Beneran di Lamar?

1510 Kata
"Ni, muka lo yang ceria dong, masa cemberut gitu sih. Mau di lamar lho.” Nana mengangkat daguku, kemudian tersenyum sambil mengangkat kedua alisnya. Aku menatap Nana sebentar, kemudian perlahan-lahan menekuk wajah ku dan merengek keras. “Nana aku nggak pingin nikah sekarang!” “Iya, Ni, nggak sekarang emang, ini cuma lamaran.” “Tetep aja, bakalan nikah nantinya. Huaaaa!!! Bantuin aku, Nana.” Aku mengelap ingusku yang hampir keluar. “Ya ampun, Ni. Emang lo nggak mau nikah apa? Harunya lo bersyukur jodoh lo datang lebih cepet dari gue.” “Terus kenapa nggak kamu aja yang nerima lamaran ini. Biar jodoh kamu lebih cepet.” “Gue nggak mau lah, orang gue belum siap kok. Yang di katakan Mama tadi ada benarnya lho, Ni. Kalau gue nerima lamaran ini, kasihan suami gue nanti, lo ‘kan, tahu sendiri gue belum bisa ngapa-ngapain untuk menyandang gelar istri. Makanya Mama sama Papa pilih lo.” Kayaknya kepalanya Nana perlu aku jedotin ke tembok deh, biar ngerti rasanya berada di posisi aku. Lagian aku kayak gini karena siapa coba, enteng banget ngomong kayak gitu. Nana berdecak. “Nggak usah segitunya juga dong ngelirik gue. Iya-iya gue tahu lo begini karena gue, tapi percaya deh, Ni, papa itu juga sayang sama lo, nggak mungkinlah papa milihin orang sembarangan. Gue kasih tahu ya, Ni. Nikah itu banyak enaknya lho, awalnya aja yang sakit tapi lama-lama bakal enak kok.” “Maksud kamu?” Aku bertanya bingung. Bukannya kebalikan ya sama yang di katakan Nana, nikah kalau udah lama ‘kan, banyak perjuangan. “Masa lo nggak paham sih?” Aku menggeleng, memang nggak paham kok sama yang dikatakan Nana. “Udah gini aja, dengerin ya, nikah itu 10% enak, sisanya yang 90% enak luar biasa.” Nana tersenyum ke arahku sambil mengerlingkan matanya. “Kok kamu bisa tahu sih? Kamu ‘kan, belum nikah.” Aku heran dong, ya. Tadi aja Sandra tanya kayak gini aku juga nggak bisa jawab, bagaimana mungkin Nana yang belum siap menjadi seorang istri bisa berkata seyakin itu. “Kata-kata di internet ‘kan, banyak. Gue tinggal copy paste aja. Kebetulan kemarin gue nggak sengaja lihat kata-kata itu di youtube waktu lihat sountrack lagu religi buat pernikahan islami.” Aku menepuk dahi ku pelan. Percuma ternyata tanya sama Nana, yang ada malah makin sesat. “Udahlah, Ni, nggak apa-apa. Gue yakin kok, pria itu baik. Percaya deh.” Aku hanya mendesah lelah, tidak lagi menanggapi perkataan Nana. Lebih tepatnya, sudah pasrah sama keadaan. Tidak lama setelah itu, pintu kamarku kembali terbuka. Menampilkan wajah Tante Dewi yang sudah di poles make up tebal. ‘Ini yang sebenarnya mau lamaran aku apa tante Dewi sih, kok make up nya tebelan dia.’ Aku menggelengkan kepalaku begitu membatin sesuatu yang tak perlu. “Calon suami kamu udah dateng, ayo buruan keluar.” Aku mengangguk, kemudian mengikuti tante Dewi ke ruang tamu. Sesampainya di sana, aku hanya menunduk dalam diam, tidak berani menatap wajah-wajah yang ada di hadapanku. Apalagi wajah temennya om Andrian. Pasti udah bapak-bapak. Ya Allah, pingin nangis rasanya. “Ni, angkat wajah kamu. Salaman gih, sama temennya Om.” Perlahan aku mengangkat wajahku, dan langsung di sambut senyuman hangat wajah pria paruh baya seumuran Om Andrian. Tuh ‘kan, bener dugaan ku. Om Andrian tega sekali menjodohkan aku dengan temannya. Tapi dari wajahnya sepertinya aku pernah lihat, tapi dimana ya? Setelah bersalaman denganku, pria yang menjadi temannya om Andrian ini menyebutku cantik. Iya lah cantik, orang masih muda. Perawan pula. “Fin, cepetan masuk. Kamu ngapain di luar!” Aku mengikuti arah pandang pria paruh baya di depan ku ini. Tepatnya memandang seorang pria yang memakai kemeja biru dengan posisi membelakangi kami. “Iya, Pa, bentar.” Apa dia bilang? Pa? Dia anaknya temennya om Andrian? Calon anak tiri ku? Ya ampun, aku nggak bisa membayangkannya. Dari yang ku lihat lelaki itu sedang mengutak-atik hp nya, tidak lama setelah itu dia berbalik. Tatapan ku langsung membulat begitu tahu siapa lelaki yang tadi di panggil ‘Fin’. *** Begitu acara lamar melamar selesai, aku segera masuk ke dalam kamar, menutup pintu keras kemudian menuju kasur dan menutup wajahku dengan bantal. Sumpah, malu sekali aku. “Gimana, Ni? Lancar ‘kan? Tampan nggak cowoknya?” Nana ikut naik ke atas kasur, kemudian menepuk punggungku semangat. Gila si Nana, kenapa juga aku harus punya saudara kayak dia sih. Kalau aku tukar cilok lima ribu boleh nggak sih? Aku bangkit dari telungkupku, kemudian menatap wajah Nana sebal. “Kenapa kamu nggak bilang, kalau kamu kenal sama anaknya om Andi.” “Lha, lo nggak nanya, siapa yang tahu kalau lo bakal kepo.” “Bukannya kepo Nana. Aku malu tahu, gimana coba kalau aku ketemu dia di kampus, mana dia satu dospem lagi sama aku.” Aku memukul bantal yang ku pangku dengan kesal, lalu beralih menatap Nana yang sekarang malah cengar-cangir. “Malah bagus dong, Ni, kalau dia satu dospem sama lo. Lo ‘kan, jadi bisa pedekate lebih gampang.” Apa aku bilang, percuma ngomong sama Nana, nggak bakal nemu jalan keluar yang ada. “Aku nggak mau bimbingan ah, besok.” “Ya udah sih, terserah lo, lagian kalau lo nggak cepet-cepet setor sama Pak Didit, acc lo bakal lama, emang lo mau wisuda tahun depan? Ingat lho, Na, pak Didit itu susah. Acc-nya tuh nggak gampang.” Bener juga sih apa yang di katakan Nana. Aduh! Aku jadi bingung harus gimana. Kenapa gini banget sih nasib aku. “Udah Ni, lo nggak usah banyak mikir, nikmatin aja masa kejombloan lo sekarang, karena dalam waktu dekat lo bakal nikah. Soalnya, Papa sama om Andi udah diskusi tanggal pernikahan kalian.” Aku hanya berdecak. Kepalaku semakin pusing saja memikirkanya. Si Nana juga manas-manasin lagi. “Mending sekarang lo istirahat deh. Biar besok kalau ke kampus ketemu sama dia, wajah lo udah kelihatan fresh.” Nana mengerlingkan matanya lagi ke arahku sebelum menutup pintu. Dasar saudara kurang ajar dia. Fresh apaan? Masukin kulkas aja sekalian, biar makin awet freshnya. Aku menghembuskan napas kasar, mencoba melepaskan beban yang telah terjadi hari ini. Lebih baik sekarang aku tidur. Masih banyak hal yang harus ku kerjakan besok. Aku mencoba memejamkan mata, meresapi pulau kapuk yang membuatku mulai terlena untuk berkelana ke alam mimpi. Berharap ketika besok membuka mata, apa yang terjadi hari ini hanya sebuah mimpi belaka. *** “Nini, ngapain sih, lo tutupin muka kayak gitu. Makin jelek tau nggak sih.” Sandra mencoba menarik tumpukan kertas skripsiku yang sudah di jilid rapi dari mukaku, tapi tetap ku tahan. Takut kalau tiba-tiba dia nongol di depanku. “Biarin, San. Emang udah jelek kok.” Aku masih kekeh mempertahankan cekalanku. “Ya makannya itu, udah jelek, biar nggak makin keliatan jelek.” Si Sandra kalau ngomong emang nge-jleebb banget, mentang-mentang dia cantik semriwing. Untung sahabat, coba kalau nggak, udah aku tukar sama beras sekarung dia. “Ni, Nini, Pak Didit mau keluar.” “Ha? Mana?” Aku langsung berdiri dan celingak-celinguk nyari keberadaan pak Didit, tapi kok nggak ada ya, nggak mungkin banget kalau pak Didit ilang secepat itu, emangnga Jiny. Sandra tertawa keras sambil memegang perutnya, kemudian menepuk-nepuk kursi yang tadi aku dudukin. “Ya ampun Adriani, gue bohong kali, pak Didit masih di dalem.” Kampret Sandra, ternyata aku di kerjain. Karena kesal sama tingkah laku dia, langsung aja skripsi aku yang tebal ini aku timpukin ke kepalanya, biarin aja kalau dia marah, salah sendiri buat orang kesal. “Adriani! Ngapain lo timpuk kepala gue, sakit tau!” Sandra mengusap kepalanya yang tadi sempat ku pukul dengan kertas jilidtan skripsiku. “Biarin. Lagian kenapa juga pakai ngerjain aku.” Aku menjulurkan lidah ku ke arah Sandra, membuat dirinya semakin kesal dengan ku. Karena tidak terima dengan perilakuku, Sandra akhirnya bangkit berdiri dan hendak mengejarku, tapi aku segera berlari, lupa kalau aku disini menunggu giliran untuk bimbingan, lupa kalau kami masih di depan kantor dosen. Iya, aku sama Sandra memang seringnya menunggu di depan kantor kalau baru dateng, nanti kalau giliran bimbingan udah deket, kami baru masuk ke dalam. Katanya Sandra, dia milih di luar sih biar sekalian cuci mata lihat cogan lewat, padahal yang ada tuh kita biar nggak ganggu orang di dalem kalau berantem kayak gini. Karena aku lari nggak lihat depan, udah gitu ketawa, aku nggak sengaja malah nabrak tubuh seseorang. “Aduh!” Aku mengaduh sambil memegang kepalaku, agak keras soalnya, tadi aja sampai bunyi duk! Aku meringis pelan sambil melihat ke arah orang yang ku tabrak tadi. Sandra sendiri sudah berhenti dan tertawa. Puas sepertinya melihat aku menderita. “Ka... kamu.” Aku sampai terbata begitu melihat orang yang ku tabrak adalah lelaki kemarin yang datang bersama om Andi buat melamarku. Tubuhku benar-benar kaku, bingung harus berbuat apa, di tambah lagi senyum mengerikan yang belum pernah aku lihat selama mengenalnya. “Berani bimbingan ternyata.” Anhay! Apa katanya? Berani bimbingan, dia lagi ngeledek aku? Sumpah ya, nih orang mulutnya nggak kalah pedes sama ayam geprek yang di jual di kantin, awas saja nanti kalau aku udah jadi keluarganya, aku kukus biar jadi perkedel sekalian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN