Jatuh cinta

1142 Kata
Ketika kita sakit hati, itu karena kesalahan kita yang salah menempatkan cinta. Cinta, yang seharusnya hanya untuk Allah, malah kita bagi dua. *** Dilihat Aisyah dari kejauhan, ada Almira yang sedang duduk di teras masjid sambil membaca Al-Quran kecil berwarna hitam. Segera Aisyah menghampiri kakaknya yang ia yakini tengah menunggunya itu. “Assalamualaikum, Kakak!” ucap Aisyah yang semat membuat Almira terkejut. “E-eh, waalaikumussalam, Aisyah. Udah selesai?” Tanya Almira. Aisyah mengangguk sambil tersenyum pada Almira. “Eh, Kakak emang tadi abis ngapain sama Ustadzah Kakak?” “Eum, enggak, kok. Kakak cuma lagi butuh nasihat aja. Ayo ah, kita pulang!” ajak Almira yang lantas bangkit dari duduknya, dibantu oleh Aisyah dengan menarik tangannya. Baru saja mereka akan melangkah untuk pulang, tiba-tiba seseorang dari dalam masjid memanggil Aisyah. Reflek, Aisyah dan Almira menoleh ke sumber suara. Aisyah yang merasa dipanggil namanya dan Almira yang merasa penasaran pada suara yang tak asing di telinganya itu. “Aisyah, untuk besok bisa datang ke sini? Saya tahu besok kamu tak ada jadwal mengajar, tapi saya ada perlu.” Ternyata itu adalah Abdhi. Aisyah mengangguk, tanda bahwa ia menyetujui. “In Syaa Allah, Kak. Memangnya, ada perlu apa?” tanyanya. Sesekali Abdhi melirik ke arah Almira yang sedari tadi menunduk, tak menoleh sedikitpun ke arahnya. “Eum, besok saja. Silahkan kalian pulang. Segera laksanakan Sholat Ashar, ya!” Aisyahpun mengangguk dan lantas pergi setelah ucapan salamnya dibalas oleh Abdhi. Ada desiran aneh di hati Almira setiap bertemu dengan Abdhi. Ibaratkan, hatinya tengah berlari marathon. Telapak tangan dan telapak kakinya berkeringat dingin. Maka dari itu, sedari tadi ia hanya bisa menunduk malu di hadapan Abdhi. *** Jika saja dia seberani Bunda Khadijah, pasti dia mampu untuk menyatakan perasaannya pada orang yang selama ini memikat hatinya. Tapi dia hanyalah Almira dengan segala keterbatasan dan kekurangan. Hingga perasaan yang semakin hari semakin berakar kuat itu hanya bisa tertanam dalam hati. Ya, Almira mencintai seseorang dalam diamnya. Namun di tengah malam, doanya tak pernah terhenti untuk orang yang ia cinta. Selama ini, tak ada yang tahu mengenai perasaannya pada sosok Abdhi, selain dirinya dan Allah saja yang tahu. Rasa itu selalu bertambah, beriringan dengan sikap Abdhi yang selalu saja mengagumkan di hadapannya. Baik hatinya, sholehnya, mengajinya, jiwa kepemimpinannya, rasa tanggung jawab yang tingginya, kerja kerasnya dan hal-hal mengagumkan yang lainnya. Tentu saja banyak muslimah sholehah yang mengidamkan lelaki seperti Abdhi, sekali ia melamar akhwat, sudah terjamin akan diterima, walaupun semua kembali lagi pada takdir Allah. Seandainya rumah Almira yang menjadi tempatnya berkunjung untuk memperkenalkan diri juga orang tuanya pada orang tua Almira, tentu ia akan sangat menyambut dengan senang hati. Tapi itu hanyalah khayalan Almira saja. Sesekali Almira pun semakin mengintropeksi diri. Dirinya belum sebaik Abdhi. Di luar sana, masih banyak Akhwat yang lebih pantas dan setara dengan Abdhi. Masih ingat, saat tadi Almira bertemu dengan Abdhi di Masjid Al-Ukhuwah. Bola mata mereka saling bertemu. Walau hanya beberapa detik saja, karena Abdhi segera memalingkan wajah setelah sebelumnya tersenyum tipis, tapi tetap saja, bola mata hitam milik Abdhi masih melekat di bayangan Almira. Pertemuan yang bisa dikatakan singkat itu begitu membekas di hati Almira. Terlebih, saat Abdhi mengajaknya mengobrol dan sedikit bercerita saat pengajian anak-anak sedang berlangsung. Saat itu, Almira sedang duduk di teras masjid untuk menunggu Aisyah yang sedang mengajar anak-anak. Tiba-tiba, tanpa sengaja Abdhi datang dan menghampirinya. “Sudah bertemu, dengan Ustadzah Shaliha?” Tanya Abdhi yang lantas berdiri dan diam untuk menunggu jawaban dari Almira. “Itu Kakak Anda, kan?” Seolah tak mempedulikan pertanyaan Abdhi, Almira justru malah bertanya balik “Ternyata Anda lebih suka menggunakan bahasa baku jika bersama Saya. Iya, beliau Kakak saya. Seorang Kakak yang sosoknya selalu berusaha menjadi ibu bagi Saya dari dulu, ketika Saya masih duduk di Sekolah Dasar.” Almira hanya mengangguk. “Saya mau berniat baik pada seseorang. Doakan saya, agar diterima, ya.” Almira kali ini dibuat bingung, hingga dahinya saling bertautan. “Maksudnya?” Abdhi terlihat menahan tawa. “Eum. Doakan saya, ingin menyempurnakan sebagian iman saya, segera.” Kali ini Almira terpaku. Jauh di alam pikiran dan hatinya bertanya-tanya. Apa maksud Abdhi?Apa maksudnya akan melamar seseorang? Jika iya, siapa yang akan ia lamar?Apa boleh, dirinya tahu? “Tak apa, kah, saya duluan?” Tanya Abdhi yang saat itu juga terkekeh melihat ekspresi gugup Almira. Terlihat senyuman tipis sekejap di bibir Almira. “Semoga Allah mudahkan segalanya. Barakallah,” ucapnya terdengar begitu berat. Mengingat percakapan itu, membuat Almira tak kuasa menahan rasa ngilu di dalam hatinya. Abdhi ibaratkan telah menanam benih rasa sejak awal bertemu, walaupun itu karena Almira sendiri yang membiarkan rasa itu tumbuh. Ia pikir, takdir indah yang selama ini ia impikan akan berpihak padanya, tapi ternyata ia salah. Bayangan-bayangan masa depan bersama Abdhi, dibimbing Abdhi, melanjutkan kuliah di luar negri bersama Abdhi, rasanya itu hanya akan menjadi khayalan saja. *** Aisyah dan Almira segera melakasanakan Sholat Ashar berjamaah di mushola yang berada di samping kamar Aisyah. Almira yang menjadi imam, karena saat itu hanya mereka berdua yang belum melaksanakan sholat Ashar. Setelah itu, mereka lanjutkan dengan membaca Al-Ma’tsurat atau dzikir yang biasa dibaca ketika pagi dan petang. Tidak biasanya memang mereka membaca Al-Ma’tsurat bersama. Karena terkadang, Almira pulang kuliah sangat sore. Almira adalah seorang kakak yang dewasa. Bahkan sosok Aisyah yang dulunya manja pun sedikit demi sedikit mulai bijak dalam menyikapi berbagai masalah karena banyak belajar darinya. Walaupun sikap jutek Aisyah agak sulit untuk dirubah. Tidak bersikap jutek ke semua orang, tapi hanya kepada orang-orang tertentu yang membuatnya tak nyaman. Salah satunya kepada Faqih. “Kak…” panggil Aisyah pada Almira ketika mereka selesai membaca Al-Ma’tsurat. Sambil membuka mukenanya, Almira menjawab, “Iya, kenapa, Syah?” “Eum…” Aisyah terlihat ragu untuk berbicara. “Kak, aku gak mau jatuh cinta!” Almira menatap Aisyah dengan mata yang membulat. “Loh, kenapa, Syah?” “Adinda aja sakit hati gara-gara cinta. Ya aku juga gak mau sakit hati gara-gara cinta lah!” Almira menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal sedikitpun. “Gimana, ya? Cinta itu sebenarnya fitrah, Syah. Cinta itu pasti dirasakan oleh setiap manusia. Jatuh cinta itu pasti, dan itu tanda kita normal, kok. Namun ketika kita sakit hati, itu karena kesalahan kita yang salah menempatkan cinta. Cinta, yang seharusnya hanya untuk Allah, malah kita bagi dua. Harapan, yang seharusnya hanya ditujukan kepada Allah, malah kita tujukan pada manusia. Sudah pasti kita sakit hati, sudah pasti kita kecewa berat.” “Maka dari itu, kak. Aku gak mau ngeduain cinta Allah. Itu yang aku takutin selama ini.” Almira hanya bisa tersenyum sambil mengelus kepala Aisyah. Dia sendiri merasa masih belum pandai dalam menjaga perasaan. Bahkan dirinya sendiri masih belum sempurna mencintai Sang Pemilik Hati. Untuk saat ini pun hatinya dilanda kegalauan dan gelisah saat mendengar perkataan Abdhi tadi siang. Ternyata selama ini dirinya sendiri pun masih menaruh harap pada manusia. Hingga resahlah hatinya memikirkan itu. pertanyaan yang tentu saja tak mungkin ia tanyakan pada Abdhi. Siapakah gerangan seseorang yang akan Abdhi pilih? *** Komentarmu, semangatku? Kritik, saran, dan perasaan kalian saat baca cerita ini selalu aku tunggu. Next gak, nih? Salam, Saifa Hunafa:)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN