BLANC 15

2702 Kata
 “Apakah kamu sudah lama menungguku?” Pertanyaan David menyadarkan Naura dari lamunannya. “Eh... kak David sudah datang?” Kata Naura lalu menggeser duduknya dikursi panjang yang ada di taman rumah sakit St Louis. David tersenyum, duduk di tempat yang disisahkan Naura untuknya. Kemudian dia memberikan tas kecil yang berisi pakaian Naura untuknya. “Aku pikir kamu tidak akan bisa pulang sampai beberapa hari kedepan, jadi aku membawakan ini untukmu.” Naura mengambil tas itu kemudian tersenyum, “Terima kasih kak.” Ucapnya tulus kemudian kembali menatap ke depan dengan kosong. Jujur saja sebenarnya Naura sangat merasa lelah karena sejak kemarin malam dia tidak memejamkan mata sedikitpun. Karena setiap kali dia melakukannya, bayangan Dathan yang berjalan pergi ke seberkas cahaya tanpa mau menoleh padanya meski dia telah memanggil dan memohon dan Nathan yang menatapnya dengan sangat dingin selalu menghantuinya. Belum lagi keadan Dathan yang tidak stabil, membuatnya benar-benar tidak bisa istirahat sedikitpun. Kalau bukan karena Ravael yang memaksanya untuk keluar untuk makan dan cari angin, mungkin dia masih dalam ruangan Dathan seperti orang i***t karenan hanya diam melihat Dathan yang tidak sadarkan diri tanpa melakukan apapun. “Bagaimana keadaan Dathan?” Setelah terjadi keheningan beberapa saat diantara mereka akhirnya David memutuskan untuk memecahkannya. ... “Dia belum sadar dari kemarin,” jawab Naura setelah diam untuk beberapa saat. Matanya sendiri masih tetap menatap kosong ke depan karena dia tidak mau David melihat rasa lelah dan rapuh yang dia rasakan saat ini. Kemudian David tidak bertanya lagi dan Naura berterima kasih untuk itu karena sungguh dia tidak mau berbohong kalau sampai pria itu menanyakan apakah dia baik-baik saja. Nyatanya Naura merasa kondisi dirinya baik fisik maupun psikisnya semakin memburuk tiap harinya. Dan Naura tidak yakin kalau dia masih bisa seperti sekarang kalau nantinya sampai terjadi sesuatu kepada Dathan. “Apa menurut kak David, Dathan tidak mau membuka matanya karena ada aku disini?” Naura bertanya seolah pada angin karena dia tidak menolehkan sedikitpun matanya kepada David. ... “Hahhhffftttt...” David menghembuskan napasnya dengan kuat lalu menjawab. “Ra, daripada berpikir seperti itu bukankah lebih baik kamu memikirkan cara untuk menyelesaikan masalah denganmu dan Ravael?” Pertanyaan David berhasil menarik perhatian Naura, hingga kini dia sudah memusatkan perhatiannya pada pria yang sudah menjaganya beberapa tahun ini. “Tidak ada yang perlu diselesaikan diantara kami karena semuanya sudah selesai sejak lama,” jawab Naura yang sebenarnya merasa bitter dengan jawabannya sendiri. Kembali David menghela nafasnya. “Aku tidak tau apa yang kamu maksud dengan selesai, tapi dari apa yang aku lihat you still haven’t finished anything yet.” Balas David tegas karena dia ingin Naura mengerti apa yang sebenarnya ingin disampaikan sejak lama. Kalau bukan karena dia melihat kondisi Naura yang tidak stabil dan pengobatan diam-diam yang wanita itu lakukan secara diam-diam, dia sudah mengatakan ini dari lama. David tau kalau sekarangpun sebenarnya bukan waktu yang tepat untuk mengatakan ini karena sama saja dia menekan Naura, tapi David tidak mau Naura menyesal. “You know, you just run from your problems with Ravael. You are afraid to solve it because you afraid the fact that it might hurt you. Not only that, you also really love him. That’s why you don’t want to really solve your problems with him. You are actually hanging the problem so you can stay connected to him.” BLANC David tidak memperhalus sedikitpun kata-katanya agar Naura sadar apa yang dilakukannya selama ini salah. Sedangkan Naura kini terlihat diam tidak bisa mengatakan apapun karena dia merasa tertampar dengan apa yang dikatakan David. Kemudian David menatap Naura cukup lama sebelum kemudian berkata kembali. “Kamu masih ingat dengan apa yang aku katakan ketika Nathalie ketika dia memintamu untuk melepaskan Ravael lalu kemudian menikah denganku?” Naura tidak menjawab, namun kenangan dimana sahabatnya tengah terbujur lemah di ranjang rumah sakit berputar dikepalanya. Kenangan yang mungkin tidak akan pernah dilupakannya seumur hidupnya karena dia tidak menyangka kalau Nathalie tau kalau Naura pernah menyukai David. Alasan yang kemudian digunakan sahabatnya itu untuk memintanya melepaskan Ravael dan menjadi David. Saat itu Naura tidak tau harus bagaimana menggambarkan perasaannya karena dia merasa terikat hutang budi pada Nathalie. Hutang budi yang berlanjut sampai sekarang karena sampai dia masih tinggal bersama David meski Nathalie telah meninggal satu tahun yang lalu. Hari itu, hari dimana Nathalie menyampaikan permintaan terakhirnya Naura ingat sekali kalau David marah sangat besar. Saking marahnya pria itu tidak datang untuk menjaga Nathalie padahal biasanya pria itu sebisanya melakukan apapun agar dia bisa selalu bersama sabahatnya Naura itu. Nathalie dan Athaya selalu menjadi prioritas utama buat David, jadi ketika pria itu sampai tidak menjaga Nathalie seharian, Naura tau betapa marahnya pria itu. Sampai dihari ketiga akhirnya David datang ke rumah sakit dengan keadaan yang berantakan. “Aku tidak bisa melakukan permintaanmu,” kata pria itu begitu dia memasuki kamar Nathalie dan memeluk sahabat Naura itu. “Akan sangat sakit rasanya disini jika aku harus membohongi diriku dan perasaanku karena ini...” David menunjukkan dadanya pada Nathalie, “tidak bisa berbohong. Cinta bukanlah sesuatu yang bisa kamu tentukan akan kamu berikan kepada siapa. Bahkan jika kamu tau kalau orang itu hanya akan membuat menderita dan menangis, dia akan tetap jatuh jika dia mau.” Kira-kira begitu kata David saat itu dan sekarang Naura mengerti kalimat terakhir pria itu ternyata ditujukan untuknya. “Tapi... bagaimana kalau aku saja yang merasa seperti itu kak. Sedangkan kak Ravael menganggap semuanya sudah selesai denganku?” Tanya Naura tidak lagi membantah David karena dalam hatinya dia hanya bisa membenarkan perkataan pria yang telah dianggapnya kakak laki-lakinya itu. Menghela napasnya, David kemudian menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi yang saat ini mereka duduki. “Be brave, katakan padanya apapun yang kamu pikirkan, apa yang menjadi beban dihatimu dan apa yang kamu harapkan dari dia dan hubungan kalian.” ... “Bagaimana kalau...” “Kecewa adalah salah satu resiko dari setiap harapan. Tapi dari pada terus begantung pada harapan yang semu, lebih baik kamu cari jawaban untuk megambil langkah pasti kedepannya.” Potong David kemudian menggerakkan dagunya kedepan seolah ingin menunjukkan sesuatu. Mata Naura menoleh pada sesuatu yang ditunjuk David dengan dagunya tadi dan dia menemukan Ravael disana yang tengah berjalan sambil memegang sebuah amplop coklat besar. “Pergilah dan temui dia,” ucap David lalu berdiri berniat meninggalkan tempat itu. Namun sebelum dia pergi dia masih sempat berbalik dan berkata, “oh iya aku dan Athaya siap menampung kamu kalau memang hasilnya mengecewakan kamu.” Kata David sambil tersenyum kemudian benar-benar pergi meninggalkan Naura. “Kak Ravael!” “Ravael!” Menarik napasnya, kemudian menghembuskannya. Naura lalu berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah Ravael yang kini tampak berbicara dengan seorang perawat. Tepat ketika dia memanggil pria itu, seseorang juga memanggil Ravael. Seseorang yang menurutnya tidak akan pernah dikalahkannya dalam hidup pria itu, Patricia. Langkah Naura sudah bersiap mundur untuk meninggalkan tempat itu, membiarkan Ravael bersama dengan Patricia karena nyatanya pria itu menoleh diarah dimana Patricia memanggil. Tidak hanya Ptricia yang membuat Naura ingin segera mundur darisana, tapi seorang anak perempuan yang memanggil papa pada Ravael. Dan pria itu menyambutnya dengan mengambil tangan mengulur kepadanya hingga mereka saling berpegangan. Bukankah itu cukup sebai tanda kekalahan bagi Naura? BLANC Tapi ketika Naura pikir Ravael akan menghampiri Patricia, dia salah karena yang dilihatnya saat ini adalah Ravael yang berlari. Melepaskan tangan si anak perempuan tadi tanpa mempedulikan panggilan anak perempuan itu. Pria itu seolah tidak mendengar atau menggubris usaha yang dilakukan Patricia dan anak perempuan tadi untuk menghentikannya. Ravael tetap berlari mengikuti kumpulan perawat dan dokter yang tampaknya dia tau sedang menuju kemana. Naura sendiri telah melupakan keberadaan Patricia segera karena rasa panik dan takut lebih mendominasinya sekarang. Entah kenapa perasaannya tiba-tiba tidak enak, pun dengan jantungnya yang kini berdebar tidak tau kenapa. Naura berlari, berlari mengikuti Ravael yang terlihat tergesa menuju ruangan yang sepanjang kemarin jadi tempatnya menunggui Dathan. Dan ketika mereka disana isakan tangis dan teriakan Theresia yang memanggil nama Dathan adalah hal pertama yang menyambut mereka. Tante angkat sekaligus mertuanya itu juga terlihat meronta minta dilepaskan beberapa perwat yang terlihat menahannya agar tidak masuk kedalam ruangan Dathan. Ravael sendiri berniat masuk ke dalam ruangan Dathan, namun lagi-lagi ditahan oleh perawat yang berjaga diluar. “Dokter Philip meminta agar siapapun tidak boleh masuk ke dalam.” Kata perawat itu menjelaskan alasan melakukan pencekalan terhadap mereka. Ravael ingin membantah, namun Naura yang terlebih dahulu memotongnya. “Ada apa? Apa yang terjadi pada Dathan, anak saya?” Suara Naura bergetar pelan. Kemudian kakinya melangkah pelan menuju pintu ruangan dimana Dathan berada. “Dia tidak apa-apakan di dalam sana. Dokter akan melakukan apapunkan untuk membuatnya sembuh?” Tubuh Naura berputar untuk melihat Ravael karena rasa takut tiba-tiba mendatanginya. Dia takut saat dia membuka pintu, pikiran buruknya akan benar-benar menjadi kenyataan. Itulah kenapa dia mencari jawaban pada Ravael karena dia percaya Ravael akan melakukan apapun untuk keselamatan Dathan. Memang benar selama ini Naura berhasil membuat Nathan jauh dari kedua anaknya, tapi Naura tau betul kalau rasa sayang dan peduli pria itu sangat besar pada anak-anak mereka. CKLEK Belum ada jawaban yang diberikan Ravael kepada Naura saat beberapa dokter keluar dari dalam ruangan Dathan. Tubuh Naura kaku. Darah seolah meninggalkan wajahnya saat didapatinya wajah menyesal yang ditunjukkan dokter-dokter itu. Dan telinga Naura terasa berdenging saat mendengar kalimat yang pernah didengarnya saat dokter juga memberitahukan soal kematian mama papanya. “Maaf kami sudah berusaha, tapi Tuhan...” “TIDAK! DATHAN TIDAK APA-APA.” Potong Naura dengan suara memekik. “TUHAN TIDAK MUNGKIN MELAKUKANNYA LAGI KEPADAKU.” Naura kembali menyangkal dengan suara yang kuat, coba menerobos dokter-dokter didepannya untuk memastikan langsung kondisi Dathan. “Nak, Dathan telah tiada. Ikhlaskan dia agar dia beristirahat dengan tenang.” Jelas Philip setenang dan sesabar mungkin walau sebenarnya pria tua itu juga merasa hancur karena tidak bisa menyelamatkan cucunya sendiri. “TIDAK!” Naura berteriak, kemudian membalikkan badannya untuk meminta dukungan pada Ravael kalau putra mereka memang tidak apa-apa. Dathan masih ada dan belum kemana-mana. Sambil menangis tersedu Naura berbicara pada Ael, seolah sedang mengadu pada pria itu. “Kak Ael, bilang sama papa kalau Dathan masih ada.” Kata Naura lupa kalau sudah 15 tahun dia memasang tembok yang tinggi dan tebal agar tidak pernah terlihat rapuh dimata Ravael. Sambil menarik kemeja bagian depan Ravael, Naura terus menangis dan momohon. “Kak, tolong! Tolong bilang sama papa kalau Dathan tidak apa-apa!” Paksa Naura yang tidak berguna sama sekali karena pria itu begeming. “KAK!” Bentak Naura. “BILANG SAMA MEREKA ANAK AKU NGGAK APA-APA. DIA HANYA TERTIDUR,” lanjut Naura sambil menggelengkan kepalanya yang masih ditanggapi Ravael seperti tadi. “Kak... aku...aku... belum menjadi ibu yang baik buat dia...” rintih Naura pelan. “Tolong jangan biarkan dia pergi sebelum aku melakukan sesuatu sebagai ibu untuknya.” Ravael tetap bergeming mebuat Naura putus asa. “Kak tolong aku... aku mohon,” rintih Naura menangis sambil memohon. Tapi sepertinya itu tidak mampu menggugah siapapun orang yang disana. Bahkan Philip dengan teganya berkata, “Ravael persiapkan acara pemakaman buat Dathan hari ini juga.” Ucap ayah mertuanya itu tanpa peduli Naura yang sudah menangis meraung. BLANC Membuka perlahan matanya yang terasa berat dan pedih, Naura kemudian coba mengenali ruangan tempat dia berbaring saat ini. Dan dia langsung tau siapa pemilik kamar ini karena meski sudah bertahun-tahun tidak memasukinya, ada bagian dari kamar itu yang tidak diubah bahkan setelah dia mengatakan tidak akan tinggal disini lagi. “Nyonya sudah bangun?” Dina, masuk dengan wajah sembab dan pakaian hitamnya yang membuat Naura segera mengangkat lengannya. “Hah...” ejeknya pada dirinya sendiri karena menemukan lengannya tertutup kain siffon hitam bagian dari kemeja hitam yang digunakannya. ‘Apa yang kamu harapkan? Berapakalipun kamu tidak sadarkan diri dan terbangun kembali, kenyataan tidak akan berubah. Dathan telah meninggal dan kamu adalah ibu terburuk yang pernah ada didunia ini.’ Didalam hatinya Naura mengejek dirinya sendiri. Ya, sejak kematian Dathan diumumkan oleh Philip sampai akhirnya putranya itu dimakamkan, Naura sudah beberapa kali jatuh pingsan. Dimulai dari ketika dia melihat tubuh kaku Dathan yang dipindahkan, kemudian ketika putranya itu dimasukkan dalam peti, lalu ketika peti ditutup dan yang terakhir ketika peti Dathan masuk keliang lahat. Naura pernah dalam kondisi ini sebelumnya, kehilangan orang yang dicintainya. Tapi dia tidak merasa seburuk dan se hopeless ini sebelumnya. “Apa nyonya membutuhkan sesuatu? Biar aku siapkan.” Kata Dina lagi yang langsung dijawab Naura dengan gelengan kepala. “Tidak mbok, aku tidak membutuhkan apapun.” Jawabnya dengan lemah karena dia memang merasa tidak adalagi tenaga yang tersisah pada tubuhnya. Dina membungkukkan tubuhnya. “Baiklah nyonya, tapi kalau memang nyonya butuh sesuatu, nyonya bisa panggil saya,” katanya kemudian meninggalkan Naura yang sudah kembali memejamkan matanya. Sepeninggalan Dina, Naura kembali membuka matanya dan menatap kosong pada langit-langit kamar yang pernah ditinggalinya dengan Ravael itu. Kali ini dibiarkannya air mata yang coba dia sembunyikan dari Dina tadi mengalir, tidak peduli kalau itu mungkin air mata terakhirnya karena Naura tidak tau sudah sebanyak apa dia mengeluarkannya beberapa hari belakangan ini. Kalaupun nantinya dia sakit atau terjadi apa-apa karena dia terlalu banyak menangis, dia akan suka rela menerima itu. Naura akan menganggap itu sebagai bagian kecil dari hukuman Tuhan padanya yang telah menyakiti anak-anaknya. Dalam 15 tahun terakhir ini kalau Naura menemukan dirinya terbaring di kamar ini, Naura pasti akan langsung bangkit dan meninggalkan kamar itu secepat yang dia bisa. Tapi untuk sekarang dia tidak bisa melakukannya, selain karena dia tidak memiliki tenaga untuk itu dia juga merasa kalau seharusnya disinilah Naura berada. Sayangnya dia hanya bisa sebentar saja bisa disini karena tempat ini bukanlah tempatnya lagi. Dia yang sudah melepaskannya dan tidak mungkin dia kembali kesini lagi setelah semua yang telah terjadi. Apalagi setelah kematian Dathan, Naura semakin merasa kalau dia benar-benar tidak bisa pulang lagi kesini. Ketika Naura larut dalam lamunannya, tiba-tiba Naura mendengar suara grasak grusuk yang berasal dari kamar Dathan dan Nathan. Takut terjadi sesuatu pada Nathan, Naura memaksakan tubuhnya untuk bangun dan melihat apa yang terjadi disana. Dan lagi sudah 2 hari ini dia tidak melihat putra bungsunya itu karena Dathan benar-benar menjadi pusat perhatiannya dua hari ini, jadi dia ingin memastikan apakah Nathan baik-baik saja karena dia tau diantara mereka pasti Nathanlah yang paling kehilangan dan terluka. “Nathan...” panggilnya serak dan pelan saat dilihatnya Nathan memasukkan barang-barangnya ke dalam koper besar. “Kamu mau kemana?” Nathan tidak menjawab, dia terus memasukkan barang-barangnya tidak menganggap keberadaan Naura sama sekali. Naura sudah akan masuk dan bertanya lagi pada Nathan kenapa putranya itu mengumpulkan semua barang-barangnya, seolah dia akan pergi selamanya dari rumah ini. Namun sebelum dia masuk, Theresia sudah terlebih dahulu menarik lembut tangannya. “Bisakah kita bicara sekarang?” Tanya mertuanya itu dengan wajah yang masih terlihat sembab, lelah dan pucat. “...” “Tolong Ra, ijinkan mama menjelaskan semuanya.” Theresia terlihat memohon agar Naura mau mendengar Kalau nanti setelah mama menceritakan semuanya dan kamu masih merasa kalau mama dan Ravael salah kamu bisa melakukan apapun yang kamu mau.” Theresia terlihat ragu dengan perkataannya. Naura tidak langsung menjawab, dia malah terlihat was-was dan semakin merapatkan dirinya pada dinding pintu kamar Nathan. Ingin rasanya Naura menggeleng karena dia tidak mau mendengar pembelaan Theresia karena jujur saja setelah dia mendengar apa yang Patricia katakan hari itu, bayangan bagaimana Theresia menertawakannya karena dengan bodohnya mudah ditipu dan dimanfaatkan, membuat Naura tidak ingin bicara sama sekali dengan Theresia. “Mama mohon...” kata Theresia yang mau tidak mau melemahkan perasaan Naura. Naura sudah tau akan begini pada akhirnya, kalau dia akan  luluh pada Theresia hanya dengan melihat wajah sedih mertuanya itu. Inilah alasan kenapa dulu dia sempat menyembunyikan dirinya dari Theresia dan Philip, dia tidak mau terlihat mudah bagi keluarga Utama. Karena semarah apapun Naura dengan apa yang telah terjadi, Naura tidak akan pernah benar-benar bisa membenci orang-orang itu. Teringat apa yang David katakan kepadanya, Naura kemudian menarik dan menghembuskan nafasnya pelan. Kemudian dia melihat pada Theresia sebelum mengangguk dengan ragu, “Baiklah,” katanya kemudian berjalan masuk ke kamar darimana dia keluar tadi. Sesampainya di kamar, Theresia tidak langsung bicara. Mertuanya itu malah menatap Naura yang membuat Naura mau tidak mau salah tingkah. “Mama mau bilang apa?” Akhirnya Naura mengambil inisiatif untuk berbicara duluan. Teresia menunduk kemudian mengangkat wajahnya dan tersenyum sendu sebelum melanjutkan apa yang ingin dikatakannya. BLANC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN