CLARISSA
Liburan sekolah Adam kali ini hanya dihabiskan di rumah saja, ia sedang giat belajar memainkan gitar dengan Bhagas. Tak terasa sebulan lagi Bhagas sudah masuk kuliah, senang rasanya melihatnya tumbuh dan besar menjadi anak yang menyenangkan, menjadi kakak yang melindungi, menjadi teman yang humble dan lain sebagainya.
“Ma? Ayah mana sih? Biasanya kan kalo seminggu ada gitu liburnya kalo gak waktu kosongnya, sekarang kok jarang?” Tanya Adam.
“Ayah sibuk, banyak operasi.” Kataku. Padahal sebenarnya akupun tak tahu jawabannya.
Aku dan Marco sudah jarang ngobrol, di kamar ya beneran buat tidur doang. Aku udah jarang nungguin dia pulang, karena kalau pulang pun tanpa basa-basi dia langsung tidur, saat kutawari makan, ia menolak. Jadi yasudah lah.
Aku tahu hubungan seperti itu tidak sehat, apalagi kami sudah menikah. Harusnya kami berdua duduk ngobrol baik-baik. Tapi sayangnya, setiap aku ngajak Marco ngobrol, dia malah ngeluyur dan memutuskan untuk tidur di play room-nya. Kalo udah gitu, aku bisa apa?
“Besok ke rumah Oma yuk?” Ajakku.
“Ayok, Adam kangen sama Oma.” Seru Adam. Aku mengangguk.
“Yaudah besok pagi kita ke rumah Oma yaaa?” Kataku, Adam dan Bhagas pun serempak mengangguk.
“Adam ke kamar ah, ngantuk.” Kata Adam. Lalu ia naik ke lantai dua menuju kamarnya.
“Diem aja kak? Itu gitar gak dimainin?” Tanyaku.
“Ma, aku boleh nanya gak?” Ujar Bhagas.
“Ya nanya mah nanya aja sayang.” Kataku.
“Gak jadi deh, aku gak mau ikut-ikutan.” Ujar Bhagas.
“Kamu mau nanya apaan sih emang kak?” Tanyaku.
“Soal Ayah.” Katanya.
Duh, aku merasa kalau anak gak harus ikut-ikutan lah kalo orangtuanya ribut. Aku gak mau mereka jadi korban. Mereka berdua alasanku kenapa masih bersikap biasa padahal Marco kelakuannya sudah dil uar batas kesabaranku. Aku gak mau Bhagas ataupun Adam terluka karena aku dan Marco.
“Ayah kenapa?” Tanyaku.
“Mama lagi berantem ya sama Ayah?” Tanyanya.
“Engga, Mama gak berantem kok sama Ayah.” Kataku. Bhagas melihatku, tatapannya dalam. Ia mengangguk lalu tersenyum. Susah, susah bohong sama Bhagas, anak satu ini kaya punya lie detector gitu di badannya. Dia bakal tau orang bohong atau engga, dia tau orang nyembuyiin sesuatu apa engga. Harusnya anak ini masuk Psikologi aja kali yaa.
“Aga?” Panggilku.
“Iya Ma?” Sahutnya. Menengok ke arahku, tatapannya sudah biasa lagi sekarang.
“Kenapa Aga nanya gitu?” Tanyaku.
“Gak apa-apa, nanya aja. Abis Aga udah jarang liat Ayah nemenin Mama belanja barang jualan ke Mall. Mama sendiri terus, nyetir sendiri lagi, gak sama Pak Tono.” Jawabnya.
“Itu mah gegara Mama ada waktu luang aja. Kamu sama Adam kan kapok temenin Mama. Makanya Mama jalan sendiri.” Jawabku, berusaha keliatan santai.
Bhagas hanya mengangguk. Ia sudah memetik gitarnya sekarang.
“Kapan Kak mau cari kos-kosan?” Tanyaku.
“Hari senin paling ya Ma? Besok udah sabtu. Males ke mana-mana kalo weekend. Pasti macet.” Jawabnya.
“Yaudah, Mama temenin ya nanti.” Kataku, lagi-lagi Bhagas mengangguk.
“Mama ke kamar ya Kak.” Kataku sambil berjalan menuju tangga. Aku lelah, sepertinya tidur siang mayan.
“Oke ma.” Sahut Bhagas. Bukannya ke kamarku, aku malah ke kamarnya Adam. Ia sudah tertidur di kasurnya, segera saja ku geser ia sedikit, agar aku bisa tidur bersamanya.
Entahlah, sejak sikap Marco jadi acuh. Aku males ngabisin waktu di kamar. Aku lebih suka tidur siang bareng Adam, kaloga ngobrol-ngobrol sama Bhagas.
***
Malamnya aku menemani Bhagas dan Adam nonton, mereka sedang libur jadi boleh banget nonton sampai malem. Tapi tetep ada syaratnya: gak boleh lebih dari jam 12 malem. Kalo udah jam 12 mereka semua wajib masuk kamar dan tidur karena hitungannya udah ganti hari. Aku gak mau mereka sampai kurang tidur dan gak semangat keesokan harinya.
Terdengar suara pintu depan terbuka, berikutnya langkah kaki yang terdengar. Sepertinya Marco sudah pulang.
“Hey kids!” Sapanya saat bergabung dengan kami di ruang keluarga.
“Hey dad!” Balas Bhagas. Marco mengecup puncak kepala Bhagas dan Adam bergantian sebelum akhirnya dia pamit untuk membersihkan diri ke atas.
Sudah hampir pukul 11 malam, Adam sudah masuk kamarnya dan tertidur. Bhagas dan aku masih menonton.
“Ma, aku duluan ya?” Ujar Bhagas pamit. Aku mengangguk. Segera saja Bhagas naik ke kamarnya, menyisakan aku sendiri di depan TV. Aku udah bingung mau ngapain. Film gak ada yang seru, tapi aku belum ngantuk. Malesin juga kalo masuk ke kamar. Entah lah, mungkin aku salah karena memusuhi suamiku sendiri, tapi aku punya alasan. Ya kan? Jadi boleh kan kalau aku bersikap seperti ini.
Tapi ini gak baik Clarissa, sebelum berlarut-larut harus cepet diberesin. Batinku berkata. Oke. Well, beresin aja kalinya?
Aku menarik nafas panjang sebelum akhirnya bangkit dari sofa, aku mematikan TV dan listrik dulu sebelum naik ke lantai dua. Aku menarik nafas panjang lagi sebelum membuka pintu kamarku. Perlahan kubuka dan terlihat Marco sedang asik dengan ponselnya di atas kasur. Begitu melihatku ia segera meletakkan ponselnya di atas nakas. Aku berusaha tersenyum padanya, syukurlah. Ia membalas senyumku.
Aku langsung menuju kamar mandi, mencuci muka dan menyikat gigi sebelum tidur. Setelah selesai, aku kembali ke kamar dan duduk di kasur.
Canggung.
Sumpah.
Aku gak pernah kepikiran kaya gini sebelumnya, canggung sama suami sendiri. Gosh! Akhirnya aku menarik selimut, mencoba menutupi tubuhku sebatas pinggang dan tidur memunggungi Marco.
“Clar?” Panggilnya saat aku berusaha memejamkan mata.
“Ya?” Jawabku, aku masih memunggunginya.
“Bisa ngobrol sebentar?” Tanyanya. Aku akhirnya berbalik, melihatnya yang sedang bersandar di kepala kasur. Butuh waktu sebulan ternyata biar dia buka suara.
“Ngobrol soal apa?” Tanyaku.
“Kamu bener.” Katanya.
“Bener soal apa?”
“Ada yang mau aku obrolin sama kamu.”
“Apa?”
“Emmm, akhir-akhir ini aku....” sepertinya ia sengaja tak melanjutkan ucapannya. Aku hanya diam, menunggunya bicara.
“Maaf ya.” Ujarnya.
“Maaf buat?”
“Buat semua kelakuan aku ke kamu dua bulan terakhir ini.”
“Aku gak masalah kok kalo kamu berubah sama kamu, aku udah pernah bilang itu ke kamu. Tapi tolong, jangan gitu juga sama Aga dan Adam. Mereka kangen kamu, mereka kangen ngabisin waktu bareng kamu.” Kataku, berusaha menahan air mataku.
Well, bukan cuma anak-anak yang kangen, jujur akupun kangen. Cuma, udahlah, kesampingin aja dulu perasaan sendiri. Yang penting itu anak-anak sekarang.
“Maaf, Clar. Maaf banget.”
“Minta maaf sama mereka, jangan sama aku.” Kataku.
“Clar, boleh aku jujur sama kamu?” Tanyanya, ia sekarang sudah ikut tidur juga, kami berdua berhadapan sekarang.
“Boleh, kenapa?”
“Jadi… duhh gimana yaa, akhir-akhir ini aku...”
“Kenapa?” Tanyaku.
“Aku deket lagi sama Melisa.” Ujarnya dengan suara sangat pelan, namun terdengar sangat jelas di telingaku.
Aku menahan nafasku sesaat. Bener yang aku dengar? Marco deket lagi sama mantan istrinya? Apa yang aku lihat di parkiran lemon8 itu Melisa?
“Deket lagi? Sebatas temen? Sebatas mantan, atau lebih?” Tanyaku. Marco diam, ia tak menjawab pertanyaanku. Matanya lurus menatapku, terlihat kekalutan di sana.
“Lebih.” Butuh waktu lama sampai Marco mengatakan itu, otakku pun mencerna info itu sangat lambat. Aku terus berusaha menahan air mataku, aku tahu mataku sudah banjir sekarang. God! Aku gak siap buat ini semua. Sumpah aku gak siap. Mungkin gak ada satu orangpun yang pernah siap nerima hal ini dalam rumah tangganya.
Aku berusaha tersenyum, sial! Aku malah berkedip dan akibatnya... air mataku tumpah.
“Jadi kamu berubah karena dia?” Tanyaku, masih berusaha menjaga suaraku agar tidak ikut pecah bersama air mataku yang sudah mengalir deras ini.
“Maaf.” Hanya itu yang keluar dari mulutnya.
“Sekarang kamu sama dia gimana? Terus kita gimana?” Tanyaku. Marco diam, ia tak langsung menjawab ia menatapku, lengannya bahkan sudah terulur untuk mengusap air mataku yang mengalir ke pipi.
“Maaf.” Katanya lagi.
“Jawab!” Pintaku.
“Melisa....” aku tak suka mendengar namanya disebut. Sumpah!
“Dia hamil, Clar. 4 minggu.” Lanjut Marco. Kemudian tangisanku pecah setelah mendengar pengakuan itu, rasanya sakit. Seperti ada ribuan jarum yang menusuk hatiku secara bersamaan.
“Kamu mau aku poligami atau...”
“Kita cerai Marco!” Seruku memotong ucapannya. “Aku yang ajuin gugatan cerai kalo kamu gak mau, tapi satu! Jelasin ke anak-anak kenapa kita pisah.” Kataku sambil bangkit dari kasur. Sedikit berlari aku keluar dari kamar ini. Aku turun ke lantai bawah, lebih baik aku tidur di kamar tamu sendirian daripada aku harus bersama pengkhianat seperti dia!
***
TBC