Salsa memejamkan matanya rapat-rapat, namun otaknya yang logis sebagai dokter justru memaksa kata-kata itu keluar.
Ia tahu ia sedang berada di posisi yang sangat konyol, tapi ia benci menyembunyikan fakta medis yang sedang mengendalikan tubuhnya.
"Saya minta maaf," ucap Salsa dengan suara yang lebih stabil namun penuh tekanan.
"Saya tahu saya tidak boleh jatuh cinta sama kamu, itu aturan kita. Tapi bukan berarti saya tidak bisa punya nafsu. Saya ini manusia normal, Elang."
Keheningan menyambut pernyataan blak-blakan itu. Elang tidak langsung membalas, ia hanya mengeluarkan suara gumaman rendah yang terdengar seperti sebuah tantangan.
"Hem?"
Salsa semakin meremas bantalnya, namun ia justru merasa tertantang untuk menyelesaikan penjelasannya. Ia tidak mau dianggap sebagai wanita aneh yang merintih tanpa alasan.
"Hari ini puncak masa ovulasi saya," ujar Salsa dengan nada bicara profesional, seolah ia sedang memberikan kuliah umum di depan mahasiswa kedokteran.
"Secara biologis, kadar estrogen dan LH di tubuh saya sedang tinggi-tingginya. Secara insting, sensor tubuh saya terhadap lawan jenis meningkat tajam. Jadi, kalau tadi saya bermimpi begitu, itu murni reaksi kimia tubuh, bukan karena saya jatuh cinta."
Salsa menarik napas dalam-dalam, dadanya naik turun dengan cepat.
"Saya tidak ada maksud jadi dokter m***m. Saya cuma mau kamu tahu kalau saya sedang dalam fase bahaya secara biologis."
Tak lama kemudian, ia merasakan kasur di sampingnya bergerak. Elang sedikit bergeser mendekat, namun pria itu masih menjaga jarak yang aman.
Suara bariton Elang terdengar sangat dekat di telinga Salsa, jauh lebih berat dan mengandung nada yang sulit dijelaskan.
"Jadi, intinya kamu nafsu sekarang?" tanya Elang langsung ke inti masalah.
Salsa tersedak salivanya sendiri. Pertanyaan telanjang itu membuat wajahnya yang sudah merah semakin terasa terbakar.
Ia ingin sekali menghilang dari kasur itu, namun Elang masih menatapnya, menunggu jawaban dari sang dokter yang katanya sangat logis ini.
Salsa menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.
Kejujuran memang selalu menjadi pedang bermata dua baginya, tapi ia lebih memilih mati karena malu daripada harus berbohong di depan pria yang sedang menatapnya seperti pemangsa itu.
"Iya," jawab Salsa singkat dan padat. Ia kemudian menoleh sedikit ke arah Elang, mencoba menunjukkan wajah menantang meskipun kedua tangannya masih gemetar di bawah selimut.
"Saya memang lagi nafsu. Lagipula saya ini Scorpio, jadi wajar saja kalau dorongan biologis saya lebih kuat dari orang lain."
Elang terdiam. Keningnya berkerut dalam, menciptakan lipatan kecil di antara kedua alisnya yang tebal.
Ia menatap Salsa dengan ekspresi yang benar-benar bingung, seolah baru saja mendengar istilah hukum yang paling asing di dunia.
"Apa korelasi Scorpio dengan nafsu?" tanya Elang dengan nada sangat serius, seolah ia sedang menanyakan dasar hukum sebuah pasal.
Salsa yang tadinya tegang justru ingin tertawa melihat kebingungan di wajah Elang.
"Duh, kamu ini kurang baca atau bagaimana? Scorpio itu zodiak yang katanya paling punya gairah tinggi. Ditambah saya lagi ovulasi, ya jadinya meledak-ledak begini. Paham tidak, Pak Pengacara?"
Elang mendengkus hambar, ia kembali menatap langit-langit kamar sambil menggelengkan kepala pelan.
"Saya lebih percaya pada fakta medis yang kamu sebutkan tadi daripada ramalan bintang tidak jelas itu."
Namun, meskipun Elang berkata demikian, atmosfer di kamar itu tidak juga mendingin.
Justru sebaliknya, pengakuan jujur Salsa barusan seolah-olah menjadi bahan bakar baru yang membuat udara di sekitar mereka terasa semakin berat.
"Lalu," suara Elang kembali terdengar, kali ini lebih rendah dan ada sedikit getaran yang tidak biasa di sana.
"Kalau kamu tahu kamu sedang dalam fase itu, kenapa kamu malah memberitahu saya? Kamu tidak takut saya akan memanfaatkan kejujuran konyolmu ini?"
Salsa tertegun. Ia tidak menyangka Elang akan menanyakan hal itu dengan nada yang terdengar seperti sebuah ancaman sekaligus godaan.
Ia justru memiringkan tubuhnya, menatap Elang dengan rasa penasaran yang mendadak mengalahkan rasa malunya.
"Zodiak kamu sendiri apa?" tanya Salsa tiba-tiba.
Elang menatap Salsa sekilas, lalu kembali menatap langit-langit dengan ekspresi datar yang sangat membosankan.
"Saya tidak tahu. Itu hal konyol dan tidak saintifik sama sekali."
Salsa mendengkus pelan. Dasar kaku. "Ya sudah, kamu lahir tanggal berapa dan bulan apa?"
Elang menghela napas, seolah memberikan jawaban itu adalah sebuah beban administratif yang berat.
"Untuk apa kamu mau tahu? Mau buat akta kelahiran baru?"
"Cuma mau tahu zodiak kamu, Elang!" seru Salsa gemas.
Elang terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab dengan suara rendah, "Dua puluh Juni."
Salsa langsung tersentak, ia hampir terduduk di atas ranjang saking kagetnya. Matanya melotot lebar menatap Elang yang masih tampak tenang.
"Dua puluh Juni?" ulang Salsa dengan nada tidak percaya. "Gemini?!"
Elang mengernyitkan dahi melihat reaksi berlebihan istrinya. "Kenapa memangnya kalau Juni? Dan apa itu Gemini?"
Salsa menepuk dahinya sendiri, lalu tertawa hambar yang terdengar sedikit frustrasi.
"Pantas saja! Scorpio dan Gemini itu salah satu pasangan yang paling kacau secara astrologi! Scorpio itu intens dan emosional, sementara Gemini itu ... kamu! Dingin, berubah-ubah, dan sulit ditebak."
Salsa kembali merebahkan tubuhnya, tapi kali ini ia merasa jauh lebih waspada.
"Dokter Scorpio dan Pengacara Gemini. Benar-benar kombinasi bencana," gumamnya pelan.
Salsa baru saja akan membuka mulut untuk menjelaskan betapa menyebalkannya sifat seorang Gemini, namun kata-katanya tertelan kembali ke kerongkongan.
Dalam satu gerakan yang sangat cepat dan tak terduga, Elang membalikkan tubuhnya dan mengunci posisi Salsa di bawah kungkungannya.
Kedua tangan Elang bertumpu kuat di sisi kepala Salsa, membuat napas wanita itu tercekat seketika.
Jantung Salsa yang tadinya berpacu karena hormon, kini berdegup dua kali lebih kencang karena adrenalin dan keterkejutan.
Cahaya lampu tidur yang remang memberikan bayangan tajam pada rahang kaku Elang.
Pria itu menunduk, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Salsa, membuat aroma maskulin yang tadi sempat memicu mimpi basah Salsa kini terasa sangat nyata menyerang indranya.
"Berhenti bicara tentang zodiak, Dokter," ucap Elang dengan suara bariton yang sangat rendah dan bergetar, terdengar jauh lebih mengancam daripada biasanya.
Salsa melotot lebar, tangannya mencengkeram sprei di bawah tubuhnya.
Ia bisa merasakan panas yang memancar dari tubuh Elang yang kini menindihnya secara tidak langsung.
Tatapan Elang yang biasanya dingin dan datar, kini tampak menggelap dan penuh intimidasi.
"Katakan," bisik Elang lagi, matanya mengunci manik mata Salsa tanpa ampun.
"Apa kamu masih nafsu saat menatap mata saya yang seram ini?"
Salsa meneguk ludah susah payah. Di bawah tatapan itu.
Namun, alih-alih merasa takut dan menjauh, sensor tubuhnya justru memberikan reaksi yang berlawanan.
Kedekatan ini, tekanan ini, dan tatapan intens Elang justru membuat rasa panas di tubuh Salsa semakin meledak-ledak.
"Kenapa diam?" Elang semakin merendahkan wajahnya hingga hidung mereka hampir bersentuhan.
"Mana teori Scorpio dan ovulasimu tadi?"
Salsa meneguk ludah, matanya yang bulat menatap lurus ke dalam manik mata Elang yang gelap.
"Kamu sudah pernah ciuman belum, Pak Pengacara?"