Ka Abdhi: Bismillahirahmaanirrahiim assalamualaikum warrahmatullahi wabarakaatuh
Ka Abdhi: Saya tunggu kamu di rumah saya, Ustadzah Shaliha!
Pesan dari Abdhi itu masuk ke Watsapp milik Aisyah. Mendengar ada pesan masuk, reflek Almira melihat ponsel Aisyah. Dia terkejut, ternyata itu pesan dari Abdhi. Segera Almira memalingkan wajahnya dari ponsel putih itu.
“Aisyah! Ada WA, nih!” panggil Almira pada Aisyah yang saat itu sedang mencuci piring setelah semuanya selesai sarapan.
Baru saja selesai mencuci piring, Aisyah segera menghampiri kakaknya yang sedang menonton di ruang keluarga. Aisyah mencipratkan air bekas mencuci tadi kemana-mana.
“Kebiasaan deh. Kan sama Umi juga suka diingetin, kalo abis nyuci piring atau nyuci tangan, tangannya dilap dulu!” Almira mengingatkan.
Aisyah memang sering lupa untuk mengelap tangannya jika telah mencuci. Aisyahpun hanya bisa menyengir kuda mendengar peringatan kakaknya itu. “Hehe, iya lupa, kak. Janji gak akan diulangi lagi. WA dari siapa, kak?”
Dengan tatapan yang tetap fokus pada layar televisi, Almira menjawab, “Gak tau. Liat aja!”
Sebenarnya saat itu Aisyah merasa aneh dengan respon dan sikap Almira yang terlihat agak dingin dari biasanya. Namun ia berusaha untuk tetap positif thingking. Kak Almira baik, kok, batinnya.
Aisyah segera meraih ponselnya yang berada di atas sofa dan tepat di samping Almira. Saat dilihat, ternyata itu adalah pesan dari Abdhi. Segera Aisyah membalasnya.
Aisyah: Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakaatuh
Aisyah: Baik, Kak.
“Kakak hari ini jadi belajar bareng?” Tanya Aisyah.
“Iya, jadi. Kamu siap-siap dulu, gih! Ganti baju, pake manset, pake kaos kaki dulu! Kakak tunggu.”
“Oke, siap!”
Aisyah berlari menuju kamarnya yang berada di lantai atas untuk mengganti pakaiannya. Almira hanya menggelengkan kepalannya saat melihat adik satu-satunya itu berlari begitu cepat. Masih ingat, ketika Aisyah SD dulu pernah juara pertama lari marathon. Anak itu emang lincah, batin Aisyah sambil terkekeh saat mengingat masa kecil Aisyah.
Tak membutuhkan waktu lama untuk menunggu Aisyah mengganti pakaian. Disaat remaja seusianya lama memilih pakaian yang cocok untuk digunakan, Aisyah justru termasuk remaja yang simple. Bukan berarti ia tak memperhatikan penampilannya sebagai seorang gadis, tapi yang terpenting baginya adalah bersih, rapi dan tidak mengundang syahwat. Juga disaat remaja lain lama dengan make up nya, Aisyah justru lebih memilih untuk memolesi wajahnya dengan bedak yang tipis. Bahkan itu pun bedak bayi.
Aisyah menuruni tangga satu per satu. Kali ini ia tidak berlari seperti akan menaikinnnya tadi. Sekarang ia mengenakan gamis dan jalannya menurun. Jika ia berlari juga, mungkin akan dinasehati lagi oleh kakaknya atau uminya. Karena dulu Aisyah pernah jatuh.
“Umi mana, kak?” Tanya Aisyah yang ketika sampai di ruang keluarga segera duduk di samping Almira untuk menggunakan kaos kaki.
“Di belakang. Lagi ngasih makan ikan,” jawab Almira sambil mematikan televisi. “Ya udah, yuk! Kita salam dulu ke Umi.”
Mereka pun berjalan menuju belakang rumah. Lebih tepatnya taman belakang rumah yang menyajikan taman bunga sederhana dan dilengkapi kolam ikan di tengah taman itu. terkadang taman belakang rumah itu menjadi salah satu tempat favorit Aisyah. Entah itu untuk menyendiri, maupun tempat untuk curhat pada umi atau kakaknya.
Tampak seorang wanita paruh baya tengah duduk di tepi kolam ikan sambil memberi ikan-ikan di dalamnya makanan. Melihat ikan, berenang kesana kemari, dingin rasa di dalam air, hingga tampaklah lesung pipi. Wanita itu tersenyum. Kesenangan sederhana yang bisa ia dapatkan dengan melihat indahnya ciptaan Allah ini.
Sebenarnya, Almira dan Aisyah merasa segan jika harus menganggu Uminya yang sedang fokus memberi makan ikan itu. Tapi mau tak mau ia harus pamit.
“Umi!” panggil Aisyah sambil berjalan menghampirinya.
Sang Umi menoleh ke arah dua gadis yang datang menghampirinya dengan senyuman yang tak jauh berbeda dengan senyumannya. Bibir tipis Almira dan Aisyah memang sama seperti Uminya. Hingga jika tersenyum pun akan terlihat sama senyumannya.
“Eh, udah pada mau berangkat, ya?”
“Iya, Mi. mungkin Almira agak siang. Soalnya abis belajar bareng mau ke kampus dulu. Dipanggil dosen, entahlah ada apa. Sekalian jemput Hasan juga, katanya dia mau main ke rumah,” ucap Almira.
“Waw, dipanggil dosen. Dosen muda yang pernah kakak ceritain, ya? Sekalian ajak ke rumah, gih!” goda Aisyah.
Almira mendelikan matanya. “Ish, apaan sih! Sekali lagi ngomong gitu, kakak gak bakal anter kamu nih,” ancam Almira pada Aisyah.
Aisyah menyengir kuda hingga menampilkan sederet gigi putihnya. “Hehe, ampun, kak, ampun!”
“Eh, udah, udah. Mau pada berangkat kok malah berantem dulu. Ayo!”
Uminya mengantar mereka sampai depan rumah, untuk sekedar memperhatikan kedua anaknya pergi dengan selamat. Juga untuk mengingatkan agar tidak lupa membaca doa sebelum berangkat.
Mereka pun berangkat dengan mencium tangan Sang Umi dan mengucapkan salam terlebih dahulu. Setelah salam itu terjawab, barulah Almira melajukan sepeda motornya dengan kecepatan standar.
Tak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai di rumah Ustadzah Shaliha. Mungkin hanya sekitar lima menit saja jika menggunakan sepeda motor. Rumahnya pun berjarak sangat dekat dengan masjid Al-Ukhuwah. Almira hanya bisa mengantar Aisyah sampai depan gang karena ia sudah ditunggu teman-temannya.
Setelah Aisyah turun, Almira segera melanjutkan perjalanannya menuju rumah temannya. Biasanya setiap Hari Minggu ia akan diminta untuk mengajari beberapa temannya pelajaran Ushul-Fiqh yang merupakan salah satu mata pelajaran di fakultas syariah. Pelajaran yang membutuhkan pemahaman yang luar biasa itu memang perlu perjuangan yang luar biasa pula untuk mempelajarinya. Almira merupakan salah satu mahasiswa yang memahami pelajaran itu, karena ketika pesantren dulu pernah mempelajari dasarnya.
Tidak diragukan lagi, bagi seseorang yang teliti, tekun, rajin dan berwawasan luas, pasti akan mudah untuk memahami suatu ilmu. Meski diawali dengan ketidak pahaman yang membuat kepala pening, tapi begitulah cara ilmu yang ingin terus diulang dan diasah dengan cara mengajarkan orang lain. Yang terpenting tidak berhenti belajar dan berusaha memahami. Karena paham itu akan ada pada waktunya. Dan seseorang akan berkata, “Ooh..” pada waktunya pula.
***
Hari Minggu memang hari libur bagi sebagian orang. Namun, tidak banyak juga yang menganggap bahwa Hari Minggu itu sama seperti hari-hari biasa. Sama-sama harus berjuang, berusaha, belajar dan yang terpenting adalah tidak libur dari beribadah dan taat pada Allah.
Setelah melaksanakan tahajud, Faqih mengembalikan tubuhnya ke atas kasur untuk melanjutkan mimpi yang sempat terpotong. Beberapa menit setelah adzan shubuh berkumandang, ia segera mengambil wudu dan mengganti pakaiannya dengan koko dan sarung karena Abinya sudah menarik-narik tangannya, bahkan berteriak tepat di telinganya.
Setelah shubuh, Faqih tidur kembali, seolah tidurnya sepanjang malam tidak cukup. Fella yang baru saja selesai sarapan, membuka pintu kamar Faqih. Jika saja tidak disuruh oleh Uminya, mana mau Fella membangunkan Faqih. Berkali-kali Fella menepuk pundak Faqih sambil berteriak membangunkan, namun Faqih tak kunjung sadar dari alam mimpinya.
“Ka Faqiiih!!! Banguuuun!!!”
Faqih hanya menggeliat kecil.
“Ih, Ka Faqih mah kaya kebo! Ka Aisyah aja pagi-pagi udah pergi,” ucap Fella, mengingat beberapa menit lalu melihat Aisyah pergi melalui jendela rumahnya.
Seketika Faqih terbangun saat mendengar nama itu. “Hah? Aisyah? Mana? Kemana?”
Fella mendelikkan matannya. “Abis Shubuh, jangan tdur lagi! Nanti Ka Aisyahnya keduluan sama orang lain loh!”
Kali ini Faqih benar-benar bangun. “Apaan sih, gaje!”
“Huu! Mana suka Ka Aisyah sama cowo yang kalo abis shubuh tidur lagi! Abis shubuh itu ngaji!”
“Ah, baweh, anak kecil!”
Faqih beranjak dari ranjangnya dan berlari menuju ruang makan untuk menyantap sarapan favoritnya. Menu sarapan Hari Minggu memang menu yang paling Faqih suka daripada menu sarapan hari biasa. Nasi goreng seolah menjadi satu-satunya masakan terenak bagi Faqih. Saat itu ia masih mengenakan baju tidur, rambutpun masih terlihat acak-acakan. Namun bukan Faqih jika mempedulikan itu, toh hari ini Hari Minggu. Tak usah terlalu terlihat rapi, pikir Faqih.
“Kak Faqih!” Fella berteriak dari lantai atas, membuat Faqih tak jadi menyuapkan sesendok nasi.
“Apaan?” Tanya Faqih tak sabar sambil langsung melahap sesendok nasi yang sempat terhenti itu.
Fella berlari ke ruang makan dan lantas memberikan ponsel Faqih yang di Wattsapp-nya ada pesan spam dari nomor tak dikenal. Faqih membuka pesan itu dan saat itu juga matanya membulat sempurna. Ia tak percaya saat membaca pesan itu.
“What? Aisyah ke rumah Kakaknya Kak Abdhi? Mau ngapain?”
***
Waah, Abdhi mau ngomong apa tuh pake nyuruh Aisyah ke rumah kakaknya segala?
Tunggu selalu ceritanya yaaa?
Salam,
Saifa Hunafa.