CLARISSA Aku sebenernya bingung mau ke mana setelah pulang dari Imah Nini, semenjak masalah dengan Marco, aku belum pernah sendiri seperti ini. Selalu ada Bhagas atau Adam yang menemaniku. Membuatku tetap kuat, tetap waras menghadapi ini semua. Karena di depan mereka aku harus kuat, di depan mereka aku tidak boleh menunjukan rasa sakitku. Tapi sekarang, aku benar-benar sendirian. Pulang ke rumah akan membuatku semakin nelangsa. Kukemudikan mobilku ke tempat yang pernah kukunjungi belasan tahun lalu, berniat untuk nostalgia. Aku membeli banyak bir untuk kubawa pulang. s**t! Kejadian ini mirip bertahun-tahun lalu, saat aku menyerahkan diriku kepada minuman-minuman ini. Setelah membeli beberapa jenis minuman aku turun ke parkiran, langsung saja aku mengemudikan mobil ke arah rumahku. Aku

