"Jariku," keluhnya melirik jarinya yang terhimpit ganggang pintu. Aku meliriknya penasaran, mencari tau apakah terdapat luka yang serius karena insiden kecil ini. "Berdarah?" "Tidak," jawab suamiku cuek. Ia langsung duduk di kursi kebesarannya yang disambut tumpukan dokumen menggunung. Sedangkan aku duduk di sofa. Ranjang yang sebelumnya aku pakai masih di tempatnya.Tak berselang lama, Bella sekretaris suamiku datang. Perbeincangan mereka tampak serius, sehingga aku seakan dianggap tak ada di ruangan ini. Kulirik Titik dan Dalbo yang sedari tadi diam. "Saya sudah membereskan masalah di rumah, Raden," ujar Titik yang langsung mendekat ke arahku. Kulirik suamiku yang masih ngobrol dengan Bella. "Terus?" tanyaku lirih. "Wendy. Orang yang menunjukkan denah rumah pada penyusup itu. Dia d

