CLARISSA
Aku terbangun, melihat tempat tidur di sampingku kosong. Entah lah semalem Marco tidur di mana. Aku segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai aku turun ke bawah, Bhagas sudah duduk di dekat kolam renang, kanvas ukuran sedang ada di depannya.
“Pagi kak!” Sapaku, mengecup puncak kepalanya.
“Pagi, Ma!” Balasnya.
Aku melihat gambarannya, gambar baru lagi. Aku susah menjelaskan itu gambar tentang apa, belum beres lagian gambarnya dan aku kurang paham seni. Aku kembali menuju dapur, memasak sarapan untuk keluargaku. Saat makanan selesai, Adam turun dari kamarnya. Sudah rapi.
Saat aku menghidangkan makanan di meja, Marco turun dengan terburu-buru.
“Aku keluar dulu ya!” Serunya padaku.
“Eh Mar, kamu bukannya mau ambil raport Adam?” Kataku mengingatkannya.
“Iya! Ayah kan udah janji!” Seru Adam, raut wajahnya terlihat kecewa.
“Bentar boy! Oke? Bagi rapot sampai jam 11 kan? Jam 9 Ayah udah di rumah lagi kok. Ini ada urusan mendadak.” Serunya, lalu mengecup puncak kepala Adam dan pergi meninggalkan rumah.
“Udah gak usah sedih gitu mukanya, kan Ayah bilang jam 9 udah di sini lagi. Kan ke sekolah juga deket, paling 5 menit sampai.” Kataku berusaha menghibur Adam.
Namun ekspresinya tak berubah. Well, sedih juga sih.
“Adam jangan sedih dong! Kan sekarang masih jam setengah 8 sayang.” Kataku, sambil memeluk Adam.
“Iya Ma, gak apa-apa kok.” Sahut Adam dengan suara tak b*******h.
“Dimakan ya sarapannya?” Kataku mengulurkan sepiring nasi goreng kepadanya. Ia menerimanya dan mengangguk.
“Agaaaa??” Panggilku dari ruang makan.
“Iya Ma?”
“Sarapan dulu ayok. Lukisnya lanjut nanti.” Kataku.
“2 minutes mam!” Sahutnya. Aku tak menjawabnya, aku membawa sepiring nasi goreng untuknya.
“Mau mama suapin gak?” Tanyaku.
“2 minutes Ma, ini dikiitttt lagi.”
“Mama suapin yaa?”
“Yaudah iya, Kakak makan sekarang.” Sahutnya sambil meletakkan kuas dan palet lukisnya.
“Disuruh makan Kak, bukan disuruh gali sumur. Kamu tuh makan entar-entar mulu. Kurus tau.” Kataku, saat kita berjalan menuju ruang makan.
“Mama sendiri juga jarang makan.” Sahutnya. Ya, akhir-akhir ini nafsu makanku menurun drastis. Aku yang dari dulu kurang suka makan nasi, sekarang jadi gak makan nasi sama sekali. Aku juga heran kenapa. Padahal aku bukan tipe orang yang anti nasi, aku makan nasi, tapi cuma dikit.
“Ma? Jadikan beli gitar?” Tanya Bhagas.
“Jadi, sayang.” Jawabku.
“Ayah mana sih? Katanya sebentar!” Seru Adam.
Aku menoleh ke jam dinding, sudah pukul 8.
“Baru jam 8 sayang, kan Ayah janjinya jam 9.”
“Tapi nanti kalo telat gimana?”
“Deket dek dari sini ke sekolah, gak ksampai 5 menit ko. Gak usah takut telat.” Bhagas ikut menenangkan adiknya.
“Tapi, nanti pas aku sama Ayah ke sekolah temen-temen yang lain udah pulang lagi.” Keluhnya.
“Lha emang kenapa? Kan mau ambil rapot bukan main kan?”
“Iya sih tapikan asik kalo ketemu temen-temen dulu.” Jawabnya. Aku mengangguk mengerti.
Sarapan sudah selesai, aku merapikan meja dan membawa piring kotor ke bak cuci piring. Bhagas sudah kembali ke depan kanvasnya, sedangkan Adam sedang menonton kartun sambil manyun.
Pukul setengah sebelas saat aku selesai mandi dan siap-siap pergi ke gramed namun Marco belum datang juga.
“Ayah belum dateng Dek?” Tanyaku pada Adam.
“Belum Ma, telefon dong. Udah mau lewat jamnya nih.” Katanya dengan nada sedih.
Aku mengambil ponselku, menelfon Marco. Nada tunggu pertama, ia tak menjawab. Nada tunggu ke dua, ia juga tak menjawab. Nada tunggu ketiga, operator bilang sibuk. What? Marco baru saja mereject panggilanku?
“Gak diangkat Dek.” Kataku.
“Yah, Ayah nih gimana sih?!” Keluhnya.
“Sama Mama aja ya, mau? Sekalian keluar sama Kakak ke gramed. Yuk?” Ajakku.
“Maunya sama Ayah, Ma.”
“Tapi ini udah mau jam sebelas sayang, nanti kalo kamu gak ambil rapot gimana? Liburannya gak tenang hayo.” Kataku.
“Yaudah deh.” Katanya dengan nada kesal.
Tak lama Bhagas turun dan kami semua pun pergi ke sekolah Adam. Well, ini sekolah yang sama dengan sekolahnya Bhagas dulu, sekolah yang sama saat aku menjadi guru dan pertama kali bertemu dengan Marco.
Sesampainya di sekolah, Adam turun duluan, menunjukan jalan menuju kelasnya. Aku dan Bhagas mengikuti dari belakang.
Sekolah masih lumayan ramai. Yaa, ibu-ibu sosialita orang tua murid kan biasanya gak mau pagi-pagi banget kalo ambil rapot anaknya. Malah kadang yang ambil itu asistennya, gila yaa.. sesibuk apa coba sampai ngeluangin waktu buat anak aja gak sempet.
Kemudian aku teringat Marco, ia yang berubah. Ia yang mendadak selalu pulang malam, ia yang..... ah sudahlah aku tak perlu menjelaskannya satu per satu, yang jelas ia berubah.
Kami sampai di kelasnya Adam. Kelasnya sepi, hanya ada walikelasnya yang sedang mengobrol dengan orang tua murid.
“Permisi!” Seruku saat masuk ke kelas, tak lupa tersenyum kepada mereka.
“Oh yaudah bu, saya duluan yaa. Terima kasih laporannya.” Seru si orang tua murid itu. Kemudian kami berhadapan, ia tersenyum menjabat tanganku.
“Mamanya Adam ya?” Tanyanya. Aku mengangguk.
“Saya Mamanya Rose, baru sekali ketemu biasanya yang ambil asisten hehehe.”
“Oh gitu Bu, gimana nilainya Rose, bagus?” Tanyaku.
“Bagus, tapi gak sebagus Adam.” Katanya. Aku melirik Adam. Tersenyum pada anakku ini. Aku tahu ia langganan juara kelas.
“Yaudah Mamanya Adam, saya duluan yaa. Bye!”
“Iya bu, hati-hati!” Kataku saat beliau keluar kelas. Segera saja aku menuju meja wali kelasnya Adam, Miss Danila. Aku masih kenal dengannya.
“Apa kabar Miss?” Sapaku saat duduk di kursi seberangnya.
“Baik, Miss Clarissa gimana?” Tanyanya ramah.
“Baik Miss, gak usah panggil Miss ah. Saya kan udah gak jadi guru di sini, udah lama itu.” Kataku. Miss Danila hanya tersenyum.
“Gimana Miss, rapotnya Adam bagus?” Tanyaku. Miss Danila tersenyum, mengambil salah satu buku rapot dari tumpukan yang ada. Membuka bagian yang menunjukan hasil rapot Adam semester ini.
“Adam peringkat kesatu Miss. Sekarang emang udah gak ada ranking-rangking-an. Tapi nilai rata-rata Adam tertinggi di kelas.”
“Wah beneran Miss?” Tanyaku, well, meskipun Adam sudah langganan jadi juara satu, tapi tetap saja, ia berhasil membuat mamanya ini bangga.
“Iya, terus disemangatin ya Miss Clarissa, terus tahun ajaran baru nanti saya sama tim guru lain ingin mempersiapkan Adam untuk ikutan olimpiade Science di Swiss, mohon dukungannya yaa.”
“Iya Miss, saya bantu dukung Adam kok dari rumah.”
“Seneng ya Adam pasti punya Mama pinter kaya Miss Clarissa, Pak Marco juga pasti bangga sama istri sama anaknya.” Yaelah Miss, kenapa bahas Marco sih??
“Hehee iya Miss.” Hanya itu yang keluar dari mulutku.
“Miss Clarissa S2-nya udah selesai?” Tanyanya.
“Eh? Udah Miss dari 2 tahun yang lalu.” Kataku.
“Gak mau jadi dosen atau apa gitu Miss?” Tanyanya.
“Engga deh, di rumah aja ngurus anak sama suami.” Kataku. Miss Danila mengangguk sambil tersenyum.
“Udah nih Miss ini aja? Saya bisa pamit?” Tanyaku.
“Iya Miss Clariss, udah kok. Selamat ya sekali lagi, mohon dukungannya agar prestasinya Adam tidak menurun.” Katanya.
“Iya Miss. Terima kasih.” Kataku. Aku bangkit, melihat Bhagas dan Adam yang sedang asik bercengkrama.
“Kids! Come on!” Seruku. Mereka menoleh dan langsung mengikutiku.
“Adam kok gak bilang kalo mau ikut olimpiade?” Tanyaku.
“Tadinya mau surprise buat Ayah, terus Ayah bilang ke Mama. Eh Ayah malah gak jadi.” Ujarnya. Nada suaranya sudah terdengar biasa saja, tidak sedih seperti tadi.
“Nanti Mama temenin ya belajarnya.” Kataku, Adam mengangguk senang. Kami menuju prakiran, langsung saja aku mengarahkan mobil ke Botani Square.
“Mau makan siang dulu apa mau ke gramed dulu?” Tanyaku begitu kami sudah sampai di prakiran Botani.
“Makan dulu deh Ma, Aga laper.”
“Oke mau makan apa?” Tanyaku.
“Sushi ya?” Pinta Adam.
“Aga mau sushi?” Tanyaku.
“Mau ma.” Jawabnya. Kami turun bersamaan menuju restoran Jepang. Sebenarnya ini tempat favorit Marco sih.
Setelah makan dan membeli sebuah gitar, kami pulang. Di jalan pulang aku sekilas melihat Marco, sedang berdebat dengan seorang wanita di parkiran sebuah restoran. Aku kurang jelas sih sebenarnya, karena hanya lihat selewat. Dan wajah si wanitapun membelakangi jalan hingga tidak terlihat. Tapi mobilnya sih bener mobil Marco. Perasaanku kembali berantakan, walaupun hanya lihat sekilas, aku sudah tahu kalau hubungan kami benar-benar dalam masalah. Entah masalah apa.
Sesampainya di rumah, Adam langsung berlari masuk. Sementara Bhagas dengan hati-hati mengeluarkan gitar barunya.
“Ma? Kok tadi aku kaya liat Ayah ya di parkiran Lemon8.” Ujar Bhagas saat aku menutup pintu mobil. Aduh, dia liat juga? Duhh jangan sampai.
“Kamu salah liat kali Kak.” Kataku.
“Bener kok, itu ayah. Kemejanya sama kaya pas tadi pagi berangkat. Plat mobilnya juga bener.”
“Ngapain Ayah pagi-pagi di lemon8? Salah kali kamu.” Kataku masih berusaha menutupi.
“Ya lemon8 kan bukanya 24 jam Ma. Sarapan mungkin, tadikan buru-buru tuh berangkatnya.” Katanya.
Aku hanya mengangguk. Aku merasa Bhagas pun menutupi sebuah kenyataan, kalau dia liat Marco di parkiran lemon8. Dia pasti liat juga wanita yang sedang berdebat dengan Marco, entah siapa dia.
Aku masuk ke dalam rumah, mencoba mengendalikan perasaan yang semraut ini. Duduk di samping Adam yang sedang menonton.
“Mama bisa main gitar gak?” Tanya Bhagas.
“Bisa Kak, dikit doang tapi. Gak jago.” Kataku.
“Ajarin dulu dong.” Pintanya.
Aku bangkit dan menuju Bhagas yang duduk bersila di dekat tangga. Aku mengajarinya kunci-kunci dasar. Cara memetik dan semua yang kuketahui. Bhagas bakat seninya emang tinggi ya, gak berapa lama diajarin dia langsung jago.
“Kalo kakak udah jago, ajarin Adam ya!” Seru Adam yang sudah bergabung bersama kami.
“Iyaa, tau gitu tadi beli dua Ma gitarnya, biar bisa langsung main sama Adam.” Kata Bhagas.
“Ya Aga tadi gak bilang.” Kataku.
Tak berapa lama terdengar pintu depan terbuka, dan menit selanjutnya Marco memasuki ruangan dengan tampang sedikit berantakan.
“Adam, maaf!” Serunya saat melihat Adam.
Adam melirik ayahnya tersebut, langsung membuang muka lalu bangkit dan berlari menuju lantai dua. Berikutnya yang terdengar adalah pintu yang ditutup keras oleh Adam. God! Anak itu masih ngambek ternyata. Aku kira dia baik-baik aja. Yakan? Dari tadi dia baik-baik aja. Marco langsung menyusulnya ke atas.
“Dek! Buka dek, bentar.” Terdengar suara Marco.
“Tunggu sini ya Kak, mama nyusul Ayah.” Kataku. Bhagas mengangguk. Aku naik ke lantai dua, menemukan Marco terpatung di depan kamar Adam.
“Sini kamu!” Seruku. Manarik lengannya menuju kamar.
“Maaf!” Serunya.
“Aku gak peduli Mar kamu diemin aku, kamu berubah sama aku. Tapi tolong lah jangan berubah juga ke Aga atau Adam.”
“Maaf oke, aku bener-bener sibuk tadi.”
“Sibuk apa?” Tanyaku. Ia diam, tidak menjawab pertanyaanku.
“Sebulan Marco! Sebulan lebih kamu berubah. Aku tanya kenapa kamu gak pernah jawab. Kamu pulang malem, kamu jarang ngasih kabar, aku gak apa-apa! Seriusan gak apa-apa. Tapi kalo kamu kaya gini, jarang ngabisin waktu sama anak-anak, apalagi sampai bikin Adam ngambek gitu. Aku gak bakalan diem aja Marco.”
“Sorry!” Lagi-lagi hanya itu yang keluar dari mulutnya. Tampangnya kacau banget sekarang.
“Please! Jangan kecewain anak kamu! Kamu tahu? Adam sengaja minta kamu yang ambil raport dia karena dia pengen kasih kejutan buat kamu, dia diminta sekolah buat ikutan olimpiade Science, kamu kan seneng banget kan Adam ngikut jalur kamu, kamu mau dia belajar exact science supaya dia bisa jadi dokter kaya kamu. Tapi niat dia buat senengin kamu malah kamu ancurin.” Seruku, marah.
“Maaf Clar.”
“Sama Adam sana minta maafnya.”
“Pasti, tapi aku minta maaf juga sama kamu.” Katanya dengan nada suara yang terdengar lelah.
“Kamu nutupin sesuatu Marco? Kalo ada yang mau kamu omongin, mending sekarang deh.” Kataku. Ia hanya menggeleng.
“Engga kok gak ada.” Katanya.
“Yaudah.” Balasku, dan aku keluar dari kamar, menuju kamar Adam, membujuknya supaya gak ngambek lagi.
****
TBC