BLANC 16

1722 Kata
“Pertama-tama mama ingin meminta maaf soal kematian orangtua kamu.” Kata Theresia kemudian menggigit bibir bagian bawahnya. “Sungguh mama benar-benar menyesal dan merasa bersalah atas kejadian itu.” Kata Theresia terisak lalu kembali menundukkan kepalanya karena dia memang merasa sangat bersalah dan menyesal kepada Naura. Rasa bersalah dan menyesal itu pulalah yang membuat Theresia akhirnya memutuskan untuk mengangkat Naura dari panti asuhan. Theresia merasa bertanggung jawab pada hidup Naura karena dialah penyebab anak itu  menjadi yatim piatu. “Kalau mama memang menyesal dan merasa bersalah, kenapa mama atau papa tidak ada yang datang saat pemakaman mama papa Naura.” Tanya Naura mencoba setenang mungkin agar dia tidak menangis. Kematian mama papanya saat itu benar-benar pukulan yang sangat berat untuknya yang saat itu masih berumur 7 tahun. Apalagi ketika paman dan bibinya mengirim dia ke panti asuhan, membuat dia merasa sebatang kara dan tidak diinginkan. Jadi kalau Theresia merasa menyesal dan bersalah untuknya, bukankah seharusnya waktu itu Theresia atau Philip datang kepemakaman orang tuanya. Nyatanya tidak ada satupun yang datang dari mereka saat itu, membuat Naura sangat membenci pelaku yang menabrak mama papanya, meski dia tidak tau siapa pelakunya saat itu. Hiks... Theresia sesenggukan, namun dia coba menahannya karena dia ingin menyelesaikan ceritanya. “Saat itu mama ada di rumah sakit,” jawab Theresia pelan. “tante harus menjalani perawatan intensif karena selain mengalami luka berat, mama harus menjalani operasi pengangkatan kandungan dan rahim mama.” Tubuh Naura menegang, kepalanya yang tadinya menunduk agar tidak perlu melihat Theresia diangkatnya. “Maksud tante?” Tanya Naura sangat pelan karena hatinya segera mencelus mendengar perkataan Theresia barusan. Theresia tidak langsung menjawab karena dia sebenarnya sangat tidak ingin membicarakan hal ini lagi. Buatnya kejadian itu adalah mimpi buruk yang pernah terjadi dalam hidupnya karena membuatnya kehilangan banyak hal. Tapi dia harus memutar kembali memori itu dikepalanya agar dia bisa menceritakan pada Naura tentang apa yang terjadi. Dia ingin menyelesaikan salah paham ini, meski Theresia tau kalau semuanya sudah berlalu sangat lama sekali. “Waktu itu mama tengah mengandung sembilan bulan, tapi karena papa sedang ada di Jerman jadilah mama tinggal bersama orangtua mama di bandung untuk jaga-jaga. Bodohnya malam itu mama tidak hati-hati saat ke kamar mandi, mama terpeleset hingga ketuban mama pecah. Padahal saat itu mama papanya mama sedang menghadiri acara keluarga, makanya dengan bermodalkan nekat mama mengemudikan mobil sendiri untuk pergi ke rumah sakit terdekat.” Theresia menarik napasnya lalu menghembuskannya sebelum kemudian melanjutkan ceritanya. Cerita bagaimana ia membawa membawa mobil ditengah hujan deras dengan Ravael yang tidur di kursi penumpang disampingnya. Karena terlalu kesakitan akhirnya Theresia mempercepat laju mobilnya karena dia tidak mau melahirkan dalam mobil. Tapi ternyata apa yang dilakukannya itu salah karena ternyata dari arah depan ada sebuah motor yang juga tengah melaju kencang, Dengan kondisi jalan yang licin karena hujan dan keadaan perut yang kesakitan, Theresia kesulitan untuk merem mobilnya. Berusaha untuk menyelamatkan orang yang naik motor itu, dia akhirnya banting setir. Tapi apalah daya malang tak bisa ditolak karena tindakannya itu mobil Theresia bukannya berhenti, mobil Theresia malah berputar-putar menabrak pengguna motor itu sebelum kemudian menabrak pohon besar yang tumbuh dipinggiran jalan disitu. Hingga akhirnya kedua pengguna motor itu terpental, membuat kepala mereka yang tidak dilindungi helm terbentur sangat kuat pada jalan raya. Sedangkan Theresia sendiri yang ada di dalam mobil, dia berusaha keras melindungi Ravael karena dia merasa tidak sanggup lagi mengendalikan mobilnya. Menahan kuat Ravael yang terlihat sangat ketakutan agar tidak terdorong ataupun terbentur. Sayangnya fokusnya pada Ravael membuatnya abai pada dirinya, sampai ketika mobilnya menabrak pohon dengan sangat kuat, perut dan kepala Theresia terbentur sangat kuat pada bagian depan mobil. Saat itu dia tidak sadarkan diri, hingga dia tidak benar-benar tau apa yang terjadi. Yang pasti ketika Theresia membuka matanya dan sadarkan diri, dia sudah ada di rumah sakit dengan keadaan yang mengenaskan. Tidak hanya karena tubuh dan kepalanya yang mengalami luka yang sangat berat tapi juga karena kabar kematian bayi dalam kandungannya dan juga pengangkatan total rahimnya. Semua itu benar-benar hampir membuat Theresia gila karena selain kehilangan anaknya, dia tidak akan bisa memiliki anak lagi selamanya. Hal itu membuat kondisi Theresia semakin buruk setiap harinya, hingga membuat Philip mengambil inisiatif membawa Theresia ke Jerman, Berharap disana Theresia bisa membaik karena mendapatkan pengobatan yang jelas lebih baik dan suasana yang baru. 3 Tahun Theresia, Philip dan Ravael tinggal di Jerman sebelum akhirnya mereka kembali ke Indonesia. Selama di Jerman sebenarnya Theresia dan Philip sudah mulai mengawasi Naura karena Theresia memaksa Philip untuk mencari tau korban yang ditabraknya. Ketika dia tau korbannya adalah pasangan suami istri yang ternyata meninggal di tempat, saat itulah Theresia mulai merasa bertanggung jawab atas Naura. Sepulangnya dari Jerman, Theresia tidak langsung diperbolehkan untuk mengangkat Naura karena dia masih dalam tahap pengobatan. Menurut psychiatristnya kondisi jiwa Theresia harus benar-benar sudah stabil kalau dia memang mau mengangkat Naura. Jadi selama 2 tahun Theresia masih terus menjalani pengobatan sampai akhirnya dia berhasil mengangkat Naura. Mendengar semua cerita itu tangis Naura semakin kuat  karena ternyata bukan hanya dia yang menderita disini, tapi Theresia juga. Dia tidak bilang kalau Theresia tidak salah, tapi kalau dia tau mertuanya ini juga mengalami masa sulit saat itu dia mungkin tidak akan semarah ini. Dan kalau dia tau sebenarnya Theresia juga kehilangan dan terluka sangat parah saat itu, hingga tidak bisa mengikuti pemakaman mama papanya, Naura mungkin tidak akan merasa benci yang teramat sangat pada penabrak mama papanya. Karena ternyata penabrak itu bukannya tidak mengganggap penting mama papanya, penabrak itu hanya tidak bisa melakukannya karena dia pun dalam keadaan tidak berdaya. Naura menangis kuat, sampai dia sesenggukan. “Ta...tante...” panggil Naura tergugu. “Tante... Theresia...” katanya sengaja memanggil mertuanya itu dengan panggilan tante karena sejujurnya dia ingin kembali ke masa dimana semua kerumitan ini belum terjadi. Masa dimana dia merasakan semuanya akan baik-baik saja meski dia tidak memiliki orang tuanya lagi asal dia memiliki Theresia dan Philip bersamanya. “Maaf tante... maaf...” katanya sambil tertunduk begitu dalam karena dia sangat malu setelah mengetahui semuanya. Pikirannya yang terlalu pendek dan egonya yang terlalu besar membuat dia terlambat mengetahui semua kebenaran ini. Seandainya dia dulu tidak mengambil keputusan ketika marah dan sedikit mengurangi ego dan sifat kekanakannya, mungkin semua ini tidak akan berakhir seperti ini. Dia tidak akan menghabiskan waktu 15 tahun dengan sia-sia dan kehilangan banyak hal berharga kalau saat itu dia tidak terus bersembunyi dan menghindari Theresia, Philip dan juga Ravael. “Aku benar...benar salah,” isak Naura. Suara tangis Theresia semakin kuat mendengar permintaan maaf dari Naura itu. Kemudian dia bangkit dari duduknya untuk memeluk Naura karena dia sudah memaafkan semuanya. Terlepas dari apa yang sudah terjadi beberapa tahun belakangan ini, Theresia tidak pernah marah kepada Naura. Dia tetap menyayangi Naura sama seperti sejak pertama kali dia bertemu dengan Naura pertama kali. Penolakan Naura untuk bertemu dengan dia dan keluarganya selama ini tidak membuatnya tersinggung. Bahkan kematian Dathan, Theresia dan Philip tidak pernah menyalahkan Naura atas nasib buruk ini. “Lalu soal kamu dan Ravael, jujur mama berharap kamu sama dia bisa berjodoh. Tapi hanya sebatas itu, mama tidak pernah melakukan apapun yang membuat kalian akhirnya bersama. Memang mama meminta dia bertanggung jawab sepenuhnya padamu setelah apa yang dilakukannya malam itu. Tapi sungguh, menikah denganmu adalah keputusan Ravael sendiri tidak ada pemaksaan dari mama.” Theresia lanjut menjelaskan masalah salah paham yang menurutnya menjadi alasan naura menjauh dari mereka. “Lagipula mama tidak gila untuk menyuruh Ravael untuk memperkosa kamu. Sebaik apapun mama mengetahui emosi Ravael, mama tidak akan mungkin membuatnya melakukan kejahatan apalagi ke kamu.” Menekukkan kakinya, Naura kemudian menyembunyikan wajahnya disana agar Theresia tidak tau betapa menyedihkannya dia saat ini. Dia menyesal, sungguh sangat menyesal karena selama ini dia memang sangat salah selama ini. “Sudah nak, sudah. Segalanya sudah berlalu dan kita tidak bisa mengulangnya lagi,” kata Theresia bijak. “Daripada terus menyesalinya, lebih baik kita memperbaikinya saja.” Naura tidak menjawab, dia terus menangis menyesali semuanya yang telah terjadi. Sampai akhirnya dia merasa bisa menguasai dirinya. “Tapi ma, semuanya sudah telalu hancur untuk diperbaiki. Tidak ada lagi puing-puing yang bisa diperbaiki dari semua ini.” Theresia terdiam, mengerti dengan apa yang dimaksud Naura karena masalah ini sudah terlanjur sangat besar dan berlarut-larut. Tapi menurutnya tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan jika setiap pihak memang berniat menyelesaikannya. “Ra, kamu bisa memperbaiki ini.” Kata Theresia masih dengan memeluk Naura. “Kamu cukup berbicara pada Ravael. Katakan apa yang ada didalam hatimu padanya, lalu kalian bisa cari jalan keluar untuk menyelesaikan masalah ini.” Lagi-lagi Naura tidak menjawab, dia hanya bisa terisak-isak menahan agar tangisnya tidak semakin menjadi-jadi. Walau begitu dia berusaha untuk kembali bicara agar Theresia tau sudah separah apa kondisi hubungannya dengan Ravael. “Kak Ael tidak mungkin bisa memaafkanku ma.” Naura berkata dengan pelan sambil sesenggukan kecil, “Banyak hal yang sudah aku lakukan yang membuat kak Ael pasti sangat membenciku sekarang. Apalagi sekarang kami sudah kehilangan Dathan,” suara Naura semakin mengecil ketika mengucapkan nama Dathan. ... Kalau soal Dathan, Theresia tidak sanggup mengatakan apapun soal itu karena ada satu sisi dalam hatinya yang menyalahkan Naura dan Ravael atas kematian cucunya itu. Hanya sedikit saja perasaan itu karena dia sangat sadar kalau kematian seseorang itu ada ditangan Tuhan. Itulah kenapa bahkan sampai sekarang dia masih berusaha menjelaskan semuanya pada Naura karena dia masih ingin wanita itu menjadi bagian dari keluarga mereka. Melepaskan pelukannya pada Naura, Theresia kemudian memberikan tepukan ringan di bahu Naura. “Bicaralah dengan Ael nak. Masalah kalian ini berasal dari kesalahpahaman, jadi mama yakin kalian bisa menyelesaikannya jika bicara dari hati kehati.” Theresia tersenyum agar Naura percaya kalau dia serius dengan yang dikatakannya. Kali ini dengan senyum lang lebih lebar Theresia berkata, “mama kasih tau satu rahasia buat kamu agar kamu berani bicara dengan Ravael.” Kening Naura mengkerut tipis bingung dengan apa rahasia yang ingin diberitahukan Theresia kepadanya. “Ravael mencintai kamu.” ... Mata Naura mengerjap. “Maksud mama?” Tapi Theresia tidak menjawab Naura, dia hanya tersenyum sebelum kemudian meminta ijin membawa Nathan tinggal bersama mereka. Dan Naura hanya bisa setuju karena Theresia sudah mendapat ijin dari Ravael dan mama mertuanya itu juga berhasil meyakinkannya kalau inilah yang terbaik untuk Nathan. Menurut mertuanya itu Nathan butuh waktu dan suasana baru untuk menyembuhkan dirinya dari kehilangan Dathan. Lagipula menurut Theresia, Naura dan Ravael perlu memperbaiki hubungan mereka dulu sebelum mereka memperbaiki hubungan mereka dengan Nathan. BLANC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN