"Oke, Ibu paham, mungkin kamu merasa terganggu walaupun niat Faqih baik. Tapi apakah pantas perlakuannya kamu balas dengan sebuah tamparan?" pertanyaan Bu Desi membuat Aisyah diam seribu bahasa.
"Dengarkan Ibu, Aisyah, tamparan itu jangan sampai dianggap sepele. Itu akan berdampak pada fisik seseorang. Bahkan parahnya, itu bisa saja menjadi pelecehan martabatnya seseorang."
Di dalam hati, Aisyah terus beristigfar kepada Allah. Tak terasa, air matanya mengalir di pipi. Faqih mengetahui kondisi Aisyah yang saat itu sedang menangis, ia merasa tak tega.
"Mungkin kamu bisa menjelaskan, kenapa kamu melakukan itu, Aisyah?"
"Itu reflek, Bu. Tidak sengaja. Aisyah juga sangat terkejut hebat. Tangan Aisyah di pegang sama Faqih," ucapnya sambil terisak pelan.
"Emang harus nampar, ya? Itu gak baik, Aisyah. Bahkan namamu di sekolah ini bisa menjadi buruk karena kejadian tadi, apalagi banyak yang melihat. Dan mungkin anak-anak yang ember akan menyebarkan aksi kamu tadi pada teman-temannya yang lain."
"Bu, mungkin itu belum seberapa dibanding kepalanya harus ditusuk dengan jarum besi gara-gara menyentuh perempuan yang bukan mahramnya."
Dari Ma'qil bin Yasar radhiallahu'anhu bahwa, Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam bersabda: "Sungguh jika kepala seorang laki-laki ditusuk dengan jarum dari besi, lebih baik baginya daripada dia menyentuh seorang perempuan yang tidak halal baginya."
Bu Desi beristigfar, "Astagfirullahal'adziim."
"Kalaupun nama Aisyah harus tercoreng di sekolah ini, setidaknya di hadapan Allah Aisyah pernah berusaha untuk menjaga Izzah dan Iffah Aisyah!"
"Baik, Aisyah. Ibu paham. Biar bagaimanapun, tetap kamu harus meminta maaf pada Faqih," perintah Bu Desi.
"Kalo gitu, Faqih juga harus minta maaf, dengan catatan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Biar bagaimanapun, Aisyah merasa direndahkan sebagai seorang perempuan."
***
Setelah keduanya saling meminta maaf dan memaafkan, merekapun dipersilakan pulang oleh Bu Desi. Setelah masalahnya selesai mereka berdua berbincang cukup lama dengan Bu Desi. Meskipun ia guru yang dikenal killer, tapi jika sudah kenal, ia justru asik diajak bicara. Tak tanggung-tannggung, bahkan Bu Desi sampai menceritakan kisah cintanya dengan sang suami beberapa tahun yang lalu, hingga membuatnya tersipu sendiri.
Belum sempat Aisyah keluar dari gerbang sekolah, adzan Asharpun berkumandang indah, terdengar oleh indra pendengarannya. Langkahnya untuk pulang ia putarkan ke arah masjid sekolah. Ia berniat ingin Solat Ashar terlebih dulu sebelum pulang. Karena baginya selalu ada yang kurang bila kewajiban belum dilaksanakan.
Suasana sekolah sore itu sudah sepi, hanya ada beberapa anggota osis yang baru selesai rapat dan beberapa karyawan sekolah saja yang masih berada di sana. Semenjak keluar dari ruang kesiswaan, Aisyah dan Faqih memang berbeda tujuan, hingga mereka berduapun tidak bersama-sama menuju parkiran.
Setelah berwudu, Aisyah memasuki masjid diawali dengan langkah kaki yang kanan sambil membaca doa. Saat itu hujan tiba-tiba turun begitu lebat, mengguyur kota yang ia tinggali.
"Sholat berjamaah pahalanya 27 derajat." Tiba-tiba terdengar seseorang berbicara, walaupun sayup-sayup karena hujan di luar cukup berisik.
"Siapa, ya?" Aisyah bingung.
"Udahlah, niatin sholatnya jadi makmum, aku yang jadi imam. Udah cepetan pake mukenanya!" perintah seorang lelaki di balik tirai yang memisahkan antara tempat wanita dan tempat pria.
Mereka berdua pun sholat berjamaah meskipun Aisyah tidak tahu siapa yang menjadi imamnya. Di rokaat kedua, datanglah beberapa siswa ke masjid untuk melaksanakan sholat juga. Mereka ikut ke dalam jamaah, meskipun masbuk.
Setelah selesai solat, Aisyah segera melipat mukenanya dan melihat keadaan luar dari jendela. Hujan masih deras, ia tak mungkin pulang dengan keadaan seperti ini. Apalagi ia pulang menggunakan angkutan umum. Terlihat segurat kebingungan dan cemas di wajah Aisyah.
"Ka Aisyah belum ada yang jemput, ya?" Tanya seorang siswi kelas 11 yang baru selesai solat Dzhuhur tadi.
"Eh, aku gak dijemput. Kamu sendiri udah ada yang jemput, Tisya?" Tanya Aisyah pada adik kelasnya yang bernama Tisya itu.
"Jika Kak Aisyah berkenan, mau gak pulang bareng Tisya? Alhamdulillah Tisya sudah dijemput Ibu."
Aisyah sedikit berpikir. Ingin menolak karena tidak terlalu dekat dengan Tisya, tapi tak enak atas kebaikannya. "Emm, boleh, Sya. Tapi maaf sebelumnya ngerepotin."
"Enggak ngerepotin kok, Kak. Justru Tisya seneng. Kebetulan, Tisya juga mau cerita beberapa hal sama Kak Aisyah."
Mereka berdua berjalan di dalam naungan satu payung besar milik Aisyah menuju parkiran. Sesampainya di parkiran, mereka segera masuk ke dalam mobil milik Tisya mengingat hujan yang semakin deras.
***
"Oh iya, katanya kamu mau cerita, Tisya," ucap Aisyah setelah sebelumnya berterima kasih banyak pada Ibunya Tisya sudah mau mengantarnya pulang.
"Hampir aja Tisya lupa, Kak. Enggak, kok, Tisya itu cuma lucu aja kalo liat Kak Aisyah sama Kak Faqih berantem atau debat atau pas kalian ketemu lah. Suka pengen ketawa gitu loh, Kak, hehe," Tisyah terkekeh pelan sambil mengingat kembali pertemuan Faqih dan Aisyah yang tertangkap oleh penglihatannya.
"Kakak kira kamu mau cerita apa gitu."
"Tisya sekalian mau nanya aja sama Kak Aisyah. Kenapa sih, Kakak judes banget sama Kak Faqih? Bahkan mungkin sama semua cowo di sekolah." Tisya penasaran.
"Emm, Kakak gak suka aja sama cowo yang suka ngeganggu kaya Faqih itu."
"Tapi kayaknya Kak Faqih suka loh, sama Kak Aisyah, soalnya nih ya, Kak Faqih itu gak pernah kaya gitu ke cewe yang lain. Bahkan agak cuek juga."
"Tapi Kakak gak suka sama Faqih. Dia emang gak pernah ngajak Kakak pacaran meskipun berulang kali bilang suka. Dia justru minta kakak jadi istrinya. Kan aneh juga pembicaraannya bagi murid SMA kaya kita ini. Selama ini kakak gak pernah anggap itu serius, karena Kakak bisa menilai dari caranya bersikap."
"Eum, ya udah deh, Kak. Itu sih basa basi aja, Kak, hehe. Yang mau Tisya ceritain itu tentang perubahan Tisya. Tisya mau ngucapin terima kasih yang banyak banget sama Kak Aisyah."
Aisyah mengerutkan dahinya bingung. "Loh, terima kasih untuk apa, Sya?"
"Untuk perubahan Tisya."
Aisyah mengarahkan tubuhnya pada Tisya. "Mungkin Tisya bisa jelasin maksudnya bagaimana?"
"Kakak itu dulunya kan pesantren ya, Tisya pokoknya salut banget sama Kakak yang mampu buat istiqomah di dalam kebaikan. Jika alumni pondok di luar sana terwarnai oleh orang luar, Kak Aisyah justru mewarnai orang-orang sekitar."
"Kakak gak pernah ngerasa mewarnai, kok, Sya. Bahkan Kakak ngerasa biasa aja."
"Menurut Kakak mungkin biasa, tapi luar biasa menurut orang yang Allah anugerahkan petunjuk untuk berubah, Kak."
Selama ini Aisyah memang tidak pernah merasa seistiqomah di Pesantren dulu. Secara tidak langsung amalan hariannya tidak sebanyak di pesantren. Namun, sebisa mungkin ia selalu berusaha untuk mengistiqomahkan solat sunnat rawatib, tilawah, muroja'ah, tahajud dan dhuha, walaupun terkadang salah satunya ada saja yang tidak sempat ia tuntaskan.
Rutinitas solat Dhuha setiap waktu istirahat bersama Adinda diam-diam diperhatikan oleh Tisya. Dari sana Tisya merasa kagum dan ingin lebih dekat dengan Aisyah. Tidak hanya itu, sebelum bel masuk berbunyi tak jarang Tisya mendapati Aisyah sedang membaca Al-Quran. Tisya semakin penasaran dengan rasa kagumnya. Ia anggap itu dorongan dari yang bernama hidayah. Hingga sekarang, ia putuskan untuk memulainya dari solat Dhuha.
"Aku minta bimbingannya ya, Kak. Aku mau hijrah." Itulah kalimat terakhir Tisya sebelum akhirnya Aisyah turun dari mobil karena telah sampai.
Yang bernama hidayah tak tahu dari arah mana datangnya. Namun ia pada hakikatnya bukan ditunggu, tapi dikejar dengan tekad kuat di dalam hati