Di dalam ruang kerja Ayahnya, Orlando duduk tenang mendengarkan kalimat-kalimat sang ayah. Sofa berwarna coklat gelap dengan bantalan empuk yang nyaman baginya. Disampingnya sudah ada Arthur, putra tercintanya. Arthur sudah menginjak usia lima tahun. Anak itu mewarisi rambut pirang ayahnya dan mata hitam ibunya. Tubuhnya berisi dengan pipi bakpao-nya. Arthur sedang menikmati Ice creamnya, sehingga tak mengganggu pembicaraan ayah dan kakeknya. "Dad tidak mengerti dengan adikmu, Orland. Dia berada dalam bahaya. Apa dia tak memikirkan nyawanya?" Ucap John dengan gelengan kepala. Pria itu memegangi kepalanya yang mulai pening. Kekhawatiran tentang Victoria merasuk dalam dirinya. Bagaimanapun juga, wanita itu putri kandungnya. "Itulah cinta, Daddy. Tidak perlu khawatir tentang dia. Aku yakin,

