BLANC 11

1289 Kata
 “Begitu seminar dan pelatihannya selesai, aku akan segera pulang.” Kata Ravael yang berdiri berhadapan dengan Naura di teras rumah saat ini. “Jadi kamu tidak perlu menungguku.” Ada sedikit penekanan di kata terakhir Ravael, tanda pada Naura kalau dia wajib melakukan apa yang Ravael katakan. Itulah kenapa Naura menganggukkan kepalanya walau sebenarnya dia tidak ingin melakukannya. Yang dia tau ini bukan hanya keinginannya, tapi anak-anak mereka juga karena baby dalam kandungannya akan selalu membuatnya terjaga sampai mereka merasakan kehadiran sang papa. Dan seperti biasa, Ravael terlalu hebat untuk bisa membaca apa yang ada dipikiran Naura. Meletakkan telapak tangannya pada perut Naura yang sudah sangat besar, Ravael kemudian mengelusnya lembut. Entah apa yang disampaikan Ravael melalui sentuhannya pada anak-anak mereka yang masih ada dalam perut Naura, tapi yang pasti dia merasakan gerakan pelan pada perutnya. Kalau dipikir-pikir lagi, kedua anak dalam perutnya memang selalu seperti ini. Mereka memang selalu bergerak aktif, tapi gerakan mereka tidak pernah membuat Naura merasa sangat kesakitan. “Mereka tidak akan merepotkanmu,” kata Ravael kemudian tersenyum sangat tipis. Kepala Naura mengangguk, “Hmm...” Jawabnya sebagai pernyataan kalau dia akan mempercayai kata-kata Ravael. “Ya sudah kalau begitu aku berangkat,” Ravael kembali tersenyum tipis sebelum membalikan tubuhnya. Tapi sebelum pria itu benar-benar melangkah, Naura menahannya dengan berpegang kecil pada ujung kemeja bagian belakang Ravael. Anehnya dia tidak tau mengapa dia melakukannya, makanya ketika pria itu membalikkan tubuhnya Naura malah salah tingkah. Tangannya yang berpegang pada ujung kemeja baian belakang Ravael dia lepaskan. “Eng...uh,,, aku...” Naura gelagapan. “Aku hanya...” Hup Sebelum Naura menyelesaikan ucapannya, Ravael sudah memeluknya terlebih dahulu. Lalu katanya, “Aku akan pulang secepatnya.” “Hmm...” jawab Naura dari dalam pelukan Ravael. “Nanti sesampai disana dan kalau ada perubahan rencana, aku aku akan menghubungimu.” “Hmm...” Jawab Naura lalu tersenyum kecil karena Ravael sudah melepaskan pelukan mereka. Setelah itu Ravael menatapnya sedikit lama sebelum kemudian menepuk puncak kepala Naura pelan sekali sebelum kemudian benar-benar pergi darisana. Naura sendiri, dia memilih untuk disana sampai mobil Ravael benar-benar hilang dari tatapan matanya. Setelah itu dia berniat untuk berjalan-jalan disekeliling rumah. Selain untuk melihat perkembangan bunga yang dia tanam, Naura juga ingin bergerak ringan sesuai dengan anjuran dokter. Namun niatnya itu batal saat didengarnya dering telepon rumahnya. “Halo,” sapa Naura pada orang diseberang sana. “Halo Ra, ini aku Nathalie.” “Iya Nath, kenapa?” Jawab Naura sambil duduk di kursi yang ada disamping meja telepon. “Hari ini aku mau datang kerumahmu, boleh?” Naura tidak langsung menjawab, tampak berpikir harus memberi jawaban apa pada Nathalie. Ini bukan karena dia khawatir akan insiden yang terjadi di mall beberapa bulan yang lalu, tapi karena Naura belum siap dengan siap interogasi Nathalie. Teman Naura itu kadang sangat peka, hingga mudah buatnya untuk menyadari kalau Naura sedang menyembunyikan sesuatu. “Naura?” Nathalie mengulang memanggil namanya. Dan Naura tersadar dari pikirannya karena panggilan itu, “Eum boleh kok, datang aja kalau mau.” Akhirnya Naura mempersilahkan Nathalie meski dia belum siap bertemu dengan Nathalie. “Baiklah kalau begitu, aku siap-siap ya. Sekitar sejam lagi aku kesana karena aku akan diantar oleh kak David,” ... “Ohh... baiklah.” “Ya udah kalau begitu aku tutup ya,” Pamit Nathalie. Naura berdeham lalu mematikan sambungan telepon antara dia dan Nathalie. BLANC “Hi Ra,” sapa Nathalie heboh ketika Naura membukakan pintu untuk temannya itu. Namun wajah heboh itu berubah meringis saat melihat tubuh mungil Naura mengangkat perut yang sangat besar. “Wow, aku tidak menyangka kamu sudah hamil sebesar ini. Padahal terakhir kita bertemu perutmu belum besarkan?” Katanya Nathalie terlihat takut-takut memeluk Naura sepertinya dia takut menyakiti Naura dengan pelukannya. Naura tersenyum kecil. “Udah kelihatan kok,” jawab Naura kemudian menuntun Nathalie ke ruang tamu. “Tapikan waktu itu aku pakai gaun yang sangat longgar,” “Oh iya-ya,” angguk Nathalie setelah mengingat kembali pertemuan mereka hari itu. “Terus kamu sendiri? Suami kamu, kak Ael mana?” Tanya Nathalie yang mungkin baru menyadari kalau tidak ada siapapun disana selain Naura. “Kak Ael lagi ada seminar dan pelatihan di Bandung 3 hari. Aku disini sekarang sama mbok Dina dan pak Sarmin, Cuma keduanya lagi pergi berbelanja, makanya aku yang harus bukakan pintu dan nyiapin minuman buat kamu,” jelas Naura akan berdiri untuk membuat minuman untuk Nathalie. “Ngomong-ngomong Nath, bukannya kamu bilang akan datang bersama kak David?” “Hmmm... Seharusnya memang begitu, tapi tadi sepupu kak David tiba-tiba memintanya untuk mengantarnya kedokter kandungan.” “Ohhh...” Kata Naura kemudian beranjak ke dapur. Entahlah dia harus merasa bagaimana karena sejujurnya di satu sisi dia tidak mengharapkan kehadiran David juga. Tapi disatu sisi dia ingin David berada disini untuk memastikan kalau perasaannya pada laki-laki itu sudah tidak sama lagi. “Kok pemain prianya bodoh sih,” gerutu Nathalie setelah beberapa saat tidak ada pembicaraan antara dia dan Naura terjadi. Naura yang fokusnya tadi tertuju pada televisi yang menayangkan drama, akhirnya mengalihkan tatapannya pada Nathalie. Temannya itu menggedikkan bahunya dengan raut wajah yang mengatakan ‘ya itulah pendapat aku’. Makanya Naura menunggu apa alasan Nathalie mengatakan hal itu karena Naura tau temannya itu selalu memiliki pemikiran yang sangat berbeda dengannya. “Kamu nggak ngerasa si Amar-Amar ini bodoh?” Mungkin karena sadar dengan ketidakmengertian Naura dengan yang dia maksud, Nathalie akhirnya menanyakan hal ini. Kepala Naura menggeleng jujur. Nathalie mencebik, gemas dengan kepolosan Naura. “Ya bodohlah Ra, masa dia nggak bisa bedain perasaannya sih? Kalau yang ke Salma itu kagum yang ke Dewi suka, tapi kalau ke yang Ayu itu cinta.” Jelas Nathalie yang bukannya membuat Naura terlihat puas, tapi malah semakin kebingungan. “Loh memangnya beda ya?” Tanya Naura yang langsung dibalas Nathalie dengan cubitan. “Ya iyalah Ra, beda.” Gemas sekali kelihatannya Nathalie dengan Naura. “Kalau sama, nggak bakal ada kata ‘kagum’ ‘suka’ atau ‘cinta’ ketiganya bakal dijadiin satu.” “Penjelasan yang lebih eksplisit?” Nathalie tampak berpikir. lalu kali ini memutarkan tubuhnya benar-benar menghadap Naura. “Ini pemikiranku loh ya,” katanya yang diangguki oleh Naura. “Kalau cinta itu kadarnya lebih dalam dan berat dari kagum dan suka. Kalau suka kamu bisa menyukai banyak orang, tanpa ada berharap lebih, kagumpun begitu. Sedangkan kalau kamu cinta, kamu punya hasrat memiliki. Melakukan usaha agar bisa bersama orang yang kamu cinta dan ingin menjadi satu-satunya untuk orang itu.” “Lagipula tanda yang ditunjukkan inipun berbeda pada orang yang hanya kamu kagumi, sukai dan cintai.” Tunjuk Nathalie pada d**a Naura. ... Naura terdiam mendengar penjelasan Nathalie. “Jangan bilang kamu tidak tau bagaimana perasaanmu pada kak Ael.” ... Kembali Naura tidak bersuara. “Naura, coba deh kamu tutup mata kamu sebentar.” Kata  Nathaie masih dengan posisi yang sama dan Naura menurutinya. “Sekarang bayangkan kamu ada disebuah jalan satu arah, jalan itu sangat sukar dilalui karena selain harus melewati jembatan reot penghubung jurang yang sangat dalam, kemudian melewati bukit berbatu yang terjal dan juga lembah yang sangat licin. Diujung jalan tersebut, adakah orang yang kamu temui?” Kepala Naura mengangguk. Samar. Awalnya bayangan itu samar pada bayangan Naura, namun bayangan itu lama-lama semakin jelas. Dan jantung Naura berdetak kuat saat menyadari bayangan siapa yang muncul dibenaknya saat ini. ‘Ravael’ Mata Naura membuka, menginginkan penjelasan yang lebih mendetail dari Nathalie. Sambil tersenyum Nathalie kemudian berkata, “Kalau orang yang kamu bayangkan adalah kak Ael. berarti kamu benar-benar cinta dong sama suami kamu. Hihihi.” Nathalie terkikik tidak menyadari Naura yang tidak berekasi karena terkejut. “Kamu tidak mungkinkan akan melewati sesuatu yang berbahaya dan hampir mengorbankan jiwa kamu hanya untuk bertemu orang yang tidak penting buat kamu?”             BLANC   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN