Buka-Buka Barhadiah

1926 Kata
Aku keluar dari kamar mandi dengan bibir manyun. Bahkan udah monyong lima senti, sengaja juga tadi pas keluar pintunya aku banting, biar peka dia kalau aku lagi ngambek. Sekedar pemberitahuan aja ya, Daffin nggak jadi mandiin aku, bukannya aku ngarep banget pingin dimandiin Daffin lho ya. Tadi dia emang sempet gendong aku, tapi langsung di turunin di kolset. Katanya dia apa coba pas waktu itu. “Kamu udah gede, udah banyak bulu, jadi mending mandi sendiri.” Ambigu banget ‘kan, katanya. Mohon maaf, yang dia maksud bulu itu, bulu apaan ya? Oh... apa mungkin bulu ketek? Bisa jadi sih. Husnudzon aja, katanya dia ‘kan, aku bau asem, makanya nggak mau mandiin. Emang dasar manusia super hemat, ngeluarin tenaganya dikit aja nggak mau. Aku sengaja ketok-ketok pintu kamar mandi biar Daffin peka dikit sama aku yang lagi uring-uringan. Tapi si hemat tetep nggak respon, dia masih asyik ngitungin amplop hasil dari perkawinan kita. Lha? Aku nggak di bagi nih ceritanya? “Daf, kok kamu nggak bagi-bagi aku sih? Kan, yang kawinan kita.” Daffin tidak membalas perkataanku, dia masih aja ngitungin amplop dan ngeluarin isinya. Wasem! Aku di cuekin! “Daf, kamu dengerin aku ngomong nggak sih?” “Pintunya jangan di banting, kalau rusak nggak ada duit buat ganti.” Nggak sinkron dia jawabnya, aku tanya apa, dia jawabnya apa. Terus tadi dia bilang apa? Nggak ada duit? Yang di pegang di tangannya itu apa kalau nggak duit. Dikira mata aku katarak apa. “Bodo amat! Emang dasar kamunya aja yang nggak mau berbagi, padahal duit juga seabrek tuh di depan kamu, emang kamu pikir aku nggak tahu yang kamu pegang saat ini tuh apa.” Daffin masih diam, dia sibuk ngeluarin duit dari amplop yang warnanya udah kayak pelangi, merah, ijo, kuning, biru, bikin mata makin seger aja. "Pasti bakal kamu tabungin 'kan? Biar bisa di hemat kedepannya. Cih, sangat hapal sekali diriku." “Lha itu tahu.” Aku berdecak. “Bagi dong, Daf. Buat pegangan aku juga nanti.” “Nggak!” “Kok gitu, sih? Kamu jangan pelit dong, Daf. Aku sekarang istri kamu lho, sekaligus udah jadi ibu rumah tangga, sudah seharusnya aku yang pegang duit.” Kalau kisah ku ini di jadikan novel, kalian jangan tiru kelakuanku ya, nggak baik ngambekin suami sambil banting pintu, udah gitu minta duit kayak orang malak lagi. Ckckck! Pokoknya jangan ditiru, adegan berbahaya, apalagi kalau pengantin baru. Cuma orang yang udah profesional yang bisa ngelakuin. "Dalam kitab qurrotul 'uyun, seorang istri tidak wajib memegang uang rumah tangga." Apaan sih kata dia, aku nggak paham, kitab apa itu, dia pernah ngaji atau semedi? "Kitab apa sih, Daf?" "Kitab yang membahas perkara rumah tangga." Masa sih? Kok Daffin bisa tahu ya. Wih, ilmunya mantep juga tahu ini itu. "Hilih, alibi kamu doang pasti biar kamu nggak bagiin duit 'kan? Inget Daf, seorang suami juga wajib menafkahi istri. Termasuk bagi duit kawinan." Daffin cuma berdecak, lagi-lagi tidak menanggapi perkataan ku. Bahkan parahnya nih, ya, duit yang tadi di pegang dia di masukin semua ke dompetnya. Dih! Itu hemat atau pelit sih? Dasar suami nggak berperi keistrian. “Kadonya ambil tuh.” Daffin menggerakkan dagunya ke belakang tubuhku, di sana ada beberapa tumpukan kado, nggak banyak sih, mengingat yang di undang juga dikit. Aku pun segera beranjak dan mengambil beberapa bungkus kado kemudian meletakkannya diantara aku dan Daffin. “Ini boleh aku buka?” Aku memastikan dong ya, siapa tahu aja tiba-tiba dia nggak bolehin dan mau di masukin juga ke dompet doraemonnya yang menelan duit kawinan itu. “Hmmm.” Setelah mendengar dia bergumam, aku pun mengambil kado yang ukurannya paling gede, sedangkan Daffin milih kado yang paling kecil. Aku cuma meliriknya dengan senyum remeh. ‘Isinya nggak seberapa tuh, lebih gedean punya aku.’ Setelah kado terbuka sempurna aku pun menariknya keluar, ternyata isinya bed cover. Aku kembali membuka bungkusnya, ternyata lembut, tebel, hangat, dan nyaman kayaknya. 'Bed cover mahal nih, lebih nyaman dari pelukan mantan-- eh, lupa kalau nggak punya mantan'. Aku terkikik sendiri sambil melirik Daffin yang membuka kadonya perlahan, lama banget sih dia buka, pasti isinya nggak seberapa tuh, keliatan sekali kalau dia ogah-ogahan gitu bukanya. “Lihat apa kamu?” Waduh, terciduk saya, tapi ya udahlah jujur aja mending, orang nggak bisa ngelak juga. “Sensi amat, Bang. Paling isinya juga biasa aja.” Daffin cuma mengintip sebentar, kemudian dia lemparin ke aku, lalu dengan sigap aku pun segera menangkapnya. Lha? Kenapa dia? Beneran ngamuk gara-gara aku ngintip? “Punya kamu, bukan aku.” Aku mengernyit, mengamati Daffin dan kado yang ada di tanganku bergantian. ‘Kayak nggak asing sama kadonya— eh, ini dari Nana.’ Aku kembali menatap Daffin, dia kayak gimana gitu, mana dari tadi ngeraba lehernya terus lagi. “Apaan ini?” Aku manarik kain tipis nerawang warna hitam itu ke udara. Apalagi banyak rendanya sana sini. Ini beneran Nana yang ngasih? Ya ampun, dia pesen baju ke tukang jahit kehabisan kain apa ya? Baju kayak gini kok di beli. Aku bergidik sambil melemparkan kain itu, tapi karena ngelemparinnya kejauhan alahasil malah kena Daffin. “Ini punya kamu ngapain di lempar ke aku?” Daffin kembali melemparkan kain itu balik. Ini kenapa malah jadi adu lempar sih— bentar deh, kalau nggak salah nama pakaian yang di kasih Nana itu namanya lingerie. Bener nggak sih? Tau ah, aku juga nggak tahu itu model kain atau pakaian. “Oh iya, ada kado dari Sandra buat kamu, Daf.” Aku teringat kado dari Sandra yang di titipin ke Daffin. Heran juga, sahabatnya siapa yang dikasih kado siapa. Aku bangkit dari tempat lesehanku, kemudian mengambil kado yang tadi ku letakkan di dekat lampu tidur. Setelah itu baru menyerahkannya ke Daffin. “Nih. Buka gih, aku juga penasaran.” Daffin menerimanya dengan tangan ragu, setelah itu ia membukanya perlahan. Kenapa sih dia kalau buka kado selalu perlahan gitu, kasiatnya apa coba. Belum juga tahu apa isinya Daffin sudah menariknya cepat dan meremasnya, setelah itu ia masukkan ke dalam saku celananya. “Apaan sih, Daf itu?” Aku mulai kepo dong, ya. Jangan-jangan duit lagi, makanya dia nggak mau bagi sama aku. Wah... ada yang nggak bener nih. “Bukan apa-apa.” “Bukan apa-apa gimana, orang kamu umpetin kok. Ayo, bagi nggak!” “Nggak perlu.” Daffin bangkit dan membereskan sisa kertas kado yang tadi di bukannya dan membuangnya ke tempat sampah, sedangkan isi kado dari Sandra masih ada di saku celananya. Sumprit, aku penasaran banget. “Daf, bagi dong, kamu pelitnya jangan kebangetan gitu. Aku ini istri kamu lho, apa-apa harus di bagi dua. Soptek aja sayapnya ada dua masa jatah kado dari temen nggak di bagi dua,” ucapku mulai mengkambing hitamkan soptek yang tidak tahu apa-apa. “Nggak ada kaitannya.” “Iyalah, orang nggak beha, kok,” jawabku makin ngawur. Ini kenapa mulutku semakin malam semakin lentur saja kalau bicara. “Tidur udah malem. Beresin juga tuh.” Daffin langsung naik ke atas tempat tidur dan merebahkan dirinya menghadap tembok. Lampu kamar sebelumnya juga sudah ia matiin, tinggal lampu tidur aja yang masih hidup, jadi keadaan kamar tuh remang-remang. Emang tega banget si Daffin, padahal aku belum naik ke ranjang juga, lampu udah di matiin aja, nanti kalau aku kesandung gimana coba. Setelah membersihkan ceceran kertas kado yang ku buka dengan Daffin tadi, aku segera menyusul Daffin ke tempat tidur. Cowok super hemat ini masih rebahan membelakangiku, entah sudah tidur apa belum. “Daffin?” Aku mencoba memanggilnya, kali aja dia udah tidur, tapi ternyata masih nyaut. “Hmmm?” “Hehehe, nggak apa-apa, tidur aja, Daf.” Aku ikut memunggungi Daffin juga, lama kelamaan suasana semakin hening saja, dengkuran napas Daffin yang teratur juga kedengeran. Apa dia udah tidur ya? “Daffin?” Aku kembali memanggilnya, tapi tidak ada jawaban. Kayaknya udah benar-benar tidur. Kalau hening begini aku malah jadi kepikiran sama isi kado punya Sandra yang tadi di buka Daffin. Kalau nggak salah tadi di taruh di saku celana ‘kan, ya? Apa aku ambil aja, mumpung misuaku lagi tidur pulas. Kepo berat soalnya. Tunggu lima menit dulu deh, biar makin pulas tidurnya. Lima menit berlalu, aku mulai mengalihkan posisi tubuhku menghadap Daffin, tidak di sangka ternyata posisi dia juga menghadap aku sekarang. Sejak kapan dia merubah posisinya, kok aku nggak kerasa grasak-grusuknya ya. Lembut banget kayak sutra gerakannya, Aku mulai mengibaskan tangan ku di depan dia, memastikan kalau Daffin benar-benar tidur. Setelah benar-benar tidak ada pergerakan, aku mulai berani meraba kantong celananya. ‘Hati-hati, Ni. Jangan sampai kesenggol otongnya.’ Tanganku mulai merayap perlahan memasuki celananya, hati-hati sekali takut nyenggol pusakanya Daffin, berabe nanti kalau sampai dia bangun. Masih untung kalau Daffin yang bangun, lha kalau itunya, gimana nidurinnya coba. Tanganku mulai masuk semakin dalam ke saku celananya dan berhasil menyentuh sesuatu yang entah apa itu, tapi kayaknya isi kado dari Sandra. Aku mulai menariknya pelan, tapi saat tanganku hampir keluar, sebuah suara tiba-tiba saja mengagetkanku. “Kamu ngapain?” Deg! Mati aku! Itu ‘kan, suaranya Daffin. Aku harus gimana ini? Mana posisi tangan aku nggak banget lagi, apa aku pura-pura ngelindur aja ya, ide bagus tuh kayaknya. “Emhh, Nini pingin pisang.” Eh? kok jadi pisang sih, sumprit nggak elit banget cara ngelindurnya, kalau begini bakal ketahuanlah kalau aku cuma pura-pura doang. “Keluarin tangan kamu dari saku aku.” Seperti biasa, dengan nada suara datarnya Daffin mulai menginstruksi. Karena udah ketahuan basah cuma pura-pura ngelindur, aku akhirnya melek juga sambil nyengir lebar. “Eh Daffin, udah bangun?” Daffin cuma diem aja, oke, aku paham, pertanyaan yang nggak perlu di jawab. Aku mulai berdehem, mencoba menghilangkan rasa malu aku gara-gara ketahuan grepe-grepe saku celananya. “Tangannya keluarin!” Eh iya, aku sampai lupa kalau tanganku masih nemplok aja di saku dia. Habis nyaman sih. Karena udah ketahuan juga, ditambah lagi udah masuk dan menyentuh benda itu, mending sekalian di tarik, biar ke kepoanku sedikit berkurang. Setelah berhasil menarik benda tersebut dan menaruhnya di depan wajahku, aku langsung dikejutkan dengan gambar pria bertelanjang d**a dan wanita seksi. “Ini apa sih, Daf?” “Bisa baca ‘kan?” Eh, Bambwank, dia ngehina aku atau emang susah banget buat jawab pertanyaanku? Ya iyalah aku bisa baca. Begini-begini, sekarang aku udah S3 lho, kalau dalam bahasa inggris yang dibaca jawa namanya estri. Estri itu dalam bahasa Indonesia namanya istri. Paham nggak? Kalau nggak paham nggak usah dipikir terlalu keras, yang ada makin pusing ntar. Oke, kembali lagi ke Daffin. Karena dia yang nyuruh, sekalian aja aku baca yang keras, biar dia juga tahu kalau aku bisa baca. Ckckck, mulai ngeremehin ternyata. Aku berdehem, bergaya dengan sok-sokan. “Obat kuat tahan lama sampai pagi dijamin puas!” Maksudnya apaan nih? Obat kuat, gambarnya pria betelanjang d**a dan wanita seksi, kalau nggak salah itu buat yang ehem-ehem ‘kan. Mataku langsung terbelalak sempurna dengan pipi yang terasa panas. “Sandra kurang ajar!” Aku langsung mengumpat begitu tahu kegunaan benda itu. biarin aja dia keselek atau jatuh dari tempat tidur sekalian. Lagian ngapain coba ngado hal begituan ke Daffin. Unfaedah banget tau nggak. Pingin ngumpat lagi aku rasanya. "Gimana? Mau di buktiin sekrang?" "Buktiin apa?" "Seberapa kuat efeknya kalau di minum." Glek! Aku langsung menelan ludah kasar, bahkan Daffin sendiri sepertinya bisa mendengarnya. Jantungku semakin berpacu saat Daffin memindahkan posisi tubuhnya jadi melingkupi tubuhku. Ya Allah, aku mau diapain sama dia? Daffin sedikit menyunggingkan senyumnya, dan semakin mendekatkan kepalanya ke tubuhku, saat wajahnya sudah dekat dengan leherku segera saja ku pegang bahunya. "Daf, obatnya diminum dulu baru di buktiin."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN