CLARISSA
Aku sudah dipindah ke ruang rawat inap. Mungkin Marco atau entah siapa pasti meng-upgrade kamarnya. Setahuku kamarnya tadi ada di lantai 1. Sekarang kami ada di lantai 3. Di samping bangkarku ada baby crib tempat Badra tidur. My little men.
Sulit menjabarkan perasaan bahagia ini. I'm so happy, blessed and full of love.
Kamarku ramai, semua orang terdekatku hadir. Bahkan Caca juga hadir. Mereka semua mengucapkan selamat atas kelahiran Badra Adamar Setiawan.
“Sa, kamu sama yang lain di rumah Mama dulu aja ya? Biar bisa mama bantuin ngurusnya. Anak pertama juga kan kamu belum ada pengalaman.” Kata Mama memecah keheningan.
“Iya Ibu setuju. Biar gak kecapean juga kamu ngurus semuanya sendiri.” Kata Ibu.
“Aku gimana Marco aja.” Jawabku. Semua pandangan tertuju pada Marco. Iya tersenyum sambil mengangguk, meskipun aku tahu jarak dari rumah orangtuaku dengan Rumah Sakit Marco jadi lebih jauh. Setelah sepakat Papa dan Caca izin pulang untuk menyiapkan semuanya. Aku? Aku tertidur. Hari ini benar-benar melelahkan.
**
Hari kedua aku di rumah sakit, Bisma (Sahabatnya Marco) dan istrinya, Sinta. Datang menjenguk kami. Mereka datang bersama Barry, anak pertama mereka yang sudah berumur 1 tahun lebih.
“Boleh gendong Sa?” Tanya Sinta padaku. Aku mengangguk lalu memberikan Badra padanya. Dengan cekatan ia menggendong Badra dan membawanya mendekat Bisma dan Barry.
“Nih, Adek. Bar! Mau gak?” Tanya Sinta. Barry kecil yang belum mengerti hanya mengintip dari gendongan Bisma.
“Auuu!” Jawabnya lucu.
“Nanti kita bikin, yaang!” Seru Bisma pada Sinta sambil mengedip jahil.
“Tunggu Barry gede!” Jawab Sinta. Marco terdengar tertawa.
“Mirip siapa Bis kalo menurut lo?” Tanya Marco.
“Anak lo adil banget ini.” Jawab Bisma, ia masih memerhatikan Badra, menilai
“Adil gimana?” Tanyaku
“Rambut, bentuk muka sama idung mirip sama Marco, dia punya lesung pipi kaya Clarissa, matanya sama bibirnya juga mirip Clarissa. Perfect combination. Dia tau bagian-bagian keren dari orang tuanya, diambilnya yang bagus-bagus doang. Semoga aja pas gede gak dapet otak mesumnya si Marco.” Jelas Bisma panjang lebar.
“Kampret lo nyet!” Seru Marco. Kami semua tertawa mendengarnya.
“Di keluarga lo, lo doang Mar yang gak punya lesung pipi.” Marco menatapku, Bhagas yang tertidur di sofa, lalu Badra. Lalu ia menatapku lagi, kentara sekali iri.
“It's okay!” Kataku dengan suara seperti bisikan, ia mengangguk tapi tampang iri masih ada di wajahnya. Aku tersenyum melihat kelakuannya, God!
**
Kami sedang dalam perjalanan menuju rumah. Begitu sampai Marco langsung membimbingku, ia menuntunku berjalan. Sementara Badra digendong oleh Mama.
“Aga tidur di sini yaa!” Seru Papa membuka kamar tamu. Kamar tamu sudah di bereskan.
“Iyaa Kek!” Jawab Bhagas.
“Tapi kalo gak mau sendiri, Aga tidur sama Tante Caca aja.” Tawar Caca. Bhagas mengangguk. Kami lalu menuju kamarku. Masih sama seperti dulu. Namun sekarang sudah ada baby crib di depan tempat tidur. Dekat meja belajarku.
“Seadanya dulu aja ya, Sa, Mar!” Seru Papa.
“Iya Pa, segini sih udah okehh banget, makasi banyak Pa.” Jawab Marco santai.
“Nih Sa. Susuin. Laper tuh dia.” Kata Mama memberikan Badra ke gendonganku. Aku langsuung duduk dan menyender di kasurku.
Papa dan Mama keluar kamar. Marco menutup pintunya kemudian duduk di sampingku. Aku langsung menyusui Badra. Ia sepertinya lapar karena sedotannya terasa kencang. Aku belum terbiasa dengan ini. Rasanya sedikit sakit, perih tapi tetap menyenangkan.
“Aku seneng deh. Seneeeeng banget!” Seru Marco yang sedang melihatku menyusui.
“Aku juga seneng banget, babe.” Balasku.
“Adam nyusunya lahap bener ye? Bikin pengen!” Seru Marco.
“Adam?”
“Iya, Adam aja ya dipanggilnya?”
“Iya gak apa-apa. Bagus.” Kataku.
“Sekarang jatah aku berkurang.” Keluhnya.
“Ngalah sama anak.”
“Tapi aku masih dapet kan?” Tanyanya. Aku hanya tertawa mendengarnya.
“Gak ada lagi, jatahnya Adam selama 2 tahun.” Kataku.
“Lama amaaaaat?” Tawaku makin pecah mendengarnya, gila Marco, kalo bukan suami udah aku toyor deh.
“Tapi jatah gitu masih bisa kan ya?”
“Puasa kamu 40 hari, aku masih nifas.”
“Setdah lama amat, bae?”
“Bolongin sono pohon pisang kalo gak kuat.” Giliran Marco yang tertawa.
“Hahaha sabar kok aku, you worth to wait!” Bisiknya sambil mengecup keningku.
**
Aku tak menyangka, waktu berjalan amat sangat cepat ketika sudah punya anak. Tahu-tahu Adam bisa duduk. Bulan selanjutnya giginya tumbuh. Lalu ia mulai mengoceh dan terdengar kata pertamanya adalah ma-ma! Ya Tuhan, nikmat apa lagi yang bisa kuingkkari? I'm full of love. Full of happiness. Thank God!
Tidak sampai umur setahun Adam sudah merangkak dan belajar berdiri. Marco dan Bhagas selalu ada menemani kami. Mengajak Adam bermain, menemaninya tidur. Apapun.
“Kak, terima kasih yaa.” Kataku saat melihat Bhagas sedang menemani Adam bermain di kolam bola dadakan yang kami buat di ruang keluarga.
“Makasi kenapa, Ma?” Tanya Bhagas.
“Terima kasih udah jadi Kakak yang baik buat dedek, kamu juga gak rewel. Maafin mama ya sekarang jadi jarang jemput kamu.” Kataku.
“Aku udah kelas 5 ma, malu tahu kalo masih di jemput.” Jawabnya dengan nada tegas tapi sambil tersenyum.
“Malu emang kalo Mama jemput?” Tanyaku. Bhagas hanya tersenyum, ia memeluk Adam sekarang.
“Coba deh Kak, itu tangannya Dedek dipegangin. Dia udah bisa belajar jalan tahu kalo dipegangin.”
“Beneran Ma?” Tanya Bhagas semangat.
“Iyaa coba deh.” Kataku. Bhagas langsung memposisikan Adam untuk berdiri, memegang kedua tangan Adam, dan yaa... Adam segera berlari tak teratur dalam bimbingan Bhagas. Aku tersenyum melihat mereka berdua, aku sudah punya dua anak lelaki. God!
**
Tahun-tahun berlalu begitu saja, tak terasa ini adalah hari pertama aku mengantarkan Adam untuk masuk ke sekolah dasar. Yaa! Adam sudah berumur 6 tahun. Sementara Bhagas, dia sudah duduk di kelas 3 SMP. Dia akan menjalani tahun-tahun berat karena akan mengalami ujian nasional untuk masuk SMA.
“Adam gimana tadi?” Tanya Marco saat malam menjelang tidur.
“Baik, dia gak kaku dan langsung berinteraksi kok sama temen-temennya, kan emang udah kenal juga dari TK.” Jawabku. Marco mengangguk dan mengecup dahiku sekilas.
“Yang, kalo aku lanjut S2 boleh gak? Kan udah rada nyantai tuh, Adam udah mayan gede juga.” Tanyaku.
“Gak mau tambah anak dulu aja?” Tanya Marco sambil mengedip jahil.
“Ah kamu, kalo aku S2 dulu bisa langsung aku cepetin beres deh, janji. Abis itu baru tambah anak, jadi aku bisa fokus gitu karena udah beres S2.” Kataku memberi solusi.
“Yaudah kalo mau, IPB aja ya? Jangan di Bandung. Entar kamu sibuk, aku sibuk, kapan kita ketemunya?”
“Lha, kan emang mau di IPB kok, ngapain juga ke ITB, jauhhh.”
“Oke, goodgirl!” Serunya, mengecup dahiku, lagi.
“Kalo nanti punya anak lagi, kita program yu? Biar cewek.”
“Engga ah, aku maunya cowok lagi. Biar makin rame, biar aku punya 3 jagoan. Nah kalo mau cewek bikin lagi ajaa! Tapi jaraknya gak usah kejauhan kaya Adam sekarang.” Serunya, santai.
“Kamu mau punya anak berapa emang?” Tanyaku kaget.
“Sebanyak-banyaknya kalo bisa.” Jawabnya sambil mengedip jahil. Yeah, Marco kan emang suka sama anak kecil, dan dia juga bukan tipe suami yang gak bantuin istri, walaupun sibuk kerja, Marco juga turut andil dalam membesarkan anak-anak kami. Jadi aku sih percaya aja sama dia kalau mau punya anak banyak.
“Kalo hamilnya bisa gantian mau deh aku.” Kataku jail,
“Hahaha! Kamu tahu? Kamu yang hamil aku yang stress bae! Kamu kira kamu gak nyebelin pas hamil? Nyebelin parah tau gak, aku nih korban atas hamilnya kamu.” Katanya sambil memelukku.
“Yee itukan gegara hormom, bukan aku yang pengen marah-marah.” Kataku sambil mengingat-ingat kembali moment aku hamil. Ya, hamil itu nano-nano rasanya. Kamu bahagia, kamu marah, kamu sedih, detik berikutnya marah lagi, sedih lagi. Terus mendadak bahagia. Gitu aja terus.
“Haha iya sih, yaudah 2 tahun lagi kita nambah anak ya?” Tanyanya. Aku mengangguk.
“Tapi kejauhan gak sih? 2 tahun lagi Aga udah SMA, dan Adam bakal seumur Aga waktu Adam lahir. Kejauhan gak sih?” Tanyanya.
“Kalo dipikir-pikir sih kejauhan, tapi aku malah ngerasanya pas. Jadi anak-anak kita udah ngerti dan gak sirik sama Adeknya, kaya waktu Aga aja dulu. Dia ngerti kan?” Jawabku. Marco mengangguk.
“Yaudah, kalo bisa beresin S2 nya kurang dari dua tahun yak! Kamu kan pinter!” Serunya.
“Siap boss! Diusahakan.” Seruku.
“Jadi 2 tahun lagi nih kita baru nambah anak?”
“Yaps!” Kataku, lalu Marco pun menciumku.
“Tapi main kes itu boleh kan ya kalo sekarang mah?” Bisiknya. Aku hanya tertawa mendengarnya.
“Boleh gak?” Tanyanya.
“Boleh, boleh!” Jawabku.
***
TBC