“Apa yang kamu lakukan?”
Pertanyaan Ravael menyadarkan Naura yang tengah menonton di depan TV, menonton drama yang sama dengan Nathalie beberapa hari yang lalu. Hari dimana dia disadarkan tentang perasaannya yang sebenarnya.
“Eh...eoh kak Ael.” Naura terkejut dan gelagapan,
Dia benar-benar tidak menyangka Ravael sudah pulang karena seingatnya pria itu bilang dia pulang seperti biasa jam kerjanya. Padahal hari ini seharusnya Ravael libur karena perserta pelatihan dan seminar di Bandung kemarin diliburkan oleh pihak rumah sakit hari ini. Tapi karena dokter pembimbing Ravael meminta untuk bertemu dan menggantikannya hari ini, pria itu akhirnya pergi ke rumah sakit dulu hari ini.
“Loh kak Ael kok disini.”
Dengan cepat Naura bangkit dari posisinya yang bersandar di sofa ruang tamu, hingga tidak menyadari kalau kakinya kebas dan tidak siap sama sekali untuk menumpu badannya. Membuat dia oleng dan hampir terjatuh.
“Ugh,” ringis Naura merasakan seseorang menangkapnya.
“Bisakah kamu berhati-hati.” Nada Ravael penuh penekanan setelah pria itu berhasil menangkap Naura yang hampir terjatuh.
Wajah Naura terihat terkejut dan pucat, tidak membayangkan kalau sampai dia jatuh tadi karena sudah pasti dia membahayakan dirinya dan bayinya.
“Maaf...” Katanya dengan nada pelan.
Tangannya mencengkram kemeja bagian depan Ravael karena diapun sesungguhnya sangat terkejut. Tidak menyangka gerakan refleksnya hampir membahayakannya dan anak-anaknya. Sungguh dia tidak bisa membayangkan kalau tadi dia jatuh, tubuhnya tidak hanya akan menumbuk lantai tapi kepala dan dadanya kemungkinan akan mengenai pinggiran meja tamu mereka yang terbuat dari kaca.
“Hufffttt...”
Naura mendengar Ravael menghela napasnya antara membuang rasa kesalnya atau untuk menghilangkan rasa terkejutnya. Dia tidak tau yang mana karena dia tidak berani untuk melihat wajah Ravael apalagi untuk menanyakannya. Tapi yang pasti setelah itu Ravael sudah bicara lebih tenang seperti biasanya lagi.
“Kamu duduk lagi saja,” kata Ravael sambil menuntun Naura untuk duduk kembali ke sofa tempat dia duduk sebelumnya.
Dan Naura hanya bisa menurut saja kalau sudah begini.
Setelah Naura kembali keposisinya semula, Ravael ikut mendudukkan dirinya di samping Naura karena sofa tempat mereka duduk sekarang cukup besar untuk menampung keduanya. Dikarenakan masih sedikit terkejut dan tidak berani pada Ravael, Naura akhirnya memilih untuk diam. Membiarkan suara TV saja yang mendominasi di dalam ruangan itu karena sepertinya Ravael pun tidak berselera untuk bersuara.
Tapi ternyata Naura salah karena selanjutnya Ravael sudah mengeluarkan suaranya.
“Sejak aku pulang dari Bandung, aku sering melihat kamu melamun. Apakah terjadi sesuatu?”
“...”
“Huh?” Sebenarnya Naura mengerti dengan apa yang Ravael katakan, dia hanya memilih untuk berpura-pura tidak mengerti.
“Kamu tau, sejak aku pulang dari Bandung kamu terlihat aneh.” Ucap Ravael kini menyandarkan dirinya pada punggung sofa. “Ada apa? Apakah ada sesuatu yang mengganggumu?”
Pertanyaan itu jelas sekali isinya sama, tapi Ravael tampak tidak keberatan untuk mengulangnya asal Naura memberikan jawaban.
“Aku,” sebelum memberikan jawabannya Naura tampak berpikir untuk memilih kata yang tepat untuk menjawab Ravael. Karena lucu pastinya kalau dia sering hilang fokus begini karena hanya perasaan yang baru disadarinya. “Aku tidak tau aku kenapa, aku ingin sesuatu yang aku tidak tau itu apa.” Akhirnya Naura memilih untuk menjawab dengan absurd.
“...”
“...”
Seperti lelucon memang rasanya jawaban Naura itu, tapi dia harus bagaimana karena diapun tidak mau menjawab jujur.
Untungnya Ravael tidak ingin mendesaknya menjawab. Suaminya itu memang begitu, dia tidak akan memaksa Naura menjawab kalau itu menurutnya tidak penting. Makanya alih-alih memaksa Naura, Ravael memilih untuk melonggarkan kerah kemejanya lalu menutup matanya dengan lengan tangannya sebelum kemudian dia memejamkannya.
Semua gerakan itu tidak luput dari perhatian Naura, dari ekor matanya dia mengikuti apapun yang dilakukan Ravael yang mulai tidur disampingnya. Merasa kalau pria itu sudah benar-benar terlelap, Naura duduk menyamping. Dipandanginya wajah tenang Ravael yang tidak jauh berbeda dari ketika Ravael yang kalau lagi bangun.
Tanpa sadar Naura tersenyum kecil karenanya.
Bilanglah dia gila atau berlebihan, tapi buatnya wajah Ravael yang tidak berubah ketika tertidur memang cukup menarik buatnya.
Dulu Naura pernahkan menggambarkan betapa tampannnya Ravael ketika Naura pertama kali bertemu pria itu dalam bentuk nyata. Sekarang ketika dia memperhatikannya lagi lebih teliti, wajah itu memang sangat sempurna kalau menurut Naura. Tidak hanya karena kulitnya putih dan terurus, rahang yang tegas, hidung yang mancung dan bibir merah terlihat sehat. Tapi kesan tenang yang diberikan wajah itulah sebenarnya poin utama yang paing menarik dari wajah Ravael, menurut Naura.
Terlalu fokus memperhatikan wajah Ravael membuat Naura tidak sadar kalau tubuhnya sudah terlalu condong pada pria itu, bahkan jaraknya hanya beberapa centi meter saja dari Ravael. Sampai Ravael tiba-tiba membuka matanya dan tatapan pria itu langsung bertemu dengan tatapannya. Biasanya kalau Naura tertangkap basah seperti ini, dia akan segera menjauh karena salah tingkah. Tapi entah kenapa kali ini dia bertahan dengan memabalas balik tatapan Ravael kepadanya. Sepertinya dia berharap Ravael bisa mengetahui perasannya hanya dengan tatapannya saja karena dia tidak yakin akan berani untuk mengatakannya.
“Nanti malam, mau makan malam diluar?” Tanya Ravael memutus kontak mata mereka.
“Ya?”
“Nanti malam, kita berdua makan diluar.” Ravael mengulang perkatannya. “Bagaimana?”
Senyum Naura muncul dari ear to ear anggukan cepatpun langsung dia berikan. “Tentu saja,” katanya lagi untuk memperjelas jawabannya.
BLANC
Mata Naura menatap seluruh penjuru restoran terbuka tempat dia dan ravael duduk saat ini. Tidak ada yang istimewa tapi cukup untuk membuat senyum selalu terpatri pada wajah cantik Naura.
“Apakah kamu mau menambah ice cream-nya?” Tawar Ravael yang mungkin menyadari Naura menyukai hidangan penutup yang disediakan restoran itu.
Kepala Naura mengangguk cepat, “Iya mau.” Katanya tidak sadar membuatnya terlihat seperti anak anjing yang lagi ada maunya.
Mungkin itulah kenapa Ravael tersenyum kecil sambil mengusap pelan kepalanya, “Kamu disini. Biar aku yang mengambilnya dari sana, sekalian aku mau ke toilet.” Ucapnya lalu berdiri menuju dimana beberapa varian rasa ice cream disusun secara prasmanan.
Sepeninggalan Ravael, Naura langsung menyentuh dadanya yang dirasanya berdetak dengan sangat kuat. Senyumpun semakin mengembang diwajahnya karena dia benar-benar menyukai sensasi yang dirasakannya. Padahal ini bukanlah pertama kalinya Ravael menunjukkan perhatiannya pada Naura, tapi harus Naura akui kalau sejak dia menyadari perasaannya, dia semakin menikmati semua perhatian dan semua perlakuan suaminya itu.
“Selamat malam,” sapa seseorang yang berhasil mengalihkan tatapan Naura dari Ravel.
Kening Naura berkerut samar, bingung karena merasa tidak mengenal orang yang tiba-tiba menyapanya itu. Walau begitu dia berusaha untuk tetap bersikap ramah dengan membalas sapaan orang tadi.
“Selamat malam, ada yang bisa saya bantu?” katanya.
Pria itu tersenyum tipis, lalu mengulurkan tangannya mengajak untuk berjabat.
“Saya Kevin, teman dekat Ravael yang baru saja pulang dari Jerman.”
Dengan berpegang pada pinggiran meja, Naura segera bangun dari duduknya mendengar perkenalan pria itu kemudian diterimanya uluran tangan Kevin. “Saya Naura, istrinya kak Ael.” Jawabnya tanpa beban membalas perkenalan diri pria bernama Kevin itu.
“Kak Kevin ada butuh dengan kak Ael ya? Tapi kak Ael-nya lagi ke toilet.” Jelas Naura pada pria yang tidak menghilangkan sedikitpun senyum dari wajahnya itu.
“Iya aku tau kok, tadi aku melihatnya.” Jawab Kevin yang jelas menimbulkan kebingungan sesaat pada Naura. Dan kebingungan itu semakin besar saat didengarnya Kevin kembali berbicara kalau yang ingin diajaknya berbicara adalah Naura. “Karena aku kesini untuk kamu, bukan Ravael.”
“Untukku?”
“Apakah kamu tidak ingin tau Ravael yang sebenarnya?”
Naura tau kalau saat itu seharusnya dia menjawab tidak pada Kevin karena walaupun pria itu mengaku teman Ravael, tetap saja dia tidak mengenal Kevin secara personal. Tapi hatinya tidak mau bekerja sama dengan otaknya karena tidak ada jawaban keluar dari mulut Naura. Membuat Kevin mengambil kesimpulannya sendiri.
“Besok aku akan datang menjemputmu,” kata pria itu lalu pergi bahkan tanpa sempat ditahan oleh Naura.
BLANC
“Non... non Naura, itu ada tamu non.” Suara Dina yang memanggilnya mengejutkan Naura yang tengah merapikan ranjangnya dan Ravael.
“Tamu?”Tanya Naura kebingungan. “Buat siapa?” Lanjutnya karena merasa dia tidak mungkin punya tamu selain Theresia, Philip atau Nathalie.
Semua orang itu dikenal oleh Dina jadi tidak mungkin dia minta ijin dulu kalau ingin mempersilahkan orang itu untuk bertemu dengannya. Dan pertanyaannya itu segera terjawab ketika ketika Dina menyebut nama orang yang ingin bertemu dengannya itu.
“Katanya namanya Kevin non dan dia udah janjian dengan non Naura sebelumnya,” jawab Dina menunggu Naura memberi persetujuannya.
Namun Naura tidak segera menjawabnya, dia malah melamun karena tidak terpikir olehnya kalau Kevin benar-benar menemuinya. Dia pikir malam itu Kevin tidak serius soal akan menemuinya dan mengajak bicara karena memang tidak ada alasan untuk itu. Lebih wajar rasanya kalau Kevin datang dan mengajaknya bicara saat Ravael juga ikut bersama mereka.
“Non Naura?”
“Oh iya mbok, tolong persilahkan kak Kevin-nya dipersilahkan masuk dan dikasih minum. Aku mau siap-siap dulu,” Ucap Naura akhirnya memutuskan untuk menemui Kevin meski sebenarnya dia merasakan keraguan yang teramat sangat.
Meyakinkan dirinya kalau Kevin tidak mungkin melakukan apa-apa kepadanya, Naura kemudian bersiap-siap. Tidak banyak yang dilakukannya, dia hanya mengganti pakaiannya saja dengan pakaian sederhana namun layak. Hanya itu saja karena dia ingin memiliki alasan yang cukup kalau Kevin mengajaknya ke tempat yang tidak diinginkannya.
“Kak Kevin?”
Naura tidak menemukan Kevin diruang tamunya. Diedarkanya lagi pandangannya untuk mencari sosok itu, namun kembali dia tidak menemukannya. Naura sudah akan mencari mbok Dina untuk menayakan keberadaan Kevin, tapi wanita paruh baya itu duluan yang muncul dihadapan Naura.
“Mbok Dina, kak Kevin-nya dimana mbok?”
“Eh itu mbak Naura, tuan Kevin-nya bilangnya tunggu diluar aja. Katanya non bakal langsung pergi, makanya nggak usah masuk katanya.”
Kembali Naura meragu, apakah dia harus menemui Kevin dan ikut dengan pria itu? Ingin rasanya dia membatalkan janji ini, tapi juga dia penasaran dengan apa yang ingin Kevin katakan padanya karena itu pasti ada hubungannya dengan Ravael.
“Oh ya udah mbok, Naura pergi dulu ya.” Pamit Naura siap ikut dengan Kevin.
“Mbak Naura udah ijin dari tuan belum?”
Naura memasang senyum terpaksa sambil meringis. “Aku perginya hanya sebentar kok mbok,” katanya memberi alasan.
Dina awalnya terlihat ragu untuk memperbolehkan Naura, tapi kemudian dia membiarkan Naura saja karena percaya pada nyonya mudanya itu.
“Ya udah non Naura hati-hati, cepat pulangnya. Ingat non Naura sekarang udah hamil besar, nggak boleh terlalu capek.” Pesan Dina yang dibalas anggukan oleh Naura.
BLANC
“Ini adalah SD, SMP dan SMA dimana aku sama sama Ael sekolah dulu,” tunjuk Kevin terlihat begitu senang mengenalkan sekolah tempat dia bersekolah dulu.
Mau tidak mau Naura ikut senang karena dia memang merasakan ketulusan Kevin dalam menceritakan kebersamaannya dengan Ravael. Mungkin karena itulah Naura dengan mudahnya menurunkan kewaspadaannya pada pria itu. Menerima Kevin dengan terbuka untuk menjadi temannya juga.
Saat ini mereka berada di sebuah warung bakso yang ada di depan di depan sekolah Kevin dan Ravael dulu. Salah satu sekolah terbesar dan terbaik di Jakarta yang SD, SMP dan SMA-nya langsung berada disatu lokasi. Memang seperti inilah mereka sejak tadi, pergi dari tempat yang satu ketempat yang lain mengunjungi tempat-tempat dimana Kevin dan Ravael menghabiskan masa kecil mereka. Dari mulai rumah masa kecil Ravael yang ternyata bersebelahan dengan Kevin sebelum akhirnya pindah, lalu taman yang biasa mereka kunjungi ketika bermain. Tempat nongkrong mereka ketika ingin menghabiskan waktu dan yang terakhir mereka berhenti disebuah perguruan swasta, tempat dimana Ravael dan Kevin sekolah dulu.
“Kamu tau, dulu suami kamu itu adalah siswa yang paling populer di perguruan ini.” Kembali Kevin mulai cerita tentang kebersamaannya bersama Ravael. “Bayangkan saja dia terkenal sejak dia TK sampai SMA.”
“Iya?” Tanya Naura bukan meragukan cerita Kevin, dia hanya ingin pria itu lebih banyak menceritakan tentang Ravael. Intinya Naura ingin mengenal Ravael lebih banyak, meski hanya dari cerita Kevin.
“Hmmm... Dia sangat terkenal, bukan hanya dikalangan siswa tapi dikalangan guru-guru juga. Wajar sih diakan tampan, cool dari kalangan berada pula dan jangan lupakan soal otaknya. Kamu tau kan seberapa pintarnya suami kamu itu?”
Naura mengangguk karena Theresia pernah mencerita soal ini semua.
“Dan seperti siswa terkenal biasanya, dia jadi incaran banyak cewek saat itu.” Lanjut Kevin bercerita, “ah tidak... tidak hanya saat itu, tapi mungkin saat ini juga. Karena saat kuliah di Jermanpun dia selalu menjadi idola banyak wanita. Untungnya ada Patricia, jadi perempuan-perempuan yang mengidolakan Ravael itu tidak begitu mengganggunya.”
Senyum Naura untuk sesaat berubah kaku, namun dengan cepat digantinya raut wajah kakunya itu dengan kembali menyantap bakso miliknya. Kemudian dia memaksakan senyumnya karena sesungguhnya setiap kali dia mendengar nama Patricia, dia masih selalu merasa bersalah pada wanita itu.
“Kamu kenal Patricia-kan?” Kevin terus bercerita terlihat tidak menyadari perubahan raut wajah Naura tadi. ‘Maaf Naura, tapi aku harus melakukan ini.’
Berusaha untuk tetap menampilkan senyum tulus, Naura menganggukkan kepalanya. “Iya aku mengenalnya.”
“Hehehe... Aku sudah menduga, pasti Ravael menceritakan tentang Patricia padamu.”
Naura tersenyum, menundukkan kepalanya sambil mengaduk baksonya. Cara yang paling ampuh menurutnya untuk menghindari tatapan Kevin.
“Kamu tau dulu, Patricia adalah satu-satunya perempuan yang diperbolehkan Ravael untuk dekat dengannya. Mungkin karena itulah kenapa dulu Patricia dijauhi dan dijahati sama anak perempuan lain yang iri dengannya. Makanya aku dan Ravel selalu memberi perhatian lebih pada pada Patricia. Terutama Ravael, dia selalu menemani dan menjaga Patricia sebisanya dia.” Memberikan senyum tipis Kevin lalu lanjut bercerita, “saat itu semua orang yang melihat mereka akan berpikir kalau akhirnya mereka akan bersama. Terlepas dari Patricia yang memang bisa mengimbangi Ravael dalam segala hal, hanya Patricia pula orang yang mampu membuat Ravael melakukan sesuatu yang tidak pernah dibayangkan orang lain. Bayangkan saja, orang se-cool dan tenang Ravael memukuli orang sampai tujuh orang karena mereka menjahati Patricia.”
Menghentikan sejenak ceritanya, Kevin menatap Naura dengan tatapan yang hanya bisa diartikan oleh pria itu sendiri. Kemudian katanya dengan senyum tipis, “Tapi pada akhirnya kita tidak pernah tau siapa jodoh kita.”
Lagi-lagi Naura menundukkan kepalanya untuk menghindari tatapan Kevin yang sebenarnya tidak berubah sedikitpun. Tapi entah kenapa Naura merasa tatapan pria itu penuh dengan penghakiman kepadanya. Membuatnya merasa kecil, tidak layak untuk Ravael dan semakin merasa bersalah kepada Patricia.
Kemudian suasana terasa hening buat Naura. Bukan karena tidak ada suara disana, tapi karena pikirannya terlalu sulit disuruh untuk bekerja sekarang. Hingga semua yang ada pada dirinya sibuk dengan apa yang ingin dia dengar, lihat dan rasakan sekarang.
“Sebenarnya apa tujuan kak Kevin menceritakan ini semua kepadaku?”
Seharusnya sejak awal Naura menanyakan ini, tapi dia terlalu mudah percaya dan membuka diri pada orang, hingga kadang dia lupa setiap orang memiliki niat atau motif ketika melakukan sesuatu.
Kevin tersenyum tipis, senyum yang sama namun memberikan perasaan berbeda untuk Naura karena sekarang Naura baru menyadari ada yang berbeda dari senyum itu.
“Aku ingin kamu melihat sebesar apa rasa cintaku pada Patricia.”
Alis Naura berkerut tidak mengerti.
“Aku adalah orang orang pertama yang bertemu dan kenal Patricia daripada Ravael. Aku pula yang pertama menyukai dan mencintai Patricia, sama seperti Ravael yang selalu memperhatikan Patricia, akupun melakukan hal yang sama meski aku melakukannya dengan diam-diam. Buatku tak apa jika Patricia tidak menyadari perasaanku dan segalanya yang aku berikan kepadanya, asal dia bisa bahagia. Kebahagiaan Patricia ada kebahagiaanku dan kebahagiaan Patricia ada pada Ravael,” ucapan Kevin terputus dengan senyum yang telah hilang dan tatapan tanpa emosi yang tertuju pada Naura.
“Lalu ketika kebahagiaan Patricia direbut, apakah menurutmu akan diam?”
...
“Tidak, aku tidak akan diam.” Kevin tersenyum miris pada dirinya karena sebenarnya dia tengah mengasihani dirinya sendiri saat ini.
“Jadi apa yang kak Kevin ingin aku lakukan? Karena berbeda dengan kak Kevin aku ingin berjuang dengan perasaan cintaku.”
...
“Aku ingin memohon kepadamu untuk meninggalkan Ravael dan mengembalikannya kepada Patricia. Tidakkah kamu merasa bersalah sudah memisahkan orang yang saling mencintai? Bukankah kejam rasanya kamu memperjuangkan perasaanmu pada orang yang belum tentu memiliki perasaan kepadamu?”
...
“Pikirkanlah, lebih baik hanya dua dari pada empat yang menderita karena semua ini.”
BLANC
Dengan mata yang kosong, Naura menatap langit malam yang terlihat lebih gelap dari biasanya. Mungkin karena hanya ada bulan saja yang meneranginya malam ini, membuat suasana terkesan mendung dan suram.
“Langit malam tidak baik untuk kesehatan, kamu tau itukan?”
Tatapan Naura beralih dari langit malam pada Ravael yang muncul dengan selimut ditangannya. Kemudian selimut itu dililitnya ke tubuh Naura untuk menghalangi angin malam bersentuhan langsung dengan kulit Naura.
Semua itu tidak luput dari mata Naura.
“Kenapa kak Ael menyelimutiku, apakah aku kelihatan kedinginan?”
...
Ravael menegakkan tubuhnya yang tadi sedikit merunduk karena memasangkan selimut untuk Naura.
“Tidak, aku tidak melihat kamu kedinginan. Hanya saja aku tau angin malam tidak baik, makanya aku memutuskan untuk menyelimutimu daripada menyuruhmu masuk kedalam.”
...
Untuk sesaat mereka saling menatap setelah jawaban Ravael itu, sampai Naura memutuskan untuk mengakhirinya duluan. Lalu tatapannya dia kembalikan ke langit malam, membiarkan Ravael mengambil posisi disebelahnya. Ikut menatap langit malam yang sebenarnya jauh dari kata indah dalam keheningan.
“Aku dengar, tadi kamu keluar.”
Suara Ravael terdengar setelah beberapa menit mereka lewati tanpa suara.
“Hmmm... aku keluar dengan seorang teman,” jawab Naura dengan sangat tenang.
Kembali suasana hening diantara mereka, seolah percakapan tadi tidak pernah terjadi. Namun lagi-lagi suasana tersebut tidak bertahan lama karena kemudian suara kembali memecah keheningan diantara keduanya. Tapi berbeda dari yang tadi, kali ini Nauralah yang memecahnya.
“Kak Ael tidak ingin tau aku pergi dengan siapa?”
“Apa kamu ingin memberitahunya?” Tanya Ravael tanpa menolehkan matanya pada Naura.
“Tidak.”
Ravael tersenyum tipis.
“Aku tau kamu tidak akan mau memberitahunya, makanya aku tidak menanyakannya.”
Kepala Naura menengadah, wajahnya berubah sendu karena teringat kembali dengan apa yang dikatakan Kevin.
“Kak Ravael,” panggil Naura dengan wajah yang masih menengadah ke langit.
“Hmmm...” jawab Ravael masih melakukan hal yang sama dengan Naura.
Naura tidak melanjutkan kata-katanya. Memilih untuk memberi jeda sebelum menjatuhkan bom untuk dirinya sendiri.
“Aku pikir saat ini aku jatuh cinta pada seseorang.”
...
“Apa kak Ravael tidak ingin tau siapa orang itu.”
...
“Apakah aku harus tau?”
“Aku akan memberitahu kalau kak Ravael bertanya.”
...
“Aku mengantuk, sebaiknya kita tidur sekarang.” Ajak Ravael jelas mengabaikan apa yang baru saja Naura katakan.
Hati Naura mencelus mendapatkan respon seperti itu dari Ravael. Dipikirnya suaminya itu takut dengan pernyataan cintanya karena masih ada Patricia di hati Ravael. Naura tidak tau alasan yang sebenarnya Ravael menghindar adalah karena dia tidak mau Ravael menyebut nama pria lain keluar dari mulut Naura.
Menghela napasnya, Naura tidak bergerak dari duduknya. Dia hanya kembali menegakkan tubuhnya untuk bisa berhadapan dengan baik dengan Ravael. Kemudian dia tersenyum sebelum berkata, “Kak Ael sebaiknya duluan karena aku masih mau disini. Aku butuh waktu untuk menjernihkan pikiranku.”
‘Ya, aku butuh pikiran yang jernih untuk mengambil keputusan.’
BLANC