Tidak pernah sedikitpun terpikir oleh Faqih akan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Faqih memang tidak memiliki niat sedikitpun, bahkan ia merasa lelah dengan mata pelajaran yang ada, apalagi matematika. Bersyukur, ia diarahkan oleh orang tuanya untuk mengaji saja di Pesantren milik Abinya yang sudah berdiri sekitar dua tahun yang lalu. Karena harapan Abinya, kelak pesantren tersebut bisa dikelola dan dipimpin oleh Faqih. Al-Ihsan nama pesantren itu. lokasinya masih berada di Kota Bandung, namun berjarak cukup jauh dengan rumah Faqih. Segala kebutuhan telah Faqih siapkan dari beberapa hari yang lalu. Sore ini Rendy datang dengan barang-barang yang sama banyaknya dengan Faqih. Satu hari sebelum berangkat ke pesantren, Rendy memutuskan untuk menginap di rumah Faqih. Awalnya Faqih

