Seluruh amarah yang sejak tadi kutahan akhirnya meledak. Tanpa berpikir panjang, kuambil cangkir kopi di depan meja dan menyiramkan isinya langsung ke arah Wendy. Cangkir itu hampir kosong, tapi cukup untuk membasahi wajah dan bajunya. Cplassss...!!! "Aaww!!! Panas! Panas!!" jerit Wendy, terlonjak sambil menyeka wajahnya yang tersiram kopi panas suamiku. Aku menatapnya tajam dengan tatapan penuh kebencian. "Itu buat kucingku yang kamu tendang barusan, Wendy," ucapku dingin, menahan desakan amarah yang sudah tak bisa kubendung. Wendy yang masih tersulut emosi memutar badannya ke arah Aiden, seolah-olah minta perlindungan. "Sayang! Lihat apa yang wanita gila ini lakukan padaku!" jeritnya pada suamiku. Ia berusaha menarik perhatian semua orang yang ada di sini. Bahkan beberapa pelayan tamp

