Belum Usai

1892 Kata

Dingin. Itu yang kurasakan malam ini. Tubuhku dari tadi terus menggeliat dalam pelukan Daffin, ada rasa nyeri yang sedari tadi terus menghujam perutku. Aku tidak tahu kenapa, tapi rasanya sakit sekali. Padahal sebelumnya tidak pernah seperti ini. Apa karena tadi Daffin melakukannya terlalu kasar ya. Tapi kenapa yang sakit perut bagian bawahku, bukan di area sensitif. Pergerakanku ini ternyata disadari Daffin, dia membuka matanya perlahan dan menemukanku yang bergeling selimut dengan alis mengkerut. "Kamu kenapa?" Dengan suara seraknya Daffin bangkit dari tidurnya perlahan. Terlihat khawatir. Aku menggeleng dan melemparkan senyum. Merasa baik-baik saja dan tidak ingin merepotkan. Menyakinkan diri kalau aku bisa menahan rasa sakit ini sampai pagi. Lagi pula ini terlalu dini, masih pukul

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN