04. Interaction

821 Kata
Sebelumnya Zen sudah menjelaskan perihal kemampuan Luxa dalam menembus ruang, namun tampaknya ia melupakan satu bagian penting. Dalam menjalankan tugasnya, Luxa terbagi menjadi beberapa kelompok yang menaungi satu wilayah tertentu di dunia manusia yang disebut region. Demikian pula dengan tugasnya sebagai Seeker atau pencari arwah. Meski dapat menembus ruang tak terbatas hingga ke ujung dunia, Zen dan segenap tim SSAR lain hanya tanggungjawab terhadap para arwah dalam zonanya masing-masing. Beberapa region juga memberlakukan hukum Zona Region Eksklusif di mana ada satu wilayah dalam regionnya yang perlu akses khusus untuk masuk.      Zen mempercepat langkah begitu radar di soul scanner-nya menangkap frekuensi yang lebih besar. Satu tantangan berat bagi seorang Seeker adalah harus cepat beradaptasi dan memetakan lokasi yang dituju. Zen sudah tiba sekitar setengah jam yang lalu, namun bangunan fakultas yang kelihatan sama di kampus tersebut membuatnya kesulitan. Karena itu, berbeda dengan para Luxa lain yang sering menggunakan wujud mortal dalam menjalankan tugas, Seeker lebih disarankan menggunakan wujud roh. Hal tersebut akan menguntungkannya bila harus melakukan teleportasi dalam keadaan terdesak.      Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan      "Harusnya di fakultas ini." Zen bermonolog dengan dirinya sendiri. Ia meneruskan langkah, sambil memperhatikan ke sekeliling.      Zen menengok pada sebuah ruangan yang menurut denah fakultas merupakan Prodi Keperawatan. Di depannya tampak pelajar dengan seragam yang serupa petugas medis di rumah sakit berseliweran. Zen jadi teringat tur pertamanya ke dunia manusia. Tujuan mereka saat itu adalah rumah sakit, tempat manusia-manusia yang sakit mendapat perawatan. Ada yang selamat, ada juga yang tidak dan harus menutup usia. Rumah sakit merupakan salah satu tempat dengan intensitas roh terbanyak di muka bumi. Tak heran bagi manusia rumah sakit di kenal sebagai tempat yang angker.      Tentang sakit dan sehat sendiri Zen tidak tahu banyak. Di dunia Medieter, tidak ada yang namanya rumah sakit. Wujud morfologi Luxa dan manusia memang sama, namun anatomi dan fisiologi mereka berbeda. Akibatnya, proses metebolisme dalam tubuh mereka pun berbeda.      Luxa memilih stuktur organ yang lebih kuat. Mereka dapat menembus ruang dengan tetap mempertahankan keutuhan komposisi tubuhnya. Menembus ruang berarti melawan keseluruhan arah gaya pada permukaan tiga dimensi, termasuk variabel di dalamnya seperti tekanan dan suhu. Tubuh manusia tidak akan mampu mengimbangi energi dari luar yang besar tersebut dan akan hancur.      Luxa juga memiliki ketahanan tubuh dan imunitas yang tinggi. Sejauh ini sakit paling parah yang diderita seorang Luxa hanya sebatas cedera fisik. Tidak ada Luxa yang menderita tekanan darah tinggi, kolestrol, jantung coroner, dan penyakit-penyakit lain yang sering dikeluhkan manusia--yang memang suka sekali berkeluh kesah.      Ngomong-ngomong tentang penyakit manusia itu, ada satu penyakit yang benar-benar menarik perhatian Zen. Kristal asam urat. Pernah suatu waktu Zen sedang makan di sebuah kedai dan mendengar keluhan manusia tentang penyakit tersebut. Zen pun dibuat penasaran dengan wujud kristal asam urat itu. Apakah seperti kristal batu mulia?      Zen sempat membuntuti si manusia yang ingin mengecek kadar asam uratnya ke sebuah klinik. Sayang karena menggunakan sampel darah, Zen mengurungkan niat untuk ikut melakukan tes juga.  Luxa memiliki darah berwarna biru pekat. Zen tidak ingin menggemparkan jagad raya dengan warna darahnya yang tidak manusiawi--walau kenyataannya dia memang bukan manusia.      Zen masih sibuk dengan soul scanner-nya saat segerombolan mahasiswa berjas putih menembus tubuhnya dari belakang. Zen hanya menoleh sebentar, lalu kembali meneruskan langkah. Ia menggunakan wujud roh permeable. Tidak ada yang bisa menyentuhnya dalam mode tersebut. Demikian pula sebaliknya, ia tidak bisa memberi perlakuan apapun terhadap materi apapun di dunia mortal ini.      BUGH!      "Duh, maaf, ya! Maaf! Aku sedang buru-buru!"      Zen yang terdorong hingga jatuh tersungkur mengerjap beberapa kali, masih berusaha mencerna situasi.     "Kamu tidak apa-apa?"      Ya Tuhan! Mata Zen terbelalak hampir keluar dari rongganya saat perempuan--manusia--pelaku tabrakan barusan membungkuk padanya berulang kali.      Tunggu! Zen meraba-raba tubuhnya sendiri. Dia dalam wujud roh, 'kan? Lalu mengapa perempuan ini bisa melihat bahkan menabraknya hingga terjatuh?      "Kamu tidak apa-apa?"      Zen memundurkan badannya saat perempuan tersebut mendekat dan menatapnya khawatir.      "Ka-kamu ... manusia?" Zen tahu betul mempertanyakan hakikat seorang makhluk adalah sebuah pelanggaran terhadap protokol seorang Seeker, tetapi pikirannya benar-benar buntu untuk saat ini.      "Jelas aku manusia!" Ada nada tersinggung dari cara manusia tersebut menjawab. Salah Zen yang mempertanyakan lagi hakikat ciptaan Tuhan paling sempurna paket komplit tersebut.      "Lalu ... kenapa kamu bisa melihatku?"      "Karena kau bukan bakteri ataupun Protista." Zen bisa melihat perempuan tersebut menghela napas. "Sepertinya kamu sakit. Kalau ingin beristirahat, ke poliklinik saja."      Zen membeku saat perempuan tersebut membantunya berdiri dan menunjukkan letak gedung poliklinik.      "Maaf tapi aku buru-buru. Praktikum sudah akan dimulai. Tidak ada yang luka, kan?"      "Ti-tidak ada."      "Wajahmu pucat, seperti kekurangan darah. Kamu punya riwayat anemia?"      Anemia itu apa? Kenapa dia mempertanyakan riwayatku? Apa itu sejenis penghargaan bergensi?      Manusia di hadapan Zen membungkuk lalu menyerahan soul scanner Zen yang rupanya ikut terjatuh. "Sepertinya ini milikmu. Berisitrahatlah di poliklinik. Aku pergi, ya!"      Zen mendapati dirinya mengangguk kaku. Ada rambat arus lemah pada layar soul scanner miliknya yang tidak ia sadari.      Detik selanjutnya dilalui Zen dengan mengingat kembali nama pada nametag yang terpasang di jas putih perempuan yang ia yakini seorang manusia berkemampuan khusus itu.      Dheryza Akselia. Namanya Dheryza Akselia. ***** To be Continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN