“Kamu duduk disini, baju gantimu biar aku ambilkan.” Kata Ravael setelah dia mendudukkan Naura di atas ranjangnya.
Naura tidak menjawab karena rasa mual dan pening sedang mendominasinya saat ini. Jadi dia merasa tidak memiliki tenaga untuk melakukan hal lain, termasuk berbicara atau menggerakkan sedikitpun bagian tubuhnya untuk memberi jawaban.
“Ini minyak kayu putihnya dan ini pakaianmu.”
Setelah menyerahkan itu semua, Ravael keluar dari kamar milik Naura. Pria itu seolah memberikannya kesempatan untuk mengganti bajunya. Memang saat ini mereka berdua sudah sah menjadi suami istri, tapi itu bukan berarti Naura mau dilihat dalam keadaan telanjang oleh Ravael. Seperti kata pria itu sebelum mereka menikah, Naura bebas meminta dan melakukan apapun, jadi bagaimana rumah tangga mereka berjalan, itu murni sesuai dengan keinginan Naura.
Tokkk…tokkk…tokkk…
Suara ketukan itu mengalihkan perhatian Naura dari kancing daster tidur yang dia gunakan. Tau siapa orang di balik pintu itu, dengan cepat dikancingkannya kancing yang masih terbuka. “Masuk,” katanya kemudian setelah dia yakin semuanya sudah baik.
“Aku bawakan kamu teh lemon jahe.” Ravael datang bersama segelas teh lemon jahe yang kemudian diletakkannya di nakas sebelah ranjang Naura. “Apakah kamu membutuhkan sesuatu lagi?” Tanya Ravael yang langsung dibalas Naura dengan gelengan.
“Tidak.” Katanya setelah gelengan itu.
“Baiklah kalau begitu,” ucap Ravael siap beranjak dari kamar Naura. “Aku akan membuka pintu ini. Jadi kalau ada sesuatu aku bisa segera membantumu.”
Kepala Naura mengangguk, sebagai jawaban. Setelah itu Ravael pergi dari kamarnya dengan keadaan pintu kamar yang terbuka.
Dia tau kalau dia sedang bersikap kurang ajar dan tidak sopan sekarang, tapi sungguh dia tidak sengaja melakukan itu. Kepalanya yang pusing dan perutnya yang bergolak ingin muntah setiap kali membuka mulutnya membuat Naura seperti itu. Terlepas dari apa yang telah dilakukan Ravael kepadanya, Naura masih menghormati Ravael. Entah kenapa Naura merasa ada sesuatu pada diri Ravael yang membuatnya tidak bisa memperlakukan pria itu dengan seenaknya.
1 Minggu sudah berlalu sejak pernikahannya dan Ravael diselenggarakan. Tidak ada pesta resepsi besar, meski Ravael adalah putra Philip, salah satu dokter bedah terbaik dan pemilik salah satu rumah sakit terbesar dan terbaik di Indonesia. Jangankan sebuah resepsi besar, resepsi kecilpun tidak ada karena Naura yang menginginkannya begitu. Jadi dia dan Ravael hanya menerima pemberkatan saja di gereja.
Setelah pemberkatan itu pula, Naura dan Ravael sudah mulai tinggal di rumah yang terpisah dari Theresia dan Philip sesuai dengan permintaan Naura. Karena seperti yang dikatakannya sebelumnya, dia tidak mau Theresia terus-terusan bersedih dan meminta maaf kepadanya. Makanya pindah sesegera mungkin dari kediaman keluarga Utama adalah keputusan terbaik menurutnya.
Dengan tubuh yang bersandar di kepala ranjang dan tangan yang memegang gelas teh lemon jahe yang tadi Ravael buatkan untuknya, Naura melihat Ravael yang tidur di sofa depan kamarnya. Pria itu tampak sangat lelap dalam tidurnya. Melihat itu tentu saja dia merasa kasihan karena Naura tau kalau dia adalah salah satu penyebab Ravael tidak punya waktu istirahat yang baik dan cukup. Bayangkan saja jika selama seminggu kamu harus tidur di sofa yang bahkan tidak mampu menopang tubuhmu. Tidak hanya itu, tidurmu juga harus terganggu karena harus membantu dan menyiapkan kebutuhan seseorang.
Pasti sangat beratkan?
Itulah yang dialami oleh Ravael saat ini. Meski tidak pernah mengatakannya atau menunjukkan kelelahannya, Naura bisa melihat itu semua dari wajah Ravael.
Bukannya Ravael tidak punya kamar atau ranjang sendiri yang bisa digunakannya untuk bisa tidur dengan nyaman. Nyatanya kamar yang berada di depan kamar Naura adalah kamar pria itu, tapi karena pada dini hari setelah mereka sah menjadi suami istri, pusing dan mual Naura tiba-tiba saja tidak terkendali. Dan ternyata Ravael menyadari itu, hingga membuatnya memutuskan untuk tidur di sofa setiap malam agar bisa membantu Naura kapanpun dia membutuhkannya, menurut pria itu.
Merasa sedikit tenang setelah meminum teh yang dibawakan Ravael kepadanya, Naura turun dari ranjangnya. Lalu dengan sangat pelan dan hati-hati dia berjalan kearah dimana sofa tempat Ravael tengah berbaring dan tidur. Kemudian dengan sangat pelan-pelan pula dia memperbaiki selimut yang sudah melorot dari tubuh Ravael.
Ketika memperbaiki selimut Ravael, tanpa sadar Naura menatap wajah kakak angkatnya yang telah berganti status menjadi suaminya itu. Dan Naura merasa ada yang salah pada perasaannya saat itu. Harusnya tidak ada rasa kasihan dan tidak enak dalam hatinya ketika melihat kondisi pria itu. Bagaimanapun pria itulah yang telah menjahatinya yang membuat dia sampai hamil begini, jadi bukankah wajar kalau Ravael bertanggung jawab untuknya?
Tapi kenapa dengan perasaannya ini? Dimana rasa kecewa, marah dan juga benci yang harusnya dia punya untuk pria itu?
Mungkinkah apa yang dilakukan Ravael selama seminggu ini mampu menghilangkan semua perasaan itu? ‘Tidak. Tidak mungkin.’ Naura mencoba menyangkal perasaannya. Karena dia sangat yakin kalau dia sudah pernah berjanji pada dirinya untuk tidak pernah memaafkan pria itu. Bahkan keputusan besarnya untuk lepas dari keluarga Utamapun karena Ravael pula.
Berjalan cepat menjauhi sofa tempat Ravael berbaring, Naura kembali keperaduannya. Ditutupnya tubuhnya dengan selimut yang dipakainya. Bukan untuk tidur, tapi untuk kembali mencari jawaban jawaban atas pertanyaan perasaannya tadi.
Naura tau kalau seharusnya dia kembali tidur karena ini masih jam 3 dini hari. Hanya saja dia sudah terlanjur penasaran dengan dirinya. Lebih tepatnya tidak terima dengan hilangnya rasa marah, kecewa dan benci untuk Ravael, bahkan hanya dalam waktu yang sangat singkat.
“Jadi bagaimana sekarang?” Tanya Naura pada dirinya sendiri.
Sungguh, ketika dia akhirnya memutuskan menepati janjinya pada Ravael untuk menikah kalau ternyata benar dia hamil, Naura sepertinya berpikir terlalu sederhana. Terlalu sederhana, hingga dia berpikir kalau pernikahan ini akan bisa dia jalani sama seperti ketika dia dan Ravael hanya berstatus kakak dan adik angkat. Bodohnya lagi, hanya dengan tidur di kamar yang berbeda Naura pikir bisa mengendalikan semuanya, tapi dia ternyata salah.
Lalu otaknya membawa Naura pada bagaimana Ravael memperlakukannya satu minggu ini. Dimulai dari bagaimana pria itu selalu menemaninya dini hari setiap kali mual dan pening menyerangnya, kemudian Ravael yang selalu menyiapkan susunya, sarapan dan makan malamnya juga. Naura sudah pernah mengatakan agar Ravael tidak perlu melakukan semua itu, namun pria itu hanya diam dan terus melakukannya. Sedangkan Naura, dia hanya bisa menerimanya saja karena kondisi kehamilannya memang membuatnya tidak bisa melakukan aktifitas apapun. Selain pusing dan mual, tubuhnya juga terlalu lemas, hingga untuk berjalan saja dia selalu berpikir banyak.
“Naura, kamu tidak bisa begini selamanya.” Dengan suara pelan dan rendah Naura berbicara pada dirinya sendiri. “Kamu harus putuskan sekarang, kamu maunya seperti apa karena kamu tidak mungkin hidup selamanya seperti ini dengan kak Ael.”
BLANC
“Apa yang kamu lakukan disini?”
Suara berat Ravael mengejutkan Naura yang tengah duduk sambil mengiris bawang merah.
“Eung...eh aku...” Naura salah tingkah dan kelabakan. “Aku hanya ingin membuat nasi goreng untuk sarapan.”
Alis Ravael terangkat sedikit, lalu berjalan mendekat pada Naura dan mengambil sisa bumbu yang belum dikerjakan Naura.
“Sebaiknya kamu kembali kekamarmu, biar aku yang melakukannya.” Kata Ravael tidak mempedulikan wajah menolak yang saat ini Naura tunjukkan.
“Tapi kak...” Naura coba mengatakan penolakannya.
Ravael menoleh, “Kamu ingin nasi gorengkan?” Tanya Ravael dan tanpa menunggu jawaban Naura, pria itu kembali bersuara. “Biar aku buatkan untukmu. Jadi kamu kembali saja istirahat.”
“Tidak, itu bukan untukku.” Jawab Naura pelan sambil menunjukkan kepalanya, berharap Ravael mengerti untuk siapa sebenarnya bekal itu.
...
...
“Kalau bukan untukmu, lalu untuk siapa?”
Tanya Ravael yang langsung membuat Naura merutuk dalam hati. ‘Naura bodoh.’ Katanya dalam hati. ‘Jelas kak Ael tidak tau itu untuknya karena sejak awal kamu tidak penah menunjukkan kepedulian atau perhatian padanya.’ Lanjut Naura mendumel dalam hatinya.
“Eum tidak untuk siapa-siapa,” jawab Naura akhirnya karena terlalu malu untuk memberitahu kalau awalnya nasi goreng itu ingin dia buat untuk Ravael.
Untuk sesaat, Naura bisa melihat kerutan samar di kening Ravael sebelum kemudian pria itu menghentikan tangannya yang tadinya sedang mengupas bawang putih. Dilihatnya Naura sebelum mengajukan pertanyaannya, “Jadi kamu mau apa untuk sarapanmu?”
“Aku sedang tidak ingin makan,” jawab Naura pelan karena nyatanya dia memang tidak berselera untuk memasukkan sesuatu ke dalam perutnya.
Walau Naura menjawab seperti itu, Naura yakin kalau Ravael akan membuatkannya sesuatu untuknya dan pada akhirnya Naura akan memakannya juga. Bukan karena pria itu memaksanya, tapi Ravael seolah tau apa yang bisa menggugah seleranya.
“Aku akan membuatkan mie goreng sapi untukmu. Kamu tunggu dikamarmu.”
See, Naura benarkan.
“Tapi aku sudah bosan di kamar dan ingin melakukan sesuatu,” tolak Naura dengan nada pelan dan ragu-ragu.
“Bukankah kamu pusing dan mual?” Tanya Ravael. “Apa yang bisa kamu lakukan dengan kondisi seperti itu?” Lanjutnya to the point.
Bilanglah kalau Naura kelewat sensitif saat ini, tapi nyatanya dia memang ingin menangis saat mendengar perkataan Ravael barusan. Dia tau kalau semenjak kehamilannya, kondisi Naura memang tidak pernah terlihat baik terutama pada pagi hari. Tapi haruskan begitu cara Ravael mengingatkannya? Dari ucapan pria itu, Naura menangkap kalau dia tidak bisa melakukan apapun selain merepotkannya saja. Makanya dia memutuskan untuk kembali kekamarnya saja, sesuai dengan apa yang diperintahkan pria itu.
Naura sudah bersiap turun dari kursi tempatnya duduk saat itu.
Tapi, “Biar aku antarkan kamu,” tiba-tiba saja Ravael mengangkat tubuhnya. Hingga Naura dengan refleks mengalungkan tangannya pada leher Ravael.
Deg...
Naura merasakan sesuatu yang aneh pada dadanya.
“A...ap...apa yang kak Ael lakukan?” Kata Naura gugup, sekaligus untuk menyamarkan debaran yang Naura tidak tau kenapa.
“Tidak mungkinkan aku membiarkanmu naik ke lantai dua dengan keadaanmu yang seperti ini,” jawab Ravael tanpa melihat Naura sama sekali.
Rasa kesal Naura kembali lagi ketika mendengar itu. “Apa kak Ael pikir aku selemah itu?” Jawab Naura lemah berapi-api. “Aku hanya mual dan pusing, tapi kak Ael memperlakukan aku seperti orang cacat yang tidak akan bisa melakukan apapun.”
Langkah Ravael seketika berhenti. Ditundukkan kepalanya untuk melihat Naura dengan alis yang berkerut tipis. Seolah mempertanyakan komentar tidak suka yang baru Naura layangkan. “Aku tidak berpikir kamu lemah,” kata Ravael. “Aku juga tidak berpikir kamu seperti orang lumpuh yang tidak bisa melakukan apapun.” Lanjut pria itu yang tentu langsung ingin dijawab Naura. “Lagipula lumpuh dan cacat tidak membuat seseorang otomatis tidak bisa melakukan apapun.”
Kata yang akan keluar dari mulut Naura terhenti seketika. Antara tertohok dengan tidak menyangka hal itu akan keluar dari Ravael. Tidak pernah terpikir oleh Naura pria itu memiliki sisi lain yang jauh berbeda dari apa yang dipikirkannya tentang suaminya itu.
‘Oh kalau dipikir lagi, kamu memang tidak pernah benar-benar mengenal kak Ael.’ Naura memperbaiki pemikirannya sendiri. ‘Kesimpulan kak Ael tidak berperasaan dan peduli dengan orang lain kamu ambil sendiri hanya karena dia selalu bersikap tenang dan terlihat dingin.’
Lalu tanpa disadari Naura mulutnya terbuka untuk menanyakan sesuatu. Pertanyaan yang ingin sekali diketahuinya jawabannya, tapi terlalu takut untuk ditanyakannya.
“Sebenarnya apa dasar kak Ael menikahiku? Apakah karena hanya rasa bersalah? Tanggung jawab? Atau apa?” Tanyanya dengan tatapan yang tertuju sempurna pada mata Ravael.
...
Alih-alih menjawab Naura, Ravael malah melanjutkan langkahnya menuju lantai dua, tempat dimana kamar mereka berada.
Dan Naura tidak berani menanyakan ulang pertanyaan itu karena kini kesadarannya sudah kembali seperti seharusnya. Kalau dia sampai berani menanyakan hal itu lagi, itu artinya dia gila karena seharusnya dia tidak peduli dengan apapun perasaan yang melandasi Ravael menikahinya. Lagipula ada apa sebenarnya dengan dirinya? Kenapa Naura seolah mengharapkan suatu jawaban yang berbeda dari dua pilihan jawaban tersebut.
Setibanya di kamar Naura, Ravael langsung mendudukkannya di atas ranjangnya. Dia pikir Ravael akan langsung meninggalkannya begitu saja, tapi ternyata tidak. Memang untuk sesaat Ravael pergi, tapi entah kemana perginya karena setelah dia kembali, dia melihat seperangkat alat dan bahan merajut ditangannya.
“Kamu suka merajutkan?” Tanya Ravel. Kemudian disodorkannya semua peralatan ditangannya itu pada Naura. “Aku membelinya kemarin. Kamu bisa menggunakannya untuk mengisi waktumu.” Lanjutnya lalu mulai siap meninggalkan kamar Naura.
Namun setelah beberapa langkah, pria itu berhenti. Diputarnya tubuhnya kembali untuk bisa berhadapan dengan Naura.
“Tadi kamu tanya, apa sebenarnya perasaan yang melandasiku menikahimukan?” Tanya Ravael.
Naura tidak menjawab, walau begitu dia tau Ravael apa jawabannya.
“Tidak ada perasaan khusus yang melandasinya. Aku hanya melakukan apa yang menurutku harus aku lakukan. Hidup tidak hanya tentang perasaan, tapi tentang akal juga.”
“Tapi ini adalah pernikahan,” balas Naura tanpa berpikir terlebih dahulu. “Apakah kak Ael pikir kak Ael bisa hidup selamanya dengan aku tanpa perasaan? Lalu bagaimana kalau suatu saat nanti aku yang tidak mau melanjutkan pernikahan ini?”
…
Ravael terdiam sejenak. Kemudian dia menjawab, “Aku memiliki prinsip hidup untuk tidak pernah setengah-setengah dalam keputusan yang aku buat. Jadi ketika aku memutuskan menikah denganmu, aku sudah siap dengan semua yang ada dalam pernikahan.” Jawaban Ravael terpotong, “soal kamu yang mungkin memutuskan pergi dimasa depan? Kamu bisa melakukannya kapanpun kamu mau, itu adalah hidup kamu. Aku tidak akan memaksa karena dengan kamu mau memberikan status untuk anak kita saja aku sudah sangat berterima kasih.”
Naura termangu akan jawaban itu. Dan lagi-lagi dia melihat sisi lain dari Ravael, sisi yang sangat mudah dibaca kalau dia mau benar-benar melihat dan memperhatikan suaminya itu.
BLANC