Siapa yang dilamar?

1158 Kata
Akhir-akhir ini, Aisyah sudah beberapa kali berkomunikasi dengan Abdhi via w******p. Selain membicarakan tentang komunitas, Abdhi sering menasehati Aisyah agar menjadi sebaik-baiknya perempuan. Perempuan yang senantiasa menjaga izzah dan iffahnya. Sesekali Aisyah senyum-senyum sendiri ketika membalas pesan dari Abdhi. Almira merasa ada yang aneh dengan sikap Aisyah yang suka senyum-senyum sendiri itu. Biasanya, jika Aisyah sedang merasa bahagia, ia akan berbagi cerita. Namun, berbeda dengan akhir-akhir ini. Ia seolah mendapat kebahagiaan, tetapi tidak mau berbagi. Almira berusaha berprasangka baik pada Aisyah. Walaupun tak jarang ia merasa penasaran dengan isi ponsel Aisyah yang sudah membuat bahagia sendiri itu. Aisyah pernah memohon di sepertiga malam. Bersujud untuk merasakan dekatnya Rabb. Di dalam khusyuk ia menangis. Memohon ampun dan meminta segala kebaikan padaNya. Juga ia curahkan segala isi hati di dalam sujud panjangnya. Ia tahu Allah Maha Mendengar, maka ia tak pernah ragu tuk menjadikan Allah sebaik-baik tempat mengadu. Wahai Sang Pemilik Hati Hatiku digeluti keraguan jika harus jatuh cinta pada Faqih. Maka, aku meninggalkannya. Tapi Ya Allah. Aku tak pernah ragu untuk jatuh cinta pada Ka Abdhi. Ya, Rabb. Bolehkah aku mengagumi Ka Abdhi? Mengagumi dan mengharapkan sosoknya untuk membimbingku kelak. Jika boleh jujur, aku tak ragu pada Ka Abdhi. Aku yakin sekali dia adalah sosok yang bisa membawa dan membimbingku ke surgaMu. Apa aku pantas, untuk lelaki sebaik Ka Abdhi? Begitulah pinta dan harapannya di sepertiga malam kemarin. Ia tidak terlalu yakin jika pantas untuk Abdhi. Tapi mengagumi Abdhi di dalam diam dan keseriusan adalah pekerjaannya akhir-akhir ini. Tak jarang Abdhi memberi perhatian sederhana pada Aisyah. Entah itu di masjid Al-Ukhuwah maupun lewat pesan yang dikirim via w******p. Atau juga entah karena Aisyah yang terlalu bawa perasaan. Ponsel Aisyah bergetar, tanda ada w******p masuk. Ka Abdhi: Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakaatuh. Ka Abdhi: In Syaa Allah, saya akan segera datang ke rumah. Saat itu ponsel Aisyah berada di sofa ruang keluarga. Almira yang sedang fokus pada layar laptop untuk mengerjakan tugas teralihkan oleh ponsel Aisyah yang bergetar. Ia tak sengaja mengintip notifikasi di ponsel Aisyah. Matanya membulat saat membaca pesan dari Abdhi. Hatinya bergetar. Tangannya terasa lemas. Ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia kira itu bisa membantu untuk menetralisir guncangan di hati. Tapi ternyata tidak sama sekali. Tak lama setelah itu, Aisyah datang sambil membawa handuk setelah mandi tadi. Ia meraih ponselnya dan segera berlari menuju lantai atas untuk ke kamarnya sambil tersenyum. Terasa ngilu sekali hati Almira saat itu. Jika ada penghargaan untuk pemendam rasa terbaik, mungkin Almiralah yang berhak mendapatkannya. Semua berawal dari Pesantren At-Taqwa yang mempertemukan Almira dan Abdhi. Mereka pernah satu pondok pesantren, beberapa tahun lalu. Umur mereka hanya berbeda satu tahun saja. Sejak awal bertemu, rasa itu memang sudah tertanam di hati Almira. Namun sedikitpun Abdhi tak mengetahuinya. Almira pikir, setelah mereka keluar, mereka tak akan bertemu lagi. Namun, takdir mempertemukan kembali mereka di dalam satu fakultas. Sudah sekitar lima tahun Almira memendam rasa itu. Jika memang mereka tak akan pernah ditakdirkan bersama, haruskah Almira mengikhlaskan semua rasa yang tumbuh dari lima tahun yang lalu? *** Faqih masih tetap dengan kebiasaannya menggoda Aisyah di sekolah. Menunggu Aisyah datang di gerbang sekolah, mengganggu Aisyah di kelasnya, mengikuti Aisyah ke kantin dan mengajak Aisyah basa basi di masjid sekolah setelah solat Dhuha. Tapi akhir-akhir ini, Faqih sedikit merasa rendah diri. Di sisi lain senang bisa mengganggu Aisyah, di sisi lain ia sedih jika kelak Aisyah harus menjadi milik Abdhi. Pada malam Jum'at, Faqih melihat dua buah sepeda motor terparkir rapi di depan rumah Aisyah. Ia mengenal salah satu dari dua sepeda motor itu. Ya, motor matic berwarna biru dan putih itu milik Abdhi. Lengkap dengan plat nomer yang sangat Faqih hafal. Faqih memicingkan matanya. Ia menyelidik dengan penuh teliti ke arah rumah Aisyah melalui jendela kamarnya yang berada di lantai atas. Abdhi datang dengan orang tua dan kakak ipar laki-lakinya. Sudah bisa Faqih duga, jika Abdhi hendak melamar. Faqih menggelengkan kepalanya. "Enggak, enggak mungkin Ka Abdhi ngelamar Aisyah! Pokoknya gue gak terima!" ucap Faqih tak terima jika Aisyah dilamar Abdhi. "Masalahnya itu gini loh, yang cocok sama Aisyah itu ya gue lah! Gak ada yang lain! Pokoknya, gue gak restuin lamaran mereka!" Faqih mengoceh tak jelas sendirian. Jika ada yang melihat ia berbicara sendiri, mungkin akan dikira orang gila. So-so'an gak ngerestuin. Emang gue orang tuanya yang berhak ngasih restu? Seketika kata-kata itu ada di benak Faqih, hingga membuat kepedeannya ciut saat itu juga. Faqih terduduk lemas di atas kasur, meraih ponselnya dan mengecek status WA Aisyah yang tak biasanya membuat. Bismillahirrahmaanirrahiim, Alhamdulillah, Allahu Akbar! Begitulah kata-kata yang Aisyah jadikan status WA. Membuat Faqih semakin remuk hatinya. Faqih mencoba untuk menelpon Aisyah, namun ponsel Aisyah tak aktif saat ini. Karena merasa kesal dan kecewa, ia membanting ponselnya ke kasur dan lantas membenamkan diri di dalam selimut. *** Di bawah satu atap yang sama, dua gadis itu bersujud di ruangan yang berbeda. Air mata mereka sama-sama tumpah di hadapan Sang Pencipta. Air mata itu keluar atas rasa yang berbeda. Jika yang satu air mata haru, yang satu lagi justru air mata sedih dan penuh penyesalan. Namun tak menutup kemungkinan, jika air mata haru yang salah satu gadis itu keluarkan juga air mata sebagai bentuk merasa bersalah. Dua gadis itu adik kakak. Siapa lagi jika bukan Almira dan Aisyah? Setelah lamaran Abdhi malam itu, mereka sama-sama menangis. Tentu saja hanya satu yang Abdhi pilih. Dan pilihan itu membuat pihak yang tak dipilih sakit hati, secara kakak beradik itu memendam rasa pada lelaki yang sama, yaitu Abdhi. Almira dan Aisyah memang pemendam rasa yang baik. Tapi Almira jauh lebih lama memendam daripada Aisyah. Selama itu, Almira hanya menggunakan untuk banyak-banyak berdialog dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Ia selalu yakin, jika apa yang Allah takdirkan untuknya pasti akan selalu yang terbaik. Walaupun itu bukan yang selama ini ia harapkan. Lamaran Abdhi malam itu belum ada jawaban diterima atau tidaknya. Gadis yang Abdhi pilih meminta waktu untuk menjawab. Abdhi setuju, karena permintaan ini harus dijawab dengan pikiran yang matang dan jernih. "Gimana, Nak? Apa kamu mau menerima lamaran Abdhi?" Tanya Andi pada salah satu anak gadisnya yang Abdhi lamar. Dia tampak menunduk dalam-dalam. Sesekali matanya melirik ke arah saudaranya yang tampak kecewa dan sakit hati. "Aku butuh waktu, Bi. Aku juga perlu istikharah untuk ini." Abdhi tersenyum dan menjawab dengan tegas, " Baik. Saya benar-benar menghargai keputusan Anda. Saya harap, anda bisa memikirkan jawabannya dengan yakin, matang dan jernih. Semoga apa yang Anda putuskan sebagai jawabannya, adalah yang terbaik menurut Allah." Acara lamaran malam itu diakhiri oleh perkataan Abdhi, sebelum akhirnya Abdhi dan keluarga pamit pulang. Dia baik, tapi kenapa tidak ditakdirkan untukku? *** Dia memang baik, tapi belum tentu baik untukmu. Percayalah, apa yang menurut Allah jauh lebih baik daripada apa yang menurutmu baik. Terimalah takdir Allah semenyakitkan apapun itu. perkuat hatimu dengan doa dan harapan penuh pada Sang Pemilik Hati. Ada yang terbaik, yang tengah Allah siapkan hanya untukmu. Bersabarlah, wahai hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN