34

1217 Kata

Aku berusaha mengistirahatkan pikiranku dari berbagai spekulasi buruk di rumah ini. Kedatangan Wendy jelas mengusik kenyamananku hari ini. Meskipun aku mendapatkan kebahagiaan dari Devano yang mengaku sebagai penggemarku, tapi aku tak bisa mengontrol diriku sendiri. Terpaksa ku cari obat penenang yang diberikan psikiater. Padahal aku sudah lama tidak mengonsumsinya, tapi hari ini tak ada kontrol yang bisa menahanku. Aku menimang dua butir obat di tanganku. Mending obat penenang atau obat tidur? Pada akhirnya aku menenggak obat tidur agar bisa beristirahat dengan maksimal. Sayangnya sebelum kesadaranku benar-benar menghilang aku mendangar suara pintu terbuka. Dehaman orang itu menyadarkanku, tapi dengan mata tertutup jika itu adalah suamiku, Aiden. "Dea?" panggilnya pelan. Suara sol s

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN