39

1463 Kata

Setibanya Aiden di rumah Oma, aku melihat dari teras belakang. Wajahnya terlihat tegang, gerakannya tergesa-gesa. Aku tahu dia mencariku, tapi aku enggan bertemu dengannya sekarang. Aku duduk bersama Oma, mencoba menikmati suasana tenang di tengah taman yang asri ini, jauh dari segala ketegangan rumah. “Dea,” panggil Aiden dengan suara yang nyaris berbisik. Aku hanya menoleh sekilas, lalu mengalihkan pandanganku kembali ke taman. Oma, yang sedari tadi duduk tenang di sampingku, menatap Aiden dengan lembut namun penuh makna. "Kalau ingin bicara, bicaralah dengan hati yang terbuka, Nak," ucap Oma, memberinya isyarat untuk duduk. Aiden pun menuruti, lalu duduk di kursi di sampingku. Ia menatapku dalam diam, seolah mencari kata-kata yang tepat. Setelah beberapa saat, dia akhirnya bersuara, s

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN