“Gue kira si Tiara gak bakal balik lagi ke sini. Jadi terancam deh hidup gue sama gangguannya,” curhat Faqih pada Rendy di kantin.
“Heh, lo gak boleh kaya gitu. Dia kan ke luar negri buat berobat, kasian tau!” Rendy menyedot jus alpukat yang dipesannya dan lantas berkata, “Dia makin cantik aja sekarang. Lo yakin, gak mau sama dia? Cuma lo tau yang beruntung disukai sama Princess Sekolah itu tau! Haha,” ucap Rendy yang lantas tertawa.
“Dengerin gue! Aisyah itu bahkan cantiknya double! Cantik rupa, cantik akhlak pula. Simple aja sih tipe yang bisa ngeluluhin hati gue. Lo cukup liat aja Aisyah, calon istri gue!”
“Pede banget calon istri, masih jauh!”
“Ya orang gue mau nikah muda sama Aisyah.”
Rendy tertawa. “Iya kalo Aisyahnya mau. Diliat-liat sih kayaknya Aisyah risih diliatin lo juga, haha.”
Faqih meremas Aqua gelas yang ia genggam hingga wajah Rendy terciprat air.
“Gini nih, kalo Faqih udah ngambek,” gumam Rendy sambil mengusap wajahnya yang basah.
Di sisi lain, di waktu yang sama, istirahat kali ini Aisyah justru tidak keluar dari kelasnya sama sekali karena membantu beberapa temannya yang belum mengerti salah satu bab pelajaran matematika. Berbeda dengan Faqih yang justru membenci pelajaran hitungan itu, Aisyah justru sangat senang dengan pelajaran matematika.
Beberapa menit kemudian, Faqih melewati kelas XII IPA-1. Melihat Aisyah yang sedang mengajari teman-temannya, sontak saja membuat Faqih melangkahkan kakinya ke ambang pintu kelas XII IPA-1. Senyum manisnya pun mengembang. Ia bangga melihat gadis yang diharapkannya menjadi istri itu bermanfaat ilmunya. Bertambahlah kagumnya pada Aisyah.
“Mau sampai kapan ngehalangin jalan?” ucapan seseorang membuyarkan lamunan Faqih hingga ia terperanjat kaget.
Dengan kikuk Faqih berkata, “E-eh, sorry, sorry!”
Tak lama kemudian, Aisyah keluar dari kelas dengan langkah cepat, seperti terburu-buru. Faqih segera menahannya dengan memanggil,
“Aisyah! Mau kemana?”
“Masjid.”
“Aku juga. Bareng dong!”
“Inget syarat! Jangan ngomong satu katapun sama aku, jangan terlalu deket sama aku dan jangan banyak tingkah. Silakan kamu jalan duluan!” perintah Aisyah.
Faqih tersenyum. “Siap, laksanakan, Calon Makmum.”
Aisyah berdecak kesal mendengar panggilan itu.
***
Seperti biasa, tempat yang sejuk itu memang selalu sepi. Tidak ada paksaan untuk selalu datang walau hanya sebentar. Tetapi hendaklah datang untuk menghambakan diri, memohon dan meminta pada Yang Maha Memperkenankan.
Dengan bersujud, maka akan ditemukan titik tenang yang luar biasa. Dengan mengangkat tangan dan hati yang penuh harap padaNya, maka takkan ada rasa kecewa. Dengan membaca kalam illahi, maka tentramlah hati. Sesederhana itu, namun masih banyak yang enggan.
Hanya ada Aisyah dan Faqih yang larut di dalam kekhusyukan beribadah Dhuha. Beribadah kepada Allah dengan niat ikhlas memang andalan utama untuk menenangkan hati yang gundah dan gelisah. Meski Faqih terlihat nakal, namun usahanya untuk bisa menikmati kekhusyukan beribadah tidak bisa dikatakan biasa saja. Bahkan minggu lalu, saat Aisyah meninggalkanya di masjid sekolah ini, ia menangis karena tidak melaksanakan tahajud.
“Aisyah!” panggil Faqih saat mendengar gerakan Aisyah yang sepertinya telah selesai berdoa.
Tak ada jawaban apapun dari Aisyah. Ia melanjutkan melipat mukenanya.
“Gapapa ya, nanti aku jadi imam kamu?”
“Mending kamu jadi imamnya cewe yang tadi aja! Bimbing dia biar jadi lebih baik lagi,” ucap Aisyah.
Faqih membalikkan badannya untuk menghadap ke arah tirai yang memisahkannya dengan Aisyah. “Enggak lah! Aku cuma pengen jadi imam kamu dan cuma pengen ngebimbing kamu.”
“Udah ah, gak usah mikir yang aneh-aneh. Masih jauh!”
“Ya gapapa, visioner dong!”
Kali ini Aisyah tidak menanggapi perkataan Faqih yang terakhir. Setelah selesai melipat mukena, ia segera pergi menuju kelas karena tak lama lagi bel masuk akan berbunyi.
***
Di perpustakaan kampus, Almira duduk bersama lelaki bernama Hasan yang saat itu menjadi mahasiswa baru di Fakultas yang sama dengan Almira, Fakultas Syariah. Almira dan Hasan memang sangat dekat, terlebih umur mereka yang hanya berbeda beberapa bulan saja. Beberapa hari yang lalu, Almira sempat mengenalkan lingkungan kampus kepada Hasan. Itupun mencuri-curi waktu luang. Terkadang juga Almira ditraktir makan oleh Hasan.
Meski menjadi mahasiswa baru, jangan diragukan lagi kecerdasan Hasan. Bahkan akhir-akhir ini pun Almira sering bertanya mengenai cara penulisan skripsi yang rapi pada Hasan. Karena jujur, Almira memang pandai di semua pelajaran, namun dalam penulisan terkadang masih banyak yang harus diperbaiki. Karena itulah ia tak suka dipuji. Karena baginya setiap orang punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
Saat ini Hasan sedang fokus pada buku Ensiklopedia Al-Quran, sedangkan Almira justru tengah fokus menulis beberapa materi untuk bahan persentasi dan bahan diskusi dengan teman satu kelompoknya besok.
Di sisi lain, Abdhi tak sengaja melihat Almira dan Hasan berdua lagi. Selalu saja berdua. Walaupun keadaan Abdhi saat itu merasa panas, ia memberanikan diri untuk duduk bergabung di meja yang sama dengan Almira dan Hasan.
“Boleh ikut duduk?” Tanya Abdhi.
“Silakan!” ucap Hasan.
Abdhipun duduk sambil fokus kepada buku yang ia baca, lantas bertanya, “Kalian sudah lama dekat?”
Hasan menjawab, “Tentu lah, bahkan udah dari kecil kita deket.”
Abdhi masih fokus pada buku yang dibaca, wajahnya semakin dingin. Ia hanya mengangguk sambil ber-oh ria sebagai responnya. Almira yang duduk bersebrangan dengan Abdhi berusaha agar tetap fokus pada materi yang ia tulis, walaupun pikirannya tidak fokus dan gugup.
Jujur saja, selama Almira mengenal sosok Abdhi memang selalu merasa minder. Terlebih, Abdhi adalah seorang ketua dan founder dari salah satu komunitas yang lumayan terkenal di kampus. Bahkan sampai saat ini, kamunitasnya sudah dikenal di masyarakat sekitar. Tidak luar biasa bagaimana? Untuk mengagumi sosok Abdhipun rasanya seperti tidak pantas. Karena Abdhi agamanya sangat baik, akhlak pun tak usah ditanya lagi.
Sampai saat ini, Almira selalu ragu jika diajak berdiskusi oleh Abdhi. Sebelum ada Hasan di kampus, Abdhi sering mendekati Almira untuk sekedar bertanya kritik dan saran bagi komunitasnya. Karena Abdhi sangat percaya pada Almira, terlebih ide Almira yang di luar dugaan membuatnya senang bertanya-tanya pada Almira.
“Saya yakin, kalian tau dan ingat batasan. Apalagi Almira yang saya anggap paham mengenai ikhtilat.”
Itu memang sebuah teguran yang menampar hati. Bagi siapa yang tak punya alasan sudah pasti diam seribu bahasa.
“Saya harap anda tetap husnudzon!” Almira kali ini menghentikan aktivitas menulisnya.
“Mungkin bisa dijelaskan kepada saya sejelas-jelasnya?”
Hasan mennghembuskan nafasnya. “Kalau misalnya kita pacaran dan sebentar lagi akan menikah, anda akan percaya?” Tanya Hasan.
Abdhi terpaku. Tatapan tegangnya terfokus pada buku di hadapannya.
“Lagipula, itu tak mungkin terjadi pula!”
“Lantas?” Abdhi sangat penasaran.
***
Itu ceritanya Abdhi cemburu atau gimana sih? Hehe. Emang kaya gitu ya, orang dingin kalo lagi cemburu? Banyak gengsi?
Next gak, nih?
Salam,
Saifa Hunafa.