Dua hari setelah cuti pernikahan, aku dan Daffin akhirnya kembali ke kampus. Tidak ada yang spesial selama dua hari itu, yang ada malah sering ribut. Nggak tahulah, pengantin baru tapi malah seperti musuh bebuyutan. Tapi meskipun begitu Daffin tidak pernah main tangan, ribut juga nggak ada lima menit udah akur lagi.
“Daf, kamu mau di buatin kopi nggak?”
“Teh aja jangan kopi.”
“Oke.” Baru tahu aku kalau Daffin nggak suka kopi, cowok lho padahal.
“Gulanya dikit apa banyak?” Aku kembali bertanya ‘kan, nggak tahu porsinya dia gimana.
“Dikit aja, biar hemat.”
Aku yang lagi mau buka tutup gula langsung menatap ke arah dia. Salah fokus dengan kata biar hematnya. Sampai segitunya ya, perhitungan sama diri sendiri.
Setelah menyiapkan segala keperluan buat sarapan, kami pun makan dalam keadaan hening. Daffin ternyata nggak begitu suka kalau lagi makan ada orang bicara, apalagi sampai mengeluarkan kecapan, pokoknya anteng banget dia kalau makan, ngalahin putri keraton.
Selesai sarapan dan membereskan sisa makanan, kami segera bersiap menuju kampus. Kami turun dari lif juga barengan, tapi dari tadi tuh hanya diem-dieman, dia nggak punya inisiatif buat menyapa aku duluan apa? Masa cewek dulu sih yang memulai.
“Daf, aku boleh nanya sesuatu nggak?” Akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya lebih dulu, lagi pula ada istilah ladies first, jadi nggak ada salahnya untuk mengawali.
“Hmm.” Daffin mulai melangkah keluar dari lif, ninggalin aku di belakangnya, tanpa ada niatan menggandeng tanganku atau sekedar mengucapkan ayo.
Aku mencoba mengimbangi langkah Daffin yang lebar. Ternyata meskipun hematnyan nggak ketulungan, kalau melangkah lebar juga dia.
“Daf, kamu kok melangkahnya lebar banget sih, tumben lho nggak dikaitkan sama filosofi hemat kamu yang super pailit itu.” Eh? kok jadi kalimat gini sih yang keluar, unfaedah sekali, padahal aku ‘kan, mau tanya hal lain, malah asal nyeplos begitu saja.
Daffin menatapku sebentar, kemudian kembali lagi menatap lurus ke depan, bahkan dia sempet menghembuskan napas juga. Kesel paling punya istri modelnya kayak aku.
“Hehehe, nggak perlu di tanggepin, Daf. Nggak penting kok.” Aku nyengir lebar, kemudian memegang mulutku sambil mengatupkan bibir dan memejamkan mata. Malu banget sih aslinya, kenapa juga ngomong hal yang nggak penting gitu. Apa dia juga marah ya, tadi aku katain pailit.
“Biar nggak buang-buang waktu. Soalnya waktu yang udah lewat nggak bakal kembali.”
“Eh?” Aku menatap Daffin tidak percaya. Dia nanggepin omonganku? Kok aku jadi seneng gini sih, apalagi kata-katanya dia bisa jadi pelajaran. ‘Waktu yang udah lewat nggak bakal kembali.’ Pinter juga my hemat husband, apa ngutip dari mbah google?
Kami pun terus berjalan, sampai kemudian tiba di tempat biasanya orang nunggu angkot. Daffin masih aja diam, aku jadi bete sendiri nggak ada temen ngobrol, padahal punya suami, tapi berasa jomblo.
“Daf?”
Daffin cuma diem, dia nggak nanggepin aku lagi. Tapi bodo amat, aku tetep mau nanya sesuatu, ajakin aja ngobrol terus ntar lama-lama juga nanggepin.
“Kenapa kamu nggak suka kopi ya? Padahal kamu ‘kan, cowok, jarang lho cowok yang nolak di kasih kopi.”
“Nggak suka pahit.”
Owh, jadi dia nggak suka pahit. Aku catet nih di otak aku, semoga aja masih ingat. Mengherankan sebenarnya, nggak suka pahit tapi omongannya sering pahit, begitu keluar dari mulutnya sering bikin aku keselek.
“Tapi, Daf, kalau nggak suka pahit ‘kan, bisa di tambahin gula—”
“Gula mahal, lebih baik menghemat. Kalau teh nggak perlu nambahin gula lebih banyak, soalnya dia nggak begitu pahit, beda dengan kopi yang banyak paitnya.”
Astaghfirullah, perhitungan banget suami aku. Okey, satu hal lagi yang aku tahu dari Daffin, dia bakal ngomong panjang lebar kalau ngejelasin tentang duit, dan proses itung-itungan dia yang katanya hemat. Ckckck.
“Coba aja kamu kalau minum sambil liatin aku, pasti rasanya makin manis.”
“Makin pait iya.”
'Mulut kamu tuh yang pait!' Tega banget dia ngomong begitu di depan aku, mana banyak orang lagi. Semprul memang!
“Dih, sok-sokan kamu, padahal belum pernah nyoba juga. Awas aja ntar kalau udah nempel, ketagihan tau rasa kamu.”
“Nggak mungkin!”
“Mungkinlah. Kamu ‘kan, belum ngerasain.” Aku ngomong sedikt ngegas. Kesal juga di tolak seperti itu di depan umum, padahal belum icip rasanya juga. Kampret emang!
Daffin tidak menggubris omonganku lagi, karena tidak lama setelah itu angkot yang kami tunggu sudah tiba, dan kami segera naik. Selama dalam perjalanan juga diem-diem bae. Nggak ngomong sama sekali dia, padahal ibu-ibu di sampingnya lagi ghibahin dia yang katanya gantenglah, kinclonglah, tinggi lah, apalah, lebih-lebih pokoknya, tapi si hemat ini tetep aja masang muka datarnya.
“Daf, kamu lagi di ghibahin tuh.” Aku berbisik di telinga Daffin, biar ibu-ibu itu tidak dengar, tapi tanggepan Daffin tetep kayak biasa.
“Hmmm.”
Nyesel aku bisikin dia, orang dianya aja nggak perduli kok, emang perlu nih kayaknya spesies orang kayak Daffin, biar nggak gampang sakit hati, jadi kebal sama omongan sana-sini.
Setelah sampai di kampus aku dan Daffin segera menuju ruang dosen, di depan sana udah ada Sandra yang dari tadi ketawa-ketiwi lihatin aku. Sumpah ya, tiap ingat kejadian memalukan malam itu bersama Daffin, rasanya pingin jambak Sandra.
“Ciee ... pengantin baru barengan terus ni ye.” Sandra menyenggol bahuku pelan sambil senyum nggak jelas, sedangkan Daffin memilih tidak menanggapi dan masuk ke dalam.
“Ciee ... yang pingin nikah tapi aku duluin.” Aku balas meledek Sandra, biarin ajalah dia kesel.
“Asem lo, Ni! Mulut lo makin pedes aja setelah menjadi bininya Daffin— eh Ni, gue ada kabar gembira lho.”
“Apaan?”
“Skripsi gue udah di acc dong, dan gue mau daftar sidang bulan depan.” Sandra kembali tertawa. Bahagia benget kayaknya.
“Kamu serius, San?”
“Serius lah. Makanya lo jangan kelamaan kawinnya.”
Aku berdecak. “Apaan sih. Kawin mulu pikiran kamu, nggak jelas tahu nggak. Terus kamu tuh ngapain coba ngado hal nggak berfaedah kayak gitu. Malu-maluin tau!” Aku mulai mengomeli Sandra, tapi dia tetep aja nggak ngaruh, cewek di depanku ini masih aja ketawa-ketiwi, malah makin keras.
“Kecilin tawa kamu, San!” Aku melotot ke arah Sandra.
“Gimana kado gue? Daffin kuat sampai pagi ‘kan?”
“Kuat mak lampir gagal diet. Enak aja kamu kalau ngomong, yang ada malu-maluin tau nggak.”
“Apanya yang perlu di maluin? Daffin mau grepe-grepe lo juga sah-sah bae.”
Grepe-grepe apaan. Yang ada aku malah yang grepein dia, kalau di ingat-ingat, itu adalah momen memalukan kesekian yang pernah aku alami.
“Kamu nggak bimbingan?”
Aku menoleh ke sumber suara yang tidak asing lagi di telingaku. Suami hematku. Dia lagi tanyain aku ya? Tumben banget.
“Bimbingan lah, kamu udah selesai?”
“Hmmm.”
Ha? Cepet banget, perasaan baru masuk deh, apa aku yang kelamaan gibah ya?
Setelah menjawab itu Daffin hendak pergi ninggalin aku gitu aja, tapi segera saja aku cegah.
“Eh, kamu mau kemana? Kok ninggalin aku.”
“Ada keperluan.”
Keperluan apa sih yang lebih penting dari nunggin istrinya, emang keperluan itu bisa ngelonin dia di kamar apa.
“Setidaknya nunggin lah, Daf.”
“Kelamaan.”
Daffin kalau ngomong nggak cuma irit, tapi juga pait. Untung aja dia nggak suka kopi, coba kalau suka pasti omongannya bakal menusuk kalbu.
Aku berdecak. Susah kalau ngomong sama Daffin. “Ya udah, kalau gitu aku minta uang.”
“Buat?”
“Buat dugem, ya beli buat keperluan dapurlah, kamu nggak lihat di dapur udah nggak ada makanan yang bisa di olah lagi.”
Daffin menghembuskan napasnya, kemudian merogoh sakunya dan menyerahkan satu lembar uang. Setelah itu dia pergi ninggalin aku sama Sandra yang dari tadi senyam-senyum.
“Ciee ... dapat jatah nafkah.” Sandra masih saja meledek, tapi tidak ku hiraukan, aku lebih memilih melipat uang yang di berikan Daffin, tapi begitu aku melihat nominalnya mataku langsung terbelalak.
“Dikira aku Nawang Wulan apa bisa rubah uang sepuluh ribu jadi sejuta?” Aku menatap uang yang ada di genggamanku tak habis pikir. Ya ampun, seperhitungan itukah suamiku?
“Ya ampun, Ni. Ya udah pinjam punyaku aja nih.” Sandra hendak mengeluarkan uang yang ada di dalam tasnya, tapi aku melarangnya. Ini masalah rumah tangga ku dan nggak ada sangkut pautnya sama Sandra. Aku nggak mau melibatkan dia dalam hal ini. Ini urusan aku sama Daffin.
Asal tahu aja ya, duit hasil nikahan kita aja dibawa dia semua, aku nggak dikasih sama sekali, katanya kalau aku butuh sesuatu tinggal minta dia aja, tapi kalau begini caranya bukannya makin makmur tapi kayak orang cacingan aku. Kurus ngadepin kelakuan dia.
***
Aku keluar dari ruang dosen dengan hati dongkol, tadi udah sebel sama Daffin, di dalam juga diceramahin pak Didit tentang dia, katanya aku banyak revisi lah, Bab III sama IV kurang ini-itulah, dan akhirnya aku di suruh minta diajarin Daffin buat ngerjain metode sama hasil penelitian.
Aku kembali melangkah, hari ini aku harus kembali kerja di café, lumayanlah hasilnya bisa di tabung, kalau ngandelin Daffin doang kayaknya nggak bisa. Aku juga sengaja nggak pamit dia secara langsung tadi, cuma ngirim lewat pesan aja.
Sesampainya di café aku langsung di sodori Riska dengan buku menu dan perlengkapan sebagai pelayan café. Gila nih anak, nggak ada sopan-sopannya sama yang lebih tua.
“Ya ampun, Ni. Untung aja lo udah balik kerja lagi, kemarin café rame banget tau, gue keteteran gara-gara nggak ada lo.”
Syukur deh, dateng-dateng Riska langsung marah-marah, dari pada di ledekin terus tentang pernikahan ku sama Daffin.
Selama melayani pengunjung di café ini, tadi aku sempet lihat Bagas melamun di pojokan café, tempat dia biasanya bersantai kalau pengunjung lagi sepi atau sekedar istirahat saja. Dia sebenarnya punya ruangan sendiri, tapi nggak jarang juga dia nongkrong disana, itu juga tempat yang di gunain Bagas buat ngobrol sama Daffin waktu itu.
“Ris, Bagas kenapa? Aku perhatiin dari tadi melamun terus?”
“Nggak sopan lo bilang Bagas doang, lebih tuaan dia juga.”
“Mirror please! Kamu juga gitu sama aku. Udah jawab pertanyaan aku yang tadi.”
Riska cuma nyengir lebar kemudian mengendikan bahu. “Nggak tahu gue, udah dua hari kemarin kayak gitu, lagi patah hati mungkin, kita sebagai pegawai mana berani buat negur.”
Aku cuma manggut-manggut doang denger penjelasan Riska, bisa jadi sih. Ternyata hebat juga ya efek orang lagi patah hati. Orang seramah Bagas aja bisa lemes gitu kayak kerupuk lupa di goreng.
Setelah sekian lama melayani pembeli, yang entah kenapa begitu ramai hari ini atau emang sudah dua hari yang lalu, pekekerjaanku akhirnya selesai. Aku segera menuju ke ruangan Bagas untuk berpamitan, dia udah kembali ke ruangannya soalnya, udah nggak mojok lagi di tempat tadi.
Aku mengetuk pintu pelan, dan membukanya setelah mendengar kata masuk dari Bagas. Aku tersenyum ke arahnya, tapi entah kenapa dia tidak membalas sama sekali seperti yang dilakukan sebelum-sebelumnya. Aura orang patah hati kerasa banget emang, panas dingin kayak lagi di kukus, atau emang akunya aja ya yang lebay.
“Mas Bagas, saya mau pamit pulang.”
Bagas yang tadi tidak mengacuhkanku tiba-tiba saja langsung mendongak menatapku.
“Kamu nggak ambil sif malam?”
“Eh? Nggak, Mas, lagi nggak bisa. Kenapa? Lagi butuh banget ya?”
Bagas terlihat memikirkan sesuatu, tapi setelah itu menggeleng. “Ya sudah, silahkan.”
Aku mengangguk. “Terima kasih, Mas, permisi.” Belum sempat aku menutup pintu, Bagas kembali memanggilku.
“Kamu pulang sama siapa, Ni?”
“Sendiri, Mas, kayak biasanya.”
“Memangnya tidak di jemput Daffin?”
Kok Bagas bisa tahu tentang Daffin ya, setahuku dia nggak ada waktu pernikahan kami kemarin. Apa Daffin yang ngasih tahu ya? Bisa jadi sih, mengingat mereka pernah bertemu. Lagi pula mana mungkin Daffin mau repot-repot buang waktu berharganya buat aku. Cowok super hemat kayak dia pasti bakal perhitungin sesuatu yang emang manfaat banget buat dia.
“Nggak, Mas. Daffin masih ada urusan kayaknya. Saya permisi, Mas.”
“Eh, biar saya anter, Ni.”
What? Kuping aku congean ya? Atau kemasukan garpu? Bagas tadi bilang mau nganterin? Kerasukan hantu pojokan café kali ah, sampai ngomong ngelantur gitu.
“Kamu mau ‘kan, Ni?”
“Eh?” Aku malah gelagapan sendiri, menatap Bagas yang masih duduk di tempat kerjanya. “Nggak perlu, Mas. Lagian udah biasa pulang sendiri kok, nggak enak juga sama pegawai lain.”
Bener ‘kan, omonganku, nanti yang ada malah jadi bahan gibah di café. Kalau yang dianterin pegawai cantik, seksi, bohay mah wajar-wajar aja, lha modelnya aja kayak aku yang burik gini.
Aku kembali tersenyum ke arah Bagas, kemudian menutup pintunya perlahan dan segera pergi dari café, setelah ini harus belanja keperluan dapur, untung aja masih ada sedikit uang di dompetku, jadi bisa ditambahin buat belanja.
***
Sampai di apartmen aku segera meletakkan bahan belanjaan di dapur, setelahnya menuju kamar untuk membersihkan diri, tapi begitu sampai di kamar yang aku lihat malah Daffin yang lagi ngerjain sesuatu entah apa itu, dia lagi pegang laptop sambil rebahan.
Astaghfirullah, aku capek-capek kerja, beli bahan dapur, nggak di jemput, udah gitu setelah sampai di rumah dia cuma rebahan doang gitu. Pingin aku tabok aja mukanya biar peka dan songongnya ilang, berasa kayak pilm-pilm di ikan terbang aku, tau ‘kan, pilm yang selalu nayangin kisah miris istri, kalau nggak salah judulnya hati istri bengek. Mirip banget dah sama kehidupanku hari ini. Udah gitu yang bikin dongkol lagi, Daffin nggak nyapa aku, atau nanya aku kek, kenapa baru pulang, dia cuma lihat bentar abis itu fokus lagi ke laptopnya.
Mohon maaf saya mau tanya, laptop sama istri sebenarnya berharga mana sih, kenapa misuaku lebih perhatian sama dia dari pada aku.
“Ehm! Laptop terus yang di belai, istri di anggurin teroos!” Aku sengaja sedikit mengeraskan suaraku, biar Daffin denger, dan hal itu emang sukses bikin dia menoleh, tapi cuma bentar doang, abis itu fokus lagi dia sama laptop.
Udahlah, percuma emang ngomong sama orang tak berperasaan kayak Daffin. Mending aku mandi biar seger, habis itu masak buat makan kita berdua.
Lima belas menit di dalam kamar mandi aku akhirnya keluar dalam keadaan yang lebih segar. Di kamar sudah tidak ada lagi Daffin, laptopnya juga udah ia letakkan di meja. Kemana perginya ya? Bodo amat, lah! Mau kayang di halaman juga terserah, orang dia juga nggak perduli sama aku kok.
Aku bersenandung sambil mencari baju ganti di dalam lemari, lupa nggak bawa tadi. Tepat saat aku menarik bajuku kebawah, saat itu pintu kamar terbuka.
“Aaaa!! Daffin kamu mau apa?!” Aku terkejut dengan keberadaan Daffin yang tiba-tiba masuk. Untung aja aku udah pakai baju, tapi ‘kan, tadi posisinya aku baru mau pelorotin ke bawah, dia lihat aurat aku yang selalu tertutup itu nggak ya?
Daffin berjalan mendekat dan duduk di atas kasur memandangku dengan wajah datarnya. Nih cowok aneh banget kenapa ya?
“Apaan sih, Daf! Kamu pingin?” Aku balas menatap Daffin dengan posisi tangan menyilang di depan d**a. Aneh sebenarnya, nawarin tapi kayak takut gitu.
“Nggak minat.”
Jiwa perempuanku memberontak mendengar Daffin mengatakan itu, dia nolak aku lagi nih ceritanya? Dalam sehari udah dua kali lho aku di tolak sama dia.
“Ngomong seperti itu kalau udah tahu rasanya, kalau nggak di coba dulu mana tahu kamu minat apa nggak. Nyoba aja belum udah bilang nggak minat.”
“Nggak perlu, cukup dilihat di cover aja.”
Baru kali ini aku lihat mulut cowok selemes dia. Segitu rendahnya ya aku di mata dia, sampai bilang kayak gitu. Udah nggak peka, sukanya ngerendahin, hematnya kebangetan. Pernah salah apa sih aku sama dia, gitu banget kalau ngomong.
“Ya udah terserah kamu.” Aku yang sakit hati sama ucapan dia akhirnya memilih keluar kamar, ninggalin dia sendirian.
***