dong. Kalau apa-apa harus di lihat dari cover, apa kabar sama aku yang biasa aja gini. "Di usap gih." Aku mendongak, kemudian menatap tisu yang di sodorkan Daffin. Cuma selembar doang lagi. Terus ngapain juga dia ke sini? Emang peduli sama aku, bukannya tadi dia bilang cuma lihat di cover doang. Cover aku mana ada bagus-bagusnya. "Ngasih tisu cuma selembar doang." Aku menyambar tisu yang tadi disodorin Daffin dengan agak kasar, lumayanlah buat ngelap ingusku yang hampir keluar. "Biar hemat."

