2 Chapter 10

1390 Kata
CLARISSA   Aku sudah tak bisa menahan tangisku lagi sekarang. Aku bahkan tak tahu harus bagaimana.   Bagaimana menjelaskan ke anak-anak. Bagaimana menjelaskan ke Papa dan Mama. Bagaimana menjelaskan ke Ibu dan lainnya. Aku tak tahu.   Tuhan? Kenapa harus seperti ini? Kenapa kau patahkan hatiku saat aku sedang merasa bahagia seutuhnya? Apakah selama ini kebahagiaanku mengganggu orang lain, hingga kebahagiaanku diganggu juga? Atau ini salah satu ujian darimu? Apa aku sanggup melewati ini semua? Aku hancur. Aku bahkan tak mengira kalau hubungan Marco dan Melisa sudah sejauh itu. Sampai Melisa hamil. Ya Tuhan...  kenapa harus seperti ini? Sanggupkah aku melewati ujianmu yang ini? Ini ujian lain yang harus ku hadapai, atau ini batas akhir dari semuanya? Bolehkah aku lelah? Aku ingin mundur dari semuanya agar tak perlu merasakan sakit yang seperti ini. Marco, orang yang kepadanyalah aku membuka hatiku, orang yang mengajakku memulai semuanya dari awal karena kami berdua sama-sama memiliki masalalu yang kurang baik, namun kenapa dia tega berbuat seperti ini? Ia datang menyembuhkan dan menutup lubang yang ada di hatiku. Dan sekarang, ia menggali lubang baru dengan ukuran lebih besar. Rasa sakit ini jauh lebih sakit dibanding yang dulu. Mantan tunanganku dulu tidak meninggalkanku, tapi maut yang membuatnya meninggalkanku, tapi Marco? God! Aku harus apa? Aku terus berusaha menenangkan diriku sementara air mataku terus mengalir. Aku sudah tak bisa menahannya sekarang. “Clar! Kamu di dalem? Buka sebentar, please!” Terdengar suara Marco di luar  sana, diiringi dengan ketukan di pintu. Aku mengabaikannya, sudah tak ada gunanya juga aku ngobrol sama dia. “Clar! Please, buka sebentar!” Serunya lagi, kali ini ketukan di pintu makin terdengar keras. Aku menghela nafas panjang, berusaha mengusap air mataku sebelum akhirnya turun dari kasur. “Clarissa! Buka!!!” Terdengar ketukan yang lebih keras saat aku berjalan menuju pintu. “Apa?” Kataku saat pintu terbuka. “Kamu gak bisa tinggalin kamar gitu aja!” Katanya dengan suara tegas. “Kamu sering kaya gitu tiap aku ngajak kamu ngobrol, kamu bisa kenapa aku gak bisa?” Balasku. “Maaf oke!” “Udah lah, basi! Bosen aku dengar kamu minta maaf terus dari tadi!” Seruku berusaha menutup pintu, namun dengan sigap Marco menahannya. “Clar! Please, jangan kaya gini. Balik lagi ayo ke kamar, aku gak mau anak-anak liat kita pisah kamar kaya gini.” Nada suaranya sudah mulai mereda. “Kalo kamu pikirin anak-anak. Kamu bakal mikir dulu Marco sebelum kamu ngelakuin hal aneh-aneh!” “Maaf oke? Please! Maaf!” Serunya. Wajahnya super kalut sekarang. Aku tahu ia sedang dalam masalah sekarang. Boleh kah aku egois dan mendiamkannya tenggelam bersama masalahnya? Itu masalah yang ia buat sendiri! “Ayah?!!” Seru seseorang dari atas tangga. Aku dan Marco serempak menoleh dan melihat Bhagas ada di pertengahan tangga, menuju turun. “Aga masuk lagi ke kamar, sekarang!” Seru Marco. Aku masih beradu pandang dengan Bhagas, ia masih membeku di tempatnya sekitar semenit sebelum akhirnya berbalik badan dan naik kembali. Tak berapa lama kemudian terdengar suara pintu ditutup. “Aku gak mau sampai anak-anak kepikiran Clar.” “Ya kamu kira aku mau?” Tanyaku. “Yaudah please, jangan kaya gini!” Pintanya. “Kita udah mau cerai Marco, udah gak guna juga kita tidur sekamar!” Seruku sambil menutup pintu. Untunglah Marco tidak menahannya seperti tadi. Aku mengunci pintu dan berjalan pelan menuju kasur. Seriusan Clarissa? Kamu mau cerai? Kamu mau melepaskan Marco? Orang yang selama 10 tahun ini menjadi pusat. kebahagiaanmu? Tanyaku pada diri sendiri.   Aku sendiri pun tak yakin. Aku sayang sama Marco, namun aku tak percaya kalau ia bisa sampai selingkuh. Aku berusaha memejamkan mataku. Aku lelah dan perlu istirahat. Aku memeluk guling yang dingin ini sebelum akhirnya terlelap.   ** **   Aku terbangun dengan mata yang sedikit bengkak. Aku bercermin dan melihat tampangku parah. Gimana caranya aku ketemu anak-anak dengan kondisi seperti ini? Bilang apa aku sama mereka? Aku mencuci mukaku, berusaha menyegarkan wajahku yang berantakan ini. Setelah selesai aku keluar dan melihat Bhagas di dekat kolam, lengkap dengan kanvasnya. Lukisan baru, namun hanya coretan warna hitam yang mendominasi kanvasnya. Aku berjalan pelan menghampirinya. “Morning, Aga!” Sapaku, sambil mencium puncak kepalanya. Bhagas menoleh dan terkejut melihatku. “Mama kenapa?” Tanyanya dengan nada suara khawatir. “Gak apa-apa ko, Adam mana?” Tanyaku. “Di atas lagi nonton sama Ayah.” Jawabnya. Aku mengangguk. Aku menuju dapur dan mulai menyiapkan sarapan untuk kami. Tak perlu waktu lama untuk masak. “Kak, panggil Adam gih sarapan. Kamu juga ayok, tinggalin dulu itu lukisannya.” Kataku. “Iya Ma.” Sahutnya. God! Biasanya Bhagas gak pernah langsung bilang iya kalo disuruh sarapan. Pasti 'tunggu dulu Ma' 'dikit lagi ini' atau 'bentaran ya Ma, aku gak terlalu laper kok' ini kali pertama dia bilang iya. s**t aku gak mau Bhagas berubah. Aku melihatnya yang naik ke atas tangga, ia terlihat lesu. God! Aku gak mau Bhagas kenapa-kenapa. Apalagi kalau dia sampai diam seperti dulu. Aku gak mau. Aku sudah selesai menata meja saat Bhagas, Adam dan Marco turun. Seketika jantungku bergetar hebat karena melihat Marco. Damn! Kenapa harus kaya gini sih? Ini kali pertama kami semeja berempat setelah dua bulan lamanya. Adam tampak ceria seperti biasanya. Bhagas jadi murung, aku gak bisa nih biarin Bhagas begini, aku harus ngobrol sama dia. “Clar, ibu minta kita ke rumahnya hari ini.” Kata Marco saat kita semua sedang makan. “Iya Ayah, kemaren juga Mama ngajak ke rumah Oma kok, adam kangen sama Oma.” Sahut Adam. Marco hanya tersenyum dan mengangguk. “Jam berapa?” Tanyaku. “Abis sarapan aja pada siap-siap terus berangkat.” Jawab Marco. “Tapi Ayah ikut kan? Ayah gak ada operasi atau apa gitu?” Tanya Adam. “Iya, ayah ikut kok nak!” “Yeaaay!” Seru Adam senang. Setelah selesai makan mereka bertiga naik ke kamar, aku masih di bawah untuk membereskan piring kotor dan lainnya. Bi Minah sudah dua bulan ini kurang enak badan, jadi aku memintanya untuk istirahat saja dirumahnya, lagipula tidak terlalu banyak pekerjaan di rumah. Aku bingung saat akan mandi, yaa... semua pakaianku kan ada di kamar atas. Terus gimana ceritanya kalo aku mau ganti baju? “Clar?” Aku mendengar suara Marco dari atas, aku menoleh ke atas dan melihatnya, sepertinya baru selesai mandi karena terlihat handuk melilit di pinggangnya. “Apa?” Tanyaku. “Ayo cepet mandi, terus kita berangkat.” Serunya. Aku mengangguk. “Yaudah ayo cepet naik!” Serunya lagi. Akhirnya aku naik ke atas, berjalan menuju kamarku. Saat masuk, Marco ada di sana. “Pilihin bajunya dong!” Pintanya saat aku berjalan menuju kamar mandi. Aku menatapnya sekilas, lalu berjalan menuju lemari. Aku mengambil polo shirt dan celana jeans untuknya. Mau kerumah ibunya kan? Gak usah ribet berarti. “Thanks!” Katanya saat aku meletakkan bajunya di kasur. Aku kembali ke lemari, mencari baju untukku.   ** **       MARCO     Clarissa membawa bajunya ke dalam kamar mandi, bisa dipastikan ia akan berganti di sana. Sudah semarah itu ternyata dia sampai gak mau tidur bareng aku, gak natap mata aku pas aku ngomong, dan sekarang ganti baju di kamar mandi. Biasanyakan dia ganti di dalem kamar, mau ada aku atau gak ada aku. God! Kalo boleh jujur sih aku kangen sama dia. Kangen dia yang ceria. Namun belakangan ini aku terlalu sibuk dengan urusanku dan Melisa. Aku bertemu kembali dengan Melisa sekitar dua bulan lalu di rumah sakit tempatku bekerja. Ayahnya menjadi paseienku, yaa mantan Ayah mertuaku mengalami kelainan jantung dan lain sebagainya, aku malas menjelaskannya saat ini. Sejak saat itu kami dekat, dia sering menanyakan keadaan ayahnya padaku meskipun operasi berhasil dan ayahnya sudah sepenuhnya di tangani oleh dokter lain. Ia sering mengajakku ke cafetaria untuk duduk ngobrol. Gara-gara itu aku jadi pulang telat, gara-gara itu aku jadi jarang menghabiskan waktu dengan Clarissa, Bhagas ataupun Adam. Aku cinta Clarissa, tapi anehnya saat aku mengobrol lagi dengan Melisa, ia membuatku nyaman. Aku sudah tak mencintai Melisa namun jauh di dalam hatiku, aku tahu kalau cinta pertama tak akan mudah terlupakan. Iya! Melisa cinta pertamaku. Dan cinta pertama akan abadi, kan? Meskipun sudah terganti. Pikiranku kacau sekarang, pernikahanku sudah di ujung tanduk karena ulahku sendiri. Daaan, emang gak baik buat Marco Setiawan deket-deket sama alkohol. Aku ingat kejadiannya, Melisa memintaku menemaninya ke acara grand opening sebuah bar milik temannya. Ya namanya di bar kan pasti minum jahat kan? Tahu apa? Aku berakhir di apartment Melisa dalam keadaan telanjang pagi harinya dengan Melisa tidur di sampingku dengan keadaan yang sama. Dua minggu setelah itu, Melisa memberiku sebuah testpack bergaris dua. Ya siapa yang gak berantakan saat mengetahui itu semua? Mantan istriku hamil setelah tidur denganku. Sementara aku sudah punya keluarga yang bisa dibilang bahagia. Ya, aku bahagia bersama Clarissa, aku tak akan menyangkal itu. Namun sekarang pikiranku terbagi dua, antara rumah tanggaku dengan Clarissa atau bayi yang ada dalam kandungan Melisa. Aku bingung, itu bukan pilihan. Aku tahu, saat dihadapkan dengan dua pilihan seperti ini sebenarnya aku punya 4 pilihan: 1. Pilih Clarissa, Bhagas dan Adam 2. Pilih Melisa dan bayi yang dikandungannya 3. Pilih 1 dan 2 4. Tidak memilih sama sekali. Well, aku mencoret pilihan nomer 4. Aku tak mau melepas keduanya. Bisakah aku menjadi egois dan memilih pilihan nomer 3? Ya, aku sangat ingin memilih nomor 3. Aku ingin semuanya ada dalam hidupku. God! Aku harus apa sekarang? *** TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN