"Jadi," aku menjawabnya dengan cepat. "Kita berangkat jam 8. Kamu bersiaplah," ucap lelaki itu beranjak pergi. Namun, ketika sudah berjalan beberapa langkah Aiden tiba-tiba berbalik. Lalu... "Bik, tolong obati luka Dea." Mendengar perintah itu aku terkejut. Lelaki bengis semalam kenapa jadi perhatian seperti ini? Ya tuhan... tanpa sadar dadaku berdetak cepat ketika mendengar ucapan lelaki itu. Segera ku tepuk wajahku beberapa kali. Khayalan untuk dicintai Aiden menyeruak paksa ke dalam otakku dan tanpa sadar membuatku tersenyum. "Astaghfirullahaladzim!" aku mencoba menyadarkan diriku dari kesenangan fatamorgana. "Non ... Apa ada yang sakit?" Bik Asih yang baru saja meninggalkanku langsung menghampiri ketika mendengar istighfarku. "Eh tidak kok Bik. Hanya tanganku saja yang sedikit perih ka

