Tidak ada dibenak kita bahwa pernikahan itu hanya untuk sesaat,tetapi kita juga tidak pernah tahu jodoh itu berlangsung berapa lama, yang kita tahu hanya menjalani hari ini dan hari kemarin hari yang akan datang kita tidak pernah tahu,manusia hanya sebatas punya rencana Tuhanlah yang memutuskan.
Begitu juga dengan keluarga hasan yang dia tahu bahwa membina keluarga seperti pada umumnya keluarga yang lain.kehadiran seorang bayi adalah yang di tunggu tunggu, keluarga tidak mungkin hanya laki laki saja tetapi berpasangan. Apabila dua insan kalau sudah berbeda keinginan tidak mungkin salah satu memaksakan keinginan untuk pasangannya.
Apa yang berseliweran di pikiran hasan selama ini apa bakalan terjadi. Sore itu tanpa sepengetahuan hasan sebelumnya karena juga tidak ada kabar bahwa lestari akan datang.
Ketika hasan lagi tidur karena kurang enak badan terdengar ada yang ketuk pintu.
Tok ....Tok... Tok.
"Assalamualaikum " salam dari lestari.
Beranjak dari tempat tidurnya hasan buru buru keluar rumah.
" Waalaikumsalam ". balas hasan.tak selang lama hasan membukakan pintu.
"Masuk teeh,kok ga kasih kabar kalau kesini?" Sahut hasan.
Dengan raut wajah yang kurang enak cemberut,terlihat terpaksa datang ke rumah, yang diantar adik keponakan.
"Iya mas,mau pamit sama ibuk sekalian ambil bajuku". balas lestari.
"Oh gitu marahnya kemarin berlanjut ya?". Hasan cuma bisa pasrah,nunggu di kursi depan.
Sedang lestari ngemasin bajunya untuk dibawa pulang,hasan seperti lagi kalut tetapi juga mikir apa yang harus dia omongin ketika lestari pamitan.
Tiba tiba lestari sudah keluar kamar membawa koper,memang tidak banyak yang dia bawa karena hubungan kita jauh jadi terkadang di sini dan di rumah mamanya .
"Sudah selesai ini bajuku tidak banyak di sini". sambil berjalan ke tempat duduk, lestari seperti ada yang mau disampaikan ke hasan,lanjutnya.
"Mas sebelumnya saya minta maaf bahwa perkawinan kita cukup sampai di sini,ini juga kan seperti harapan mas hasan walaupun tidak terlahir saya tahu". ucap lestari agak terbata bata walaupun seperti sudah di persiapkan sebelumnya apa yang mau disampaikan.
Ketika hasan mendengar langsung dari lestari hasan terdiam sejenak yang terlintas di pikiran hasan "perempuan ini tidak menghargai saya selama ini berarti,apa yang sudah saya lakukan tidak berarti,padahal tidak ada perlakuan saya yang mengarah ke perpisahan,ya sudah lu jual gue beli ". hasan diam termenung sejenak dan berkatalah.
" ya kalau saya menyikapi apa yang sudah teteh sampaikan barusan bahwa ucapkan tadi saya yaqin sudah dipikirkan jauh jauh hari,kalau itu sebuah keputusan yang terbaik menurut teteh,saya sebagai suami harus bisa menghargai,kita bukan lagi anak anak bahkan lebih dari usia dewasa,saya juga tidak bisa memaksakan perasaan dan saya juga tidak Inggin ada keterpaksaan,rasa kasih sayang itu dibangun atas dasar Keiklasan mencintai dan dicintai,saya ga mau dibilang sebagai suami tidak ada perjuangan untuk mempertahankan keluarga,karena kalau istri sudah berani bilang menurutku sudah tidak ada nilai lagi".
Lestari "Iya mas,ini sudah menjadi keputusan saya".
Hasan"itu adalah keputusan perempuan dewasa,saya kalau mendengar langsung juga seperti ini justru saya senang,terbuka, untuk prosesnya saya serahkan ke teteh,untuk urusan ga mungkin saya bolak balik jauh,ya sudah apapun keputusan mu saya ridho apapun materi gugatan mu saya iklas,biar semua lancar".
Mereka bertiga sudah selesai yang bicara serius akhirnya pamitan memang adik keponakan duduk di luar tidak mau terlibat urusan kita berdua.
"Mau mampir pasar mas,pamit dulu sama ibu" .kata lestari.
"Ya ibuk masih jualan, hati hati ya ". hasan lepas kepergian lestari dengan berusaha tidak mau menampakkan kesedihan.
ada teman yang main kerumah hasan sore itu dari obrolan ringan pikiran hasan nampak kebingungan.
"Heeem apa memang laki laki harus ngalah berusaha membina untuk rukun kembali?". Pertanyaan itu yang selalu dipikirkan.
Akhirnya hasan memutuskan untuk mendatangi istrinya lagi, hasan sudah memutuskan untuk tidak egois bagaimana pun lestari masih istri yang sah.sesampainya di rumah mertua,hasan dengan perasan yang berkecamuk memberanikan diri untuk mengetuk pintu.
Tok .... tok ... tok
"Assalamualaikum ". hasan agak gelisah pintu tidak segera di buka.
"Waalaikumsalam ". balas anak lestari.
"Ough laa mama ke mana dik". tanya hasan.
"Di kamar om". balas ogi anak lestari dari perkawinan yang pertama.
Ogi sejak perkawinan aku dengan mamanya sudah terbiasa panggil om.ya menurutku ga masalah yang penting saling nyaman.
"Masuk om". ogi mempersilahkan masuk.
"Ya". sahutku.
Sebelum membuka pintu kamar hasan penuh tanya dalam hati " kenapa lestari ga mau membuka pintu sendiri ".
"Assalamualaikum ". sapaku.
Betapa kagetnya aku melihat istriku terbaring diatas tempat tidur ga bisa bangun.
" kenapa .... sakit apa?". tanya ku dengan rasa penasaran yang tinggi.
Namun lestari tidak begitu semangat untuk menanggapi pertanyaan hasan,hanya terlihat meringis, menahan sakit.
Di kamar sejenak suasana hening tanpa suara, hasan juga tidak berani mendekat ada hati yang berjarak hasan tetap berusaha sabar ini adalah sebagian proses untuk membuka hati istrinya.
Tiba tiba tanpa diminta lestari menceritakan kronologi kejadiannya.
"Sudah tiga hari yang lalu saya jatuh dari motor,kecelakaan tunggal. Motor turun dari aspal padahal ada 50 an cm jarak aspal dengan bahu jalan dan jatuhlah saya karena tidak bisa menahan keseimbangan".
"Ada acara apa sampai perjalanan jauh?".tanya ku.
"Mau ke PA ada klein dikota sebelah yang harus diurusin".jawab lestari.
"Makanya saya kesini perasaanku ga enak beberapa hari ini,kenapa ga kasih kabar ke aku?". sela hasan melanjutkan omongannya lagi.
"Marah boleh itu manusiawi tapi tidak lantas menggugurkan kewajiban sebagai istri,tidak ada alasan karena semua serba mudah.karena hanya berjauhan jarak terus tidak kasih kabar atau pamit,mas saya mau kesini mau kesana, kecelakaan juga ga kasih kabar ".
Hasan mencoba mengambil hatinya lagi.
"Kalau yang dirasa sakit itu tulang ya harus di ronsen,dokter saja tahunya sakit dari hasil ronsen apalagi kita. Jangan hanya dirasa nanti kita ke rumah sakit ya?". sambung hasan lagi.
"Jangan terulang waktu jatuh di stasiun sampai sekarang masih terasa nyerinya ".
Sebagai laki laki saya masih memiliki rasa tanggung jawab atas musibah yang dialami istri saya walaupun hubungan kita masih belum membaik mungkin ini saatnya perhatian saya harus lebih biar semua akan berubah seperti sedia kala.
Setelah dari rumah sakit saya ajak berobat ke dokter spesialis syaraf dan semua sudah saya urus untuk pengobatannya.
Hasan pamit untuk balik ke hotel,hasan merasa sudah tidak nyaman lagi tidur di tempat Mertua.
Sebelum balik mau pamitan pulang, hasan menyempatkan main ke rumah laundry dan main kerumah tetangga.
"Om kemarin waktu liburan sekolah teh lestari kesini bertiga naik motor sama ogi juga,yang laki badannya gede".cerita teh amy tetangga ku.
"Laah .... ngapain ke sini?".Tanya ku.
Pada saat mendengar emosi darah tinggi naik,d**a hasan terlihat kembang kempis, jantungnya terasa mau copot.
"Ga tau sepertinya ya cuma mampir sebentar ,saya juga blm kenal baru sekali itu saya lihat". timpal teh amy lagi.
Aku berusaha menutupi emosi seperti tidak ada kemarahan,aku malu sebagai laki laki.
"Ya mungkin bapaknya ogi teh,kalau benar ciri ciri nya seperti itu ". sahutku.
Hasan cepat tidak mau berlama lama Dia kemas kemas dan ingin cepat ketemu istrinya. Keyakinan hasan sudah 95% benar. Dan ini sudah fatal menyangkut harga diri seorang suami.