Aku memasuki rumah Oma dengan perasaan yang campur aduk. Setelah semua yang terjadi di rumah Aiden, rasanya tempat ini adalah satu-satunya tempat di mana aku bisa merasa tenang. Aroma kayu cendana menyelimuti ruangan, membuatku sedikit lebih rileks, mengurangi beban yang menekan pikiranku. Oma sudah duduk di ruang tengah, seakan menungguku datang. Begitu melihatku, senyum lembutnya muncul. Dia berdiri dan membukakan tangannya, mengisyaratkanku untuk mendekat. “Dea, cucuku tersayang. Akhirnya kamu datang juga,” ucapnya, memelukku dengan penuh kehangatan. Aku membalas pelukannya erat. Rasanya seperti menemukan tempat bernaung di tengah badai yang telah menghantam hidupku. “Oma, aku butuh waktu untuk menenangkan diri,” ucapku pelan, mencoba menahan emosiku. Oma mengangguk, lalu menuntunku

