Keluar dari kamar Kak Vira, gue beralih masuk ke kamar gue dan menangis sejadi-jadinya, apa yang udah gue perbuat selama ini? Kenapa gue gak pernah bersyukur atas segala nikmat dan anugerah yang udah Allah kasih?
Entah udah berapa lama gue nangis dan sekarang gue bangun dengan wajah yang begitu sembab, mata bengkak dan hidung sumbat udah sangat memperjelas berapa lama gue nangis, menangisi segala dosa-dosa dan kebodohan gue.
Siangnya gue ngajak Ara untuk keluar menemani gue , gue ngajak Ara nemenin gue beli beberapa gamis lengkap dengan Khimarnya, setelah selesai dengan belanja gue juga ngajak Ara untuk nemanin gue nyari beberapa buku mengenai hijrah dan fiqih wanita.
"Ay, ini buat loe, untuk sahabat gue yang paling manis ini" Ara menjulurkan sebuah bungkusan ke gue, gue tersenyum kecil dan menerima pemberian Ara. "Ini apa Ra?" tanya gue seraya mulai membuka pemberian Ara barusan.
"Al-Qur'an? Loe ngebeliin gue Al-Qur'an?" tanyak gue gak percaya, ini adalah hadiah paling berharga yang pernah gue terima selama hidup gue.
"Gue gak beli Ay tapi gue menghadiahkan ini buat loe" ucap Ara seraya mulai kembali memilih beberapa buku untuk gue. "Terimakasih" ucap gue sembari menggandeng tangan Ara gelanyutan. "Sama-sama, ini buat dibaca loh Ay bukan buat dipajang" dan tawa senyum kita berdua merekah.
"Loe jadi nginep di tempat gue kan Ay?"
"Boleh sih kalau orang tua loe gak keberatan" balas gue gak enak, "ya gak lah Ay, malah Umi seneng kalau loe yang dateng" gue tersenyum dan menggangguk pelan, selama gue kuliah disini, selain keluarga gue di asrama, keluarga Ara adalah orang yang paling dekat dengan gue, orang tua Ara seperti sosok pengganti Ayah dan Bunda dirumah.
Selesai belanja, sekarang gue sama Ara udah dirumah, rumah Ara lebih tepatnya, kita berdua disambut hangat sama Umi, "Aduh anak-anak Umi dari mana? Habis belanja ya?" tanya Umi waktu kita berdua nyalim.
"Iya ni Umi, Ara nemenin Aya beli pakaian sama khimar baru, Aya mau berubah loh Mi, pasti nanti kelihatan lebih cantik kan?" balas Ara gak kalah bersemangat, gue cuma tertunduk malu.
"Subhanallah kabar baik itu sayang, Aya insyaallah bakalan kelihatan makin cantik, semoga Allah selalu membimbing Aya menjadi pribadi yang lebih baik ya sayang" Umi meluk gue dan tanpa sadar gue nangis dalam pelukannya.
"Loh Aya kenapa nangis nak? Apa kata-kata Umi ada yang menyakiti hati Aya? Jika iya maafkan Umi" gue menggeleng cepat sembari menangis sesegukan di dalam pelukan Umi.
"Aya ngerasa berdosa Umi, maukah Allah memaafkan Aya? Pantaskah Aya mencium surga-Nya Allah dengan membawa dosa yang Aya punya? Aya takut Umi" jelas gue terisak.
"Istighfar sayang, Allah itu maha pemaaf, tidak ada orang baik yang tak punya masa lalu dan tidak ada pula orang jahat yang tak punya masa depan sayang, shalatlah dan mohon ampun pada Allah, kasih sayang Allah maha luas untuk hamba-Nya sayang jadi Aya tidak boleh berfikiran seperti itu" Umi mengecup puncak kepala berkali-kali untuk menenangkan dan Ara yang udah ikut menangis sembari mengelus pelan lengan gue.
"Sekarang Aya sama Ara shalat dulu, biar Umi siapin makan malemnya" Umi melepaskan pelukannya dan mengecup pipi gue dan Ara bergantian, kita berdua nurut dan naik masuk ke atas. Di atas gue mendengarkan beberapa nasehat Ara supaya gue bisa lebih kuat, Ara yang setia ngapus setiap air mata gue ketika ingatan mengenai dosa gue itu balik.
Azan magrib berkumandang, Ara udah selesai dengan wudhunya dan mengerjakan kewajibannya, gue pun mulai mengambil wudhu dan shalat setelahnya,
"Ya Allah, Ya Allah, Ya Allah, ampunilah dosa hamba, maafkan semua kesalahan hamba, hamba yang penuh dosa bersimpuh memohon ampunan-Mu Ya Allah, begitu banyak kesalahan yang sudah hamba perbuat dan dengan mudahnya hamba melalaikan perintah-Mu, maafkan hamba dan selamatkanlah hamba Ya Allah"
"Maafkan hamba ya Allah, selamatkan hamba, hamba memang tak pantas disurga-Mu dengan semua dosa yang hamba punya tapi hamba juga tak akan sanggup menanggung siksa neraka-Mu Ya Allah, hamba mohon Ya Allah, maafkan dan selamatkan lah hamba, Amin" gue terus terisak dengan isak tangis gue sendiri, gue terus mengucapkan kata maaf dengan mata yang terpejam, bahkan menangis sepanjang waktupun rasanya gak akan cukup untuk menghapus segala dosa gue.
"Allah maha pengampun Ay" Tanpa gue sadari Ara udah memeluk erat tubuh gue dan ikut menangis bersama, gue hanya makin terisak dalam do'a gue. Gak lama tangis gue mereda, azan Isya berkumandang, gue sama Ara melakukan kewajiban kita dan setelahnya turun untuk makan malam bersama, tapi sebelum kita berdua turun, gue nahan tangan Ara yang ngebuat Ara natap gue heran.
"Ra, bantuin gue make khimarnya, dibawah ada Mas sama Abi loe kan?" selama ini gue gak pernah berkerudung didepan Mas dan Abinya Ara, tapi sekarang gue harus karena bagaimanapun mereka bukan mahram gue.
"Maaf Ay gue lupa, ayo gue bantu pake khimarnya" Ara mulai menurun kunciran rambut gue yang membuat gue jadinya malah bingung.
"Kenapa kucirnya di ikat kebawah banget Ra? Gue risih sendiri kalau kaya gitu" tanya gue heran.
"Ay, ada sebuah hadits yang menyatakan kalau kita gak boleh ngikat rambut kita sehingga menyerupai punduk unta diatas kepala, walaupun itu tertutupi khimar kita"
"Para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian." (H.R. Muslim no. 2128)"
"Maaf gue gak tahu, terimakasih atas ilmunya dan silakan lanjutkan Umi" ucap gue sembari sesekali terkekeh geli. Setelah selesai aku melihat pantulan diri gue di cermin sekarang, Ya Allah hanya itu kata-kata yang terus terlintas dalam pikiran gue "udah cantik Ay, ayo turun gue udah laper" tanpa menunggu jawaban gue, Ara udah narik tangan gue untuk turun.
Gue sama Ara turun dengan perasaan gue yang lumayan gak karuan, dibawah Ara mengambil posisi disebelah Umi dan gue disebelahnya Ara "wah anak Umi cantik sekali, iya kan Bi?" ucap Umi tersenyum manis ke arah gue.
"Iya Umi, anak kita cantik-cantik sekali ya Mi" balas Abi ikut tersenyum, gue hanya menundukkan kepala malu, dan gak berselang lama, Masnya Ara turun dan duduk tepat dihadapan gue, masnya Ara itu dosen gue sendiri. Sekilas tatapan gue bertemu dengan Pak Azzam, gue menundukkan kembali pandangan gue dan berucap istighfar beberapa kali sebelum mulai menyuap makanan kemulut gue sekarang.
"Jadi kapan Aya mau pulang kerumah sayang?" tanya Umi setelah kita selesai makan, gue sempat cerita ke Umi tentang keinginan gue untuk pulang kerumah Ayah dan Bunda.
"Belum tahu Mi, Mas Juna belum bisa jemput dan Bunda gak ngizinin Aya pulang sendirian"
"Mas kamu yang satu lagi siapa namanya Umi lupa?" tanya Umi lagi.
"Mas Lana Mi, Mas Lana masih kuliah di luar jadi gak mungkin juga pulang cuma buat nganterin Aya balik kerumah" jelas gue pelan dan dapat beberapa kekehan dan Umi dan Ara.
"Yaudah kalau gitu, lusa Mas Azzam kan gak ngajar, gimana kalau Mas Azzam aja yang nganterin, tar Ara ikut sekalian buat nemenin" tawar Umi.
"Jangan Umi, nanti ngerepotin Pak Azzam." jawab gue gak enak.
"Saya belum setua itu, selain di kampus kamu boleh panggil saya sama kaya Ara manggil saya" tiba-tiba Pak Azzam ngomong kaya gitu bahkan gak ngeliat gue sama sekali, ngeri sendiri.
"Gak ngerepotin sayang, Mas Azzam bisa insyaallah, jangan nolak ya, lusa kalian pulang, anterin sama jagain sampai rumah ya Mas" lanjut Umi.
"Insyaallah Umi"