BLANC 8

3322 Kata
“Mbok Dina, tadi kak Ael ada pesan sesuatu nggak sama mbok Dina?” Tanya Naura yang tampak jauh lebih segar dari hari-hari sebelumnya. Wanita yang dipanggil mbok Dina itu tampak berpikir sebentar, lalu menggeleng yakin kalau sang tuan memang tidak memesankan sesuatu padanya. “Nggak ada mbak,” jawab Dina. “Tadi tuan hanya bilang kalau dia akan usahakan pulang seperti biasa, saya hanya ditugaskan untuk belanja. Untuk makan malam, tuan yang akan memasakkan.” Ucap wanita 30 tahunan itu yakin karena memang sejak dia mulai bekerja di rumah Naura dan Ravael, dia hanya bertugas bersih-bersih dan masak untuk makan siang. Sedangkan untuk sarapan dan makan malam, biasanya akan dikerjakan oleh sang tuan sendiri. “Oh gitu,” kata Naura sedikit kecewa. “Ya udah deh mbok,” katanya lagi sambil menyunggingkan senyum tipis. “Memangnya ada mbak?” Tanya Dina karena menyadari kekecewaan pada wajah sang nyonya muda. Naura tersenyum tidak enak, lalu menggelengkan kepalanya kecil. “Nggak penting kok mbok, hanya soal buku panduan merajut saja.” Jawabnya  kemudian menggaruk belakang kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. “Apa mau saya belikan saja?” Dina menawarkan diri. Namun segera ditolak oleh Naura karena tidak mau merepotkan dan membuat lelah wanita yang jelas lebih tua darinya itu. Dina boleh saja hanya berstatus pembantu rumah tangga dirumahnya dan Ravael, tapi bukan berarti Naura bisa berbuat sesuka hatinya. Sama seperti orang tua lainnya, Naura memperlakukan Dina dengan baik dan hormat. Naura cukup sadar diri kalau dia bukan siapa-siapa yang bisa memandang rendah orang lain. “Nggak usah mbok, biar Naura yang beli sendiri aja.” “Tapi mbak Naura kan tidak boleh keluar sama tuan.” Balas Naura mengingatkannya soal peraturan yang dibuat Ravael padanya. Tapi kalau dipikir-pikir lagi sebenarnya itu bukanlah sebuah peraturan karena seingatnya Ravael hanya bilang seperti ini kepadanya, ‘kamu tidak boleh keluar sembarangan. Kalau mau sesuatu atau kemana-mana harus ijin padaku.’ Naura masih ingat kalau dia hanya diam saja tanda setuju ketika Ravael mengatakan itu padanya karena memang dia sadar tidak akan pergi kemana-mana. Mau kemana lagi dia memangnya pergi ? Dia tidak mempunyai tempat yang perlu dia datangi tanpa ijin dari Ravael karena dia tidak kuliah atau bekerja lagi. Makanya Naura hanya bisa setuju secara tidak langsung pada apa yang dikatakan oleh pria itu. “Aku bisa kok mbok keluar, asal ada ijin dari kak Ael.” Jawab Naura pada wanita paruh baya yang baru bekerja beberapa hari dirumahnya mereka itu. “Ohhh, ya udah mbak.” Katanya Dina mengangguk lalu bersiap mengangkat ember yang berisi air dan kain pel yang digunakannya untuk membersihkan semua lantai di rumah itu. Seperginya Dina, Naura tampak berpikir bagaimana dia bisa mendapatkan buku panduan merajutnya karena dia tidak ingin membuat rajutan yang sudah sering dia buat. Naura sedang ingin mencoba membuat sesuatu yang baru, seperti sepatu dan sarung tangan contohnya. Padahal dia sudah mengatakannya soal buku ini kemarin pada Ravael, tampaknya pria itu lupa makanya Naura belum mendapatkannya. Bicara soal hubungannya dengan Ravael, sebenarnya Naura belum bisa memutuskan harus bagaimana dia menjalani kehidupan pernikahannya. Dia sudah menggunakan banyak waktunya untuk memikirkan semuanya untuk membuat keputusan masa depannya, tapi dia tidak bisa sama sekali. Nyatanya semakin dia memikirkannya, maka semakin bingunglah dia. Itulah kenapa dia akhirnya  memutuskan untuk membiarkan hidupnya mengalir sesuai dengan arusnya. Walau sudah memutuskan begitu, tidak banyak yang berubah pada hubungannya dengan Ravael. Mereka masih tidur di kamar yang berbeda dengan Ravael yang selalu membantunya setiap kali pusing dan mualnya berulah. Hanya cara mereka berkomunikasi saja sepertinya  yang berbeda dari mereka. Jika sebelumnya Naura masih menahan dan membatasi dirinya pada Ravael, sekarang dia bisa sedikit lebih terbuka pada pria itu. Tapi Naura tidak bisa membohongi dirinya, kalau ada sesuatu yang berbeda yang dia rasakan pada Ravael setelah hari mereka membicarakan tentang perasaan itu. Entah kenapa ada sesuatu dalam hati Naura yang menyuruhnya percaya kalau berpegang pada Ravael adalah pilihan terbaik. Soal perasaannya pada Ravael, apalagi setelah yang dilakukannya malam itu. Naura sudah memikirkan hal ini dan dia mengambil kesimpulan kalau dia tidak pernah benar-benar benci pada Ravael. Ya dia yakin kalau apa yang dirasakannya pada Ravel setelah malam kelam itu bukanlah rasa benci karena yang Naura tau, ketika dia membenci seseorang perasaan itu tidak akan berkurang hanya karena berjalannya waktu. Biasanya butuh pembalasan dan pengampuanan yang benar-benar tulus agar perasaan benci bisa hilang. Sedangkan yang dirasakan Naura setelah semua yang dilakukan Ravael padanya malam itu, jelas hanyalah sebuah kemarahan. Karena pada akhirnya dia hanya ingin bebas dari kehidupan Ravael dan kemudian melupakan semuanya. “Jam 11,” Naura berucap setelah dilihatnya jam yang bergantung dikamarnya. “Kalau aku pergi sekarang, aku pasti bisa pulang sebelum jam 5.” Naura memperkirakan berapa lama kira-kira waktu yang dibutuhkannya kalau dia pergi sekarang. Kalau Naura pulang belakangan, dia sangat yakin kalau Ravael akan menjemputnya. Dan Naura tidak mau itu karena dia tau betapa lelahnya Ravael, mengingat betapa sibuknya pria yang sedang mengambil spesialis bedah tersebut. “Sepertinya nggak apa-apa ya kalau aku pergi.” Sugesti Naura pada dirinya. “Kemarin dokter juga bilang kalau semuanya baik-baik saja, masalahku hanya pusing dan mual saja. itupun sudah berkurang.” Naura seolah mencari pembenaran atas niatnya. Yakin kalau dia tidak akan apa-apa kalau memang dia benar-benar pergi, Naura kemudian bersiap-siap. Digantinya baju tidurnya dengan gaun sederhana berwarna coklat, disampirkannya tas kecil kepundaknya, sedangkan rambut panjangnya hanya diikatnya tinggi. Wajahnya sendiri dia biarkan tanpa riasan meski itu membuatnya tampak pucat. Yakin kalau penampilannya sudah cukup baik untuk keluar, dia lalu turun dari tangga dengan sangat pelan dan hati-hati. Bukan pintu rumah tujuan utamanya, tapi telepon rumah yang berada posisinya dekat dengan tangga. Kemudian diangkatnya gagang telepon itu sebelum kemudian dia menekan beberapa nomornya. Dering pertama tidak ada yang menerima. Pun dering kedua, tetap tidak ada yang mengangkat dari seberang sana.  Begitu juga dengan dering ketiga, hingga membuat Naura akhirnya menyerah. ‘Mungkin kak Ael sangat sibuk saat ini,’ katanya kemudian mengembalikan gagang teleponnya. Padahal dia hanya ingin minta ijin, ‘Kalau sudah begini aku harus bagaimana?’ Katanya Naura kebingungan sendiri. Sampai dia melihat sosok Dina yang menyapu halaman samping rumah dia dan ravael. “Mbok Dina!” Panggilnya  menghampiri wanita paruh baya itu. “Loh mbak Naura?” Dina bingung melihat penampilan yang tampak siap keluar. “Mbak Naura mau kemana mbak?” Tanya Dina akhirnya. “Aku mau pergi ke toko buku mbok,” kata Naura ragu. “Udah dapat ijin dari tuan Ael mbak?” Tanya Dina yang memang dikasih penuh kepercayaan oleh Ravael untuk mengurus Naura selama pria itu berada di luar. Kepala Naura menggeleng dan langsung menjelaskan niatnya sebelum Dina membujuknya untuk membatalkan rencananya. “Sebelum ketoko bukunya, aku pergi ke rumah sakit kak Ael dulu kok mbok buat minta ijin. Toh dari sana jarak kedua tempat itu nggak jauh kok.” Dina tersenyum dan mengangguk setuju. “Non naik apa kesana?” Dina bertanya untuk memastikan Naura baik-baik saja sampai ketujuan. “Naik angkot mbok,” jawab Naura tanpa beban. Makanya sebelum Dina melarangnya, dia segera pergi meninggalkan pekarangan rumahnya dan berjalan menuju persimpangan jalan. Disanalah Naura akan menunggu angkot yang dia tau bisa membawanya ke rumah sakit tempat Ael praktek. Seharusnya Naura tidak melakukan itu karena daripada melarang Naura naik angkot, Dina lebih ingin memintanya membawa payung karena kondisi langit sudah sedikit mendung. BLANC Dan sekaranng Naura hanya bisa berdiri seperti orang bodoh di depan rumah sakit tempat Ravael bekerja. Dia tidak berani untuk masuk ke dalam karena dia yakin kalau dia akan diusir bila dia masuk dalam keadaan seperti ini. Jangankan orang yang ada dalam rumah sakit, orang yang di luar bersamanya saja melihatnya dengan tatapan yang bermacam-macam. Tatapan yang jujur saja membuatnya tidak nyaman sama sekali karena sebagian besar dari tatapan itu seolah sedang mencemoohnya. Salahnya sendiri memang karena tidak memperhatikan cuaca tadi. Jadi dia harus kehujanan saat turun dari angkot dan harus berjalan ke daerah rumah sakit langsung karena disana tidak ada tempat untuknya singgah berteduh terlebih dahulu. Tubuhnya menggigil kedinginan. Pusing dan mual yang biasanya hanya  dia rasakan saat dini dan pagi hari, tiba-tiba saja muncul. Dengan mengepalkan tangannya kuat, Naura berharap bisa menahan pusing dan mualnya, tapi ternyata itu tidak cukup. Dia baru akan menyanggahkan tubuhnya di tiang besar penyangga rumah sakit. Tapi tiba-tiba saja tubuhnya berulah. Huekss… Naura tidak dapat menahan dirinya, dia muntah ditempat yang tidak pernah dibayangkannya sebelumnya. “Apa yang dia lakukan?” “Euh, itu menjijikkan.” “Kasihan. Apakah aku perlu mengantarnya kedalam?” Naura bisa mendengar bisik-bisikan samar dari orang-orang yang ada disana, hingga membuatnya tidak berani mengangkat kepalanya. Dia terlalu malu untuk untuk menghadapi tatapan mata yang sebenarnya tidak hanya mencemooh dia, tapi ada juga yang mengasihaninya. Hanya saja rasa kasihan itu hanya sebatas sampai di mata dan ucapan saja. Nyatanya tidak ada orang yang benar-benar mau datang menolongnya dan menunjukkan rasa kasihannya dalam bentuk perbuatan. Ketika Naura sibuk dengan pikiran dan rasa malunya, tiba-tiba saja dia merasa seseorang mengangkat tubuhnya. “Maaf kalau istri saya membuat ketidaknyamanan untuk anda semua. Ini akan dibersihkan sebentar lagi.” Kata pemilik suara tenang itu pendek sebelum kemudian dia berjalan masuk ke dalam bangunan rumah sakit. “Kak Ael, aku…” “Kita bicara nanti.” “Tapi…” Seketika Naura berhenti karena untuk yang pertama kalinya dia melihat tatapan tenang Ravael terlihat sangat dingin menatapnya. Pada akhirnya hari ini Naura tidak berhasil mendapatkan buku merajut yang dia inginkan. Apa yang didapatnya malah rasa malu karena keteledoran dan juga sikap abainya. BLANC “Eung...Kak Ael,” Panggil Naura ragu pada pria yang tampak sibuk dengan beberapa lembaran kertas ditangannya. Ravael mengangkat kepalanya, diangkatnya sedikit alis matanya tanda mempertanyakan apa maksud keberadaan Naura dikamarnya. Dan Naura bisa mengerti itu, pasalnya ini adalah untuk pertama kalinya dia yang datang sendiri ketempat Ravael. Biasanya dia lebih memilih menunggu Ravael di luar kamar atau ruang kerja Ravael jika dia menginginkan sesuatu. “Ada apa?” tanya Ravael. Tangan Naura menggaruk kepala bagian belakangnya yang sesungguhnya tidak gatal sama sekali. Tanda kalau dia sebenarnya ragu untuk menyampaikan maksudnya harus sampai  datang ke ruang kerja Ravael. “Apakah aku boleh keluar?” Akhirnya Naura memutuskan untuk mengatakan apa maunya walau dia yakin kemungkinan besar Ravael menolak maunya itu. Pasalnya dia sudah membuat kekacauan beberapa hari yang lalu dengan pergi ke luar rumah, lalu kehujanan sampai akhirnya jatuh sakit. Memang Ravael tidak mengatakan hal apapun tentang kekacauan yang dilakukannya ini, tapi Naura cukup sadar diri kalau dia memang salah. Jadi sejujurnya Naura sudah pasrah kalau seandainya Ravael tidak semudah itu memberikannya ijin jika dia ingin pergi keluar, seperti sekarang. Ayolah, hari itu Naura tidak hanya mempermalukan dirinya saja, tapi juga mempermalukan Ravael di tempat kerjanya. Yang lebih fatalnya lagi, dia membahayakan dirinya dan baby di dalam rahimnya. Memang pada di awal-awal, sangat sulit buat Naura menerima kehamilannya. Tapi seiring berjalannya waktu, Naura belajar menerima semua yang terjadi padanya termasuk janin dalam rahimnya. Makanya selain merasa bersalah kepada Ravael, Naura juga merasa bersalah pada mahluk yang tengah menggantungkan hidup pada dirinya tersebut. “Kamu mau kemana?” Naura pikir Ravael akan langsung mengelengkan kepalanya atau mengatakan ‘tidak’ setelah kekacauan yang dia buat. Tapi ternyata suaminya itu belum menunjukkan tanda-tanda penolakan atas permintaan ijin untuknya tadi. “Aku mau bertemu dengan temanku.” Jawabnya masih dengan setengah ragu. “Boleh?” “Apakah harus?” Lagi, pertanyaan Naura dibalas dengan pertanyaan oleh Ravael. Naura tidak langsung menjawab, dia berpikir apakah dia harus mengatakan pada Ravael apa alasannya bertemu dengan Nathalie hari ini. Rasanya sungguh memalukan buat Naura kalau dia bilang ingin bertemu temannya untuk membayar hutangnya. Masih ingatkan kalau dia pernah meminjam sejumlah uang pada Nathalie pada masa pelariannya? Tapi akhirnya Naura memilih untuk jujur karena uang yang akan digunakannya untuk membayar uangnya itu datang Dari Ravael. Ya walaupun secara tidak langsung. “Aku ingin membayarkan hutangku padanya.” Jawab Naura lalu menundukkan kepalanya sekaligus menggigit bibir bagian dalamnya. Sungguh dia benar-benar malu dengan hutangnya itu, makanya dia menghindari tatapan Ravael. Apalagi pria itu belum juga membuka mulutnya, sehingga Naura tidak tau harus bagaimana. Apakah dia harus pergi darisana atau tetap menunggu sampai Ravael memberikannya ijin. “Baiklah, kamu boleh pergi.” Kata Ravael memberi ijin. Kepala Naura terangkat cepat, “Benarkah?” Tanya Naura tidak yakin dengan hasil pendengarannya. “Iya, boleh.” Jawab Ravael tanpa ragu. “Tapi,” Naura sudah akan mengucapkan terimakasih karena tidak menyangka Ravael akan memberikannya ijin semudah itu. Namun ucapan itu terhenti ketika mendengar kata ‘tapi’ dari suaminya itu. “Aku akan ikut bersamamu.” … “Ya?” Setelah sadar dari keterkejutannya, Naura bertanya untuk kembali memastikan kalau dia memang tidak salah mendengar. “Kak Ael mau ikut?” “Iya.” “Untuk apa?” Tanya Naura cepat karena jelas dia tidak mau Ravael ikut dengannya. Ravael melihatnya lama, barulah kemudian dia menjawab. “Setelah apa yang terjadi hari itu, apa kamu pikir aku akan membebaskan pergi begitu saja? Lagipula aku adalah suamimu, itu artinya aku yang harus membayarkannya untukmu.” “Tapi kak…” “Mau atau tidak?” Naura menghirup banyak udara, sebelum kemudian menghembuskannya kuat. “Baiklah.” Naura akhirnya mengalah karena dia tau kalau dia tidak akan bisa bertemu Nathalie kalau tidak menyetujui syarat dari Ravael. BLANC “Nathalie,” Panggil Naura pada temannya yang sudah duduk di sebuah restoran tempat mereka janjian. Gadis yang dipanggil Nathalie oleh Naura itu memutarkan tubuhnya kemudian tersenyum. “Hai Ra,” sambut temannya itu kegirangan. Gadis itu bangun untuk menyambut Naura sebelum kemudian memeluknya. “Aku benar-benar khawatir kepadamu.” Kata Nathalie sambil membawa Naura untuk duduk di kursi yang berhadapan dengannya. “Oh iya, ngomong-ngomong kamu mau pesan apa?” Nathalie memberikan menu yang ada dipinggir meja ke Naura. Memperhatikan daftar makanan beserta harga yang dibuat di daftar menu, Naura kemudian membalikkan daftar menu itu ketempat semula. “Aku maunya minum aja,” kata Naura karena tiba-tiba saja dia merasa tidak selera untuk memakan apapun. “Mmm baiklah,” jawab Nathalie menyetujui meski sebenarnya dia ingin memaksa  Naura untuk makan karena tubuh Naura sedikit lebih kurus dari yang dia lihat sebelumnya. “Ngomong-ngomong, kamu datang kesini menggunakan apa?” Nathalie bertanya walau sebenarnya dia sudah bisa menebak kalau angkot atau bus kota mungkin adalah jawabannya. Tapi dia hanya ingin memastikannya saja karena dia berniat memberi tumpangan saat pulang nanti. “Aku datang bersama kak Ael,” Jawab Naura sambil meminum minumannya yang baru saja diantarkan. “Ael?” Tanya Nathalie dengan kening mengkerut. “Bukankah itu nama kakak angkatmu?” Kepala Naura mengangguk mengiyakan. “Huh? Bukankah kamu bilang kalau kamu...” “Aku sekarang sudah menikah dengannya.” Potong Naura cepat karena dia tidak ingin Nathalie salah paham dengannya. Setidaknya diantara banyak orang, Nathalie adalah salah satu orang yang ingin Naura percaya jadi memilih untuk jujur. Ya walaupun dia tidak akan mengatakan sedetail itu karena dia tidak mau Nathalie salah paham padanya. Atau malah mengasihani dia karena ini adalah pilihannya, Naura tidak mau Nathalie menganggapnya salah. “Menikah? Tapi bagaimana bisa?” Dengan tersenyum, Naura berusaha menyembunyikan semuanya. “Ohhh... jangan-jangan kamu minta keluar dari sana karena sadar jatuh cinta pada kakak angkatmu. Terus kamu berpikir dia tidak mungkin membalas perasaanmu, tapi ternyata dia juga punya perasaan yang sama denganmu. Makanya akhirnya dia mengejar kamu dan  akhirnya kalian menikah.” Naura tertawa geli mendengar karangan bebas Nathalie dan dia membiarkan imajinasi temannya itu begitu saja. Mana mau Naura mengatakan kalau dia diperkosa hingga akhirnya hamil sampai akhirnya mereka menikah. “Oh iya, aku juga ingin memberitahumu sesuatu.” Masih dengan mode kegirangan Nathalie berbicara pada Naura. “Kamu kenal dengan David Pramudiaji nggak?” David Pramudiaji. Hanya satu David Pramudiaji yang Naura kenal, yaitu David Pramudiaji yang berhasil merebut hatinya bahkan sejak dia kecil. Pria yang menjadi cinta pertamanya, pria yang Naura sadari tidak akan pernah bisa dimilikinya selamanya. Jika dulu David tidak bisa dimilikinya karena status soal mereka yang berbeda, sekarang dia tidak bisa memiliki pria itu karena dia sudah menikah dengan pria lain. “Yang anak semester 9 itu?” Tanya Naura pura-pura menebak yang diangguki oleh Nathalie dengan sangat cepat. “Iya David yang itu.” Nathalie tampak kesenangan Naura mengenal orang yang dimaksudnya. “Ada apa dengannya?” Tanya Naura berusaha terlihat untuk tidak tertarik karena tidak mau temannya itu curiga kepadanya. “Aku jadian dengannya.” ... “Kamu tidak menyangkakan?” Nathalie tampak sangat kesenangan hingga tidak menyadari perubahan pada wajah Naura. “... mengantar aku sore itu. Disitulah...” “Nath, aku ke toilet sebentar boleh?” Naura memotong cerita Nathalie tanpa sadar karena Naura sebenarnya tidak mendengar lagi apa yang dikatakan temannya itu setelah dia memberitahukan tentang hubungan mereka. Tapi saat Naura hendak bangun dan pergi dari sana, tubuhnya berhenti bergerak saat David datang menghampiri mereka. “Hi Nath, maaf aku datangnya terlambat.” Sapa pria itu sebelum mengecup pipi Nathalie. Kaku rasanya tubuh Naura melihat itu. Walau begitu Naura dengan cepat menguasai dirinya karena dia tidak mau Nathalie menyadari ada yang salah pada dirinya. “Padahal aku baru bicarain kak David sama teman aku loh,” kata Nathalie. “Oh iya kak dia ini...” “Naura,” David yang terlebih dahulu mengucapkan nama Naura. Meyembunyikan kesenduan hatinya, Naura kemudian tersenyum lebar pada David. “Kamu sepertinya lupa Nath, kak David pernah mengambil kelas yang sama dengan kita dan dia duduk disebelahku.” Terang Naura agar Nathalie tidak perlu menanyakan bagimana mereka bisa saling mengenal. “Oh ya?” Naura mengangguk, sedang David sudah duduk di salah satu kursi yang ada di meja mereka. “Aku bahkan tidak menyadarinya. Bodohnya aku,” Nathalie menepuk keningnya pelan. “Ngomong-ngomong kak David, bukankah kamu bilang kamu akan datang bersama kakak sepupumu?” Nathalie memutar tubuhnya seperti mencari sesorang. “Lalu dimana dia?” “Iya, aku memang datang bersama mbak Cia.” Jawab David seraya memeriksa jam tangannya. “Tapi dia bertemu seseorang di luar sana dan dia memintaku untuk duluan kesini,” terang David. “Baiklah kalau begitu.” Nathalie mengangguk lalu mengalihkan tatapannya pada Naura. “Bagaimana dengan suamimu Ra? Aku lupa menanyakannya kenapa kamu tidak datang bersamanya kesini.” Mendengar pertanyaan Nathalie membuat Naura teringat janjinya pada Ravael tadi. Tadi Ravael memang tidak menetapkan berapa lama Naura boleh pergi, tapi dia sendiri yang berjanji akan kembali dalam 10-20 menit agar bisa menemui Nathalie tanpa ditemani suaminya itu. Seketika dia panik dan dengan cepat diambilnya amplop yang berisi sejumlah uang yang tadi diberikan Ravael kepadanya. “Nath maaf sepertinya aku harus segera pergi karena kak Ael menungguku di luar.” Katanya sambil meyerahkan amplop ditangannya pada Nathalie. “Tunggu Ra, tapikan kita baru bertemu sebentar.” Tolak Nathalie karena menurutnya ini terlalu cepat dan terburu-buru. Naura meringis, merasa tidak enak. “Bagimana kalau aku ikut menemui kak Ael buat memintakanmu ijin.” Tawar Nathalie karena dia memang ingin menghabiskan banyak waktu dengan Naura yang dia tau akan sulit dia temui. Ingin rasanya Naura mengatakan tidak karena sesungguhnya dia tidak ingin berlama-lama dengan Nathalie dan David. Bukan karena dia tidak suka dengan keduanya setelah dia tau apa hubungan temannya dan cinta pertamanya itu. Hanya saja Naura tidak yakin bisa tahan jika bersama kedua orang itu untuk sekarang karena bagaimanapun Naura tetap merasa sakit. Memang sakitnya tidak sesakit patah hati orang biasanya karena sejak dulu Naura sudah menekankan pada dirinya kalau dia tidak akan pernah bersama David. Tapi tetap saja dia membutuhkan waktu untuk menerima semuanya atau lebih tepatnya melepas semuanya. Naura sadar kalau untuk kali ini dia harus bisa melepas semua perasaannya itu agar dia tidak melukai Nathalie. “Naura, gimana?” Nathalie bertanya. Lamunan Naura terpecah, kini dia merasa dilema. Lama Naura diam sampai akhirnya dia mengambil keputusan. “Tidak, biar aku saja yang pergi minta ijinnya.” Kata Naura lalu bangun dari duduknya. Kemudian Naura pergi dimana Ravael berkata akan menunggunya. Namun Naura masih belum sampai ketempat dimana pria itu menunggunya, langkah Naura berhenti. Dari tempatnya yang posisinya sebenarnya tidak begitu jauh dari Ravael, dia melihat seorang wanita memeluk Ravael. Dan wanita itu adalah Patricia. BLANC   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN