“Hasan ini saudara sepupu saya. Bahkan kami saudara sepersusuan juga.”
Dan pada akhirnya Abdhi hanya bisa diam, bungkam seribu bahasa. Namun di sisi lain, Abdhi bisa menghembuskan nafasnya dengan lega. Apa yang ia khawatirkan ternyata hanyalah sebuah prasangka buruk hatinya.
Astagfirullahal’adziim, ia beristigfar di dalam hati.
“Oiya, Almira suka cerita tentang anda pada saya. Anda Abdhi, kan?”
Abdhi mengangguk sambil tersenyum kaku pada Hasan karena sebelumnya sempat merasa malu telah berburuk sangka pada hubungan mereka.
Almira menginjak kaki Hasan hingga Hasan meringis kesakitan. Melihat tingkah dua orang bersaudara di hadapannya, Abdhi hanya bisa menunduk juga tersipu. Hasan justru malah tertawa dan semakin menggoda Almira.
Setelah mereka selesai dengan pembicaraannya, Almira dan Hasan pamit kepada Abdhi untuk pulang duluan. Sesampainya di tempat parkir, Almira masih dengan perasaan marahnya. Selama berjalan menuju tempat parkirpun tak henti ia memukuli dan mencubit tangan Hasan.
“Iih, ember, ember, ember!” Almira mengerucutkan bibir sambil menyilangkan kedua tangannya di depan d**a. Hasan hanya tertawa, sedangkan di kejauhan sana, Abdhi terkekeh melihat tingkah lucu Almira.
***
Beberapa menit sebelum bel berbunyi, kelas 12IPA2 memang sudah berhamburan keluar dari kelas. Singkat cerita, Bu Rina yang tadi mengajar di kelas itu ada keperluan, maka dari itu mereka keluar lebih dulu daripada kelas yang lainnya.
Saat itu Faqih tengah berjalan santai menuju tempat parkir untuk menunggu Aisyah beberapa saat. Namun bukan yang ia harapkan yang datang. Bukan Aisyah sang pujaan hati, namun Tiara. Datang-datang, ibaratkan magnet, Tiara langsung saja mendekati Faqih yang justru merasa risih.
“Apaan sih!” Faqih terlihat malas setiap didekati Tiara.
“Faqih, pulang bareng, yuk!” ajak Tiara dengan nada manjanya.
“Kalo bisa pulang bareng sama Aisyah, kenapa juga harus pulang sama lo, ya, kan?”
“Ish! Ntar gue traktir lo di restoran mewah deh, asalkan kita pulang bareng, yah?”
“Gak usah! Gue masih mampu dan gak butuh traktiran!”
Karena merasa hilang mood, Faqih akhirnya memutuskan untuk pulang. Ia menunggu Aisyah juga Tiara pasti akan tetap mengganggu. Daripada nanti Aisyah cemburu dan tambah marah, seperti itulah batinnya dengan penuh kepedean.
Faqih segera masuk dan melajukan mobilnya untuk pulang, tak peduli dengan wajah marahnya Tiara. Tak lama setelah mobil Faqih hilang dari parkiran sekolah, Aisyah dan Adinda berjalan sambil mengobrol. Tiara menatap Aisyah sinis dan menghampirinya dengan angkuh.
“Heh!” Tiara mengisyaratkan Aisyah dan Adinda untuk berhenti dari langkahnya.
Aisyah menatap Tiara bingung. “Ada apa?” tanyanya.
“Lo pake pelet apa, sih? Bisa-bisanya Faqih ngehindar gitu dari cewe secantik gue.”
Astagfirullahal’adziim, batin Aisyah.
"Astagfirullahal’adziim. Sekarang giliran kamu yang istigfar!” perintah Aisyah tegas.
“Astagfirullah. Eh, ngapain lo nyuruh gue istigfar, istigfar segala?”
“Kita memohon ampun kepada Allah. Dan aku mohon sama kamu buat jaga pembicaraannya! Coba mikir dulu sebelum berkata dan bertindak, biar gak nyesel!” Aisyahpun berlalu meninggalkan Tiara bungkam dan terdiam.
“Bye, Tiara!” ucap Adinda sambil melambaikan tangannya ke hadapan Tiara yang terlihat kesal.
Tiara menghentakkan kakinya kesal. “Ish!”
***
Baru saja Aisyah selesai melaksanakan sholat Ashar, tiba-tiba grup umum Komunitas Ukhuwah Islamiyah ramai karena ada pengumuman untuk kumpulan dari Abdhi. Segera Aisyah mengganti bajunya dengan gamis untuk datang ke Masjid.
Tak perlu waktu yang lama untuk Aisyah mengganti baju. Selesainya ia langsung pamitan ke Ummi dan kakaknya untuk kumpulan.
Sesampainya di masjid, Aisyah langsung duduk di shaf paling belakang bersama dengan akhwat yang lainnya. Ternyata kumpulan sudah dimulai dari beberpa menit yang lalu, berarti ia terlambat beberapa menit. Sedari Aisyah masuk ke dalam masjid memang sudah mendapat tatapan tajam dari Abdhi, ia hanya bisa menunduk penuh penyesalan.
Kumpulan sore ini ternyata adalah evaluasi mingguan. Ketua dari setiap divisi maju ke depan untuk mempersentasikan kendala yang dihadapi selama seminggu, juga menyebutkan solusi terbaik apa agar mampu mengatasi kendala-kendalanya.
Saat itu tak ada sedikitpun bau-bau keberadaan Faqih. Tapi itu bukan masalah bagi Aisyah, jujur saja hatinya sangat bersyukur.
“Shut, shut!” Suara itu berhasil mengganggu konsentrasi Aisyah. Ia menoleh ke belakang dimana itu adalah pintu masuk utama masjid yang terbuka. Aisyah sangat terkejut ketika mendapati Faqih bersembunyi di baliknya.
Aisyah mengernyitkan dahinya bingung. “Faqih?”
“Aku telat dateng, tadi abis main game sampe gak inget waktu. Tadi juga sempet dimarahin Abi,” Faqih berbicara sangat pelan.
Mendengar curhatan Faqih Aisyah tentu saja merasa tidak peduli. Ia memilih untuk mengabaikan Faqih yang terus mengoceh.
“Aisyah! Shut!” Tak henti Faqih memanggil Aisyah, sampai yang lainnya merasa terganggu.
“Berisik!” ucap Aisyah.
Aisyah langsung terkesiap saat Abdhi memperhatikannya dan berjalan ke arah pintu. Aisyah menunduk sambil memejamkan matanya rapat-rapat. Saat itu Abdhi berdiri tepat di sampingnya dan berkata, “Perhatikan dan simak evaluasi dari setiap divisinya dengan baik, Aisyah!” ucapnya tegas, penuh wibawa.
Aisyah hanya bisa mengangguk pelan sambil menelan ludahnya. Ya Allah, Aisyah fokus Aisyah! Batinnya.
Abdhi keluar dari masjid dan mendapati Faqih di balik pintu yang sedang terduduk di lantai. “Dari mana aja, kamu?”
Faqih terkejut bukan main. “E-eh, Ka Abdhi. Hehe.”
“Malah cengengesan.”
“Yaah, maaf lah, Kak. Tadi ada perlu dulu sebentar.”
“Ah, kamu selalu beralasan. Padahal alasannya pasti karena maen game!”
Faqih menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Ya udah, kamu pulang aja, lanjutin maen gamenya sana!”
“Eh, kok, pulang, kak?”
“Evaluasinya udah mau selesai. Divisi kamu udah dipersentasikan oleh wakil. Nanti, kamu paling nunggu hukuman aja dari saya,” ancam Abdhi.
Faqih menghembuskan nafasnya. Mendapatkan hukuman memang sudah biasa baginya. Tidak di sekolah, di rumah oleh Abinya, bahkan di komunitaspun ia masih sering mendapat hukuman.
Saat itu, Faqih tidak nurut. Bukannya pulang seperti yang diperintahkan Abdhi, ia malah diam dan duduk di teras masjid sambil melanjutkan main gamenya yang sempat terhenti. Begitulah Faqih yang akhir-akhir ini sering lupa waktu karena game online. Dia tak pernah lupa terhadap kewajibannya melaksanakan solat lima waktu, walaupun terkadang suka menunda-nunda.
Sekitar pukul lima sore kumpulan itu selesai. Semua pengurus akhwat pulang ke rumahnya masing-masing. Sedangkan pengurus ikhwan masih berkumpul di masjid dan membentuk lingkaran. Abdhi menekankan kepada pengurus dan anggota dari komunitasnya untuk melaksanakan solat Maghrib di masjid. Biasanya, kumpulan ini mereka isi dengan tilawah Al-Quran dan sharing ilmu. Bahkan tak jarang mereka saling bertukar cerita dan nasehat. Seperti halnya halaqoh, namun ini dalam jumlah yang cukup banyak.
Sudah saatnya mengumandangkan Adzan Maghrib. Setelah berwudhu, Abdhi segera mengumandangkan Adzan, untuk menyeru manusia melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Lantunan adzannya membuat setiap yang mendengar tenang hati. Kepahamannya terhadap adab dan ilmu beribadah, membuatnya tak diragukan lagi untuk segera memimpin sebuah keluarga kecil. Meskipun saat itu umurnya masih 21 tahun, tapi dia sangat peka dengan tanggung jawab.
Solat Maghrib telah usai dilaksanakan. Sebagian orang sudah mulai pulang setelah dzikir dan akan kembali ke masjid ketika Isya nanti, hanya ada beberapa orang saja yang masih bertahan di masjid. Abdhi masih tetap duduk di tempat sholatnya untuk menambah dzikir dan berdoa pada Allah. Sedangkan di shaf yang lain ada Faqih yang baru datang ke masjid dan melaksanakan solat maghrib secara munfarid.
“Kamu… Abdhi, ya?” seorang lelaki bertanya pada Abdhi yang baru saja selesai berdoa. Abdhi menoleh ke arahnya sambil tersenyum dan mencium tangan orang tua itu.
“Eh, iya, Pa.”
Dalam hati, Abdhi tahu, bahwa lelaki ini adalah Abinya Aisyah. Apa yang ia niatkan dari jauh-jauh hari membuat hatinya menggebu, terlebih saat lelaki yang hendak ia kunjungi suatu hari nanti berada di hadapannya saat ini. Bibirnya terasa kaku untuk mengutarakan niatnya selama ini. Bingung. Gugup ia rasakan.
“Malam ini tidak ada pasien, Pak?” Tanya Abdhi basa basi.
Lelaki itu terkekeh pelan. “Hehe, pasien itu selalu ada, Nak. Hari ini saya jadwalnya libur seharian penuh. Yaa, saya anggap ini istirahat sejenak untuk melanjutkan tugas di esok harinya.”
“Waah, Maa Syaa Allah. Semoga Allah selalu memberkahi setiap langkah kebaikan, Bapak.”
“Aamiin Yaa Rabbal ‘Alamiin.” Abinya Aisyah hanya mengaminkan dan setelah itu mereka saling diam. Sebenarnya masih ada hal yang ingin Abinya Aisyah bicarakan, tapi sepertinya Abdhi hendak mengatakan sesuatu.
Bilang sekarang atau nanti, ya? Batin Abdhi ragu.
“Pak… Bapak ini Abinya Aisyah, kan?” Tanya Abdhi ragu.
“Iya, betul. Kenapa, Nak Abdhi?”
Abdhi kali ini dibuat semakin gugup. Rasa percaya dirinya hilang ketika berhadapan dengan Abinya Aisyah.
“Pak, mohon maaf sebelumnya. Saya ada niat…”
***
Niat apa ayoooo??
Siapa yang penasaran nih sama kelanjutannya?
Salam,
Saifa Hunafa.