Kurasakan tangan Aiden yang mengelus lembut pinggangku, seolah mencoba menarikku lebih dekat. Aku mendongak, memandang wajahnya yang hanya beberapa senti dariku. Matanya menusuk sanubariku begitu saja, perasaannya sulit untukku terjemahkan. Sejujurnya aku merasa ragu, tetapi pada saat yang sama, rasa hangat yang asing menjalari tubuhku. “Aiden,” bisikku, mencoba memahami maksud di balik tatapannya. Dia tersenyum kecil, senyum yang hangat dan menenangkan. “Dea, kenapa kamu selalu membuatku nyaman?” tanyanya pelan, seakan-akan berbicara kepada dirinya sendiri. Aku terdiam, bingung bagaimana harus menjawab. “Aiden… kamu baik-baik saja?” Hanya itu pertanyaan yang mampu terucap dari bibirku ketika napasnya menerpa leherku dengan hangat. Dia mengangguk. “Entah kenapa, aku merasa kamu itu le

