MARCO
“Aga!” Panggilku dari ruang tengah di lantai dua. Aku tahu Bhagas sedang ada di kamarnya.
“Iya, Ayah?” Sahutnya sambil mengelurkan kepala dari balik pintunya.
“Sini doong temenin Ayah nonton. Sepi nih Mama lagi sama Nenek.” Lalu Bhagas menggampiriku.
“Ayah nonton apa?” Tanyanya saat duduk di sampingku.
“Nonton iklan. Bingung abisnya nonton apa.” Jawabku.
“Ayah aneh!” Serunya.
“Aga! Aga seneng gak mau punya adek?” Tanyaku.
“Seneng Yah. Aga gak sabar adek lahir. Aga penasaran cewek apa cowok.”
“Adeknya Aga cowok.” Kataku. Bhagas langsung antusias dengan info baru ini.
“Yeayyyyyy!!! Aga berati punya temen main!” Serunya bahagia.
“Aga nanti bantuin Ayah sama Mama jagain Adek yaa.” Kataku.
“Iya Ayah. Siap!” Jawabnya.
“Aga jangan ngiri ya sayang kalo nanti Mama jadi sibuk sama Adek.”
“Iya Ayah. Aga tahu kok. Ade kan masih kecil belum bisa apa-apa. Masih harus diurus sama Mama. Aga kan udah gede.” Jawabnya. Dan ya! Aku terharu. Aku terharu karena ia yang baru 8 tahun lebih dan sudah bisa berfikir seperti itu. God! am so proud to be his dad! Bhagas memang jauh lebih dewasa ketimbang umurnya.
“Good boy, my boy! Tapi Aga harus inget. Mama Clar tetep sayang sama Aga walaupun Mama nanti sibuk sama Adek!” Seruku.
“Iya Ayah. Lagian kan aku juga nanti bisa ajak main adek. Jadi makin rame deh rumah ini!”
Aku langsung merangkul Bhagas, mengecup puncak kepalanya. Aku gak pernah nyesel mengadopsi Bhagas. Dia hal terbaik pertama yang ada di hidupku. Dia magnet yang menarik kebahagiaanku.
Bhagas yang bikin aku jadi seorang Ayah. Dia mau manggil aku Ayah meskipun dia gak kenal aku sebelumnya. Dia yang bikin aku kenal Clarissa. Sampai sekarang. Sampai aku mau punya anak biologis. Itu semua gak bakal nyata kalo gak ada Bhagas.
“I love you, son!” Kataku.
“I love you, dad!” Balasnya. Dan aku memperat pelukanku. Aku melepas pelukanku karena ponselku bergetar.
Mama Clar calling...
“Kenapa, bae?” Tanyaku menjawab panggilannya.
“Ini Mama. Marco. Mama sama Papa lagi di jalan ini nganter Clarissa! Ketubannya pecah!” Seketika otakku juga pecah. God! Aku harus apa sekarang?
“Mar! Marco!” Seru Mama di kejauhan sana.
“Iya Ma! Mama di jalan? Bawa ke BMC aja ma. Aku nanti minta tim dokter kandungan nunggu Clarissa dateng. Biar langsung ditangani.”
“Lha.. Ini kita udah sampai di RSIA Melania.”
“Lho Ma? Kan Clarissa selama ini check up nya di BMC terus!”
“Udah gak penting. Yang penting kamu ke sini sekarang yaa!” Seru Mama lalu mematikan telefonnya. Aku panik. Panik sejadi-jadinya. Gimana ini?????
“Kenapa Yah?” Tanya Bhagas.
“Mama mau ngelahirin sayang. Ayoo Aga ikut!” Kataku. Bhagas langsung lari ke kamar yang sudah disiapkan untuk adiknya. Entah apa yang akan ia lakukan. Aku menyambar kunci mobilku. Masuk ke kamar untuk mengambil dompet dan jaket.
“Aga cepetan!” Seruku sambil berlari menuruni tangga. Aku langsung masuk ke mobilku, tak lama Bhagas masuk dengan membawa tas biru yang lumayan besar.
“Itu apa?” Tanyaku.
“Aku pernah bantuin Mama packing ini. Katanya ini persiapan kalo adek lahir.” Jawabnya. s**t! Dia lebih siaga dari gue. Gileee Marco!
“Oke Goodboy!” Seruku, lalu mengemudikan mobilku menuju Melania. Jarak rumahku dengan RSIA Melania lumayan jauh, tapi untung saja jaraknya berdekatan dengan rumah Orang Tua Clarissa. Setidaknya ia tidak perlu lama menahan sakit dan cepat ditangani oleh orang yang tepat.
“Aga telefon Oma, Oma Ibun sama Tante Zet dong. Bilang Mama lahiran di Melania!” Seruku sambil memberinya ponselku. Dengan sigap Bhagas meraih ponselku dan melakukan apa yang kupinta. Kami tiba di rumah sakit. Aku menelfon Mama.
“Ma? Di mana?” Tanyaku begitu telefon diangkat.
“Di ruang inap. Baru pembukaan 7 ternyata. Ketubannya cuma rembes jadi masih bisa ditunggu, hehehe.” Hehe? Hehe? Ya ampun Ma ini situasi lagi tegang sempet-sempetnya ditambahin hehe. Batinku.
“Di ruang apa?” Tanyaku.
“Mama gak inget. Dari lobi belok kiri pintu ke 2.” Jelasnya.
“Oke Ma.” Aku langsung mematikan telefonnya. Menggandeng Bhagas menuju ruangan yang di jelaskan oleh Mama.
Begitu sampai di ruangan, aku melihat Clarissa. Terbaring dalam bangkar rumah sakit. Aku langsung menghampirinya, menggengam tangannya dan mengecup keningnya.
“Gimana?” Tanyaku.
“Udah gak sakit kok. Tadi doang rada sakit.” Jawabnya. Mukanya pucat namun tetap terlihat ceria. Senyum indahnya tetap mengembang di pipinya.
“Temenin aku jalan-jalan yu?” Ajaknya.
“Jalan-jalan?” Tanyaku heran.
“Tadi dokternya bilang banyakin jalan biar nanti keluarnya gampang. Bolak-balik ruangan ini aja.” Jelasnya. Aku mengangguk. Segera aku membantunya, memegangi tangannya sementara kami berjalan bolak-balik di ruangan ini.
Bhagas memperhatikan kami dari sofa. Ia duduk diapit oleh Mama dan Papa-nya Clarissa. Mama mengelus-elus rambutnya. Sekian menit mondar-mandir lalu Clarissa menjerit. Sepertinya perutnya sakit lagi. Aku langsung memapahnya untuk kembali ke bangkarnya. Mama juga sepertinya memanggil suster. Dokter datang bersama suster, ternyata aku mengenalnya. Dokter Fatma. Ia memang bekerja di rumah sakit ini, meskipun kadang juga ada di BMC.
“Wah ini ternyata istrinya Dokter Marco?” Tanyanya.
“Iyaa dok. Periksa dulu aja. Tolong!” Kataku. Enggan basa-basi disaat istriku sedang menjerti-jerit kesakitan.
“Langsung pindah aja yuk. Ke ruangan bersalin. Udah siap ini!” Jelasnya. Aku mengangguk. Tapi jantungku berdetak lebih liar dari tadi. Aku hanya berharap bahwa jantung ini tidak melompat keluar. Kan susah kalau harus operasi jantung sendiri, ye.
Aku berjalan dan ikut membantu mendorong bangkar menuju ruang bersalin. Clarissa terus mencekram tanganku. Aku tersenyum untuk menyemangatinya. Sengaja tak berkata apa-apa. Bisa-bisa pertahananku dalam menjaga ketenangan bisa bobol kalau aku buka suara.
Kami sampai di ruang bersalin. Dokter Fatma bilang kalau posisi bayinya sudah pas, jadi Clarissa bisa melahirkan secara normal. Good to know!
“Baby! Yang kuat yaa!” Seruku saat ia mulai menjerit. Aku gaķ kuat. Sungguh! Bisakah aku lari dan menunggu di luar? Oh s**t gue bukan lakik kalo gitu!
Aku dokter bedah. Aku terbiasa dengan darah. Dengan macam-macam alat yang mengerikan. Dengan semua yang berhubungan dengan operasi.
Tapi tidak ini. Di sini. Melihat Clarissa berjuang. Menjerit karena sakit. Tak ada hal lain yang bisa kulakuan selain mengelus rambutnya. Tanganku yang lain bahkan dicengkram kuat olehnya. Aku sudah berlutut agar wajah kami setara. Kelihatan sekali Clarissa kesakitan, wajahnya tak menyembuyikan semua itu.
Aku dokter, aku terbiasa dengan semua ini. Harusnya! Tapi tidak. Aku bukan dokter specialis kandungan. Dan asal tahu saja, semua pasienku pasti di bius dulu. Mereka tidak merasakan sakit apapun. Beda dengan ini. Sekian menit berjuang melawan ketakutan sendiri dan melihat perjuangan Clarissa.
Kelegaan akhirnya menyelimuti ruangan saat terdengar tangisan bayi.
Badra! Oknum yang sering kami bicarakan sebelum tidur. Oknum yang menyita seluruh perhatian karena kehadirannya sangat ditunggu. Akhirnya hadir!
“Ini, Pak!” Seru suster memberikan anakku untuk kugendong. s**t. Gimana cara gendongnya? Kalo jatuh gimana?
Pelan-pelan aku menerima uluran tangan suster itu. Suster itu cekatan dan langsung memposisikan Badra agar nyaman ditanganku. Badra menangis. Suara tangisannya nyaring dan kuat tapi terdengar merdu. Terdengar menyenangkan dan menenangkan.
“Hello my baby boy!” Bisikku pelan. Aku tersenyum pada anakku ini, mengelus pipi mungilnya dengan jari telunjukku dan seketika tangisannya sedikit berhenti. Bibir dan pipinya mengembang. Ia membalas senyumku. Gila! Demi dewa manapun. Ini moment paling spesial di hidup gue!
Aku berjalan pelan. Menuju Clarissa. Ia terlihat letih namun kebahagaiaan di wajahnya kentara sekali. Aku mendekatkan anak kami padanya. Badra masih menangis namun tidak sekuat tadi.
Clarissa tersenyum begitu kuperlihatkan wajahnya. Dengan lembut aku meletakkan Badra di dadanya. Badra langsung tenang ketika berada di dalam dekapan Clarissa. Aku tersenyum melihat ini, God! Thank for all this happiness.
“Ganteng yang!” Seruku. Clarissa hanya tersenyum, menatap Badra dengan tatapan memuja.
Kebahagiaan kami terintrupsi oleh beberapa suster. Mereka mengatakan harus membersihkan Clarissa maupun Badra. Satu suster membawa Badra menghilang dari pandangan kami. Dua orang suster membersihkan Clarissa di bawah sana. Aku tak terlalu mengerti.
Yang kupahami sekarang adalah aku bahagia! Benar-benar bahagia hingga rasanya aku berada di lapisan langit tertinggi. Aku punya anak. Itu keinginanku dari dulu. Dari aku pertama kali menikah. Namun Tuhan benar-benar mengabulkan doaku di saat yang tepat bersama orang yang tepat.
Jika bukan Clarissa mungkin rasanya tak seperti ini. Jika bukan dengan Clarissa pasti tak sebahagia ini.
Thank God. You are so good!
**
**
TBC