01. Neophyte
Demi seluruh makhluk hidup dari kingdom Archabacteria sampai Homo sapiens. Dyza bersumpah, bila ada manusia yang keberadaan bisa dihapuskan dari muka bumi ini, tentu saja ia akan memilih Carl von Linne--sang bapak taksonomi--yang namanya kemudian dilatinkan menjadi Carolus Linnaeus. Ilmuwan besar pencetus nama latin makhluk hidup yang sama fenomenalnya dengan Charles Darwin si keturunan kera, berdasarkan teorinya sendiri. Paham kuno yang berhasil menyesatkan sebagian besar umat manusia terkecuali Dyza yang mengecualikan diri.
Tentu, Dyza tidak sudi disebut-sebut sebagai evolusi dari hewan yang gemar memakan pisang dan mencari kutu itu. Hubungan kekerabatan tingkat ordo memang membuat mereka hampir "serupa" secara morfologi, anatomi dan fisiologi, tapi jelas tidak sama. Lagi pula, tidak ada bukti evolusi konkret dari teori yang sudah dibantahkan ilmuwan modern tersebut. Missing link yang dikatakan sebagai mata rantai yang hilang itu bukannya hilang, tapi sesungguhnya memang tidak ada. Kecuali bila para Darwinian itu ingin mengaku sebagai makhluk peralihan kera ke manusia, Dyza baru akan percaya.
Sebelum mengoceh terlalu jauh, Dyza akan memperkenalkan diri terlebih dahulu. Nama lengkapnya Deryzha Akselia, namun ia lebih senang dipanggil Dyza. Berstatus sebagai mahasiswi farmasi semester tiga yang sarat beban karena tuntutan tugas dan praktikum .
Sejatinya, Dyza adalah seorang maniak sains dengan penalaran tinggi yang sangat menjunjung ilmu pengetahuan. Ia tergolong mahasiswi langka yang betah duduk berjam-jam untuk mengkaji mekanisme aksi suatu obat sampai ke tingkat molekular ataupun menjabarkan berbagai jenis persamaan reaksi.
Namun pola pikir tersebut kadang terlalu logis untuk mengerjakan tugas yang menurutnya tidak masuk akal. Semisal menghitung segenap komponen gaya dari balok yang didorong si Budi melalui bidang miring, menentukan kecepatan relatif pesawat luar angkasa yang mengejar UFO, atau yang lebih tidak mungkin lagi, memperkirakan usia saudara kembarnya di planet lain yang baru kembali ke bumi.
Sungguh, bahkan Dyza yang hidup berdua dengan sang kakek karena ditinggal kedua orang tuanya akibat kecelakaan lalu lintas tidak pernah berharap memiliki saudara dari planet yang berbeda.
Apa judul yang tepat untuk biografinya nanti? My Brother From The Star? Bagus kalau saudaranya itu setampan aktor Kim Soo Hyun.
Adapun tugas tidak berfaedah yang kali ini membuat Dyza mengutuk keberadaan sosok penting bapak taksonomi adalah hapalan nama latin tanaman untuk kuis Fitokimia di jam pertama kuliahnya nanti. Dyza paham betapa besar peranan binomial nomenclature dan sistem klasifikasi dalam pengelompokan makhluk hidup, tapi untuk apa menyisihkan sejumlah ruang di memori jangka panjang bagi tiap tingkatan takson dari brotowali, beluntas, marmot, cacing tanah dan segenap organisme dalam daftar hapalan yang diberikan dosen itu? Apa mereka harus melakukan sensus kependudukan untuk tanaman dan hewan sampai susur galur keluarganya dijadikan tumpuan penilain? Dyza jadi tidak habis pikir.
Ditambah, penamaan yang berlaku universal itu menggunakan bahasa Latin dan bahasa Yunani yang disebut popular kala itu. Dyza tekankan sekali lagi, "kala itu". Dan sekedar informasi, waktu yang dimaksud merujuk pada pertengahan abad ke-17 yang mana telah lewat kurang lebih tiga abad yang lalu. Wajar bila kombinasi konsonan dan vokal tersebut terasa tidak manusiawi bagi seorang Dyza yang hidup beratus-ratus tahun setelahnya.
Maka jangan mempertanyakan kantung mata Dyza yang menghitam. Ia terjaga semalaman untuk menghapal puluhan nama latin terkutuk tersebut. Dyza mengintip pantulan wajahnya di kaca spion. Sapuan bedak tipis dan pelembab bibir setidaknya membuatnya tampak "lebih hidup". Sedikit yang ia syukuri adalah paling tidak urusannya di rumah pagi itu sudah beres. Mangkuk air dan makanan Coco--kucingnya--sudah diisi, kakeknya sudah sarapan, makanan untuk siang nanti juga sudah Dyza siapkan.
Gawat! Aku lupa mengunci kulkas!
Dyza yang sudah tiba di lobi fakultas menepuk jidatnya berulang kali begitu teringat kulkasnya yang tidak dikunci dan memungkinkan sang kakek membukanya sewaktu-waktu. Dyza bukannya cucu pelit dan durhaka, pembatasan bahan pangan yang dilakukannya semata-mata karena kondisi kesehatan mental sang kakek.
Andrew--kakek Dyza--menderita penyakit degeneratif, demensia. Walau masih tergolong ringan, daya ingatnya yang mulai menurun membuat kakek Andrew sulit menentukan waktu. Kakek kesayangan Dyza itu sering mengulang kebiasaannya di masa lalu tanpa sadar. Seperti bagaimana ia yang dahulu hobi berkebun selalu menganggap sayur dan buah-buahan di kulkas--yang dibeli Dyza dengan mempertimbangkan berat, ukuran, warna, bahkan jumlah helaiannya--adalah hasil kebunnya sendiri dan membagikan secara sukarela pada orang yang lewat.
Dyza mungkin hidup berkecukupan dengan warisan orang tuanya, tapi selama ia belum mendapat pekerjaan tetap, perikehematan tetap nomor satu.
Jangan pukul-pukul kepala begitu, nanti otak yang berharga ini jadi rusak!
Refleks, Dyza menahan tangan saat suara ilusif bergema di telinganya. Suara milik Azka yang sering kali memberi teguran untuk kebiasaan buruknya itu.
"Lupakan, Dyza! Berhenti memikirkan laki-laki jahat sepertinya!" Dyza merutuki dirinya yang sempat terhenyak, namun tangannya tetap bergerak otonom mengusap kepala, sebagaimana yang selalu dilakukan Azka dulu. Ia pun bergegas mengambil haluan ke ruang kelas sembari membesarkan hati untuk seluruh isi kulkasnya yang mungkin sudah raib saat ini.
"Wah, lihat siapa yang lewat!"
Dyza yang sibuk mengulang hapalan dalam hati menahan langkah saat beberapa orang senior perempuan menghadang jalannya.
"Mulai berlagak ya, sekarang! Pakai bergaya segala!" Seorang perempuan berambut ikal menilik Dyza dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan tatapan sinis.
Dyza mendengus kecil. Ada dua kesalahan yang harus segera diklarifikasi olehnya. Pertama, dia memang cantik. Kedua, karena bangun kesiangan, ia berangkat ke kampus dengan penampilan apa adanya dan jauh dari kesan bergaya. Senior-senior tersebut jelas hanya membuat-buat alasan untuk mencarikannya masalah.
Sebagai mantan mahasiswa baru yang tidak melalui proses pengkaderan, hal tersebut sudah menjadi sesuatu yang wajar bagi Dyza. Mau bagaimana lagi, tiga hari sebelum pengkaderan itu Dyza dirawat di rumah sakit karena tifus. Salahkan saja bakteri Sallmonella thyposa yang menginfeksi dan membuat tubuhnya demam tinggi. Dyza dan ususnya hanya menjadi korban dalam hal ini.
Sejak saat itu, Dyza pun dicap pembangkang oleh senior. Mereka menghasut teman-teman angkatan Dyza untuk menjauh dan mengucilkannya. Sayang, Dyza yang terbiasa mandiri tidak terusik sama sekali. Prinsip Dyza adalah yang butuh yang mendekat. Dan itu terbukti saat dirinya menjadi satu-satunya orang yang berhasil menguraikan proses katabolisme asam nukleat sampai menjadi kristal asam urat di kelas Biokimia. Teman-teman pun mulai berguru padanya, meski beberapa hanya ingin mendapat keuntungan saja.
Tidak masalah bagi Dyza, tokoh antagonis tetap dibutuhkan untuk menghidupkan cerita. Yang jelas ia bukan protagonis menyedihkan yang selalu ditindas, seperti bagaimana Cinderella yang hanya bisa menerima nasib saat diperlakukan buruk oleh ibu dan dua orang saudara tirinya. Bukan tidak ingin bersabar. Hanya saja, di dunia nyata ini tidak ada yang namanya ibu peri. Kebahagiaan adalah sesuatu yang harus diusahakan sendiri.
Dyza merotasikan bola matanya dengan cuek, berusaha tidak menanggapi cercaan tiga senior di hadapannya. Ia terus melanjutkan hapalan dalam hati sampai seseorang di antara mereka berceletuk.
"Tidak punya orang tua, sih! Makanya kurang ajar begini!"
Oke. Dyza bisa menahan diri untuk segala macam hinaan pada dirinya. Tapi tidak dengan urusan yang menyangkut kedua orang tuanya. Ia mengepalkan tangan sembari menarik napas dalam-dalam lalu menatap ketiga senior yang merundungnya satu per satu.
"Canis lupus! Sus scrofa! Macaca fascicularis!"
Melihat gurat kebingungan di wajah tiga seniornya, Dyza bersorak dalam hati. Ada gunanya juga nama latin makhluk hidup yang dari semalam dikeluhkannya. Mengumpat dengan aksen klasik itu ternyata asik juga.
"Kamu bicara apa, hah?!"
Dyza mengangkat bahu. "Menghapal bahasa latin untuk kuis."
"Sok pintar!"
Dyza hanya tersenyum singkat. Jelas bukan dirinya yang sok pintar. Senior-seniornya ini kurang belajar. Buktinya mereka tidak sadar telah disebut anjing, babi, dan kera secara tidak langsung.
"Berani menjawab, ya!" Satu orang yang disebut sebagai kera tadi mendorong bahu Dyza hingga kertas laporan di tangannya jatuh berhamburan.
Dyza baru akan bersikap defensif saat dua senior yang lainnya melayangkan tangan padanya, tetapi bunyi kamera diiringi sebuah teguran lebih dulu menyela.
"Lagi-lagi kasus bullying." Seorang laki-laki dengan PDH BEM fakultas menatap layar ponselnya dengan prihatin, ia mengangkat pandangan dan memberi tatapan sinis pada tiga senior Dyza yang mulai keder. "Haruskah kulaporkan pada komite disipliner untuk dikaji?"
"Ma-maaf, Kak! Kami permisi!"
Hanya dengan cara sederhana itu, Dyza pun terbebas dari para perundungnya.
"Biar kubantu."
Dyza membulatkan mata begitu senior dua tingkat di atasnya tadi ikut berjongkok membantunya merapikan laporan. Dia adalah Ryo. Saudara tiri Azka, mantan pacarnya.
"Tidak usah!" Dyza merebut kertasnya dan berlalu begitu saja. Ryo secara tidak langsung terlibat dalam masalah yang membuat Dyza memutuskan hubungannya dengan Azka, dan ia sudah bertekad menghapus semua hal tentang laki-laki yang gemar mempermainkan perempuan itu.
"Dyza!"
Bodoh amat! Dyza tetap melangkah.
"Dheryza!"
Dyza masih tidak peduli.
"Dheryza Akselia!"
Oke. Sebagai penghargaan karena menyebut namanya dengan lengkap, Dyza berbalik.
"Kenapa?" ketus Dyza.
"Tidak ada ucapan terima kasih untukku?"
"Maaf. Tidak ada yang menyuruh Kakak melakukan itu. Dan lagi, aku tidak di-bully."
"Sama-sama." Ryo memasang senyum manis. "Semoga harimu menyenangkan."
Dyza bergidik dan refleks memiringkan kepala mendengarnya. Ada untungnya ia tidak menyempatkan diri untuk sarapan pagi karena terburu-buru. Sebab kata-kata memuakkan itu berpotensi mengaktivasi saraf nervus vagus dan membuat isi perutnya bergejolak lalu terekspulsi ke esofagus. Sungguh, selain mubazir, Dyza sangat jijik dengan segala jenis muntahan. Bahkan yang keluar dari rongga mulutnya sendiri.
"Kenapa memiringkan kepala begitu?" Ryo terkekeh. "Lucu sekali."
Dyza berusaha menahan diri. Dulu Azka pun sangat menyukai reaksi spontannya itu.
"Memperbaiki posisi rumah siput dan tiga saluran setengah lingkaran supaya tidak salah dengar," Dyza yang sudah membalikkan badan menoleh lagi, "salah mengartikan, tepatnya."
Dyza berlalu meninggalkan Ryo yang terus menatapnya dengan seringaian tipis. Di depan koridor, hiruk-pikuk ruang kelas yang terdengar membuat Dyza mengucap syukur pada semesta. Kelasnya masih ramai dan tidak mengindikasikan keberadaan dosen.
Dyza melangkah masuk dengan tenang. Beberapa pasang mata sempat membagi atensi pada kehadirannya sebelum kembali berkomat-kamit untuk menghapal dengan mata terpejam.
Hihi, mirip Mbah Dukun saja! Dyza berkomentar geli dalam hati dan ikut mengeluarkan bukunya. berharap hapalan di kepalanya belum menguap karena sempat emosi.
"Lho, kenapa Fitokimia?"
Dyza menoleh pada Erika di sebelahnya. "Bukannya memang Fitokimia?"
"Bu Tari kan, ada urusan. Kamu nggak baca grup semalam?"
Dyza menggeleng kaku. Ia sibuk menghapal sampai lupa mengecek ponselnya.
"Hari ini kuliah Kimia Analisis. Ada tugas menghapal semua unsur dalam Tabel Periodik."
Dyza terkesiap. "Semua?" tanyanya tak percaya. "Logam transisi juga?"
Satu anggukan prihatin dari Erika membuat Dyza mati-matian menahan diri untuk tidak membenturkan kepalanya ke meja. Hukuman untuknya karena telah menyesalkan eksistensi seorang Carolus Linnaeus yang berjasa besar untuk dunia dibayar tunai detik itu juga.
"Ah, sial--!"
Tunggu. Dyza tidak boleh mengutuk lagi.
Baiklah.
"Terberkatilah wahai Newlands, Mendeleyev, Moseley, dan segenap tim penyusun tabel periodik unsur lainnya!"
*****
To be Continued