Pos satpam yang bercat putih itu memang hanya sebuah ruangan kecil yang digunakan satpam untuk istirahat maupun bertugas. Namun, tak jarang ada seorang murid lelaki yang ikut masuk untuk menunggu gadis pujaannya datang ke sekolah. Jika biasanya ia menunggu di gerbang, beberapa hari yang lalu Pak Satpam justru mengajaknya untuk masuk ke Pos. Namun kali ini, Faqih lebih memilih untuk duduk di bangku yang tersedia di depan Pos Satpam, ia khawatir seperti beberapa hari yang lalu saat ia terlalu asik memainkan komputer yang ada di dalam pos satpam, Aisyah sudah masuk kelas tanpa ia ketahui.
Pagi ini Faqih mengenakan jaket berwarna abu-abu. Tangan kanannya ia masukkan ke dalam saku jaket. Satu kakinya menopang kaki yang lain sambil ia gerak-gerakkan. Semenjak ada Aisyah ia jarang dihukum karena terlambat lagi. Tapi masalah kelengkapan seragam ia tetap selalu melanggar.
Tak lama setelah itu, tiba-tiba sebuah mobil sport berwarna hitam berhenti tepat di depan pos satpam. Hingga, turunlah seorang gadis dengan rambut panjang yang dibiarkan terurai rapi. Gadis itu menghampiri Faqih yang sedang melamun tak jelas dengan wajah segar dan ceria.
“Faqiiih!!!” Gadis itu memanggil keras nama Faqih yang saat itu berada tepat di hadapannya.
Mendengar suara cempreng dan keras itu tentu saja Faqih menutup telinganya karena merasa terganggu. Dengan cueknya Faqih menjawab,
“Apa?”
“Ih, masa kamu gak kangen sama aku? Udah dua bulan lebih aku gak masuk sekolah tau!”
“Gak!”
Tiara tampak gemas melihat penampilan Faqih yang pagi ini terlihat cool. Ia berusaha untuk memeluk lengan Faqih, namun dengan malas Faqih berusaha menghindar karena merasa risih. Tak lama setelah itu, datanglah Aisyah dengan Kakaknya, Almira, menggunakan sepeda motor. Faqih melihat jelas gadis anggun nan tegas itu mencium tangan kakaknya dengan khidmat. Faqih berlari mendekati Aisyah yang baru saja ditinggal Kakaknya pergi.
Tiara tidak tinggal diam, ia berlari pula mengikuti Faqih. Hingga saat Faqih berhenti di samping Aisyah, Tiara segera memeluk erat lengan Faqih yang sebelumnya sulit ia dapatkan. Faqih berusaha melepaskan tindakan Tiara, namun pelukan itu terlalu erat. Aisyah yang melihat aksi tak tahu malu itu mendelikkan matanya malas.
Wajah Aisyah yang terlihat judes dan sepertinya enggan melihat Faqih dan Tiara itu justru membuat Faqih tersenyum-senyum tak jelas sendiri. Kayaknya Aisyah cemburu deh, batin Faqih.
Tanpa sepatah kata, Aisyahpun berlalu meninggalkan Faqih dan Tiara yang masih terdiam. Melihat itu, segera Faqih mengejar Aisyah dan juga diikuti Tiara.
“Aisyah!” panggil Faqih saat posisinya sejajar dengan Aisyah.
T
anpa menoleh sedikitpun kepada Faqih, Aisyah menjawab, “Apa?”
“Jangan cemburu, dia bukan siapa-siapa kok!”
Dengan nafas yang tak teratur karena berlari, Tiara berkata, “Tapi bentar lagi kita bakal jadian. Kamu siapa sih? Pasti anak baru, ya? Jangan macem-macem ya, kalo keberadaan kamu di sini gak mau terancam!”
“Mau dia pacar kamu, calon kamu atau suami kamu sekalipun, aku gak peduli! Dan aku gak takut kalaupun kamu mau ancam aku. Kamu bukan siapa-siapa, dan Allah Yang Maha Besar!” jawab Aisyah tegas hinga membuat Tiara dan Faqih saat itu diam seribu bahasa. Aisyahpun pergi.
“Tuh kan, dia cemburu, ah!” dengan gerak cepat, Faqih berlari mengejar Aisyah hingga ke kelasnya.
“Aisyah, beneran dia bukan siapa-siapa aku. Apa yang dia omongin itu bohong, kita gak mungkin jadian, kok. Jangan cemburu, Syah!”
“Siapa yang cemburu sih? Kepedean banget!”
Entah sejak kapan emosinya jadi tidak stabil. Tapi pagi ini, Aisyah serasa ingin marah-marah.
“Aaah, pasti cemburu, kan? Gapapa, kok, itu wajar, karena cemburu itu tanda cinta. Karena kalo hubungan tanpa ada cemburu, bisa jadi kedua belah pihak itu tak benar-benar saling mencintai.”
Aisyah menatap tajam wajah Faqih yang selalu membuat gemas ingin meremas itu. tentu saja ia malu karena mereka berdua menjadi pusat perhatian teman sekelasnya.
“Berisik!” Ucap Aisyah.
“Aku bisa maklum kok, kalo kamu cemburu. Kan aku calon suami kamu.” Perkataan Faqih semakin kemana-mana. “Tapi yang perlu kamu tahu, kalo aku itu tipe cowo yang setia sama satu orang. Yaitu kamu. Dan yang-.” Belum sempat Faqih meneruskan perkataannya, Aisyah justru malah mengabaikan dan lantas meninggalkan Faqih yang sebelumnya tak henti berkicau.
Tanpa Faqih sadari sebelumnya, ternyata kelas Aisyah sudah sepi. Semua murid sudah lebih dulu berlarian ke lapangan sekolah karena tak lama lagi upacara akan segera dimulai. Tanpa pikir panjang, Faqih berlari ke lapangan dengan ransel dan jaket yang masih ia kenakan. Jika harus ke kelas dulu untuk menyimpan ransel, tidak akan keburu. Bisa-bisa, ia dimajukan ke depan seluruh murid karena terlambat.
Hampir saja terlambat. Ia berhasil masuk di barisan paling belakang. Lebih tepatnya berdekatan dengan OSIS yang menjaga ketertiban selama upacara berlangsung. Yang menjadi OSIS saat itu adalah kelas 11. Untuk menegur seorang kakak kelas memang perlu keberanian dan kesopanan yang cukup. Agar ia tak mudah tersinggung dan menghargai penegurnya.
“Maaf, Kak Faqih. Boleh dibuka jaket dan ranselnya?” Seorang siswi kelas 11 memberanikan diri untuk menegur Faqih.
Faqihpun membuka jaket dan ranselnya untuk diserahkan kepada siswi itu. setelah jaketnya dibuka, terlihat ketidak lengkapan atribut. “Maaf, Kak Faqih. Kakak tidak bawa dasi dan topi?”
“Gak!” jawab Faqih santai.
“Mohon maaf lagi, Kak. Kakak harus berdiri di depan seluruh murid karena tidak memakai dasi dan topi.”
Faqih menatap sekilas adik kelas yang tengah berusaha mengerjakan tugasnya itu. “Ooh.”
Faqihpun maju ke depan untuk baris bersama jajaran pelanggar yang lainnya. Itu memang bukan masalah yang biasa bagi Faqih. Dihukum memang sudah menjadi santapannya setiap hari. Bahkan hampir setiap minggu pula ia dihukum seperti saat ini. Benar-benar membuat siapapun menggelengkan kepala karena sikapnya itu.
Yang membuatnya tetap merasa senang ketika baris di depan seluruh murid saat upacara adalah ketika ia bisa melihat sosok Aisyah.
Baginya itu adalah kesempatan yang luar biasa. Apalagi Aisyah pasti selalu baris di depan. Membuatnya sangat mudah memandang wajah peneduh hati itu.
Aisyah mendelikkan matanya saat Faqih tersenyum. Saat mata Aisyah tertuju padanya, ia segera mengisyaratkan sesuatu dengan tangan dan mulutnya.
Tangannya memegang d**a sambil mulutnya mengucap kata, “Aku.” Lalu jarinya ia buat bentuk love sambil berkata, “Cinta.” Dan terakhir ia menunjuk kea rah Aisyah sambil berkata, “Kamu.”
Aisyah mengernyitkan dahi dan mengendikkan bahunya. Tak sampai di situ saja aksi Faqih. Ia lanjut ke aksi yang kedua.
Tangannya memegang d**a lagi sambil mengucap kata, “Aku.” Lalu mulutnya ia gerakkan agar bisa dipahami Aisyah. “CA-LON I-MAM.” Kemudian jari telunjuknya menunjuk ke arah Aisyah sambil berkata, “KA-MU!”
Aisyah yang memahami isyarat dan maksud Faqih itu hanya mendelikkan matanya malas. Walaupun tidak menutup kemungkinan bahwa batinnya terkekeh melihat tingkah konyol Faqih.
***
Faqih emang pedenya kebangetan kok, Readers? Aku aja yang nulis gak habis pikir sama karakter dia?
Salam,
Saifa Hunafa.