Tamparan

1071 Kata
Merasa bersalah, walaupun tak bersalah. Merasa tak enak, padahal semua terlihat baik-baik saja. Karena yang terjadi adalah hati yang sama-sama terguncang setelah lamaran kemarin. Tak ada lagi kata bahkan cerita di antara kakak beradik itu. Keduanya lebih sering menghabiskan waktu di kamarnya masing-masing. Aisyah pergi ke masjid sendiri, tak pernah meminta Almira untuk mengantar lagi. Terlebih memang Almirapun tidak ingin bertemu dengan Abdhi. Malam itu, Aisyah, Almira dan kedua orang tua mereka sedang berkumpul di ruang keluarga untuk menghabiskan malam minggu dengan menonton bersama, setelah sebelumnya membaca Al-Quran bersama-sama. "Gimana lamaran Abdhi? Masih belum nemu jawabannya?" Tanya Andi, Abinya. Yang ditanya hanya diam, membisu. Bahkan ia berpikir bahwa sampai kapanpun ia tak bisa menjawab sebelum hubungannya baik-baik saja dengan saudara kandungnya. Ingin menerima, tapi merasa tak enak. Ingin menolak, tapi Abdhi adalah orang yang ia dambakan. Mendengar pertanyaan itu, Aisyah tiba-tiba bangkit dari duduknya dan lantas pergi menuju kamar. Almira semakin menundukkan wajahnya. Hatinya semakin tak enak. Ya Allah... *** Hari Senin ini, Aisyah berangkat ke sekolah naik angkot. Bagaimanapun ia mencari cara untuk menghindari pertanyaan Ummi dan Abinya ketika memilih untuk naik angkutan umum. Ia tidak berbohong dengan beralasan karena ingin mencoba berangkat ke sekolah sendiri agar mandiri. Hingga izin dari Abinya pun ia dapatkan. Almira tidak ada mata kuliah hari ini, sehingga ada alasan untuk tidak mengantar Aisyah. Almira bukan seorang kakak yang jail dan kekanak-kanakan, justru ia adalah sosok kakak yang bijak dan dewasa. Tapi untuk saat ini ia selalu berusaha untuk menghindari pertemuan dengan adiknya. Karena ini menyangkut masa depan. Ia tak mau bahagia akan tetapi adiknya justru harus menahan sakit hati selama itu. maka saat ini Almira sedang mengumpulkan kekuatan hati untuk membicarakan semuanya secara baik-baik dengan Aisyah. Aisyah melangkahkan kakinya masuk ke gerbang dengan kesal. Wajahnya dari kemarin memang lebih masam daripada wajah yang selalu ia tampilkan pada Faqih. "Assalamualaikum, Aisyah." Dan orang yang selalu membuatnya tambah kesalpun datang juga, Aisyah semakin bad mood. "Waalaikumussalam," jawab Aisyah sambil melanjutkan jalannya. Faqih menjajarkan tubuhnya dengan Aisyah. "Kamu gak kangen apa dicegat di gerbang gini sama aku?" "Nggak!" "Aaaah, bohong!" Faqih berusaha menggoda Aisyah. Karena geram dan tidak ingin berlama-lama dengan Faqih, Aisyahpun pergi sambil berdesis, "Ish!" Faqih mengejar Aisyah lagi. "Eh, tunggu! Aku mau nanya hal penting sama kamu." Aisyah mendelikkan matanya malas. "Apa?" "Kamu beneran mau nikah?" "Gak penting!" Mata Faqih tertuju pada tangan kiri Aisyah yang di jari manisnya melingkar cincin emas. "Tunggu!" Reflek, Faqih meraih tangan Aisyah agar bisa melihat cincin itu dengan jelas. Karena merasa sangat terkejut, Aisyah langsung menarik tangannya dan menampar pipi kanan Faqih dengan keras. Plakk! Suara tamparan yang cukup keras itu membuat orang yang berlalu lalang menjadikan Aisyah sebagai pusat perhatian. Aisyah sendiri tidak percaya dengan apa yang ia lakukan barusan. Ia menatap nanar tangan kirinya yang jahat itu sambil terus mengucapkan istigfar di dalam hatinya. Astagfirullahal'adziim, Ya Allah. "Berani-beraninya kamu nampar Faqih ya! Gak beradab banget sih! Percuma tau gak, pake jilbab lebar gitu kalo kelakuannya kasar! Gak menunjukkan muslimah banget sih!" Tiara yang tiba-tiba datang itu menyembur Aisyah dengan kata-kata pedas. "Faqih, kamu gapapa, kan?" Tiara tampak memberi perhatian lebih karena merasa sangat khawatir saat melihat pipi Faqih yang memerah. "Keliatannya aja kaya yang alim, padahal aslinya kaya gini!" Tiara lantas pergi sambil menarik lengan Faqih untuk pergi ke UKS. Aisyah membeku. Tatapan sinis dari orang lain semakin membuatnya lemah. Airmatanya mengalir di pipi. Tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya. "Aisyah, ada apa, sih? Kok kaya banyak yang ngomongin sesuatu gitu? Emang ada hot news ya?" Ternyata itu adalah Adinda. Aisyah menghadapkan tubuhnya pada Adinda dan lantas memeluknya dengan erat sambil mengeluarkan tangisnya. "Loh, kamu kenapa, Syah?" Tanya Adinda bingung. *** Dan apa yang hari ini Aisyah khawatirkan pun terjadi. Setelah selesai pembelajaran hari ini, Aisyah dipanggil bagian kesiswaan yang dikenal dengan killernya. Aisyah belum sempat bercerita pada Adinda. Ketika sholat Dhuha pun Aisyah hanya bisa menangis. "Mau ngapain ke ruang kesiswaan, Syah?" Tanya Adinda penasaran. "Kamu gak mungkin bikin kesalahan fatal, kan?" "Kamu boleh pulang duluan, Din. Pokoknya aku butuh banget doa yang terbaik dari kamu." "Iya, Syah. Apapun yang terjadi, walaupun aku gak tau, kamu jangan lupain Allah ya. Cuma Allah yang bisa bantu dan melapangkan d**a kamu." Begitulah ucap Adinda sebelum akhirnya pergi untuk pulang. Aisyah memang selalu merasa lebih tenang ketika diingatkan pada Allah oleh sahabatnya itu. ia benar-benar tidak akan pernah melepaskan Adinda, seorang sahabat yang selalu menenangkan dan mengingatkannya pada kebaikan. Di ruang kesiswaan, sudah ada Faqih yang sedang duduk menghadap Bu Desi, bagian kesiswaan. Aisyah melangkah masuk dengan ragu. "Silahkan duduk, Aisyah!" Bu Desi mempersilakan. "Di samping Faqih?" Aisyah bertanya dengan hati yang terkejut. Dilihatnya Faqih menaik turunkan alisnya seolah menggoda. "Masa duduk di lantai?" ucap Bu Desi. "Itu lebih baik daripada aku harus duduk bersebelahan dengan Faqih!" ucap Aisyah tegas. Bu Desi menghembuskan nafasnya geram dengan sikap Aisyah. "Kamu ini kenapa, sih, Aisyah? Kok sampe segitunya? Bukannya kamu juga yang salah karena telah menyebabkan pemanggilan ini, ya?" "Baik, Aisyah akan duduk." Aisyah menggeser bangku yang berada di samping Faqih untuk sedikit menjauh, namun tetap menghadap Bu Desi. "Kamu memang sebelumnya ada masalah sama Faqih?" Tanya Bu Desi setelah Aisyah duduk. "Setiap hari Faqih selalu ganggu aku, Bu." "Bohong, Bu. Setiap hari Faqih cuma menyapa Aisyah dengan menebar salam aja kok, Bu, bukan ngeganggu itu namanya. Kan menebar salam itu baik," sanggah Faqih. "Awalnya iya menebar salam, ke sananya ngikutin aku sampe kelas dan terus mengoceh gak jelas, Bu. Dan Aisyah merasa sangat terganggu." Aisyah memberikan Faqih tatapan setajam siletnya. "Begini, Bu. Semua amal itu tergantung pada niat. Jika niatnya baik, In Syaa Allah itu sudah tercatat baik, apalagi jika diamalkan kan, Bu? Nah, niat Faqih itu secara tidak langsung mau ngejagain Aisyah selama perjalanan menuju kelasnya. Kan kita gak tau, orang mana yang mau berbuat jahat sama Aisyah." "Anak muda jaman sekarang bucinnya emang terkadang berlebihan ya," gumam Bu Desi. "Ya, kan, melindungi calon istri sendiri gak ada salahnya, Bu," celetuk Faqih. "Dan atas semua yang Faqih lakukan, Aisyah tidak suka, Bu!" "Oke, Ibu paham, mungkin kamu merasa terganggu walaupun niat Faqih baik. Tapi apakah pantas perlakuannya kamu balas dengan sebuah tamparan?" pertanyaan Bu Desi membuat Aisyah diam seribu bahasa. *** Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakaatuh, Readers yang In Syaa Allah dirahmati oleh Allah. semoga selalu berada dalam lindungannya Allah Swt. ya:) Cerita ini memang sederhana, tapi semoga bisa diambil manfaatnya dan menghibur teman-teman semua:) Salam, Saifa Hunafa:)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN