08. Premonition

1029 Kata
The High Ministry of Medieter  World      Dept of Medieterial Law Enforcement       Dear Ms. Akselia      We have received intelligence that you had an interaction with one of our Seeke from Nexus Departement at twelve past seventeen minutes on the day before.      Based on the results of the investigation, you are strongly suspected of being related to the Seeker's soul scanner damage.       According to the terrible situation, for the mutual interest, we are reluctantly to inform you that your presence is very required at a confidential and closed hearing at the High Court of the Medieter World as a witness at 00.00 the fifth of April        The ministry representative will call your place of residence to take your soul for a time until the trial is over. We offer a high safeguard for your mortal body in the third world and guarantee the full safety for your soul during the trial.      Hoping you are well      Your Sincerely      The Praeses of Medieter World Ministry -----   Ada banyak hal yang tidak masuk akal di dunia ini. Satu di antaranya adalah email yang baru saja diterima Dyza.      The ministry representative will call your place of residence to take your soul for a time until the trial over.      Dyza membaca ulang isi email tersebut dalam hati lalu tergelak.      "Menjemput jiwaku untuk menghadiri pengadilan? Lucu sekali! Oh,  Tuhan! Apa tidak ada hal yang lebih mustahil lagi?" Dyza masih setengah tertawa. Logikanya meronta-ronta.      Ditambah lagi, pengirim email tersebut adalah Kementerian Tinggi Dunia Medieter. Dyza memang tidak terlalu mendalami geografi dan penyebaran negara-negara di dunia, tapi dunia Medieter? Jelas itu hanya fiksi.      Dyza menilik alamat pengirim dan menemukan ekstensi nama domain yang cukup unik. gov.med       Domain "gov" merujuk pada kata goverment yang berarti website tersebut berhubungan dengan sektor pemerintahan. Tapi "med"? Rasanya tidak ada negara yang menggunaakan ekstensi tersebut sebagai domain kode wilayah.      Dyza menghela napas singkat. Besar kemungkinan email tersebut hanya keisengan semata.      "Tapi bagaimana pesan ini terkirim dan masuk ke emailku?" Dyza bersedekap sambil berpikir. Dibanding isinya yang sudah jelas hanya gurauan belaka, Dyza lebih tertarik pada proses pengiriman email tersebut, yang bahkan domainnya saja tidak benar.      "Mungkin semacam undangan game online." Pada akhirnya Dyza menyimpulkan sendiri.      Dulu Azka pun sangat candu dengan berbagai jenis permainan berbasis internet. Dyza pernah merajuk selama satu minggu karena Azka lebih mementingkan "perang" di dunia digital itu ketimbang dirinya. Sebagai apresiasi, ia pun mengibarkan benderanya perang di dunia nyata. Biar lebih menantang untuk pacarnya itu.      Teringat pada Azka,  Dyza kini mengambil posisi menopang dagu, mengenang momen menjengkelkan sekaligus menggemaskan tersebut.    Kala itu ia terserang flu dan habis mengkonsumsi obat dekongestan yang salah satu kandungannya termasuk ke dalam golongan anti-histamin, sejenis senyawa kimia pemicu reaksi alergi yang reseptornya berada di otak. Efek samping dari penghambatan zat tersebut adalah menyebabkan rasa kantuk. Dyza yang memang sudah lelah menjalani praktikum pun dibuat kurang fokus berkendara hingga sebuah lubang di jalan membuatnya berakhir di ruang perawatan di poliklinik.      Dyza masih ingat betapa paniknya Azka saat itu. Dan meski Azka tahu kecelakaan tersebut disebabkan oleh keteledoran Dyza yang memaksakan diri karena terus mempertahakan status perang dingin sepihaknya, laki-laki yang masih berstatus sebagai pacarnya itu tetap menyalahkan proyek pengerjaan jalan yang setengah-setengah. Azka sampai berinisiatif menggalakkan anggota himpunan jurusannya untuk bekerjasama dengan warga menimbun lubang-lubang di sepanjang jalan daerah kampus.      "Menutup lubang-lubang di jalan?" Dyza mencibir, tidak ingin terlihat terharu. "Huh, manusiawi sekali!"    "Tentu saja. Karena orang kusayangi ini manusia." Azka mengusap kepala Dyza lalu menarik pelan telinganya. "Makanya lain kali kalau punya telinga dipakai mendengar, sudah kubilang biar aku yang antar-jemput, kan?"      Dyza mendadak galau. Kecelakaan hari itu membuatnya bergantung pada Azka hingga hubungan mereka membaik kembali dengan sendirinya. Ya, memang dari awal memang baik-baik saja. Azka tetap bersikap seperti biasanya walau Dyza sering menanggapinya dengan cuek.      Untuk alasan itu, Dyza yang tidak membuka hati pada sembarang orang bisa luluh pada Azka. Azka adalah satu-satunya orang yang mengerti bagaimana dirinya. Tidak pernah protes saat maniak sains sepertinya menyangkut-pautkan segala sesuatu dengan hal-hal yang berbau ilmiah. Tidak pula menganggapnya aneh saat ia berbincang soal topik-topik random seperti teori konspirasi, penaklukan Konstantinopel, sampai soal kemampuan ultrasonik paus Orca di Antartika sana, bahkan berusaha mengimbanginya.      Dyza pernah mendapati Azka diam-diam membaca sebuah website tentang misteri pembuatan piramida dan keajaiban-keajaiban dunia yang lain, hanya untuk menyambung obrolan dengannya. Padahal bagi Dyza, didengarkan saja sudah lebih dari cukup.      “Ah, andai saja Azka tidak ....”    Tring!    Bunyi notifikasi di tablet pc Dyza membuyarkan lamunannya.    Tring!    Tring!    Tring!     "Duh, siapa yang kirim spam begini!" Dyza merutuk. Dahinya berkerut dalam saat memusatkan perhatian pada layar tablet.     "Email ini lagi?!" Dyza mengacak rambutnya frustrasi melihat puluhan  email aneh tadi yang kembali memenuhi kotak masuk emailnya. Lebih mengesalkan lagi, tiap kali ia menghapus pesan tersebut, beberapa detik kemudian akan muncul pesan yang baru.     "Tidak salah lagi, ini pasti boot! Jangan-jangan modus penipuan terbaru!" Dyza merengus lalu menekan dialog box launcher pada panel sebelah kanan atas, lalu memilih opsi report.      Laporkan sebagai spam      "Selamat tinggal Dunia Medieter!"      Dyza bangkit dari kursinya menuju tempat tidur. Tanpa sengaja, tangannya menyenggol bingkai foto di meja belajar hingga pigura tersebut jatuh bebas menghantam lantai disusul bunyi gemerebak kaca yang pecah.      Mendadak Dyza merasa sesak. Lagi-lagi perasaan ini, batinnya.      Kemarin sehabis mendengarkan cerita kakeknya yang sepanjang kisah Mahabrata, Dyza berniat membuat s**u di dapur. Namun karena mengantuk, tidak sengaja tangannya tersiram air panas. Refleks Dyza melepas gelas yang digenggamnya hingga menjadi pecahan artistik dengan beribu serpihan tak kasat mata yang berpotensi menusuk kaki. Dan keterkejutannya selalu saja diiringi perasaan tak enak seperti yang dirasakannya saat ini.      Dyza lalu berjongkok, membersihkan pecahan kaca dan mengomeli diri, berusaha menampik rasa cemas tak berdasar dalam hatinya.      "Uuh!" Dyza mengaduh kesakitan dan mengibas-ngibaskan tangan saat jarinya tertusuk pecahan kaca, bersamaan saat sebelah tangannya yang satu menyingkap sebuah foto  pada tumpukan paling bawah.       Mata Dyza membulat begitu mengenali sosok laki-laki yang tersenyum manis dengan kemeja putih di sana. Foto yang diambil Dyza seusai laki-laki tersebut menjalankan seminar proposalnya.      Tes       Tes        Tes      Tanpa bisa Dyza cegah, darah yang mengalir dari ujung jari manisnya menetes pada foto tersebut.      "A-Azka?!" ***** To be Continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN