Kamu ... Butuh CIUMAN??

1121 Kata
Pertanyaan itu meluncur tanpa filter, sangat khas seorang Salsa. Ia ingin tahu, apakah pria yang hidupnya hanya berisi pasal dan denda ini pernah merasakan sentuhan manusiawi yang lebih intim, atau jangan-jangan bibirnya hanya digunakan untuk berdebat di ruang sidang. Elang mematung. Untuk pertama kalinya, Salsa melihat ada kilatan emosi yang tidak terduga di mata pria itu—sebuah perpaduan antara terkejut, terhina, dan gairah yang berusaha ditekan. Otot rahang Elang mengeras, menciptakan garis tegas yang sangat maskulin di bawah remang lampu kamar. "Apa pertanyaan itu adalah bagian dari diagnosis medis kamu, Dokter?" tanya Elang dengan suara yang jauh lebih berat, hampir seperti geraman rendah. Salsa tidak mundur. Ia justru sedikit mengangkat dagunya, menantang jarak yang hanya tersisa beberapa milimeter saja. "Bukan. Itu bagian dari rasa penasaran saya sebagai seorang Scorpio yang sedang ovulasi. Jadi, jawab saja. Pernah tidak?" Elang masih tak berekspresi. Ia semakin merendahkan posisinya hingga d**a bidangnya benar-benar terasa menekan napas Salsa. "Tebak," bisik Elang, suaranya terdengar serak dan menggoda indra pendengaran Salsa. "Menurut Dokter, saya ini sudah pernah atau belum?" Salsa berkedip berkali-kali, otaknya yang sedang dipenuhi hormon mencoba bekerja mencari data. Ingatan tentang riset kecil-kecilannya mengenai latar belakang Elang muncul ke permukaan. "Kayaknya sih udah," jawab Salsa dengan suara yang sedikit parau. "Kamu punya mantan, Mbak bule Australia itu. Dia cantik banget, sangat ekspresif. Pasti sudah kamu habisin semua, kan? Mana mungkin pria normal seperti kamu cuma diam saja kalau dikasih makanan penutup seenak itu." Mendengar jawaban itu, Elang tertawa rendah—sebuah tawa yang lebih mirip dengusan hambar. Tatapannya semakin dalam, mengunci mata Salsa seolah ingin menembus ke dasar jiwanya. "Kamu terlalu banyak berasumsi, Dokter," ucap Elang. Ia menggeser salah satu tangannya dari sisi kepala Salsa, membiarkan jemarinya yang hangat perlahan menelusuri garis rahang Salsa yang gemetar. "Celine memang cantik," lanjut Elang pelan, "tapi dia tidak pernah cukup berani untuk bertanya hal semenantang itu pada saya di atas ranjang. Hanya kamu." Salsa tertegun, lidahnya kelu. Sentuhan tangan Elang di rahangnya membuat bulu kuduknya berdiri. "Jadi?" desak Salsa, menantang maut. "Jawaban pastinya apa?" Elang mendekatkan bibirnya ke telinga Salsa, membisikkan sesuatu yang membuat seluruh pertahanan Salsa runtuh seketika. "Kalau saya jawab belum, apa kamu mau bertanggung jawab atas rasa penasaran kamu sendiri malam ini?" Salsa menatap Elang dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Jemarinya meremas kemeja pria itu kuat-kuat, berusaha menyalurkan rasa frustrasi yang mendesak di dadanya. "Aku nggak pernah mau pacaran, Elang. Karena aku tahu kalau aku sudah dekat sama orang, aku bisa nekat. Aku nggak mau jadi perempuan ceroboh yang akhirnya melakukan hal-hal yang dilarang Tuhan," suara Salsa gemetar, terdengar sangat jujur. "Aku nggak mau berzina." Elang terdiam. Tubuhnya mematung, menatap Salsa dengan tatapan yang tidak sedingin biasanya. Dia tidak menyangka kalau di balik sifat blak-blakan Salsa, ada prinsip yang dijaga begitu kuat. "Terus kenapa kamu malah memancing saya?" tanya Elang pelan, suaranya memberat. Salsa memejamkan mata rapat-rapat, merasa sesak. "Ya karena kamu suami aku! Secara agama kita sudah sah, kamu itu halal buat aku." Elang berdehem rendah, sebuah suara yang terdengar seperti getaran peringatan di tenggorokannya. Posisi mereka yang sangat dekat membuat Salsa bisa merasakan getaran itu merambat sampai ke dadanya sendiri. Salsa menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. "Makanya aku tanya! Dilarang jatuh cinta, oke, aku setuju. Tapi kalau nafsu gimana? Kamu sih, nggak tanya-tanya dulu waktu mau dijodohin, calon kamu itu zodiaknya apa!" Elang menggeram pelan, seolah kesabarannya sudah berada di batas paling tipis. "Berhenti membahas zodiak, Salsa. Itu tidak ada hubungannya dengan situasi kita sekarang." Elang sedikit menekan tumpuan tangannya di kasur, membuat wajahnya semakin mengunci pergerakan Salsa. Sorot matanya menajam, mencoba menembus pertahanan dokter di bawahnya itu. "Jadi saya simpulkan saja, to the point," bisik Elang dengan suara yang sangat dalam dan mengintimidasi. "Kamu memang nafsuan ya, Dokter?" Salsa tersentak, wajahnya yang tadi sudah merah kini terasa semakin panas mendengar kesimpulan telanjang dari mulut Elang. Ia ingin membantah, tapi fakta bahwa ia baru saja memimpikan pria ini dan kenyataan bahwa tubuhnya sedang bergejolak hebat membuatnya tidak bisa berkata-kata. "Kenapa? Kamu mau menuntut saya karena saya jujur?" tantang Salsa dengan suara parau, menolak untuk terlihat kalah meskipun jantungnya berdegup sangat kencang. Elang tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru menatap bibir Salsa cukup lama sebelum kembali mengunci tatapan matanya. "Saya tidak akan menuntut kamu. Tapi sebagai pengacara, saya hanya ingin memastikan ... apakah kamu siap menghadapi konsekuensi dari pengakuan jujur kamu ini?" Salsa tiba-tiba bergerak, menggunakan seluruh kekuatannya untuk mendorong d**a Elang hingga pria itu sedikit terhuyung ke belakang. Ia segera bangun dan duduk di tepi ranjang, merapikan rambutnya yang berantakan dengan napas yang masih memburu. "Jatuh cinta itu nggak mungkin, ya, Pak Pengacara! Tapi kalau nafsu, ini wajar, normal, dan aku orangnya nggak munafik!" seru Salsa tanpa menoleh, suaranya sedikit meninggi karena malu yang bercampur kesal. "Aku nggak suka menyembunyikan sesuatu yang mengganjal. Tapi sudah lah, abaikan saja. Aku malas berdebat sama kamu!" Di luar dugaan, sebuah suara rendah yang renyah terdengar dari belakangnya. Elang tertawa. Bukan tawa mengejek, melainkan tawa pendek yang terdengar sangat tulus dan jarang sekali keluar dari mulut pria kaku itu. Salsa langsung berbalik dan menatap Elang dengan wajah sangat kesal. "Ngapain ketawa? Ada yang lucu?" Elang menyeka sudut matanya, ia masih terduduk di tengah ranjang dengan posisi yang lebih santai sekarang. "Uh, Dokter ... kamu kok unik ya. Baru kali ini saya ketemu wanita yang se-blak-blakan ini. Emosian, dan ternyata ... nafsuan." Salsa sontak menutup kedua telinganya dengan telapak tangan, wajahnya terasa seperti terbakar. Ia segera berbalik membelakangi Elang, menyembunyikan ekspresinya yang sudah tidak keruan. "Diam! Jangan diteruskan!" Keheningan sempat menyelimuti kamar itu selama beberapa detik, sebelum suara Elang kembali terdengar, kali ini lebih tenang namun mengandung nada yang sangat provokatif. "Jadi, begini, Dokter," Elang menjeda kalimatnya, membuat Salsa tanpa sadar menahan napas. "Kamu ... butuh ciuman?" Salsa mematung. Pertanyaan itu terdengar begitu lugas, seolah Elang sedang menawarkan sebuah solusi teknis untuk masalah medis yang sedang ia hadapi. Salsa berbalik secepat kilat, matanya melotot tajam menatap Elang yang masih tampak begitu santai. "Cukup, ya! Aku tarik semua kata-kata tadi! Anggap saja aku tidak pernah bicara apa-apa. Mending sekarang kamu tidur!" Bukannya menurut, Elang justru menggelengkan kepalanya pelan. Sisa-sisa tawa masih tertinggal di sudut bibirnya, seolah kekacauan batin Salsa adalah hiburan paling menarik yang pernah ia temui. "Em, Dokter," Elang mengubah posisi duduknya, menumpu sikunya di atas lutut sambil menatap Salsa dengan cara yang jauh lebih dalam. "Baiklah, saya mengerti. Saya tahu, cinta dan nafsu itu berbeda." Salsa diam membeku, menunggu kalimat apa lagi yang akan meluncur dari mulut pengacara berdarah dingin ini. "Saya tidak bisa jatuh cinta,” lanjut Elang dengan nada bicara yang sangat tenang, seolah sedang membacakan poin-poin dalam kontrak kerja. "Tapi kalau bercinta, saya rasa saya bisa usahakan." Salsa nyaris tersedak napasnya sendiri. Ia terpaku di tempatnya, menatap Elang dengan mulut sedikit terbuka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN